99 BALON

Jumat, 22 Februari 2013

Bacaan: Ayub 14:7-15

14:7. Karena bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh.

14:8 Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu,

14:9 maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai.

14:10 Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia?

14:11 Seperti air menguap dari dalam tasik, dan sungai surut dan menjadi kering,

14:12 demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya.

14:13 Ah, kiranya Engkau menyembunyikan aku di dalam dunia orang mati, melindungi aku, sampai murka-Mu surut; dan menetapkan waktu bagiku, kemudian mengingat aku pula!

14:14 Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi? Maka aku akan menaruh harap selama hari-hari pergumulanku, sampai tiba giliranku;

14:15 maka Engkau akan memanggil, dan akupun akan menyahut; Engkau akan rindu kepada buatan tangan-Mu.

99 BALON

Dua bulan sebelum lahir, Eliot Mooney divonis menderita Edwards Syndrome, penyakit yang tak memungkinkannya untuk lahir selamat. Orangtuanya berdoa memohon mukjizat, dan Eliot pun lahir. Namun, kondisinya memprihatinkan: paru-parunya tak berkembang sempurna, jantungnya berlubang, dan DNAnya memberi informasi keliru pada setiap sel tubuhnya. Setelah dua minggu Eliot diizinkan pulang dengan tiga peralatan medis menempel di tubuhnya, termasuk tabung oksigen dan selang untuk memasukkan susu.

Eliot kecil bertahan dan bertumbuh walaupun tak secepat anak seusianya. Sebulan, dua bulan, tiga bulan. Uniknya, orangtua Eliot merayakan “ulang tahun”-nya setiap hari. Sebab, satu hari saja merupakan perjuangan berat baginya untuk hidup. Maka, setiap hari mereka merayakan kemenangannya. Hingga akhirnya, pada hari ke-99, Eliot kembali kepada Yesus. Pada hari pemakamannya, 99 balon dilepaskan -masing-masing mewakili ucapan syukur atas setiap hari yang Eliot habiskan di bumi.

Ketika Ayub mengalami penderitaan yang sangat berat, kematian membayanginya. Ia disadarkan akan betapa fana hidup manusia. Namun, Ayub berkata bahwa selama Tuhan masih memberinya hidup, ia akan terus berharap. Dan, bila kelak waktunya tiba, ia akan bahagia karena itu berarti Allah merindukannya pulang!

Sudahkah kita mensyukuri setiap hari yang Tuhan beri? Mensyukuri hidup kita dan orang-orang di sekitar kita? Jangan membuang satu hari pun untuk hal sia-sia. Selama kesempatan ada, hiduplah maksimal bagi Dia. –AW

BILA ENGKAU MENAMBAH HARI-HARI DALAM HIDUP KAMI

 BIARLAH NAMA-MU SEMAKIN DITINGGIKAN LEWAT DIRI INI

Dikutip : www.sabda.org

MENGGANTUNGKAN HARAPAN

Senin, 14 November 2011

Bacaan : Lukas 7:11-17 

7:11. Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong.

7:12 Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu.

7:13 Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!”

7:14 Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”

7:15 Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya.

7:16 Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya.”

7:17 Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

MENGGANTUNGKAN HARAPAN

Ketika suaminya meninggal, wanita ini bertekad menjanda untuk membesarkan anak tunggalnya. Ia berjuang melawan kerasnya hidup, termasuk cercaan serta cibiran tetangga yang mewaspadai para janda. Ia berpikir, “Tak apalah aku susah sekarang. Sebentar lagi anakku dewasa, dan dialah harapan masa tuaku.” Namun mendadak, anak tunggalnya itu meninggal. Harapan hidupnya terampas seketika. Sampai ia harus bertanya, “Untuk apa lagi aku hidup?” Di sepanjang jalan desa Nain menuju pemakaman, air matanya telah mengering. Meski orang-orang turut meratapi kepergian putranya, tak ada yang memahami kesedihannya karena kehilangan tempat menggantungkan hidup.

