HEROIK

Rabu, 7 September 2011 

Bacaan : 1 Samuel 17:31-39 

17:31. Terdengarlah kepada orang perkataan yang diucapkan oleh Daud, lalu diberitahukanlah kepada Saul. Dan Saul menyuruh memanggil dia.

17:32 Berkatalah Daud kepada Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.”

17:33 Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”

17:34 Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya,

17:35 maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.

17:36 Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.”

17:37 Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”

17:38 Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya.

17:39 Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: “Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya.” Kemudian ia menanggalkannya.

HEROIK

Majalah Tempo edisi khusus tokoh pilihan menulis tentang sembilan pahlawan dari tanah bencana. Dan, salah satu tokoh yang ditulis di situ adalah Ferry Imbiri, seorang guru SD Inpres Wasior. Kisah heroiknya dicatat bukan hanya karena ia mengambil keputusan meliburkan anak-anak tatkala melihat air sungai meluap, tiga puluh menit sebelum bencana air bah menimpa Wasior. Akan tetapi, juga keberaniannya mengarungi derasnya air dengan menggandeng tujuh orang di tangannya.

Di dalam Alkitab juga ada seseorang yang memiliki sikap heroik, yaitu Daud. Anak bungsu Isai, yang masih sangat muda dan tentu perawakannya belum sebesar atau segagah kakak-kakaknya yang menjadi barisan tentara Saul. Akan tetapi, di tengah ketakutan yang melanda seluruh tentara Israel karena digertak oleh Goliat, Daud memberanikan diri untuk maju melawan sang pahlawan dari negeri Filistin. Daud maju bukan karena ia nekat atau sok berani, apalagi berharap upah atau penghargaan, melainkan ia maju karena tidak terima melihat bangsanya barisan tentara Allah diolok-olok sedemikian rupa. Berangkat dari hati yang seperti inilah akhirnya Daud tampil menjadi sosok heroik di Israel.

Seorang yang berjiwa heroik masih terus dibutuhkan hingga saat ini. Seseorang yang menolong orang lain tanpa memedulikan keuntungan apa yang akan ia peroleh. Seseorang yang sama sekali tidak mengharap pujian atas perbuatan baiknya, apalagi memanfaatkan kesempatan untuk keuntungan diri sendiri di tengah kesempitan yang dialami orang lain. Seseorang yang bangkit menolong yang lain karena hatinya mengasihi Tuhan dan sesama –RY

TOLONGLAH ORANG TANPA PAMRIH

ITULAH SIKAP HATI PAHLAWAN YANG SESUNGGUHNYA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

PEMBUNUH RAKSASA

Senin, 27 Juni 2011

Bacaan : 2 Samuel 21:15-22

21:15. Ketika terjadi lagi peperangan antara orang Filistin dan orang Israel, maka berangkatlah Daud bersama-sama dengan orang-orangnya, lalu berperang melawan orang Filistin, sampai Daud menjadi letih lesu.

21:16 Yisbi-Benob, yang termasuk keturunan raksasa–berat tombaknya tiga ratus syikal tembaga dan ia menyandang pedang yang baru–menyangka dapat menewaskan Daud.

21:17 Tetapi Abisai, anak Zeruya, datang menolong Daud, lalu merobohkan dan membunuh orang Filistin itu. Pada waktu itu orang-orang Daud memohon dengan sangat kepadanya, kata mereka: “Janganlah lagi engkau maju berperang bersama-sama dengan kami, supaya keturunan Israel jangan punah bersama-sama engkau.”

21:18 Sesudah itu terjadi lagi pertempuran melawan orang Filistin di Gob; pada waktu itu Sibkhai, orang Husa, memukul kalah Saf, yang termasuk keturunan raksasa.

21:19 Dan terjadi lagi pertempuran melawan orang Filistin, di Gob; Elhanan bin Yaare-Oregim, orang Betlehem itu, menewaskan Goliat, orang Gat itu, yang gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun.

21:20 Lalu terjadi lagi pertempuran di Gat; dan di sana ada seorang yang tinggi perawakannya, yang tangannya dan kakinya masing-masing berjari enam: dua puluh empat seluruhnya; juga orang ini termasuk keturunan raksasa.

21:21 Ia mengolok-olok orang Israel, maka Yonatan, anak Simea kakak Daud, menewaskannya.

21:22 Keempat orang ini termasuk keturunan raksasa di Gat; mereka tewas oleh tangan Daud dan oleh tangan orang-orangnya.

 

PEMBUNUH RAKSASA

Permainan tradisional anak-anak “main sut” masih punya pesan yang bagus sampai kini. Caranya, dua anak saling beradu gerakan jari tangan. Telunjuk mewakili orang. Kelingking mewakili semut. Ibu jari mewakili gajah. Telunjuk menang melawan kelingking, tetapi kelingking mengalahkan ibu jari. Sedang ibu jari menang atas telunjuk. Prinsipnya, tak ada jari yang akan menang terus. Tak ada pemenang mutlak.

Hidup manusia juga begitu. Siapa yang unggul atas siapa, akan silih berganti. Kita tahu Goliat si raksasa Filistin tewas di tangan Daud (1 Samuel 17:48-50). Kita mengenal Daud sebagai pembunuh raksasa. Namun, Alkitab juga punya kisah lain. Di kemudian hari, Daud pernah nyaris dibunuh raksasa Filistin bernama Yisbi Benob, karena sangat letih berperang. Syukurlah Tuhan menolongnya melalui Abisai yang membunuh raksasa itu (ayat 16). Selanjutnya, pembunuh raksasa Filistin berganti-ganti. Sibkhai membunuh Staf (ayat 18). Elhanan, orang Betlehem, menewaskan Lahmi, saudara Goliat (ayat 19-1 Tawarikh 20:5). Dan, satu lagi raksasa Filistin binasa di tangan Yonatan, kemenakan Daud (ayat 20, 21). Ternyata pembunuh raksasa Filistin bukan hanya Daud.

Di dalam hidup ini, tidak ada peran tunggal. Orang satu sama lain saling membutuhkan. Sekarang saya kuat, bisa jadi esok malah melemah. Kini saya mampu memberi, lusa saya perlu menerima dari orang lain. Kini ia berprestasi, lain kali orang lain yang tampil cemerlang. Kita dipanggil untuk saling menopang. Saling bergantian memikul tanggung jawab. Keunggulan perlu diraih, diperjuangkan, dan dinikmati bersama. Sedangkan yang tetap jadi pemeran utama hanya ada satu: Tuhan! –PAD

KITA TIDAK PERLU BERSIKAP SEPERTI “PEMAIN TUNGGAL”

DALAM HIDUP INI

KARENA TUHAN MERANCANG HIDUP SEBAGAI “PERMAINAN TIM”

Dikutip : www.sabda.org

BERPIKIR POSITIF (PART 2)

PESAN GEMBALA

28 November 2010

BERPIKIR POSITIF (PART 2)

 

Shalom…salam miracle.

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati Tuhan, kali ini kita membahas tentang berpikir positif khususnya melihat dan memanfaatkan peluang sekalipun sangat kecil. Ketika Raja Saul dan pasukannya cemas dan ketakutan menghadapi Goliat, Daud berkata: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Daud bukan hanya melihat peluang kemenangan dengan optimis. Tetapi dia memberikan dirinya untuk maju. Dia tidak mengajukan kakaknya atau menasehati Raja Saul yang perkasa untuk berani maju menghadapi Goliat. Daud bukan hanya berbicara, tetapi integritasnya, membawanya untuk membuktikan tindakan sesuai dengan ucapannya. Dia menawarkan solusi bukan hanya dengan kata-kata tapi dengan segenap kehidupannya. Di atas awan masih ada awan, dan bagi Daud di atas Goliat masih ada Tuhan yang maha besar.

 

Orang yang berpikir negatif adalah orang yang mengungkung dirinya dalam kecemasan dan ketakutan. Orang yang sedemikian akan melihat setiap masalah dari sisi kesulitan dan tantangannya. Nalar dan pikirannya tidak bisa sepenuhnya berfungsi karena telah dirongrong dan dipakai untuk memikirkan kecemasan dan ketakutannya. Saul dan bangsa Israel cemas dan ketakutan ketika melihat Goliat yang besar dan mendengar perkataan Goliat yang menghina bangsa Israel, dengan pakaian perangnya yang lengkap. Saul dan pasukannya tidak melihat peluang untuk dapat mengalahkannya.

