HIDUP BARU

Sabtu, 7 Juli 2012

Bacaan : Efesus 4:17-32

4:17. Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia

4:18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.

4:19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.

4:20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.

4:21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,

4:22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,

4:23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,

4:24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

4:25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.

4:28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.

4:31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

 

HIDUP BARU

Selama 16 tahun, John Kovancs tinggal di terowongan kereta api bawah tanah nan gelap. Saat ada perbaikan terowongan, ia terpaksa mencari tempat tinggal baru. Suatu saat, ia terpilih menjadi orang pertama yang memenangkan program “mengubah tunawisma menjadi penghuni rumah tetap” yang diadakan The New York Times. John meninggalkan tempat tinggal lamanya dan menjadi petani organik di New York. Katanya, “Udara di luar sini terasa lebih baik. Saya tak akan merindukan kehidupan lama saya. Saya tak akan kembali ke sana lagi.”

Pernyataan John semestinya juga mewakili sikap hati kita dalam menjalani kehidupan manusia baru di dalam Kristus. Paulus menyebutnya “menanggalkan manusia lama” dan “mengenakan manusia baru” (ayat 22-23). Mengapa mesti menanggalkan manusia lama? Manusia lama itu jauh dari hidup yang berasal dari Allah (ayat 18). Oh, adakah yang lebih buruk daripada hidup yang jauh dari Allah? Hidup yang diliputi kebodohan dan kekerasan hati; membuat perasaan menjadi tumpul sehingga hawa nafsu, serakah, dan perbuatan cemarlah yang dilakukan setiap kali (ayat 19). Sementara itu, mengenakan manusia baru berarti dibarui dalam roh dan pikiran (ayat 23); diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (ayat 24). Jadi, ada perubahan selera dan orientasi hidup; meneladan Kristus (ayat 20); ramah, penuh kasih mesra, saling mengampuni (ayat 32).

Masihkah kita menginginkan manusia lama? Dalam hal apa kita cenderung berbalik kepada manusia lama? Mari mohon pengampunan Tuhan. Diiringi pertolongan Roh Kudus, serukanlah komitmen John Kovancs: “Saya tak akan kembali ke sana lagi!” –NIL

MANUSIA BARU MEMUNCULKAN SELERA HIDUP YANG BARU.

Iklan

TUTTI FRATELLI

 

Rabu, 24 November 2010

Bacaan : 1 Yohanes 3:14-18

14Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.

15Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.

16Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

17Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?

18Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

TUTTI FRATELLI

Konon yang menggerakkan Henry Dunant untuk mendirikan organisasi Palang Merah Internasional adalah suatu pertempuran di sebuah daerah bernama Solferino, Italia, pada 1859. Saat itu, jatuh 38.000 korban luka maupun meninggal dari kedua belah pihak. Namun, hampir tidak ada orang yang peduli. Karena itu, Dunant menggerakkan warga sekitar untuk merawat, tanpa memedulikan latar belakang korban, di pihak mana ia berada. Tutti fratelli (semua adalah saudara) merupakan slogan mereka hari itu.

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita menemukan prinsip serupa dengan kisah di atas. Rasul Yohanes mengingatkan jemaat agar selalu berbuat baik kepada sesama-hidup tanpa membuat “kotak-kotak pemisah”. Berbuat baik dan mengasihi berarti juga belajar peka akan kebutuhan sesama kita; ketika sesama mengalami kekurangan, kita tidak menutup pintu hati kita (ayat 17). Jemaat, yang telah me-ngenal kasih Kristus serta menjalani hidup baru, dengan demikian diajak untuk mengasihi bukan hanya dengan perkataan atau sebatas lidah, melainkan juga dengan perbuatan nyata (ayat 18).

Dalam kitab-kitab Injil pun kita menemukan bahwa berkali-kali Tuhan Yesus mengajar kita-anak-anak-Nya-untuk mengasihi dan berbuat baik tanpa pilih-pilih. Bangsa Yahudi atau Samaria, kaya atau miskin, sahabat atau musuh. Perintah ini mengembalikan kita pada hakikat keberadaan manusia, yang sesungguhnya adalah saudara-bersaudara. Tak ada penghalang yang layak membatasi kita untuk tidak berbuat baik kepada sesama. Biarlah gereja Tuhan memulai lagi gerakan kasihnya. Sebab dari sikap hidup yang seperti itu pulalah Injil tersebarkan –ALS

SEBAB DUNIA INI ADALAH SATU KELUARGA

MAKA SETIAP ORANG HARUS SALING MENERIMA DENGAN KASIH

Sumber : www.sabda.org

Siap memasuki kehidupan baru

PESAN GEMBALA

20 DESEMBER 2009

EDISI 105 TAHUN 2

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati, hari-hari ini telah terasa suasana perayaan natal, baik di gereja-gereja yang merayakan, di toko-toko dengan pernak-pernik natal yang dipajang, dan juga di rumah tangga-rumah tangga Kristen. Itu semua baik namun akan lebih baik lagi kalau mengerti akan kehadiran dan kasih Kristus dalam kehidupan kita. Sehingga kita semua bisa memahami arti kehidupan. Ketika Tuhan melewati kehidupan-Nya sebagai manusia, Dia memahami kehidupan dalam hidupnya. Sejak kembalinya Yusuf dan Maria ke Nazareth, Tuhan melewati kehidupan-Nya sejak kecil hingga usia 30 tahun di Nazareth. Dia bertumbuh dalam perawakan, hikmat dan roh, serta menjadi seorang pemuda dewasa. Dalam Lukas 2:52, “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besarnya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”

Selama 30 tahun, Tuhan Yesus menjalani kehidupan-Nya dengan sempurna secara normal dan ketaatan, Dia tidak pernah berbuat dosa, sehingga Bapa sungguh berkenan kepada-Nya. Matius 3:16-17, “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Laluu terdengarlah suara dari Sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Ketika Tuhan Yesus mencapai usia 30, saat itu Bapa menyatakan panggilan-Nya yang menjadi tujuan kedatangan dan kelahiran-Nya ke dunia (memberitakan Kerajaan Sorga). Saat itulah sesuatu yang baru tiba dalam kehidupan-Nya. Tuhan Yesus menyadari hal itu, bahwa saat itu musim kehidupan sedang bergulir ke musim yang baru, dari tukang kayu lalu dipanggil menjadi guru dan pemberita injil.

Apa yang Dia lakukan? Dia melangkah ke Sungai Yordan untuk memberikan diri dibaptis sehingga Dia dipenuhi Roh Kudus, Lukas 4:1, “Yesus yang penuh dengan Roh Kudus (being filled with Holy Spirit) kembali ke Sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke Padang Gurun.” Selanjutnya, Dia dibawa ke padang gurun untuk berpuasa selama 40 hari sehingga Dia berjalan dalam kuasa Roh Kudus. Tuhan telah mengajarkan kita, ketika musim kehidupan berganti, maka tidak ada cara lain kecuali menyiapkan diri dan memakai perlengkapan baru untuk melewati musim baru. Kristus memberikan diri-Nya dibaptis, dipenuhi Roh Kudus, dan berpuasa selama 40 hari, sehingga Dia berjalan dalam kuasa Roh Kudus. Saat itulah Dia siap melangkah ke musim kehidupan yang baru, dari seorang tukang kayu menjadi pemberita injil.

Dalam perjanjian lama dikisahkan tentang Yusuf anak Yakub, sampai dengan usia 17 tahun, Yusuf hidup dengan tenang dan nyaman di rumah ayahnya. Namun, sesuatu terjadi tanpa disangka-sangka. Saudara-saudaranya menjebaknya dan menjualnya sebagai budak dan ia pun dibawa ke Mesir. Yusuf kehilangan semua yang ia miliki dalam hidupnya. Ia kehilangan ayahnya, rumahnya, saudara-saudaranya dan juga kehidupannya yang nyaman, bahkan identitas sosialnya. Dari seorang anak dari keluarga yang cukup berada, tiba-tiba ia manjadi seorang budak yang terdampar di negeri asing dengan keadaan tanpa modal, kedudukan, kenalan bahkan status dan hak.

Lalu apa rahasia keberhasilan Yusuf? Ketika ia tiba di Mesir, ia tidak memiliki apapun, namun ada satu hal yang ia miliki dalam hidupnya, yaitu, penyertaan Tuhan yang menjadi sumber kasih karunia dalam hidupnya. Kejadian 39:2, “tetapi Tuhan menyertai Yususf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya, maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.” Yusuf sangat menyadari penyertaan Tuhan, selanjutnya kita semua telah mengetahui proses perubahan dari seorang budak, lalu diangkat Tuhan menjadi seorang yang paling berkuasa di Mesir. Rahasia suksesnya adalah ketika masuk dan melewati masa krisisnya menyadari penyertaan Tuhan dalam hidupnya.

Kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus dapat membawa seseorang menemukan kekuatan/ kejayaannya kembali. Dan berjalan makin lama makin kuat, bahkan memipin seseorang dari kemuliaan yang satu menuju kemuliaan berikutnya. Orang yang hidup dipimpin oleh Roh Kudus akan melangkah seiring pergerakan Roh dalam hidupnya. Seperti halnya angin yang bergerak menurut waktunya, dan tidak dapat diduga sebelumnya, demikianlah Roh Kudus membawa kita berjalan selangkah demi selangkah, sebagaimana burung rajawali terbang, ia akan senantiasa memperhatikan arah angin sebelum terbang. Sebab ia akan terbang bersama dan memanfaatkan pergerakan angin sehingga mampu terbang mencapai ketinggian yang melebihi burung lainnya.

Demikian pula cara bangsa Israel melakukan perjalanan di padang gurun. Selama awan kemuliaan Tuhan tidak bergerak, merekapun akan berkemah di tempat itu, sebaliknya ketika awan Tuhan naik dari kemah suci, itulah saatnya (KAIROS) bangsa Israel meninggalkan tempat itu, mengikuti pergerakan awan Tuhan. Sebab mereka bergantung dan ditopang oleh keberadaan awan kemuliaan Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA