LAHIR DARI HATI

Sabtu, 18 Februari 2012

Bacaan : Lukas 11:37-44

11:37. Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan.

11:38 Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.

11:39 Tetapi Tuhan berkata kepadanya: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.

11:40 Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam?

11:41 Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.

11:42 Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

11:43 Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.

11:44 Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

LAHIR DARI HATI

Seorang pemuda yang mengendarai motor diberhentikan oleh polisi karena melanggar lampu merah. Sang polisi bertanya, “Apa kah Saudara tidak melihat lampu sudah berganti merah?” Si pemuda dengan santai menjawab, “Saya melihat, Pak.” “Lalu kenapa Anda tetap menerobosnya?” tanya polisi dengan heran. Si pemuda menjawab ringan, “Masalahnya, saya tidak melihat Pak Polisi berdiri di situ.” Alamak! Si pemuda itu taat hanya jika ada petugas.

Kesalehan orang Farisi juga hanya di depan orang. Ibadah mereka lebih mengutamakan hal lahiriah, agar dilihat baik dan terpuji. Bagai membersihkan cawan dari luarnya saja sementara dalamnya tetap kotor (ayat 39). Yesus menegur mereka dengan keras, “Celakalah kamu!” kata-Nya seraya membeberkan kejahatan mereka (ayat 42-44). Bagi orang Farisi, manusia disucikan oleh perbuatannya, sementara bagi Yesus, kesucian lahir dari hati yang diubahkan, dan mewujud di dalam tindakan (ayat 41). Hati yang bersih akan melahirkan perbuatan yang bersih. Sebaliknya, perbuatan yang bersih belum tentu menjamin hati yang bersih.

Bahaya mengutamakan penampakan luar daripada perubahan hati bisa juga terjadi pada kita. Keinginan untuk dipandang baik dapat membuat kita bersikap baik di depan orang. Namun, bagaimana jika tak ada orang lain? Biarlah peringatan Yesus membuat kita tersungkur dalam kegentaran di hadapan Tuhan Yang Mahatahu. Ya, Dia mengenal isi hati tiap orang. Perilaku manis kita tak dapat mengelabuinya. Hanya dari hati yang murni dapat lahir perbuatan-perbuatan yang memperkenankan Tuhan. Selamat menjaga hati! –ENO

Berawal dari hati yang bersih

Lahir tindakan-tindakan yang memuliakan Tuhan

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

UJI KELAYAKAN

Jumat, 25 November 2011

Bacaan : Mazmur 139:17-24 

139:17. Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!

139:18 Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.

139:19 Sekiranya Engkau mematikan orang fasik, ya Allah, sehingga menjauh dari padaku penumpah-penumpah darah,

139:20 yang berkata-kata dusta terhadap Engkau, dan melawan Engkau dengan sia-sia.

139:21 Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau?

139:22 Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku.

139:23 Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;

139:24 lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!

UJI KELAYAKAN

Kita tidak dapat menilai karya kita sendiri secara objektif. Itulah sebabnya, selalu dibutuhkan pihak yang independen dan tepercaya untuk menguji dan menilai. Sebagai contoh, makanan dan obat-obatan harus diuji kelayakannya untuk dikonsumsi, oleh BPOM. Sebuah laporan keuangan dapat dipercaya kelayakan penyajiannya setelah diperiksa oleh auditor independen. Di sini, kualitas dan integritas sang penguji sangat menentukan apakah hasil pengujiannya dapat dipercaya atau tidak.

Demikian pula dengan hati kita. Sesungguhnya kita tak dapat menilai hati kita sendiri. Kita mungkin berpendapat bahwa apa yang kita lakukan sudah memiliki motivasi yang benar. Akan tetapi, belum tentu itu terbukti benar di hadapan Tuhan. Pemazmur juga merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah benar, walau demikian ia tetap meminta Tuhan menyelidiki hati dan pikirannya. Semua ini didasari dengan kesadaran bahwa Tuhan itu Mahatahu Dia benar-benar mengetahui segala isi hati dan pikirannya. Dan, karena Tuhan adalah kebenaran maka semua penilaian Tuhan pasti benar. Lebih jauh, pemazmur juga menunjukkan hati yang mau diajar dan dituntun ke jalan yang benar.

Mungkin kita sudah merasa bahwa semua yang kita kerjakan telah kita lakukan dengan cara dan motivasi yang benar, bagi kemuliaan Tuhan. Namun, kerap kali kita tidak menyadari bila motivasi kita perlahan mulai berubah. Maka, kita perlu selalu terbuka di hadapan Tuhan. Mintalah Tuhan melihat hati kita yang terdalam. Dan, apa pun yang Tuhan singkapkan, biarlah kita memiliki hati yang mau ditegur dan mau dituntun ke jalan yang benar –VT

AGAR DAPAT HIDUP BERKENAN DI HADAPAN TUHAN

KITA HARUS SELALU TERBUKA UNTUK DIUJI DAN DITUNTUN TUHAN

Dikutip : www.sabda.org


SIAPAKAH ANDALANMU?

Kamis, 17 November 2011 

Bacaan : Lukas 12:13-34 

12:13. Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.”

12:14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?”

12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.

12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.

12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.

12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!

12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?

12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

12:22. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.

12:23 Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian.

12:24 Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu!

12:25 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya?

12:26 Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain?

12:27 Perhatikanlah bunga bakung, yang tidak memintal dan tidak menenun, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

12:28 Jadi, jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya!

12:29 Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu.

12:30 Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu.

12:31 Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.

12:32 Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.

12:33 Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat.

12:34 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

SIAPAKAH ANDALANMU?

Ketamakan dapat melanda siapa saja. Bukan hanya orang yang berkuasa, orang miskin dan tidak memiliki kuasa juga bisa salah menyikapi harta di hidupnya. Ketamakan orang yang berkuasa menimbulkan tindak korupsi, ketamakan orang miskin menghalalkan pencurian. Semua didasari oleh sikap mengandalkan harta, lebih dari mengandalkan Tuhan.

Berlawanan dengan sikap hidup demikian, Tuhan Yesus mengajar orang beriman supaya memercayai pemeliharaan Allah di hidupnya. Tantangan-Nya agar orang menjual segala milik dan memberikan sedekah adalah jawaban radikal supaya orang bisa terlepas dari belenggu harta yang menghalanginya untuk menemukan Kerajaan Allah. Ketamakan manusia yang menimbun harta, akan menyebabkan ketidakseimbangan, ketidakadilan, dan kecemburuan sosial. Pesan ini tidak hanya berbicara pada zaman itu karena adanya ketimpangan sosial antara orang miskin yang tertindas oleh penjajah, dan kalangan orang kaya yang berkolusi dengan penguasa. Namun, juga berbicara untuk saat ini dan di negeri ini, di mana banyak terjadi kolusi antara para pemegang kuasa dan uang, untuk memperkaya diri.

Hidup yang mengandalkan Tuhan membuahkan sikap hidup mau berbagi. Sebaliknya, hidup yang mengandalkan harta membuat orang tamak dan mementingkan diri sendiri. Tuhan tahu kita memerlukan harta untuk hidup, tetapi harta itu sama sekali tak boleh menjadi andalan. Tuhan Yesus menghendaki agar kita mencari Kerajaan Allah lebih dulu, baru yang lain akan ditambahkan. Tuhan kita tak pernah ingkar janji. Maka, ketika kita mengandalkan pemeliharaan Tuhan, kita tak akan kecewa –ENO

KETAMAKAN ADALAH USAHA MEMPEROLEH BAGIAN HIDUP

YANG MERUSAK HIDUP ITU SENDIRI

Dikutip : www.sabda.org

YEREMIA DAN HANANYA

Minggu, 16 Oktober 2011

Bacaan : Yeremia 28 

28:1. Dalam tahun itu juga, pada permulaan pemerintahan Zedekia, raja Yehuda, dalam bulan yang kelima tahun yang keempat, berkatalah nabi Hananya bin Azur yang berasal dari Gibeon itu kepadaku di rumah TUHAN, di depan mata imam-imam dan seluruh rakyat:

28:2 “Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu.

28:3 Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel.

28:4 Juga Yekhonya bin Yoyakim, raja Yehuda, beserta semua orang buangan dari Yehuda yang dibawa ke Babel akan Kukembalikan ke tempat ini, demikianlah firman TUHAN! Sungguh, Aku akan mematahkan kuk raja Babel itu!”

28:5 Lalu berkatalah nabi Yeremia kepada nabi Hananya di depan mata imam-imam dan di depan mata seluruh rakyat yang berdiri di rumah TUHAN itu,

28:6 kata nabi Yeremia: “Amin! Moga-moga TUHAN berbuat demikian! Moga-moga TUHAN menepati perkataan-perkataan yang kaunubuatkan itu dengan dikembalikannya perkakas-perkakas rumah TUHAN dan semua orang buangan itu dari Babel ke tempat ini.

28:7 Hanya, dengarkanlah hendaknya perkataan yang akan kukatakan ke telingamu dan ke telinga seluruh rakyat ini:

28:8 Nabi-nabi yang ada sebelum aku dan sebelum engkau dari dahulu kala telah bernubuat kepada banyak negeri dan terhadap kerajaan-kerajaan yang besar tentang perang dan malapetaka dan penyakit sampar.

28:9 Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh TUHAN.”

28:10. Kemudian nabi Hananya mengambil gandar itu dari pada tengkuk nabi Yeremia, lalu mematahkannya.

28:11 Berkatalah Hananya di depan mata seluruh rakyat itu: “Beginilah firman TUHAN: Dalam dua tahun ini begitu jugalah Aku akan mematahkan kuk Nebukadnezar, raja Babel itu, dari pada tengkuk segala bangsa!” Tetapi pergilah nabi Yeremia dari sana.

28:12 Maka sesudah nabi Hananya mematahkan gandar dari pada tengkuk nabi Yeremia, datanglah firman TUHAN kepada Yeremia:

28:13 “Pergilah mengatakan kepada Hananya: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah mematahkan gandar kayu, tetapi Aku akan membuat gandar besi sebagai gantinya!

28:14 Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Kuk besi akan Kutaruh ke atas tengkuk segala bangsa ini, sehingga mereka takluk kepada Nebukadnezar, raja Babel; sungguh, mereka akan takluk kepadanya! Malahan binatang-binatang di padang telah Kuserahkan kepadanya.”

28:15 Lalu berkatalah nabi Yeremia kepada nabi Hananya: “Dengarkanlah, hai Hananya! TUHAN tidak mengutus engkau, tetapi engkau telah membuat bangsa ini percaya kepada dusta.

28:16 Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku menyuruh engkau pergi dari muka bumi. Tahun ini juga engkau akan mati, sebab engkau telah mengajak murtad terhadap TUHAN.”

28:17 Maka matilah nabi Hananya dalam tahun itu juga, pada bulan yang ketujuh.

YEREMIA DAN HANANYA

Apa yang kita harapkan saat menghadiri ibadah atau saat mengundang seorang hamba Tuhan untuk berbicara di acara kita? Mungkin kita berharap mendengar hal-hal menyenangkan seperti bahwa kita dikasihi Tuhan, bahwa penyakit kita segera sembuh, masalah kita segera teratasi, keluarga pasti rukun, serta berkat Tuhan senantiasa melimpah bagi kita.

Tentu semua harapan baik itu tidak salah. Namun hendaklah kita ingat, maksud Tuhan tak selalu disampaikan dengan cara yang kita sukai. Firman-Nya tidak untuk menyenangkan telinga kita semata, tetapi untuk membawa kita semakin dekat kepada-Nya dan memahami maksud-Nya. Pada zaman Zedekia menjadi raja Yehuda, Yeremia dan Hananya sama-sama menjadi nabi yang menyampaikan firman Tuhan. Yeremia dan nabi-nabi pendahulu menubuatkan tentang pembuangan umat ke Babel, sementara Nabi Hananya menyampaikan hal sebaliknya, yakni tentang berakhirnya pembuangan. Tentu perkataan ini lebih suka didengarkan. Sayangnya, itu tidak berasal dari Tuhan. Nabi Hananya pun dihukum.