Ketika ia berpapasan dengan Yesus, kesedihan mencekik kerongkongannya. Ia tak lagi mampu mengucap, memohon pertolongan. Apakah hati sang Juru Selamat hanya tergerak jika diminta, dan jika ada iman kepada-Nya? Ketika hidupnya “lumpuh”, sang Juru Selamat memahaminya. Dia peduli pada hati yang menjerit tanpa kata. Dengan penuh kasih Dia berkata: “Jangan menangis.” Ucapan ini bukan sekadar penghiburan di kala duka. Sebab, Dia adalah Tuhan yang berkuasa atas maut dan kehidupan. Maka, dengan penuh kuasa Yesus berseru: “Hai anak muda … bangkitlah” (ayat 14). Yesus bukan hanya membangkitkan si anak muda, tetapi juga menghidupkan kembali harapan si janda.

Kepada siapa Anda menggantungkan harapan masa depan? Kepada pasangan hidup, anak-anak, harta, asuransi, atau yang lain? Ingatlah bahwa semua itu bisa mati dan habis. Maka, berharaplah kepada sumber kehidupan, yaitu Yesus, yang selalu mampu dan mau memedulikan kita –SST

TARUHLAH SEGALA HARAPAN HIDUP KITA

PADA DASAR YANG TEGUH DAN TAK TERGOYAHKAN

Dikutip : www.sabda.org


KYRIE ELEISON

Rabu, 8 Juni 2011

Bacaan : Mazmur 6

6:1. Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Menurut lagu: Yang kedelapan. Mazmur Daud. (6-2) Ya TUHAN, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu.

6:2 (6-3) Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-tulangku gemetar,

6:3 (6-4) dan jiwakupun sangat terkejut; tetapi Engkau, TUHAN, berapa lama lagi?

6:4 (6-5) Kembalilah pula, TUHAN, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu.

6:5 (6-6) Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati?

6:6 (6-7) Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.

6:7 (6-8) Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku.

 

6:8. (6-9) Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab TUHAN telah mendengar tangisku;

6:9 (6-10) TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku.

6:10 (6-11) Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata.

 

KYRIE ELEISON

Lagu gereja bertema memohon belas kasihan Tuhan dikenal dengan istilah Kyrie Eleison, yang berarti “Tuhan kasihanilah”. Lagu ini biasanya dinyanyikan saat umat memohon belas kasihan Tuhan dalam tata ibadah pengampunan dosa.

Penulis Mazmur 6 pun tengah memohon belas kasihan Tuhan. Alasannya, karena ia merana (ayat 3). “Merana” diterjemahkan dari bahasa Ibrani umlal yang berarti “lemah atau rentan”. Pemazmur mengakui kelemahan dan kerentanan dirinya dalam menghadapi orang-orang yang hendak melakukan kejahatan terhadapnya (ayat 9). Itulah sebabnya ia mengeluh dan menangis sepanjang malam (ayat 7, 9). Yang menarik adalah bahwa dalam situasi seperti itu, pemazmur pertama-tama tidak merancang strategi A, atau B, atau C. Hal yang ia lakukan pertama-tama adalah melibatkan Tuhan dalam situasinya dan mengakui kerentanannya sendiri. Ia membawa persoalannya kepada Allah yang walaupun bisa menghukum dan bisa marah (ayat 2), juga ia yakini penuh kasih setia (ayat 5) serta sedia mendengar keluhan; rintihan orang yang lemah dan dijahati sesamanya (ayat 9, 10). Bagi pemazmur, Allah bukan ada di awang-awang. Allah adalah Pribadi yang nyata melakukan pembelaan dan menolong mereka yang umlal, yang lemah dan rentan.

Apakah saat ini hati Anda sedang sakit, sedih, dan perlu pertolongan? Apakah hidup Anda sedang diimpit permasalahan dan kesukaran, dan Anda merasa merana sendiri? Jika Anda sedang resah, datanglah kepada Allah dan dengan jujur memohon: “Kyrie Eleison … Tuhan kasihanilah … aku orang lemah. Engkaulah harapan dalam menghadapi keresahanku ini.” Anda tidak sendirian! –DKL

HATI TUHAN TERARAH KEPADA HATI SETIAP ORANG

TERUTAMA KEPADA HATI YANG SEDANG TERLUKA

Dikutip : www.sabda.org

TAKUT BERHARAP LEBIH

Senin, 28 Maret 2011

Bacaan : Yohanes 20:11-18

11Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,

12dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.

13Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

14Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.

15Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.”

16Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru.

17Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”

18Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya

TAKUT BERHARAP LEBIH

Setelah dikhianati suaminya, seorang istri berkata: “Sekarang saya tidak lagi berharap banyak kepadanya. Tidak berharap diperhatikan; diberi hadiah ulang tahun; ditelepon jika ia dinas di luar kota. Saya sudah banyak dikecewakan. Jadi, saya tidak lagi mau menggantungkan harapan kepadanya.” Ketakutan dikecewakan lagi telah membuat sang istri menurunkan harapannya pada sang suami. Ia takut berharap lebih.

Ketika Maria datang ke kubur Yesus pada pagi Paskah, ia pun tidak berani berharap banyak. Maria datang sekadar hendak merawat jenazah Yesus. Tidak lebih dari itu! Ia tidak berharap akan menjumpai Yesus yang sudah bangkit, karena baginya harapan itu tidak realistis. Terlalu muluk. Bisa kecewa jika nanti hal itu tidak terjadi. Maka, saat ditanya, “Siapa yang engkau cari?” Maria menjawab bahwa ia ingin mencari mayat Yesus yang diambil orang. Ia masih belum menyadari dengan siapa ia sedang bercakap-cakap. Setelah disapa dengan namanya, barulah Maria tersadar: Yesus hidup. Yesus berdiri di hadapannya! Dari situ ia belajar: Yesus bisa memberi jauh melebihi apa yang ia harapkan.

Berharap banyak pada manusia memang bisa mengecewakan, seperti pengalaman seorang istri tadi. Manusia tidak bisa kita andalkan. Akan tetapi, Allah berbeda. Paulus berkata, kuasa-Nya “hebat” bagi kita. Jadi, taruhlah seluruh harapan masa depan Anda kepada-Nya: mulai dari studi, pekerjaan, jodoh, keluarga, sampai pemeliharaan Allah di masa tua. Walau tak semua kemauan kita Tuhan turuti, tetapi yang kita butuhkan pasti Dia beri. Jangan takut berharap lebih! –JTI

HARAPAN ITU IBARAT SAUH

AGAR BIDUKMU TAK TEROMBANG-AMBING, TANCAPKAN DENGAN TEGUH

Sumber : www.sabda.org

SIAPA SANGKA?

Kamis, 10 Maret 2011

Bacaan : 1 Tesalonika 5:23-28

23Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

24Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.

25Saudara-saudara, doakanlah kami.

26Sampaikanlah salam kami kepada semua saudara dengan cium yang kudus.

27Demi nama Tuhan aku minta dengan sangat kepadamu, supaya surat ini dibacakan kepada semua saudara.

28Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu

SIAPA SANGKA?

Nyonya Carson sangat berharap anak-anaknya bisa bersekolah, walau ia tidak tamat SD dan harus membesarkan dua putranya sendirian. Ia bekerja mencuci pakaian pada dua keluarga. Kemiskinan akrab dengannya. Namun, ia mendoakan kedua anaknya supaya berhasil dalam studi. Dan, mereka berhasil. Bahkan, anak bungsunya menjadi dokter bedah otak ternama di Amerika. Dokter pertama di dunia yang sukses menangani operasi bayi kembar siam. Ialah Dokter Ben Carson. Buku-bukunya menjadi berkat. Ia mendirikan banyak yayasan di bidang kesehatan dan pendidikan, yang memberi beasiswa untuk anak-anak berprestasi di bidang akademis dan kemanusiaan. Doa sang ibu terjawab lebih dari yang diminta. Siapa sangka?

Paulus akrab dengan jemaat di Tesalonika. Meski isinya tetap mengandung petuah dan teguran, suratnya terasa hangat. Bagi jemaat itu, ia memosisikan diri seperti “ibu” (1 Tesalonika 2:7) dan “bapak terhadap anak-anaknya” (2:11). Banyak harapan dan doanya bagi jemaat ini (1:2; 3:10-13). Di akhir surat pertamanya terselip harapan kuat, yaitu “supaya surat ini dibacakan kepada semua saudara” (5:27). Ia berharap suratnya dibacakan di depan jemaat.

