BODOH NAMUN TERPILIH

Kamis, 18 April 2013

Bacaan   : 1 Korintus 1:18-31

1:18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

1:19 Karena ada tertulis: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.”

1:20 Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?

1:21 Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.

1:22 Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat,

1:23 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,

1:24 tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

1:25 Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.

1:26 Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.

1:27 Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,

1:28 dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,

1:29 supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.

1:30 Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.

1:31 Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”

BODOH NAMUN TERPILIH

Setelah melayani beberapa tahun di Filipina Selatan sebagai misionaris, keluarga Tarigan kembali ke Medan dan membagikan pengalaman mereka. Untuk memudahkan mereka belajar bahasa lokal, mereka mempekerjakan seorang ibu setempat untuk mengurusi pekerjaan rumah tangga. Mereka harus bersabar karena ibu tersebut bekerja sangat lamban. “Ia tidak bisa mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. Kalau ia memasak sambil menyeterika, salah satunya pasti gosong”, katanya. Selama itu, mereka berulang-ulang memberitakan Injil kepadanya. Akhirnya, ibu itu percaya pada Yesus dan minta dibaptis.

Kemudian ibu itu minta izin untuk kembali ke desanya. Ia terbeban untuk memberitakan Injil kepada suaminya dan keluarganya yang lain. Dengan tidak banyak berharap, Pak Tarigan mengizinkannya. Beberapa bulan kemudian, ibu itu mengirim pesan, meminta agar Pak Tarigan datang karena sudah ada lima belas orang yang percaya dan siap dibaptis. Pak Tarigan tidak percaya begitu saja. Ia pergi untuk memeriksanya, dan memastikan apa yang mereka percayai. Ternyata, mereka memang mendapatkan pengajaran yang benar: bahwa Yesus mati untuk menyelamatkan mereka. Hingga saat ini, gereja hasil rintisan ibu itu masih terus bertumbuh.

Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar tidak bermegah atas berbagai kelebihan mereka. Allah dapat saja memilih orang yang tidak diperhitungkan oleh manusia, agar nyata kebesaran-Nya melalui mereka. Yang terpenting bukanlah siapa Anda, melainkan di tangan siapa Anda berada. –HT

JIKA TUHAN HENDAK MEMAKAI ANDA,

 SIAPAKAH YANG DAPAT MENCAMPAKKAN ANDA?

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

Iklan

HANYA FIRMAN

Jumat, 18 November 2011

Bacaan : Matius 11:2-19 

11:2 Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus,

11:3 lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”

11:4 Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat:

11:5 orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.

11:6 Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”

11:7. Setelah murid-murid Yohanes pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari?

11:8 Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja.

11:9 Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi.

11:10 Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu.

11:11 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.

11:12 Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya.

11:13 Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes

11:14 dan–jika kamu mau menerimanya–ialah Elia yang akan datang itu.

11:15 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!

11:16. Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya:

11:17 Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.

11:18 Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan.

11:19 Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.”

HANYA FIRMAN

Ketika pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan berjalan dengan baik, kita mudah mengatakan bahwa Tuhan menyertai kita. Namun, apa perasaan kita jika musibah tiba-tiba datang sehingga hidup menjadi sulit, tertekan, terancam? Apalagi jika kita merasa harus menanggung semua itu sendiri. Bagaimana jika iman kita yang tadinya kita anggap teguh, tiba-tiba goyah?

Yohanes Pembaptis adalah orang yang memecah kebisuan setelah lebih dari 3 abad tidak ada nabi Allah yang berbicara. Ia tampil sebagai nabi yang kuat, yang berani menegur dosa banyak orang, termasuk Herodes raja yang sedang berkuasa sehingga ia harus masuk penjara. Dialah yang memperkenalkan Yesus sebagai Mesias dan meyakini dirinya hanya pembuka jalan (bandingkan dengan Yohanes 1:19-37). Namun, ketika ia menderita di penjara, dan merasa harus menanggungnya sendiri, keyakinan Yohanes goyah. Ia pun mengutus muridnya untuk bertanya kepada Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menanti yang lain?” Bagaimana reaksi Yesus? Dia menyuruh murid itu kembali dan menceritakan apa yang mereka dengar dan saksikan tentang segala yang diperbuat Yesus: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta ditahirkan, orang tuli mendengar, orang mati bangkit, dan orang miskin mendengar kabar baik. Yesus ingin Yohanes mengingat nubuat Yesaya, yang sedang digenapi dalam hidup dan pelayanan Yesus (Yesaya 29:18, 35:5-6). Maka, kebenaran firman itulah yang meneguhkan lagi iman Yohanes.

