KARENA ORGAN RUSAK

Kamis, 23 Desember 2010

Bacaan : Markus 2:1-12

1Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah.

2Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka,

3ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang.

4Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.

5Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”

6Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya:

7″Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”

8Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?

9Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?

10Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” –berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–:

11″Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”

12Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kita lihat.”

KARENA ORGAN RUSAK

Kabar buruk itu muncul menjelang malam Natal 1818. Joseph Mohr, seorang pendeta Austria, diberi tahu bahwa organ di gerejanya rusak dan perbaikannya memakan waktu lama, sehingga organ itu tidak akan dapat dipakai untuk mengiringi ibadah malam Natal. Ia kebingungan. Natal tanpa iringan musik? Ia pun duduk menggubah lagu yang dapat dinyanyikan oleh paduan suara dengan iringan gitar. Ia menulis tiga bait yang bersahaja, tetapi dengan melodi yang kuat. Malam itu, jemaat di gereja kecil itu menyanyikan “Stille Nacht” (Malam Kudus) untuk pertama kalinya. Karena organ yang rusak, kita mewarisi lagu Natal yang populer sepanjang masa.

Sesungguhnya, masalah tidak akan menghentikan orang yang beriman. Empat pembawa orang lumpuh itu tidak mau menyerah ketika pintu rumah tempat Yesus berada tertutup oleh kerumunan orang. Pada zaman itu, rumah-rumah terbuat dari batu dan mempunyai atap rata dari campuran lumpur dan jerami. Di luar, ada tangga menuju atap. Keempat orang itu membawa temannya ke atap, membongkar atap itu secukupnya, dan menurunkan si lumpuh sampai di depan Yesus. Menyaksikan iman mereka, Yesus memuji mereka dan menyembuhkan orang lumpuh itu. Iman mereka sukses menembus kebuntuan!

Apakah ada rencana Anda yang tertunda? Apakah Anda terpaksa mengubah haluan karena adanya suatu rintangan? Selama tujuan Anda benar, jangan biarkan hambatan menghentikan langkah Anda. Tuhan mungkin sedang mengarahkan Anda untuk menempuh jalur lain, jalur alternatif yang hasilnya akan jauh lebih baik daripada apabila Anda bertahan di jalur yang semula –ARS

HAMBATAN BUKANLAH JALAN BUNTU

MELAINKAN TANTANGAN UNTUK MENGUJI KREATIVITAS

Sumber : www.sabda.org

Iklan

PIJAKAN YANG KUAT

Jumat, 18 Desember 2009

Bacaan : Kisah 9:1-16

9:1. Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar,

9:2 dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

9:3 Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia.

9:4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?”

9:5 Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.

9:6 Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.”

9:7 Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun.

9:8 Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik.

9:9 Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.

9:10. Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: “Ananias!” Jawabnya: “Ini aku, Tuhan!”

9:11 Firman Tuhan: “Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa,

9:12 dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.”

9:13 Jawab Ananias: “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.

9:14 Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.”

9:15 Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.

9:16 Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.”

PIJAKAN YANG KUAT

Seorang petani berduka. Keledainya, harta tunggalnya, terperosok ke sumur. Ia minta tolong pada tetangga, tetapi usahanya sia-sia. Semua membujuk supaya ia merelakan keledainya. Dan, agar kelak bangkai si keledai tak menimbulkan bau dan penyakit, tetangga mengusulkan agar sumur itu ditimbun tanah. Sementara tanah ditimbunkan ke sumur, si keledai terus merintih. Mereka berpikir si keledai pasti sudah mati. Namun, semua kaget ketika keledai itu melompat keluar! Ternyata, setiap gundukan tanah yang menimpa dan menyakiti si keledai itu selalu dikibaskannya, dan lama-lama menumpuk di bawah kaki dan menjadi pijakan baru baginya.