Kata-kata manis memang menyenangkan untuk didengar, sedangkan teguran atau peringatan sering membuat telinga menjadi panas. Tetapi adakalanya hal yang tak enak didengar pun perlu untuk kebaikan kita. Jadi, jika kita adalah orang yang dipercaya untuk menyampaikan firman Tuhan, sampaikanlah pesan bukan untuk menyenangkan pendengar, tetapi menyenangkan Tuhan. Jika kita adalah pendengar, kita perlu belajar mendengar dengan baik apa yang Tuhan sukai dan bukan hanya memilih apa yang menyukakan hati kita –SL

TUHAN BERBICARA DENGAN BANYAK CARA

DENGARKANLAH DENGAN AKAL BUDI DAN HATI

Dikutip : www.sabda.org

BERHATI DEGIL

Jumat, 12 Agustus 2011

Bacaan : Markus 6:45-52

 6:45. Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.

6:46 Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.

6:47 Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat.

6:48 Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.

6:49 Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,

6:50 sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

6:51 Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung,

6:52 sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.

  

BERHATI DEGIL

Orang bijak bisa belajar dari apa pun. Tidak saja dari hal positif, tetapi bahkan dari hal negatif. Maka, kita bersikap bijak dengan tetap berusaha belajar sesuatu dari bacaan hari ini, walau kisahnya menceritakan tentang para murid Yesus yang tidak berhati peka.

Biasanya, kisah Yesus dan para murid berakhir dengan pengalaman positif. Namun kali ini, sang “narator” melaporkan bahwa para murid belum juga mengerti, hati mereka tetap “degil” atau “tidak peka” dalam terjemahan barunya (ayat 52). Kata “degil” berasal dari bahasa Yunani: poroo, artinya “tertutupi oleh sesuatu yang tebal, mengeras, tak kunjung paham”. Ya, hati para murid tetap poroo, walau mereka baru mengalami peristiwa hebat: Yesus berjalan di atas air. Ironis, bukan? Setelah Yesus menyatakan diri pun, para murid tetap “sangat tercengang dan bingung” (ayat 51). Padahal sebelumnya Yesus juga baru saja membuat mukjizat: memberi makan 5.000 orang (6:30-44, 52). Sungguh disayangkan, hati para murid ini begitu kaku, beku, dan tertutup, sehingga lawatan Tuhan di depan mata tak kunjung menghasilkan sukacita yang penuh rasa kagum.

Kita pun kerap bersikap seperti para murid. Kita tidak selalu cepat paham dan tidak selalu mengerti karya Tuhan. Hati kita tetap degil, keras, kaku, bebal, poroo. Hari ini, mari panjatkan doa untuk satu hal: meminta kepekaan hati untuk melihat kehadiran dan karya Tuhan setiap hari. Agar kita dapat senantiasa hidup dengan rasa syukur dan kagum tiada henti, atas kebaikan-Nya yang tersebar dalam banyak peristiwa. Hati yang penuh kagum, hormat, dan syukur kepada Allah akan membangkitkan kekuatan batin yang besar –DKL

BIARLAH HATI KITA SELALU TERBUKA

PADA SETIAP KETERLIBATAN TUHAN DI HIDUP KITA

Dikutip : www.sabda.org

 

DUA RESPONS

Jumat, 24 Juni 2011

Bacaan : Matius 21:28-32

21:28. “Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.

21:29 Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.

21:30 Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.

21:31 Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.

21:32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”

 

DUA RESPONS

Yesus bercerita tentang seorang bapa yang mempunyai dua anak. Ketika sang bapa menyuruh dua anaknya bekerja di kebun anggur, ada dua respons yang berbeda. Anak yang pertama mengiyakan, tetapi setelah berlalu dari hadapan sang bapa, ia tak jadi melakukannya (ayat 29). Yang kedua menolak, tetapi setelah pergi, ia pun menyesal dan kemudian melakukan perintah bapanya itu (ayat 30). Di akhir perumpamaan, Yesus membawa para imam kepala dan tua-tua Yahudi untuk menyimpulkan bahwa yang lebih berharga adalah anak yang taat melakukan perintah bapanya. Secara mengejutkan, Yesus berkata, “… sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (ayat 31).

Apakah maksud Tuhan? Pertama, Tuhan tidak terpesona pada janji di mulut. Dia lebih menanti bukti ketaatan. Tuhan tidak mau kita berjanji manis ketika menaikkan banyak pujian dan doa dalam ibadah, tetapi setelah itu kita lupa melakukan apa yang kita janjikan.

Kedua, Tuhan tidak mau kita menghakimi orang lain yang kita anggap “sedang lemah secara rohani” orang-orang yang sedang menjalani hidup yang tak berkenan kepada Tuhan. Lalu berpikir bahwa mereka pasti akan “tertinggal” di belakang. Jangan salah. Tuhan dapat memakai segala cara untuk menjangkau mereka. Dan, jika mereka bertobat dan mau taat, mereka bahkan bisa “mendahului” kita. Maka, daripada kita menghakimi dan kemudian justru tertinggal, mari menjadi pribadi yang dipakai Tuhan untuk menjangkau saudara-saudara yang belum bertobat. Ingatlah, Tuhan lebih mencari hati yang taat –AW

TUHAN TIDAK MENCARI MULUT YANG BERJANJI

DIA MENCARI HATI YANG MAU TAAT MENGABDI

Dikutip : www.sabda.org

KYRIE ELEISON

Rabu, 8 Juni 2011

Bacaan : Mazmur 6

6:1. Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Menurut lagu: Yang kedelapan. Mazmur Daud. (6-2) Ya TUHAN, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu.

6:2 (6-3) Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-tulangku gemetar,

6:3 (6-4) dan jiwakupun sangat terkejut; tetapi Engkau, TUHAN, berapa lama lagi?

6:4 (6-5) Kembalilah pula, TUHAN, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu.

6:5 (6-6) Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati?

6:6 (6-7) Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.

6:7 (6-8) Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku.

 

6:8. (6-9) Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab TUHAN telah mendengar tangisku;

6:9 (6-10) TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku.

6:10 (6-11) Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata.

 

KYRIE ELEISON

Lagu gereja bertema memohon belas kasihan Tuhan dikenal dengan istilah Kyrie Eleison, yang berarti “Tuhan kasihanilah”. Lagu ini biasanya dinyanyikan saat umat memohon belas kasihan Tuhan dalam tata ibadah pengampunan dosa.

Penulis Mazmur 6 pun tengah memohon belas kasihan Tuhan. Alasannya, karena ia merana (ayat 3). “Merana” diterjemahkan dari bahasa Ibrani umlal yang berarti “lemah atau rentan”. Pemazmur mengakui kelemahan dan kerentanan dirinya dalam menghadapi orang-orang yang hendak melakukan kejahatan terhadapnya (ayat 9). Itulah sebabnya ia mengeluh dan menangis sepanjang malam (ayat 7, 9). Yang menarik adalah bahwa dalam situasi seperti itu, pemazmur pertama-tama tidak merancang strategi A, atau B, atau C. Hal yang ia lakukan pertama-tama adalah melibatkan Tuhan dalam situasinya dan mengakui kerentanannya sendiri. Ia membawa persoalannya kepada Allah yang walaupun bisa menghukum dan bisa marah (ayat 2), juga ia yakini penuh kasih setia (ayat 5) serta sedia mendengar keluhan; rintihan orang yang lemah dan dijahati sesamanya (ayat 9, 10). Bagi pemazmur, Allah bukan ada di awang-awang. Allah adalah Pribadi yang nyata melakukan pembelaan dan menolong mereka yang umlal, yang lemah dan rentan.

Apakah saat ini hati Anda sedang sakit, sedih, dan perlu pertolongan? Apakah hidup Anda sedang diimpit permasalahan dan kesukaran, dan Anda merasa merana sendiri? Jika Anda sedang resah, datanglah kepada Allah dan dengan jujur memohon: “Kyrie Eleison … Tuhan kasihanilah … aku orang lemah. Engkaulah harapan dalam menghadapi keresahanku ini.” Anda tidak sendirian! –DKL

HATI TUHAN TERARAH KEPADA HATI SETIAP ORANG

TERUTAMA KEPADA HATI YANG SEDANG TERLUKA

Dikutip : www.sabda.org