Ternyata selama 20 abad kemudian, surat ini bukan saja dibacakan di depan jemaat Tesalonika, melainkan juga jemaat kristiani di seluruh dunia. Tak hanya menjadi sepucuk surat penggembalaan, tetapi menjadi bagian firman Tuhan. Siapa sangka, Tuhan mengabulkan doanya jauh melampaui harapan sang rasul. Karya-Nya sungguh tak terbatasi. Dia sanggup melakukan lebih dari yang kita minta. Maka, jangan berhenti berharap kepada-Nya. Berharaplah kepada Tuhan tanpa batas; izinkan Dia berkarya dengan bebas –PAD

DI TANGAN TUHAN, SEBUAH HARAPAN KECIL

BISA MENJADI BERKAT BESAR

Sumber : www.sabda.org

TALI TAMBANG

Sabtu, 23 Oktober 2010

Bacaan : Mazmur 39:5-8

39:5 (39-6) Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela

39:6 (39-7) Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti.

39:7. (39-8) Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap.

39:8 (39-9) Lepaskanlah aku dari segala pelanggaranku, jangan jadikan aku celaan orang bebal!

TALI TAMBANG

Suatu pagi, saya mendampingi teman sekampus yang memakamkan ibunya. Sorenya, seorang teman lain menikah. Hidup terkadang memiliki jalan yang begitu unik dalam membelitkan suka dan duka. Satu kali Nobita-sebuah karakter kartun Jepang-meminta pada Doraemon -sahabatnya-agar ia bisa selalu beruntung dalam hidup. Namun, Doraemon mengangkat sebuah tali tambang dan menunjukkan bahwa tali yang kokoh itu terdiri dari dua helai tali yang saling melilit. Dan ia mengibaratkan dua tali itu sebagai kebahagiaan dan kesedihan hidup yang terangkai menjadi satu.

Kesedihan akan diganti dengan kegembiraan, sebaliknya kegembiraan juga tidak akan berlangsung terus-menerus karena akan ada kesedihan di depan sana. Hidup tidak bisa menawarkan kepastian pada manusia. Sekokoh dan semapan apa pun kita membangun hidup, semua itu fana dan bisa runtuh dalam sekejap. Dan akhirnya, hal yang paling pasti dalam hidup ini adalah betapa fananya hidup manusia.

Pemazmur tampaknya sangat memahami fakta ini. Ketika ia merenungi betapa fananya hidup di dunia, maka ia menyadari betapa banyaknya hal sia-sia yang diributkan manusia (ayat 7). Satu harapan paling kokoh yang kita miliki hanyalah pada Tuhan. Rasa percaya kita kepada-Nya tidak akan pernah sia-sia. Dari titik kesadaran ini, alangkah baiknya jika kita mengurangi perhatian pada hal-hal fana yang kerap dipermasalahkan dengan sesama manusia. Tata ulang prioritas hidup kita. Dan biarlah kita semakin giat melakukan hal-hal penting yang akan mempersiapkan kita menjelang kehidupan kekal yang tak mengenal kefanaan –OLV

TUHANLAH SATU-SATUNYA YANG BISA KITA PERCAYA

DI TENGAH KETIDAKPASTIAN HIDUP

Sumber : www.sabda.org

RANCANGAN BESAR

Rabu, 8 September 2010

Bacaan : Rut 4:14-17

4:14 Sebab itu perempuan-perempuan berkata kepada Naomi: “Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Termasyhurlah kiranya nama anak itu di Israel.

4:15 Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki.”

4:16 Dan Naomi mengambil anak itu serta meletakkannya pada pangkuannya dan dialah yang mengasuhnya.

4:17 Dan tetangga-tetangga perempuan memberi nama kepada anak itu, katanya: “Pada Naomi telah lahir seorang anak laki-laki”; lalu mereka menyebutkan namanya Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud.