Tatkala Paulus melayani Tuhan, muncul banyak tantangan, hambatan, bahkan aniaya. Namun, ia tak lekas putus asa dan menyerah, sebab ia sangat yakin akan panggilannya memberitakan Injil bagi bangsa-bangsa non-Yahudi. Dan, pengalaman bergaul dengan Tuhan membuatnya kuat menanggung segala hal. Bahkan, segala hambatan justru menjadi pijakan baru baginya untuk memenuhi panggilan pelayanan Tuhan baginya, menjadi “… alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel (ayat 15). Dan bagaimana Tuhan membuat Paulus bisa memberitakan Injil kepada raja-raja dan penghuni istana? Ternyata melalui aniaya dan penjara, ia berjumpa para pejabat tinggi yang mengadili kasusnya (bandingkan Kisah Para Rasul 24,25,26,28).

Jika hari ini Anda mengalami kesulitan, hambatan, dan tantangan: jangan menyerah. Dengan mata iman yang mengarah kepada Kristus, mari jadikan segala kesulitan itu menjadi pijakan kuat untuk mencapai tujuan Tuhan bagi hidup kita –SST

KETIKA KITA MEMINTA ALLAH MEMIMPIN HIDUP KITA

SETIAP PERISTIWA PASTI BERGUNA BAGI KEBAIKAN KITA

Sumber : www.sabda.org

BUKAN JALAN TOL

Kamis, 3 Desember 2009

Bacaan : Nehemia 6

6:1. Ketika Sanbalat dan Tobia dan Gesyem, orang Arab itu dan musuh-musuh kami yang lain mendengar, bahwa aku telah selesai membangun kembali tembok, sehingga tidak ada lagi lobang, walaupun sampai waktu itu di pintu-pintu gerbang belum kupasang pintunya,

6:2 maka Sanbalat dan Gesyem mengutus orang kepadaku dengan pesan: “Mari, kita mengadakan pertemuan bersama di Kefirim, di lembah Ono!” Tetapi mereka berniat mencelakakan aku.

6:3 Lalu aku mengirim utusan kepada mereka dengan balasan: “Aku tengah melakukan suatu pekerjaan yang besar. Aku tidak bisa datang! Untuk apa pekerjaan ini terhenti oleh sebab aku meninggalkannya dan pergi kepada kamu!”

6:4 Sampai empat kali mereka mengirim pesan semacam itu kepadaku dan setiap kali aku berikan jawaban yang sama kepada mereka.

6:5 Lalu dengan cara yang sama untuk kelima kalinya Sanbalat mengirim seorang anak buahnya kepadaku yang membawa surat yang terbuka.

6:6 Dalam surat itu tertulis: “Ada desas-desus di antara bangsa-bangsa dan Gasymu membenarkannya, bahwa engkau dan orang-orang Yahudi berniat untuk memberontak, dan oleh sebab itu membangun kembali tembok. Lagipula, menurut kabar itu, engkau mau menjadi raja mereka.

6:7 Bahkan engkau telah menunjuk nabi-nabi yang harus memberitakan tentang dirimu di Yerusalem, demikian: Ada seorang raja di Yehuda! Sekarang, berita seperti itu akan didengar raja. Oleh sebab itu, mari, kita sama-sama berunding!”

6:8 Tetapi aku mengirim orang kepadanya dengan balasan: “Hal seperti yang kausebut itu tidak pernah ada. Itu isapan jempolmu belaka!”

6:9 Karena mereka semua mau menakut-nakutkan kami, pikirnya: “Mereka akan membiarkan pekerjaan itu, sehingga tak dapat diselesaikan.” Tetapi aku justru berusaha sekuat tenaga.

6:10. Ketika aku pergi ke rumah Semaya bin Delaya bin Mehetabeel, sebab ia berhalangan datang, berkatalah ia: “Biarlah kita bertemu di rumah Allah, di dalam Bait Suci, dan mengunci pintu-pintunya, karena ada orang yang mau datang membunuh engkau, ya, malam ini mereka mau datang membunuh engkau.”