 

Daud memiliki iman yang besar disertai dengan cara berpikir yang positif dalam menghadapi Goliat. Karena urapan Tuhan yang memenuhinya dengan kuasa, dia bisa berpikir dengan jernih dan cemerlang. Daya pikir dan nalarnya dapat digunakan sepenuhnya karena tidak dirongrong oleh kecemasan, kekuatiran, dan ketakutan. Daud beriman kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan, ditambah dengan komitmen yang tinggi. Dengan itu, Daud bisa berkonsentrasi penuh untuk melihat setiap kemungkinan yang kecil sekalipun untuk menggapai sukses dan kemenangan.

 

Daud tidak memandang kepada baju zirah, perisai, pedang, tombak, lembing dan ketopong yang dikenakan oleh Goliat. Matanya tertuju kepada Allah yang besar bukan masalah yang besar, dan dalam pikirannya berkonsentrasi akan apa yang segera dilakukan dalam pertempuran yang dihadapinya. Dengan pikiran yang jernih dan cemerlang Daud melihat satu “Titik Peluang” yang sangat kecil namun sangat vital yaitu DAHI GOLIAT. Dahi dan mata Goliat tidak tertutup oleh ketopong, dan itulah yang dilihat oleh Daud. Dia bisa melihat suatu peluang yang sangat kecil, tapi tidak hanya melihat peluang itu, namun dalam kapasitas dan kemampuan yang ada, dengan batu dan umban dia manfaatkan peluang yang kecil itu pada waktu yang tepat dan cara yang benar. Dahi itu tidak bisa ditebasnya dengan pedang, karena dia belum terlatih memakai pedang untuk perang, dan juga dia tidak membawa pedang itu. Dahi itu juga tidak dipanahnya karena dia tidak mempunyai busur dan anak panahnya. Tidak juga dihujamnya dengan tombak, karena tangannya yang kecil untuk dapat melontarkan sebuah tombak perang ke arah Goliat.

 

Daud mengambil batu dan umban yang dibawanya, dan diarahkan ke dahi Goliat sehingga terbenam ke dalam dahinya dan Goliat KNOCKED DOWN tergeletak jatuh. Daud tidak mengarahkan umbannya ke arah baju zirah yang tebal, karena bagaimana pun kerasnya pasti tidak akan menembus baju zirah Goliat. Dengan melepaskan senjata dan kemampuan kita pada sasaran yang kurang tepat kita tidak akan pernah sukses. Cara kerja ala demikian akan menciptakan orang-orang yang tampaknya bekerja keras dalam waktu kerja yang lama tetapi tidak menghasilkan sesuatu.

 

Daud memakai senjatanya yang unik dan khas walaupun sebenarnya itu tidak popular, terlebih dalam medan perang yang dahsyat. Senjata itu sesuai untuk dirinya dan sangat dikenalnya dengan baik dan dia ahli dalam menggunakannya. Banyak pekerjaan besar dimulai dengan peralatan yang sederhana dan tidak popular, namun digunakan dengan waktu yang tepat, di tempat yang tepat dan cara yang tepat. Ketika melihat peluang yang ada, Daud tidak menunda untuk memanfaatkannya. Daud segera mengayunkan umpan batu itu sekuat tenaga sehingga batu itu mengenai dahi dan masuk ke dahi Goliat. Daud memanfaatkan peluang yang tepat, berkonsentrasi, cermat dan bertindak dengan segenap kekuatan yang ada padanya. Belum tentu peluang yang sama akan datang lagi. Seorang pemenang akan segera memanfaatkan peluang yang didapatnya. Hari ini, jam sekarang ini, keadaan sekarang ini tidak akan pernah kembali lagi. Peluang tidak pernah berteriak, kitalah yang harus mencari dan memanfaatkannya. Kemenangan Daud telah dipersiapkan sejak sebelum pertarungan sampai pertarungan terjadi. Tapi memanfaatkan peluang adalah ibarat memakai kunci pintu untuk membuka pintu rumah yang menjadi tujuan dari perjalanan yang ditempuh. Alkitab menegaskan bahwa kemenangan Daud tidak didapat dengan pedang di tangan. Tetapi dengan kesederhanaan, ketaatan, mengandalkan Tuhan dan melihat serta memanfaatkan peluang yang ada.