RANCANGAN BESAR

“Hidup itu penuh dengan kemalangan, ” demikian kata-kata pahit yang keluar dari mulut seorang janda bernama Naomi (Rut 1:20, 21). Bayangkan kondisi seorang wanita yang baru saja ditinggal oleh suami dan bahkan anak-anak laki-lakinya. Sang janda yang malang ini hidup di tengah kelaparan di perantauan bersama kedua menantunya. Ia menolak dipanggil Naomi-yang artinya kesenangan, dan meminta dipanggil Mara, yang berarti pahit. Dan pada masa tuanya, ia hanya punya keinginan sederhana, yaitu menik-mati masa tua yang tenang dengan menimang cucu. Namun, semua itu menjadi tidak mungkin sebab kedua anak lelakinya mati tanpa meninggalkan keturunan!

Bukankah kita juga demikian? Hidup kita dipenuhi dengan mimpi dan harapan. Banyak hal kita cita-citakan. Namun, ketika sesuatu terjadi dalam hidup ini dan mengandaskan impian kita, maka kita merasa hidup dan semangat kita pun hancur bersamanya. Dalam kondisi demikian, kita pun semakin sulit memahami bahwa Tuhan pasti memiliki rancangan yang baik. Bahwa Dia memiliki “mimpi” bagi hidup kita dan pasti menjadikan segala sesuatu baik pada waktunya.

Kita tahu, cerita Naomi ini adalah kisah yang berakhir dengan kebahagiaan. Pada akhirnya Alkitab menulis bahwa Naomi memangku cucunya dengan gembira pada hari tuanya (4:16). Dan bukan hanya itu, mimpi Allah bagi dirinya juga terwujud, karena pada akhirnya Naomi mengenal bahwa Allah memelihara hidupnya (ayat 14). Hari ini, jika kita menilik lagi mimpi kita yang kandas, lihatlah rancangan besar-Nya; Dia selalu ada dan memelihara dengan sempurna –HSL

MIMPI BESAR KITA MUNGKIN BISA KANDAS

TETAPI KITA HARUS YAKIN PENYERTAAN-NYA

TAK PERNAH LEPAS

Sumber : www.sabda.org

DOA SEPAKAT

Pesan Gembala

28 Maret 2010

Edisi 119 Tahun 03

DOA SEPAKAT

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati. Dalam Matius 18, Yesus memberikan sebuah janji yang luar biasa kepada orang-orang percaya. Dia berkata: ”Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang daripadamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di Sorga.” (Matius 18:19).

Doa yang sepakat itulah yang membuka sumber-sumber di Sorga. Yesus berkata bahwa kita dapat memiliki “apapun juga” bila kita sepakat/sehati dalam doa. Nampaknya tidak ada kualifikasi atau batasan bila kita sehati. Dan kita perlu mempelajari sifat doa yang sehati dan bagaimana menerapkannya. Seperti setiap prinsip yang Alkitabiah, adalah sangat penting bagi kita untuk memahami dan berpegang pada konteks yang ada.

Dalam bagian pertama dari ayat 18, Yesus berbicara mengenai kedudukan dalam Kerajaan Allah, batu-batu sandungan dan domba yang hilang. Dalam ayat 15-35, Yesus mengajar mengenai mendisiplin seorang saudara seiman dan pengampunan. Yesus berkata bahwa apabila seorang saudara seiman menolak koreksi, maka kesalahannya harus diteguhkan oleh dua atau tiga orang saksi (ayat 16). Bila tidak ada pertobatan, maka seluruh jemaat harus memberikan disiplin. Dalam konteks inilah Yesus berkata bahwa apapun yang kita ikat atau lepaskan di dunia juga akan terikat atau terlepas di Surga.

“Mengikat dan melepaskan” mencakup tiga bidang yang utama.

PERTAMA, penerapan otoritas rohani atas Setan dan kerajaannya.

KEDUA, mengikat dan melepaskan orang-orang dari dosa dan kesalahan. Kita bukanlah orang-orang yang mengampuni dosa; hanya Allah yang sanggup melakukan hal iu. Meskipun demikian, bila kita menolak memberikan/membebaskan orang-orang yang telah mengakui dosa-dosanya di hadapan Allah, maka masih ada belenggu yang berakibat pada kehidupan mereka. Kita harus memberikan pengampunan atau kelepasan, sehingga Petrus memberikan pertanyaan “sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku?”