6:11 Tetapi kataku: “Orang manakah seperti aku ini yang akan melarikan diri? Orang manakah seperti aku ini dapat memasuki Bait Suci dan tinggal hidup? Aku tidak pergi!”

6:12 Karena kuketahui benar, bahwa Allah tidak mengutus dia. Ia mengucapkan nubuat itu terhadap aku, karena disuap Tobia dan Sanbalat.

6:13 Untuk ini ia disuap, supaya aku menjadi takut lalu berbuat demikian, sehingga aku berdosa. Dengan demikian mereka mempunyai kesempatan untuk membusukkan namaku, sehingga dapat mencela aku.

6:14 Ya Allahku, ingatlah bagaimana Tobia dan Sanbalat masing-masing telah bertindak! Pun tindakan nabiah Noaja dan nabi-nabi yang lain yang mau menakut-nakutkan aku.

6:15. Maka selesailah tembok itu pada tanggal dua puluh lima bulan Elul, dalam waktu lima puluh dua hari.

6:16 Ketika semua musuh kami mendengar hal itu, takutlah semua bangsa sekeliling kami. Mereka sangat kehilangan muka dan menjadi sadar, bahwa pekerjaan itu dilaksanakan dengan bantuan Allah kami.

6:17 Pada masa itu pula para pemuka Yehuda mengirim banyak surat kepada Tobia, dan sebaliknya mereka menerima surat-surat dari padanya,

6:18 karena banyak orang di Yehuda mempunyai ikatan sumpah dengan dia, sebab ia adalah menantu Sekhanya bin Arah, sedang Yohanan, anaknya, mengambil anak Mesulam bin Berekhya sebagai isteri.

6:19 Juga mereka sebut-sebut segala kebaikan Tobia di mukaku dan segala perkataanku terus dibeberkan kepadanya. Pula Tobia mengirim surat-surat untuk menakut-nakutkan aku.

BUKAN JALAN TOL

Jalan tol adalah jalan bebas hambatan. Jalan tol dibangun dengan tujuan supaya setiap pengendara mobil tidak perlu mengalami kemacetan di jalan raya. Dengan demikian, para pengendara mobil akan semakin cepat sampai di tempat tujuan.

Akan tetapi, kita tidak dapat berharap bahwa kemudahan dan kelancaran yang terjadi di jalan tol, juga terjadi di dalam hidup kita. Hidup kita sama sekali bukan jalan tol. Justru dalam hidup ini kita kerap kali menemukan hambatan. Bahkan, ketika kita hendak melakukan hal-hal baik.

Demikian pula pengalaman Nehemia ketika hendak membangun kembali tembok Yerusalem. Pada awalnya, segala persiapan serta jalan yang akan ditempuh tampak lancar. Akan tetapi, di tengah proses pembangunan datanglah hambatan dari Sanbalat dan Tobia. Sanbalat dan Tobia, yang tidak suka pembangunan tembok itu dilakukan, berencana untuk membunuh Nehemia (ayat 2). Di dalam pikiran mereka, apabila Nehemia mati, bangsa itu akan kehilangan sosok pemimpin. Dan, itu menjadi alasan yang kuat untuk menghentikan pembangunan tembok Yerusalem. Sampai-sampai ia juga menyuap orang Semaya, orang yang dekat dengan Nehemia (ayat 10-13). Namun, Nehemia tetap berfokus pada proses pembangunan. Maju terus pantang mundur. Dan Allah melindungi Nehemia, sehingga pembangunan tembok itu pun selesai (ayat 15).

Tidak jarang dalam hidup ini kita mendapat hambatan. Cara yang terbaik untuk mengatasinya adalah tetap memfokuskan diri pada pekerjaan baik tersebut, dan terus berjalan. Kita harus selalu ingat bahwa tujuan hambatan hanya ingin membuat kita berhenti –RY

JIKA ANDA BERHENTI KARENA TERHAMBAT

BERARTI ANDA KALAH

Sumber : www.sabda.org