 

SELAMAT NATAL…KASIH ALLAH MEMENUHI KITA SEMUA…

TUHAN YESUS MEMBERKATI…AMIEN

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Berpikir Positif

21 November 2010

Edisi 153 Tahun 3

BERPIKIR POSITIF

Shallom…salam miracle…jemaat Tuhan di Gereja Bethany GTM yang diberkati Tuhan, suatu kali kami membahas dalam obrolan santai tentang krisis yang terjadi di Indonesia, Kebetulan ada seorang teman yang pandai berbahasa Cina, dan dia mengatakan bahwa kata Krisis adalah WEI JI. WEI artinya bahaya dan JI artinya kesempatan, dan dia menerangkan lebih jauh tentang kata itu, dan saya tangkap intinya adalah dalam setiap bahaya atau keadaan yang buruk selalu ada kesempatan untuk melakukan dan mendapatkan sesuatu yang baik.

 

Dalam 1 Samuel 17:32 menyatakan, berkatalah Daud kepada Saul: “Jangan seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Daud ketika melihat Goliat sang musuh yang gagah perkasa adalah musuh yang tentunya sangat sulit dirobohkan, hal itu juga dilihat oleh Raja Saul dan pasukan Israel. Daud mendengarkan tantangan dan ejekan yang juga di dengar oleh Raja Saul dan pasukan Israel. Daud berada di medan perang dimana Raja Saul dan pasukan Israel berada. Daud juga hidup pada tanggal, bulan dan tahun yang sama dengan Raja Saul dan pasukannya, tetapi sikap Daud dalam menanggapi situasi yang dilihat, didengar, dan dialami itu berbeda dari sikap Raja Saul dan pasukannya.Yang membedakannya adalah Raja Saul dan pasukannya berpikir negatif dan Daud berpikir positif.

 

Melanjutkan perbincangan dengan seorang yang berbahasa Mandarin di atas mengatakan bahwa ada pepatah Cina yang menyatakan lebih “LEBIH BAIK MENYALAKAN LILIN DARIPADA MENGUTUKI KEGELAPAN.” Orang yang berpikir negatif akan terus meratapi dan mengutuki kegelapan yang terjadi. Sementara orang yang berpikiran positif akan menyalakan lilin. Ketika PLN padam sekitar jam 7 malam, maka respon anak-anak berbeda, ada yang mengatakan “Wah dak bisa apa-apa nih, nonton tv, belajar pun jadi dak bisa.” tapi ada juga yang merespon “Asyik bisa melihat dengan jelas indahnya bulan di malam hari.”

 

Menanggapi sesuatu hal yang terjadi setiap orang mempunyai tanggapan atau respon yang berbeda-beda. Ada yang berpikir negatif dan ada yang berpikir positif. Orang yang berpikir negatif melihat masalah sebagai segala-galanya. Dia akan melihat bahwa masalah itu begitu besar dan menakutkan, tidak ada jalan keluar yang tampak. Orang ini akan berputar-putar di sekitar masalah tanpa berusaha memandang jalan keluar. Dia menjadi pesimis. Tuhan akan kelihatan sebagai sosok yang jauh yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalahnya. Masalah yang dihadapinya seolah-olah masalah yang paling besar dibandingkan dari persoalan-persoalan orang lain. Dalam menghadapi setiap hal, yang pertama muncul di depan matanya adalah kesulitan-kesulitan dan tantangan-tantangan. Keluhan dan sungut-sungut mewarnai kehidupannya. Menyalahkan orang lain menjadi akibat yang timbul secara alamiah, karena dalam suatu masalah yang timbul, orang yang berpikir negatif jarang melihat dirinya dengan baik, baik itu potensi, kekuatan, kelemahan dan kekurangannya. Yang dilihat hanya orang lain dan karena sifatnya adalah negatif, orang lain selalu dijadikan sumber kesalahan dan dirinya yang benar. Orang itu sibuk mencari kambing hitam yang sebetulnya adalah dirinya sendiri. Dia sibuk berputar-putar di padang pasir tanpa menemukan genangan/ sumur air. Orang yang berpikir negatif sebetulnya orang yang sombong dengan tanpa disadarinya.

 

Orang yang berpikir positif juga seperti yang lain tetap memiliki masalah dan tantangan, namun orang yang demikian tidak terpaku kepada masalah yang dihadapinya. Dia memiliki pengharapan yang besar dan optimis. Cara pandangnya melihat bahwa Tuhan nampak jauh lebih besar daripada masalahnya. Dia melihat dan berpikir dengan jernih tentang jalan keluar dan peluang yang ada dalam krisis. Hatinya dipenuhi dengan puji-pujian dan sukacita. Berani membayar harga dan berkorban untuk membuat solusi yang mengubah keadaan ke arah yang lebih baik. Dia bisa tersenyum dengan kegagalannya karena bisa introspeksi dengan sehat dan jujur. Orang yang berpikiran positif tidak memiliki pembendaharaan kata “Tidak bisa” dalam menjalani kehidupan dan bersemangat. Orang yang berpikiran positif baru akan mengatakan demikian setelah berdoa dan Tuhan yang akan mengambil alih.

 

Optimis bukanlah kesombongan, tetapi rasa percaya diri yang shat. Dia tahu bahwa dia merupakan Problem Solver dan bukan sebagai Trouble maker. Dia akan selalu melihat berbagai jalan dan ribuan kemungkinan yang bisa didapat sebagai jalan keluar dari suatu masalah. Dia akan maju dan pantang menyerah menghadapi situasi apapun, bahkan ketika menghadapi kegagalan. Orang yang berpikir positif bukan hanya selalu melihat peluang dan kehidupan tetapi dia tidak menghitung berapa kali ia jatuh. Dia menghitung berapa kali dia bangkit dari kejatuhan itu. Itu sebabnya sejarah dunia dibuat oleh orang-orang yang berpikir positif.

 

Ketika Raja Saul dan pasukannya cemas dan ketakutan menghadapi Goliat, Daud berkata: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Daud bukan hanya melihat peluang kemenangan dengan optimis. Tetapi dia memberikan dirinya untuk maju. Dia tidak mengajukan kakaknya atau menasehati Raja Saul yang perkasa untuk berani maju menghadapi Goliat. Daud bukan hanya berbicara, tetapi integritasnya membawanya untuk membuktikan tindakan sesuai dengan ucapannya. Dia menawarkan solusi bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan segenap kehidupannya. Di atas awan masih ada awan, dan bagi Daud di atas Goliat masih ada Tuhan yang maha besar.

 

SELAMAT NATAL…KASIH ALLAH MEMENUHI KITA SEMUA…

TUHAN YESUS MEMBERKATI…

AMIEN

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

THINK LESS, FEEL MORE

Sabtu, 9 Oktober 2010

Bacaan : 1 Samuel 17:1-13

17:1. Orang Filistin mengumpulkan tentaranya untuk berperang; mereka berkumpul di Sokho yang di tanah Yehuda dan berkemah antara Sokho dan Azeka di Efes-Damim.

17:2 Saul dan orang-orang Israel juga berkumpul dan berkemah di Lembah Tarbantin; mereka mengatur barisan perangnya berhadapan dengan orang Filistin.

17:3 Orang Filistin berdiri di bukit sebelah sini dan orang Israel berdiri di bukit sebelah sana, dan lembah ada di antara mereka.

17:4 Lalu tampillah keluar seorang pendekar dari tentara orang Filistin. Namanya Goliat, dari Gat. Tingginya enam hasta sejengkal.

17:5 Ketopong tembaga ada di kepalanya, dan ia memakai baju zirah yang bersisik; berat baju zirah ini lima ribu syikal tembaga.