KETIGA, mengikat dan melepaskan akan mencakup jawaban atas doa. Selanjutnya Tuhan Yesus berbicara demikian: “Jika dua orang daripadamu sepakat”. Kesehatian atau kesepakatan menghasilkan jawaban atas doa yang kita naikkan, kita harus belajar sehati. Perjanjian baru memakai beberapa istilah/kata dalam bahasa Yunani bagi kata SEPAKAT.

Dalam Matius 5:25, kita disuruh untuk bedamai dengan musuh kita segera. Dalam bahasa Yunani-nya adalah EUNOEO yang artinya rekonsiliasi. Dalam I Yohanes 5:8 kita diberitahu baha Roh dan Air dan Darah. Kata Yunani-nya disini adalah EKSIS dan itu digunakan untuk menegaskan. Dalam Kisah para Rasul 15:5 kita diberitahu bahwa “perkataan para nabi sesuai satu sama lain”. Konkordasi Strong mendefinisikan kata SUMPHONEO sebagai “menjadi harmonis”. Kata yang sama digunakan dalam Matius 18:19 . Kata SUMPHONEO berasal dari kata SUM yang merupakan kata depan yang berarti bersatu dengan, dan kata PHONE yang artinya mengartikulasikan sebuah nada atau suara. Bila digabungkan kedua kata tersebut maka berkembang menjadi kata simponi yang artinya sebuah kesatuan suara yang muncul dalam dalam simponi yang sempurna.

Doa sepakat adalah kesehatian yang sempurna antara hati, kerinduan, harapan dan suara dua orang atau lebih yang sedang berdoa (dikutip dari Clarke Commentary). Selanjutnya Clarke mengatakan seperti beberapa alat musik yang dimainkan dengan penuh keahlian sangat menyukakan hati manusia. Demikian pula doa umat Allah yang harmonis menyukakan hati Tuhan. Sebuah simponi terdiri dari berbagai macam alat musik, masing-masing alat musik memiliki ciri khas dan unik, memiliki karakteristik dan suara. Meskipun demikian bila dimainkan dengan selaras maka menghasilkan musik yang indah.

Doa sepakat adalah perpaduan individu-individu yang unik dengan sebuah tujuan yang sama dalam kesatuan Roh. Jadi dibutuhkan dua orang percaya atau lebih untuk menaikkan doa sepakat. Seorang percaya tidak dapat sepakat dengan orang yang belum percaya kecuali itu adalah doa untuk keselamatan orang yang belum percaya itu. Namun bila dua atau tiga orang yang adalah umat Allah, masing-masing mengijinkan pikiran Kristus dan sifat-Nya menguasai mereka, menaikkan doa sepakat , terjadi sesuatu..!!!

Siapakah yang lebih bisa sehati, dibandingkan sepasang suami istri? Di dalam Kristus mereka menjadi satu, bukan hanya secara fisik namun juga di dalam Roh. Jemaat dan kelompok-kelompok kecil dapat menaikkan doa sepakat, namun mereka jarang bisa menandingi kesehatian sepasang suami istri Kristen yang komit. Itulah sebabnya mengapa begitu penting bagi suami istri Kristen untuk berdoa bersama. Doa mereka yang sehati dapat memindahkan gunung. Meskipun demikian mereka tetap harus memerlukan latihan bersama, sebab dengan latihan bisa membawa mereka menjadi lebih baik.

Allah sedang memulihkan doa di dalam gereja. Doa adalah alat yang penuh kuasa yang tersedia bagi kita orang percaya.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien

Gembala Sidang

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Tuhan Menyediakan

PESAN GEMBALA

03 JANUARI 2010

EDISI 107 TAHUN 3

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat yang dikasihi Tuhan, Kisah Alkitab dalam II Raja-raja 4:1-7 menceritakan tentang seorang janda dan dua orang anaknya. Ia mempunyai kebutuhan yang penting dan juga memerlukan kesembuhan luka-lukanya. Ia tidak mempunyai suami, ia tidak mempunyai mata pencaharian dan tidak mempunyai uang, bahkan tuannya dalam pekerjaan mengusir dia keluar, ditambah lagi situasi ketika itu di daerah tempat tinggalnya mengalami kelaparan. Sehingga ia mengalami suatu dilema. Bersyukur, sebab ia tahu kemana ia harus mencari pertolongan.