Jika iman kita goyah, izinkan Roh Kudus berbicara melalui firman yang kita renungkan setiap hari. Firman yang hidup itu berkuasa meneguhkan kembali langkah kita dalam mengikut Dia –SST

APABILA KESUKARAN MENGGOYAHKAN KEYAKINAN

CARILAH SANDARAN PADA FIRMAN TUHAN YANG MENEGUHKAN

Dikutip : www.sabda.org

SENSOR ANAK

Jumat, 23 Juli 2010

Bacaan : Mazmur 119:33-40

119:33. Perlihatkanlah kepadaku, ya TUHAN, petunjuk ketetapan-ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir.

119:34 Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati.

119:35. Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya.

119:36 Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba.

119:37. Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan!

119:38. Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu.

119:39. Lalukanlah celaku yang menggetarkan aku, karena hukum-hukum-Mu adalah baik.

119:40. Sesungguhnya aku rindu kepada titah-titah-Mu, hidupkanlah aku dengan keadilan-Mu!


SENSOR ANAK

Sebagai bos perusahaan software terbesar di dunia, ternyata Bill Gates tidak membebaskan anak-anaknya menghabiskan waktu di depan komputer tanpa kenal batas. Gates dan istrinya, Melinda, sepakat membatasi putri mereka yang baru berusia sepuluh tahun, untuk bermain game komputer maksimal 45 menit setiap hari, dan enam puluh menit saja pada akhir pekan. Waktu lainnya di depan komputer semata adalah untuk mengerjakan tugas sekolah. Selain itu, dengan bantuan perangkat lunak khusus, Gates tetap mengawasi situs apa saja yang dijelajahi si anak via internet setiap hari.

Teknologi sangat cepat berubah. Dan anak-anak sekarang sangat mudah menerima dan menjadi akrab dengannya. Padahal, ia dapat menawan anak-anak kita sedemikian rupa, tanpa mudah kita kendalikan. Lalu bagaimana kita sebagai orangtua dapat “mengawalnya”? Satu hal yang penting ia miliki ialah kesukaan akan firman Allah (ayat 35). Agar firman itu menjadi standar kelakuannya, pilihannya, keputusannya. Firman itu akan memberinya hikmat. Firman itu akan mengajar dan memperingatkannya, ketika ia hendak terbujuk untuk berjalan menyimpang (ayat 36, 37). Firman itu menolongnya menyensor segala sesuatu yang hendak masuk ke dalam pikiran dan dirinya (ayat 9).

Sebagai orangtua, kita perlu mengajak anak menyukai firman Tuhan sejak dini. Salah satunya dengan meneladankan kesetiaan membaca Alkitab. Kita tak tahu seperti apa kemajuan teknologi yang kelak dihadapi anak-anak kita. Namun hikmat Allah melalui firman-Nya dapat selalu menjawab setiap pergumulan anak-anak kita, walaupun kita tak di sisi mereka –AW

ANAK TAK PERLU DIHINDARKAN DARI MAJUNYA TEKNOLOGI

IA HANYA PERLU PERISAI FIRMAN TUHAN YANG MELINDUNGI

Sumber : www.sabda.org

HIKMAT MEMBONGKAR KELICIKAN

Selasa, 5 Mei 2009

HIKMAT MEMBONGKAR KELICIKAN

Bacaan : 1Raja 3:16-28

3:16. Pada waktu itu masuklah dua orang perempuan sundal menghadap raja, lalu mereka berdiri di depannya.

3:17 Kata perempuan yang satu: “Ya tuanku! aku dan perempuan ini diam dalam satu rumah, dan aku melahirkan anak, pada waktu dia ada di rumah itu.

3:18 Kemudian pada hari ketiga sesudah aku, perempuan inipun melahirkan anak; kami sendirian, tidak ada orang luar bersama-sama kami dalam rumah, hanya kami berdua saja dalam rumah.

3:19 Pada waktu malam anak perempuan ini mati, karena ia menidurinya.

3:20 Pada waktu tengah malam ia bangun, lalu mengambil anakku dari sampingku; sementara hambamu ini tidur, dibaringkannya anakku itu di pangkuannya, sedang anaknya yang mati itu dibaringkannya di pangkuanku.

3:21 Ketika aku bangun pada waktu pagi untuk menyusui anakku, tampaklah anak itu sudah mati, tetapi ketika aku mengamat-amati dia pada waktu pagi itu, tampaklah bukan dia anak yang kulahirkan.”

3:22 Kata perempuan yang lain itu: “Bukan! anakkulah yang hidup dan anakmulah yang mati.” Tetapi perempuan yang pertama berkata pula: “Bukan! anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup.” Begitulah mereka bertengkar di depan raja.

3:23 Lalu berkatalah raja: “Yang seorang berkata: Anakkulah yang hidup ini dan anakmulah yang mati. Yang lain berkata: Bukan! Anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup.”

3:24 Sesudah itu raja berkata: “Ambilkan aku pedang,” lalu dibawalah pedang ke depan raja.

3:25 Kata raja: “Penggallah anak yang hidup itu menjadi dua dan berikanlah setengah kepada yang satu dan yang setengah lagi kepada yang lain.”

3:26 Maka kata perempuan yang empunya anak yang hidup itu kepada raja, sebab timbullah belas kasihannya terhadap anaknya itu, katanya: “Ya tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia.” Tetapi yang lain itu berkata: “Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!”

3:27 Tetapi raja menjawab, katanya: “Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia; dia itulah ibunya.”

3:28 Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.

HIKMAT MEMBONGKAR KELICIKAN

Kedua perempuan itu saling menuduh; masing-masing menyebut yang lain berbuat curang. Perempuan yang pertama sangat pintar, tetapi licik. Ia mencoba mengambil keuntungan dari kematian bayinya. Ia lalu bertindak sok adil ketika Salomo hendak membelah bayi yang mereka perebutkan. Tampaknya perempuan ini memperjuangkan keadilan, padahal perjuangannya itu berpangkal dari kebusukan hati (ayat 26). Sebaliknya, ibu dari si bayi yang hidup meminta belas kasihan bagi sang bayi. Sangat berbeda, bukan?

Di sinilah keistimewaan Salomo. Ia memecahkan dilema itu dengan sangat cerdas, walaupun amat riskan. Nyata bahwa hikmatnya melebihi akal-akalan perempuan yang bayinya mati itu. Ia tidak hanya mampu melihat kelicikan perempuan itu, tetapi juga berhasil menyingkapkannya. Ia menemukan cara luar biasa, melalui gertakan mengerikan, untuk membuktikan keaslian ibu kandung sang bayi. Bagi Salomo, keadilan bukan sekadar dibuktikan oleh nyaringnya tuntutan. Keadilan berarti mengerti betul persoalan dan mampu menguji perkara sampai ke intinya.

Di tengah banyak orang yang seolah-olah bersikap adil, seolah-olah memperjuangkan kebenaran, kita digugah untuk “bangun”. Bangun untuk mengambil sikap bijaksana yang kritis, yang berbelas kasih, yang penuh hikmat, yang paham menimbang perkara. Namun, kita baru bisa melakukannya hanya jika kita meminta rahmat kebijaksanaan dari Tuhan, serta berjuang sekuat tenaga dan pikiran agar dapat menimbang segala sesuatu sematang dan seutuh mungkin. Bukan hanya saat menghadapi persoalan besar, melainkan juga dalam menangani perkara kecil –DKL

HIKMAT BUKAN HANYA PENGETAHUAN AKAN KEBENARAN

MELAINKAN KEKUATAN UNTUK MENERAPKAN KEBENARAN TERSEBUT

Sumber : http://www.sabda.org

Menjadi Berkat

7 Desember 2008

Edisi 52 Tahun I

Menjadi Berkat

 

Inilah nasehat Paulus kepada jemaat di Kolose dalam Kolose 4:2-6: “…supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus…”

 

Rasul Paulus menulis surat ini kepada jemaat Tuhan yang ada di Kolose dengan maksud supaya  mereka bisa menhadi berkat bagi orang lain tentang kebenaran Kristus atau bisa menyampaikan keselamatan melalui Yesus Krisus kepada jemaat lain.