17:6 Dia memakai penutup kaki dari tembaga, dan di bahunya ia memanggul lembing tembaga.

17:7 Gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun, dan mata tombaknya itu enam ratus syikal besi beratnya. Dan seorang pembawa perisai berjalan di depannya.

17:8 Ia berdiri dan berseru kepada barisan Israel, katanya kepada mereka: “Mengapa kamu keluar untuk mengatur barisan perangmu? Bukankah aku seorang Filistin dan kamu adalah hamba Saul? Pilihlah bagimu seorang, dan biarlah ia turun mendapatkan daku.

17:9 Jika ia dapat berperang melawan aku dan mengalahkan aku, maka kami akan menjadi hambamu; tetapi jika aku dapat mengungguli dia dan mengalahkannya, maka kamu akan menjadi hamba kami dan takluk kepada kami.”

17:10 Pula kata orang Filistin itu: “Aku menantang hari ini barisan Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang.”

17:11 Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan.

17:12. Daud adalah anak seorang dari Efrata, dari Betlehem-Yehuda, yang bernama Isai. Isai mempunyai delapan anak laki-laki. Pada zaman Saul orang itu telah tua dan lanjut usianya.

17:13 Ketiga anak Isai yang besar-besar telah pergi berperang mengikuti Saul; nama ketiga anaknya yang pergi berperang itu ialah Eliab, anak sulung, anak yang kedua ialah Abinadab, dan anak yang ketiga adalah Syama.

THINK LESS, FEEL MORE

Sebuah majalah nasional memiliki rubrik khusus yang menceritakan aksi heroik seseorang yang menyelamatkan orang lain; menceburkan diri ke laut, menembus kebakaran. Umumnya orang-orang yang bergantian diceritakan adalah warga biasa. Namun, menurut salah seorang pengasuhnya, ada satu kesamaan yang menyatukan mereka: mereka bertindak tanpa berpikir. Saya jadi teringat pada pesan yang dicoretkan Rene Suhardono-seorang career coach-dalam bukunya: Think Less, Feel More (Lebih sedikit berpikir, lebih banyak merasa).

Ada saat-saat dalam hidup ini ketika kita tidak dapat mengandalkan logika semata. Contohnya ada juga dalam bacaan hari ini. Dibanding saudara-saudaranya yang sudah menjadi prajurit, Daud adalah anak paling kecil (dari segi usia dan perawakan) yang aktivitas sehari-harinya adalah meng-gembala domba-domba ayahnya di padang rumput. Sedangkan pasukan Filistin tampil sebagai prajurit berpengalaman. Benar-benar lawan yang tak seimbang. Tatkala akhirnya Daud memutuskan untuk maju melawan raksasa Goliat, orang melihatnya sebagai tindakan yang tidak realistis. Namun, Daud mengandalkan imannya kepada Tuhan. Seluruh perasaannya diliputi kepercayaan kepada Allah yang ia yakini sanggup menolong. Dan, ia menang. Bagi Tuhan, tidak ada orang biasa atau luar biasa; yang ada hanya orang yang mau membuka hati untuk dipakai oleh-Nya atau tidak.

Dalam hidup ini, ada situasi-situasi di mana kita seharusnya berpikir, tetapi juga diimbangi dengan respons dari hati. Bukalah hati Anda untuk dipakai Tuhan, karena Dia mau memakai Anda, melebihi dari yang bisa dipikirkan oleh otak kita –OLV

SESUATU YANG MUSTAHIL BAGI LOGIKA PUN BISA TERJADI

APABILA TUHAN MENGHENDAKI DAN

HAMBA-NYA MEMBUKA HATI

Sumber : www.sabda.org

MENGHADAPI RAKSASA KEHIDUPAN

Kamis, 18 Maret 2010

Bacaan : 1Samuel 17:40-58

17:40. Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu.

17:41 Orang Filistin itu kian dekat menghampiri Daud dan di depannya orang yang membawa perisainya.

17:42 Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya.

17:43 Orang Filistin itu berkata kepada Daud: “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?” Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud.

17:44 Pula orang Filistin itu berkata kepada Daud: “Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang.”

17:45 Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.

17:46 Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah,

17:47 dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.”

17:48. Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;

17:49 lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah.

17:50 Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.

17:51 Daud berlari mendapatkan orang Filistin itu, lalu berdiri di sebelahnya; diambilnyalah pedangnya, dihunusnya dari sarungnya, lalu menghabisi dia. Dipancungnyalah kepalanya dengan pedang itu. Ketika orang-orang Filistin melihat, bahwa pahlawan mereka telah mati, maka larilah mereka.

17:52 Maka bangkitlah orang-orang Israel dan Yehuda, mereka bersorak-sorak lalu mengejar orang-orang Filistin sampai dekat Gat dan sampai pintu gerbang Ekron. Dan orang-orang yang terbunuh dari orang Filistin bergelimpangan di jalan ke Saaraim, sampai Gat dan sampai Ekron.

17:53 Kemudian pulanglah orang Israel dari pemburuan hebat atas orang Filistin, lalu menjarah perkemahan mereka.

17:54 Dan Daud mengambil kepala orang Filistin yang dipancungnya itu dan membawanya ke Yerusalem, tetapi senjata-senjata orang itu ditaruhnya dalam kemahnya.

17:55 Ketika Saul melihat Daud pergi menemui orang Filistin itu, berkatalah ia kepada Abner, panglima tentaranya: “Anak siapakah orang muda itu, Abner?” Jawab Abner: “Demi tuanku hidup, ya raja, sesungguhnya aku tidak tahu.”

17:56 Kemudian raja berkata: “Tanyakanlah, anak siapakah orang muda itu.”

17:57 Ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, maka Abner memanggilnya dan membawanya menghadap Saul, sedang kepala orang Filistin itu masih ada di tangannya.

17:58 Kata Saul kepadanya: “Anak siapakah engkau, ya orang muda?” Jawab Daud: “Anak hamba tuanku, Isai, orang Betlehem itu.”

MENGHADAPI RAKSASA KEHIDUPAN

Pada saat kita harus berhadapan dengan kesukaran yang teramat besar. Entah berupa penyakit yang tak kunjung sembuh, atau tekanan pekerjaan yang sangat berat; entah juga berupa kehadiran “orang sulit” di dekat kita-atasan di kantor, rekan sepelayanan, klien, tetangga-sangat menjengkelkan, tetapi kita tidak bisa hindari. Atau, bisa juga berupa kebiasaan buruk yang terus membelenggu, kita ingin menjauh, tetapi tak juga bisa lepas. Semua itu membuat kita merasa kecil dan tak berdaya.

Dalam keadaan demikian, kita bisa belajar dari Daud ketika menghadapi Goliat. Secara fisik, Daud sangat tidak sebanding dengan Goliat. Daud berperawakan biasa, Goliat raksasa. Daud penggembala kambing domba, Goliat prajurit profesional. Daud bersenjata “umban dan batu” (ayat 40), Goliat bersenjata perang lengkap (1Samuel 17:5-7). Namun akhirnya, kita semua tahu, Daud berhasil mengalahkan Goliat (ayat 50). Apa kunci sukses Daud? Daud berhasil karena ia berfokus kepada Allah (ayat 45-47).

Ya, jika kita berfokus pada kesukaran yang menghadang, maka kesukaran itu akan kita rasakan berkali-kali lipat lebih besar daripada yang sebenarnya. Efeknya, kita akan merasa kecil dan tidak berdaya. Seperti kesepuluh pengintai yang diutus Musa (Bilangan 13:32,33). Kalah sebelum bertanding. Namun, kalau kita berfokus pada Allah-pada kasih dan kuasa-Nya-kita akan mendapat kekuatan ekstra untuk menghadapi segala tantangan. Kita memang lemah, tetapi Allah yang memiliki kita, Mahakuat. Bersama-Nya kita bisa, dan tidak ada alasan untuk kita tidak sanggup mengatasi kesukaran sebesar apa pun -AYA

DI DALAM TUHAN TIDAK ADA GUNUNG

YANG TERLALU TINGGI UNTUK DIDAKI

Sumber : http://www.sabda.org