Di tengah-tengah masyarakat yang penuh kekuatiran pada zaman sekarang, apakah orang-orang yang menderita, kekurangan, krisis keuangan tahu kemana harus berpaling? Jawaban yang benar hanyalah memandang ALLAH. Profil Elisa memuat keberhasilan-keberhasilan pelayanannya yang besar. Di jaman sebelum ia menjadi bagian dari suatu mujizat yang memberi persediaan untuk memenuhi kebutuhan seluruh jajaran ketentaraan. Ia sangat berperan dalam menggagalkan usaha pemberontakan Moab. Namun ia bisa tersentuh melihat seorang penderitaan seorang janda yang miskin, sehingga Elisa meluangkan waktu untuk mendengarnya, menasehati dan melayani dia.

Ketika suaminya masih hidup, dia dan anak-anaknya dapat terpelihara dengan baik, tetapi ketika suaminya mati, mereka menjadi terlantar. Dalam menanyakan kebutuhan si janda ini, Elisa menanyakan sebuah pertanyaan yang umum “apa yang ada di dalam rumahmu?” janda itu meresponi dengan lamban. Ia tahu isi rumahnya kosong, setiap lemari, ruangan sudah bersih. Maka ia berkata “tidak ada apapun kecuali satu buli-buli minyak.” Betapa mudahnya berkata “tidak ada apa-apa.”. kemudian ia teringat sebuah buli-buli minyak yang sangat kecil.

Sama seperti Yesus ketika memberi makan ribuan orang. Tidak ada apa-apa kecuali dua ikan dan lima ketul roti, dari anak kecil yang bersedia membagi hasil tangkapannya bersama Yesus. Apa yang sangat kecil adalah apa yang dibutuhkan, dan itu adalah kunci jawaban.

ELISA menantang janda itu “pergilah”, ia tidak berkata mari kita berdoa untuk hal ini, atau coba saya memikirkan seenak, tetapi sebaliknya ia katakan “pergilah dan mintalah bejana-bejana dari luar, dari segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi JANGAN TERLALU SEDIKIT”. Jadi ini bersifat aktif dan sangat menarik bahwa ini adalah nasehat kepada seorang wanita yang terlilit banyak hutang. Sekarang diperintahkan untuk “pergi dan minta lagi”.

Kita diingatkan oleh Allah yang rindu menerima semua yang datang kepada-Nya, bahwa kita semua adalah agen-agen-Nya untuk membawa bala bantuan dan harapan bahkan untuk seorang janda yang berhutang. Sebagai pekerja-pekerja Kristus kita harus memperbesar harapan kita sendiri akan apa yang Ia ingin lakukan di dalam hidup kita dan hidup orang-orang yang kita layani.

Ketika memperbesar harapan kita, sadarilah bahwa Allah menyediakan lebih dari cukup provisi lewat mengambil ketidakberdayaan kita dan mengaitkannya dengan kemahakuasaan-Nya. Ini suatu titik dimana perkara-perkara mulai terjadi. Hidup kekal dari Allah ada di dalam kita. Hidup-Nya dikaitkan dengan hidup kita. Kebenaran yang mengherankan dari Roma 5:17 adalah suatu kuasa yang besar:”sebab jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka yang menerima kelimpahan kasih dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.”

Kristus lewat kematian-Nya di atas kayu salib menanggung dosa-dosa kita. Apa yang terjadi dengan hidup-Nya? Hidup-Nya datang kepada kita, anak-anakNya. “Kristus dalam kamu, harapan kemuliaan-Nya.” “sebab Aku hidup maka kamu juga akan hidup.” “Aku datang supaya kamu memperoleh hidup yang lebih berkelimpahan”. Jadi kita hidup dan berkuasa oleh karena satu nama itu, yaitu Yesus Kristus. Kita hidup, bergerak dan bernafas dalam Dia. Terus menerus Ia ingin memperbesar kita, bahakan seperti Elisa yang memperbesar iman janda yang miskin tersebut.

Ini merupakan pra syarat dari mujizat-mujizat di setiap rumah. Janda itu harus meminjam, dan bukan hanya sedikit bejana. Ketika hal itu dilakukan, ia haru masuk ke dalam dan menutup pintu di belakangnya. Mengapa harus “masuk ke dalam” dan “menutup pintu”? Allah berkata “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”. Masuk ke dalam dan menutup pintu di belakangnya. Masuk ke dalam dan menutup pintu mengijinkan saudara menutup pintu kepada mereka yang tidak bakal ada sesuatu yang terjadi. Sesungguhnya itu merupakan suatu kesempatan untuk menutup pintu kepada hal-hal yang negatif. Ketika di tempat yang sunyi DIA berkata “janganlah mengingat perkara yang sudah berlalu. Aku akan membuat hal-hal baru”. Tomas yang bimbang tidak diijinkan masuk, jadi hal-hal yang tidak penting dilucuti.

Kemudian Alkitab berkata bahwa si janda dan anak-anaknya pergi ke dalam, dengan bejana-bejana yang ditumpuk (sama tingginya/banyaknya dengan harapan mereka) dan mulai menuang. IMAN ADALAH SUBSTANSI PENUANGAN ITU. Suatu bukti tindakan, percaya dan yakin bahwa itu PASTI BERHASIL.

IMANUEL, TUHAN YESUS MEMBERKATI

SELAMAT TAHUN BARU 2010

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

BERKAT DI BALIK NYANYIAN

Senin, 30 November 2009

Bacaan : Kisah 16:19-25

16:19 Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa.

16:20 Setelah mereka membawa keduanya menghadap pembesar-pembesar kota itu, berkatalah mereka, katanya: “Orang-orang ini mengacau kota kita ini, karena mereka orang Yahudi,

16:21 dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Rum tidak boleh menerimanya atau menurutinya.”

16:22 Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka.

16:23 Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh.

16:24 Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat.

16:25. Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.

BERKAT DI BALIK NYANYIAN

Nyanyian dalam kehidupan umat kristiani memiliki tempat yang sangat penting; bukan hanya dalam ibadah formal, melainkan juga dalam hidup sehari-hari. Melalui nyanyian yang kita naikkan atau dengarkan kita bisa merasakan, bahkan mengalami, kasih dan kuasa Allah. Seperti yang dirasakan dan dialami oleh Paulus dan Silas.

Karena fitnah, Paulus dan Silas mengalami penganiayaan dan dipenjarakan (ayat 23). Bahkan juga dibelenggu dalam pasungan yang kuat (ayat 24). Tetapi, mereka tidak mengeluh ataupun berputus asa. Pada ayat 25 dikatakan demikian: “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.” Lalu terjadilah gempa bumi yang hebat. Semua pintu penjara terbuka, dan mereka terlepas dari belenggu (ayat 26).

Mungkin sekarang ini Anda tengah mengalami penderitaan yang hebat; kesulitan dan persoalan bertubi-tubi datang menerpa, beban hidup terasa berat, masa depan suram tidak menentu. Anda pun seolah hidup dalam penjara kepahitan. Jangan kecil hati, naikkanlah pujian. Seperti nyanyian ini: “Tenanglah kini hatiku, Tuhan memimpin langkahku. Di tiap saat dan kerja tetap kurasa tangan-Nya. Tuhanlah yang membimbingku; tanganku di pegang teguh. Hatiku berserah penuh, tanganku di pegang teguh” (Kidung Jemaat no. 410. Judul asli: He Leadeth Me). Resapi syairnya. Hayati musiknya. Rasakan kasih dan kuasa Allah melaluinya. Mungkin masalah Anda tidak lantas selesai, tetapi setidaknya iman Anda akan dipulihkan, pengharapan Anda dikobarkan, dan kasih Anda diteguhkan –AYA

NYANYIAN PUJIAN AKAN MEMBAWA KITA

SELANGKAH LEBIH DEKAT DENGAN TUHAN

Sumber : http://www.sabda.org