MUMPUNG MASIH MUDA

Rabu, 28 Desember 2011

Bacaan : Mazmur 90

90:1. Doa Musa, abdi Allah. Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.

90:2 Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.

90:3 Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!”

90:4 Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam.

90:5 Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh,

90:6 di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.

90:7. Sungguh, kami habis lenyap karena murka-Mu, dan karena kehangatan amarah-Mu kami terkejut.

90:8 Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu.

90:9 Sungguh, segala hari kami berlalu karena gemas-Mu, kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh.

90:10 Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.

90:11 Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu?

90:12. Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

90:13 Kembalilah, ya TUHAN–berapa lama lagi? –dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

90:14 Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.

90:15 Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka.

90:16 Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu, dan semarak-Mu kepada anak-anak mereka.

90:17 Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu.

MUMPUNG MASIH MUDA

Andai seseorang bertanya, “Kapan Anda akan mati?”, apa jawaban Anda? Ini pertanyaan yang sulit. Banyak orang meninggal di usia tua, tetapi tidak sedikit juga yang meninggal di usia muda, bahkan kanak-kanak. Kematian memang bisa menjemput manusia kapan saja, sesuai waktu Tuhan. Walaupun demikian, ternyata ada banyak orang yang tidak mau berpikir mengenai kematian. Hal-hal yang berbau kematian kerap dibuang jauh-jauh dari pikiran. Dianggap tabu untuk dibicarakan. Ini memang ironi. Akibatnya, sebagian dari kita kemudian tidak berpikir: “Bagaimana saya mempersiapkan kematian?”, “Mau ke mana saya setelah mati?” Sebaliknya, lebih kerap berpikir: “Selagi masih muda, nikmatilah hidup”, “Apa lagi yang harus saya capai di hidup ini?”

Kita perlu belajar dari Musa. Berapakah usia Musa saat meninggal? Ia berusia 120 tahun (Ulangan 34:7) cukup panjang. Akan tetapi, apa yang ia katakan mengenai hidup? Hidup itu singkat, seperti rumput yang tumbuh pada waktu pagi dan layu pada waktu petang (ayat 5-6). Oleh sebab itu, Musa memohon hikmat Tuhan agar mampu menghitung hari. Artinya, ia sangat menyadari bahwa hidup itu singkat. Karena itu, ia minta dimampukan untuk mengisi hidupnya secara bijaksana.

Kita memang tidak akan tahu kapan hidup kita akan berakhir. Namun, selagi masih ada kesempatan, gunakanlah waktu dengan bijaksana. Apa yang paling bijaksana bagi kita? Pertama, memastikan keselamatan kita. Kedua, mengambil keputusan untuk percaya kepada Tuhan. Ketiga, mengisi hidup dengan hal-hal yang berkenan di mata Tuhan serta memasyhurkan nama-Nya –RY

WAKTU BEGITU CEPAT BERLALU

AMBILLAH KEPUTUSAN YANG TEPAT SEBELUM MENYESAL

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

HARI SIAL?

Sabtu, 6 Maret 2010

Bacaan : Mazmur 18:17-20

18:17 (18-18) Ia melepaskan aku dari musuhku yang gagah dan dari orang-orang yang membenci aku, karena mereka terlalu kuat bagiku.

18:18 (18-19) Mereka menghadang aku pada hari sialku, tetapi TUHAN menjadi sandaran bagiku;

18:19 (18-20) Ia membawa aku ke luar ke tempat lapang, Ia menyelamatkan aku, karena Ia berkenan kepadaku.

18:20. (18-21) TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku, Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku,

HARI SIAL?

Apakah ada hari yang sial? Yakni suatu hari ketika segala sesuatu selalu tampak kacau. Kata orang Jawa, ora kebeneran. Semua terasa tak terkendali, semua terasa aneh, semua terasa tak bersahabat. Jika Anda pernah mengalami suatu hari seperti itu, sering Anda menganggapnya sebagai hari yang sial, bukan?

Pemazmur jelas-jelas menyebutkan bahwa ia memiliki hari yang sial: “Mereka menghadangku pada hari sialku”. Ini mengingatkan kita kepada perhitungan horoskop, yang menyebutkan ada hari-hari tertentu yang naas, alias sial, alias tak mendatangkan keberuntungan. Apakah pemazmur memercayai adanya hari semacam ini? Mungkin saja. Dalam pemikiran budaya-religius orang di zaman pemazmur, agaknya memang ada hari yang dianggap naas. Namun, kalaupun ada anggapan demikian, yang lebih penting adalah iman pemazmur yang mengatakan bahwa Tuhan lebih berkuasa daripada perhitungan hari-hari naas semacam itu: “tetapi Tuhan menjadi sandaran bagiku”(ayat 19). Jadi, ia tak mau terjebak dan terbelenggu pada ramalan mengenai hari naas, hari sial. Tuhan adalah Allah yang berkuasa atas setiap hari dan di setiap hari. Itulah iman pemazmur. Imannya tidak terhenti pada ketakutan yang ditebarkan oleh perhitungan hari-hari. Imannya adalah pada Tuhan yang mengatasi semua hari.

Hari ini adalah hari yang dijadikan Tuhan untuk Anda. Buang jauh-jauh sugesti horoskop, singkirkan segera ketakutan Anda . masukilah hari ini dengan iman bahwa Tuhan adalah Allah atas hari ini, yang berkuasa atas hari ini. Jadi angkatlah hati Anda dan bersukacitalah pada hari ini! -DKL

SETIAP HARI YANG TUHAN JADIKAN

ADALAH BAIK ADANYA

Sumber : www.sabda.org