 

Ada tiga hal yang perlu kita ketahui untuk menjadi berkat bagi orang lain:

1.  Berdoa dan berjaga-jaga (ayat 2)

Siapapun kita tidak ada yang kebal tehadap dosa, sebab jalan untuk melakukan dosa sangat besar dan luas di depan kita, serta kapan saja bisa melakukannya. Mengapa banyak anak-anak  Tuhan jatuh? Bahkan hamba-hamba Tuhan atau pekerja biksa jatuh dalam dosa?

 

Hari-hari ini kita perlu meningkatkan doa dan berjaga-jaga, sebab roh memang penurut tetapi daging lemah, kalau tidak berdoa dan berjaga-jaga maka akan gampang sekali jatuh  dalam pencobaan dan terlibat dalam dosa. (Matius 26:41).

 

Allah melalui Rasul Yakobus menasehatkan kepada kita untuk bisa berjaga-jaga dan bisa memperoleh kemenangan untuk menjadi saksi (Yakobus 4:7-8).

 

Pertama, tunduk kepada Allah, taat melakukan perintahNya dan memiliki roh takut akan Tuhan.

 

Kedua, melawan iblis, dengan otoritas dari Tuhan kita dapat melawannya.

 

Ketiga, mendekat kepada Allah, Allah mau kita mendekat kepadaNya supaya kita tahu kehendak dan rencanaNya.

 

Keempat, hidup kudus, menjaga kekudusan. Sebab Allah kita kudus.

 

2.  Hidup dengan penuh hikmat dari Tuhan (ayat 5).

Untuk menjadi berkat harus memperoleh hikmat dari Tuhan, bukan hikmat dari dunia ini, sebab hikmat dari dunia mendatangkan kekacauan dan penuh dengan iri hati dan mementingkan diri sendiri. Bahkan beberapa orang yang merasa berhikmat malah memperkeruh suasana dan membuat keadaan menjadi kacau.

 

Hikmat Allah sangat dibutuhkan bagi kita orang percaya untuk menjadi saksi Kristus, dalam Yakobus 3:17,”Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.”

 

Murni berarti tidak termotivasi untuk mementingkan diri sendiri.

 

Pendamai artinya tidak memecah belah satu sama lain, tetapi membawa damai.

 

Peramah, hikmat itu disampaikan dengan baik dan sopan.

 

Penurut artinya mau diarahkan dan dibimbing untuk menjadi baik.

 

Penuh belas kasihan, setiap tindakan selalu memperhitungkan kasih, memperhatikan keberadaan orang lain.

 

Tidak memihak artinya hikmat itu bijaksana dan adil, tidak pilih kasih.

 

Tidak munafik, tindakan kita tidak menjadi batu sandungan orang lain.

 

Bangsa kita perlu orang-orang yang berhikmat  dari Tuhan sehingga menjadi berkat bagi orang lain.

 

3.  Perkataan yang penuh kasih (ayat 6)

Orang yang menjadi berkat seharusnya memiliki perkataan yang penuh dengan kasih dan bukan perkataan yang hambar, bisa mengatur perkataan dan mengekang lidah. Setiap perkataan Tuhan Yesus selalu dengan kasih dan menyenangkan banyak orang. Dari hal itu mari kita semua bisa menjadi berkat bagi orang lain dengan mempunyai perkataan yang membangun, perkataan yang berdampak positif.

 

Apa yang diharapkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose ini biarlah menjadi bagian kita juga, sehingga kita menjadi berkat bagi orang lain dan menyenangkan hati Tuhan.

 

Tuhan Yesus memberkati

 

Gembala Sidang,

 

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA