YESUS JUGA MANUSIA

Minggu, 12 Agustus 2012

Bacaan : Ibrani 2:5-18

2:5. Sebab bukan kepada malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini.

2:6 Ada orang yang pernah memberi kesaksian di dalam suatu nas, katanya: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

2:7 Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat,

2:8 segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya.” Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepada-Nya.

2:9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.

 

2:10. Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah–yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan–,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.

2:11 Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara,

2:12 kata-Nya: “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat,”

2:13 dan lagi: “Aku akan menaruh kepercayaan kepada-Nya,” dan lagi: “Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepada-Ku.”

 

2:14. Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;

2:15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.

2:16 Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.

2:17 Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.

2:18 Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

 

YESUS JUGA MANUSIA

Di televisi beberapa kali terlihat seorang pejabat yang masuk ke perkampungan kumuh, lalu mencoba makan nasi bungkus dan menggendong seorang anak yang kumal. Kesan bahwa ia bersimpati dan merasakan penderitaan kaum miskin telah ia buat dalam sehari itu. Namun, seberapa jauh pengalaman itu membekas dalam hidupnya? Benarkah ia sungguh dapat merasakan penderitaan kaum tertindas dengan tindakan tersebut?

Tuhan Yesus pernah menjadi manusia seutuhnya. Dia memiliki darah dan daging, sama dengan yang dimiliki manusia (ayat 14). Dia mengalami dan melakukan hal-hal yang dialami dan dilakukan oleh manusia pada umumnya. Dia makan dan minum, menjadi letih, menangis dan seterusnya. Dia juga mengalami pencobaan, penderitaan bahkan maut (ayat 9, 18). Penderitaan fisik yang Dia alami di sekitar penyaliban-Nya merupakan penderitaan yang sulit dicari bandingannya. Penderitaan batin juga dijumpainya ketika Dia difitnah, ditolak, bahkan orang-orang terdekat-Nya menyingkir ketika Dia melangkah ke Golgota. Karena ia pernah menjadi manusia, maka seluruh penderitaan dan kegetiran manusia bukanlah hal yang asing bagi-Nya.

Kita biasanya menghargai seseorang yang mampu membayangkan penderitaan kita dan bersimpati karenanya. Namun, kita akan lebih merasa dekat dengan seseorang yang pernah merasakan penderitaan yang sama sehingga ia mampu berempati. Tuhan Yesus jauh melampaui semuanya itu karena Dia juga mampu mengenali keluhan-keluhan kita yang tak terucapkan. Kala hidup kita terpuruk, fisik kita ambruk, dan batin kita rasanya remuk, datanglah kepada Pribadi itu. Dia pernah menjadi manusia. –PBS

DIA SANGAT MENGERTI KITA

KARENA DIA PERNAH MENJADI SAMA SEPERTI KITA.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

SAUH BAGI JIWA

Minggu, 5 Februari 2012
Bacaan : Ibrani 6:9-20
6:9. Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan.
6:10 Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.
6:11 Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya,
6:12 agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.
6:13 Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya,
6:14 kata-Nya: “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.”
6:15 Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.
6:16 Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan.
6:17 Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah,
6:18 supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita.
6:19 Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir,
6:20 di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.

SAUH BAGI JIWA

Siapa yang tidak takut ketika harus menghadapi badai besar di tengah lautan? Angin dan ombak yang besar itu dapat membuat kapal yang kita tumpangi menjadi kandas. Pada saat seperti itulah sebuah sauh atau jangkar diturunkan ke dasar laut. Ukuran jangkar jelas sangat kecil bila dibandingkan dengan ukuran kapal, namun perannya sangat besar untuk menahan kapal dari terjangan ombak.
Alkitab mengibaratkan pengharapan kepada Tuhan seperti jangkar. Dengan jangkar itulah orang dapat bertahan dalam badai ketidakpastian hidup. Seperti pengalaman Abraham. Istrinya sudah menopause dan dirinya juga sudah begitu tua. Mungkinkah ia akan bisa mendapatkan keturunan seperti yang dijanjikan Tuhan? Penantian panjang ini seperti badai yang dapat menggoyahkan iman Abraham. Namun Alkitab mencatat, Abraham menanti dengan sabar (ayat 15). Mengapa? Karena Abraham tahu kepada Siapa ia meletakkan pengharapannya (ayat 16-18). Penulis kitab Ibrani mendorong jemaat Tuhan yang mulai goyah imannya untuk memiliki pengharapan yang demikian (ayat 11-12).
Tuhan kita adalah Tuhan yang selalu menepati janji-Nya. Dia tidak pernah berdusta. Apakah kita sungguh meletakkan pengharapan kita kepada-Nya? Menanti memang adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan, tetapi menanti adalah bukti kesungguhan iman dan pengharapan kepada Pribadi yang memberikan janji itu. Jangan berusaha menjawab pergumulan dengan cara kita sendiri. Jangan pernah meninggalkan pengharapan kita dalam Tuhan. Pengharapan itulah sauh bagi jiwa, yang akan menjaga kita untuk tidak goyah diombang-ambingkan badai kehidupan. –VT

Kita dapat berharap pada janji-janji Tuhan
Karena kita tahu Dia yang menjanjikannya setia
Dikutip : http://www.sabda.org

KURBAN PENGGANTI

Minggu, 11 Desember 2011

Bacaan : Ibrani 10:1-18

10:1. Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya.

10:2 Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya.

10:3 Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa.

10:4 Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.

10:5 Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki–tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku–.

10:6 Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan.

10:7. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.”

10:8 Di atas Ia berkata: “Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya” –meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat–.

KURBAN PENGGANTI

Dalam Perjanjian Lama, apabila seseorang ingin beribadah kepada Tuhan, ia harus membawa korban persembahan sebagai pengganti dosanya. Orang itu dianggap tidak layak menghadap Tuhan tanpa ada korban yang dibawa untuk dipersembahkan. Korban yang digunakan harus berupa ternak, seperti lembu, sapi, kambing, domba, burung tekukur atau merpati (Imamat 1:2, 14).

Alkitab berkata bahwa tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan (Ibrani 9:22). Untuk itulah perlu korban pengganti dosa. Korban yang digunakan harus sempurna, tak bercacat. Imam tidak akan memeriksa orang yang membawa persembahan, tetapi ia akan melihat dan memeriksa korban yang dipersembahkan. Jadi, orang itu dilayakkan menghadap Tuhan bukan karena dirinya, melainkan karena korban penggantinya!

Segala korban itu sudah disempurnakan Yesus di kayu salib. Dia tidak hanya bertindak sebagai Imam Besar untuk menjadi perantara Allah dan manusia, tetapi juga menjadi kurban pengganti. Saat kita menghampiri Allah, Dia tidak melihat diri kita yang berdosa. Dia melihat Yesus yang menjadi kurban penebus dosa. Jika kita bisa layak memiliki hubungan dengan Allah, itu semata karena kurban Yesus bagi kita. Itu sebabnya keselamatan yang kita dapat bukan hasil usaha sendiri, melainkan kasih karunia Allah.

Milikilah kesadaran bahwa kita berkenan di hadapan Tuhan semata-mata oleh karena darah Yesus, bukan karena siapa kita atau segala hal yang kita kerjakan. Dengan demikian, setiap pelayanan kita akan dilandasi oleh motivasi yang benar: kita adalah orang-orang yang dibenarkan oleh darah Kristus –PK

TUHAN TIDAK MELIHAT MANUSIA BERDOSA DIA HANYA MELIHAT KURBAN PENGGANTI!

Dikutip : www.sabda.org

RON ARTEST

Rabu, 29 September 2010

Bacaan : Kisah Para Rasul 9:1-19, 26-31

9:1. Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar,

9:2 dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

9:3 Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia.

9:4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?”

9:5 Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.

9:6 Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.”

9:7 Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun.

9:8 Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik.

9:9 Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.

9:10. Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: “Ananias!” Jawabnya: “Ini aku, Tuhan!”

9:11 Firman Tuhan: “Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa,

9:12 dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.”

9:13 Jawab Ananias: “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.

9:14 Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.”

9:15 Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.

9:16 Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.”

9:17 Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”

9:18 Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis.

9:19 Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. (9-19b) Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik.

9:26 Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid.

9:27 Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus.

9:28 Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan.

9:29 Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia.

9:30 Akan tetapi setelah hal itu diketahui oleh saudara-saudara anggota jemaat, mereka membawa dia ke Kaisarea dan dari situ membantu dia ke Tarsus.

9:31 Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.

RON ARTEST

Ron Artest dulunya dikenal sebagai atlet NBA (Liga Bola Basket Amerika Serikat) yang meski berbakat, tetapi sangat temperamental dan kontroversial. Citra ini terbentuk terutama karena perkelahiannya dengan penonton dalam sebuah pertandingan pada 2004. Pada awal musim pertandingan 2009/2010, ia bergabung dengan tim juara bertahan, Los Angeles Lakers. Pada waktu itu, ia mengaku sudah berubah. Sayang, banyak orang meragukannya. Namun, lewat pertandingan demi pertandingan, ia membuktikan janjinya. Hingga akhirnya ia malah berjasa besar membantu timnya menjadi juara liga.

Perjalanan hidup Paulus juga mirip dengan pengalaman Ron Artest. Ia dulunya adalah seorang musuh Kristus dan penganiaya jemaat. Singkat kata, masa lalunya begitu kelam. Namun oleh anugerah-Nya, Tuhan memanggilnya untuk bertobat melalui peristiwa di perjalanan ke Damsyik. Hanya saja, karena reputasi masa lalunya yang buruk, murid-murid yang lain sulit memercayai kalau Paulus sudah sungguh-sungguh berubah. Namun, kecurigaan ini tidak membuat Paulus undur. Ia terus berusaha meyakinkan mereka dengan bukti-bukti di hidupnya, bahwa ia sudah sungguh-sungguh berubah.

Salah satu tantangan dalam membuka lembaran hidup yang baru memang adalah kecurigaan dari orang-orang di sekitar kita, bahwa kita sudah sungguh-sungguh berubah. Akan tetapi, seperti yang dilakukan oleh Ron Artest dan Paulus, jangan kita undur karenanya. Sebaliknya, buktikanlah dengan menjalani hidup kita yang baru secara konsisten. Maka suatu hari kelak mereka akan percaya dan menerima kita sepenuhnya –ALS

ORANG YANG SUNGGUH BERTOBAT

PASTI AKAN MENUNJUKKAN

PERUBAHAN HIDUP YANG KONSISTEN

Sumber : www.sabda.org

MORNING CALL

Senin, 4 Januari 2010

Bacaan : Ibrani 10:19-31

10:19. Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,

10:20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,

10:21 dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.

10:22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.

10:23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.

10:24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.

10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

10:26 Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.

10:27 Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka.

10:28 Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi.

10:29 Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?

10:30 Sebab kita mengenal Dia yang berkata: “Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.” Dan lagi: “Tuhan akan menghakimi umat-Nya.”

10:31 Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup.

MORNING CALL

Morning call adalah kegiatan membangunkan pada pagi hari dengan cara menelepon. Dulu saya tidak mengerti manfaatnya, karena berpikir bahwa tidak ada bedanya antara bangun karena bunyi jam weker atau karena bunyi telepon. Hingga pada suatu pagi, seorang teman membangunkan saya melalui morning call karena kami akan bersaat teduh bersama. Ternyata, ketika saya dibangunkan oleh bunyi telepon dari teman tersebut, saya bangun dengan lebih bersemangat karena sadar bahwa ada orang lain yang juga tengah berjuang untuk bangun pagi-pagi dan bersiap untuk beraktivitas bersama kita.

Kesadaran bahwa kita tidak sendirian juga penting dimiliki dalam menjalani hidup sebagai orang kristiani-yang acap kali harus berjuang melawan arus dunia. Sebab ini adalah perjuangan yang melelahkan dan kerap membuat kita putus asa. Kesadaran bahwa kita tidak sedang berjuang sendiri akan menguatkan kita kembali. Ini pula sebabnya penulis kitab Ibrani menasihati kita untuk menyediakan waktu berkumpul dengan sesama orang percaya. Di sana kita akan diingatkan bahwa ada orang lain yang juga berjuang hidup untuk Tuhan. Di sana kita juga akan mendapat penguatan, nasihat, dan teguran yang akan memampukan kita untuk terus berjalan di jalan Tuhan.

Banyak hal yang dapat menghalangi kita untuk hadir dalam kegiatan persekutuan. Bisa karena alasan pekerjaan, keluarga, kondisi fisik, mood, dan sebagainya. Namun, jika kita mau dan rindu menjalani hidup sesuai kehendak-Nya, tidak bisa tidak, kita harus menyediakan diri untuk berkumpul dan bersekutu dengan sesama orang percaya -ALS

BERSEKUTU DENGAN SESAMA UMAT TUHAN

MENGUATKAN KITA UNTUK TERUS MELANGKAH DI JALAN TUHAN

Sumber : www.sabda.org

RAJA DI TENGAH KITA

Kamis, 24 Desember 2009

Bacaan : Ibrani 2:5-18

2:5. Sebab bukan kepada malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini.

2:6 Ada orang yang pernah memberi kesaksian di dalam suatu nas, katanya: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

2:7 Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat,

2:8 segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya.” Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepada-Nya.

2:9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.

2:10. Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah–yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan–,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.

2:11 Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara,

2:12 kata-Nya: “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat,”

2:13 dan lagi: “Aku akan menaruh kepercayaan kepada-Nya,” dan lagi: “Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepada-Ku.”

2:14. Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;

2:15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.

2:16 Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.

2:17 Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.

2:18 Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

RAJA DI TENGAH KITA

Spanyol adalah sebuah kerajaan monarki yang secara teritorial terus terjaga berabad-abad. Terdiri dari 50 provinsi, dan didiami oleh sekitar 43 juta rakyat. Sejak 1975, Raja Juan Carlos didampingi Ratu Sofia, telah menjadi pemimpin yang dekat di hati rakyat. Betapa tidak? Ia selalu berusaha menaruh perhatian pada seluruh warga Spanyol. Ia memberi penghargaan buat seorang pelukis Spanyol yang telah menetap di Bali dan menjadi WNI. Ia menghadiri misa pemakaman 41 orang yang tewas karena kecelakaan di Valencia. Ia bahkan menonton Grand Prix F1 di Catalunya, dan di situ sang pembalap Spanyol, Fernando Alonso, menjadi juaranya. Sang raja lebih memilih bertakhta di hati rakyat, ketimbang di singgasananya.

Ketika Raja Spanyol meletakkan segala keengganan dan arogansinya untuk menghampiri rakyat, rakyat pun mengenal rajanya. Demikian pula ketika Sang Raja di atas segala raja menghampiri manusia ciptaan-Nya. Terlalu besar kedahsyatan-Nya untuk dikenal oleh umat-Nya yang berpengertian kecil. Maka, Dia memilih untuk “menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka” (ayat 14). Dia rela “untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat” (ayat 7,9) agar manusia mengenal-Nya. Dan supaya dari pengenalan itu, manusia berketetapan mengikuti-Nya dan selamat, seperti yang dikehendaki-Nya (ayat 15-17).

Raja kita sudah meninggalkan takhta. Dia ada di antara kita. Dia mau tinggal bersama, agar hidup kita menjadi berarti. Mari terus sadari keberadaan-Nya di antara kita senantiasa. Jika Dia di tengah kita, bagaimanakah kita hendak memperlakukan hidup ini? –AW

MELAMPAUI SEGALA BATASAN TEMPAT DAN SAAT

DIA SELALU ADA DEKAT

Sumber : www.sabda.org

MELAWAN KETAKUTAN

Selasa, 13 Oktober 2009

MELAWAN KETAKUTAN

Bacaan : Ibrani 2:9-18

2:9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.

2:10. Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah–yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan–,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.

2:11 Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara,

2:12 kata-Nya: “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat,”

2:13 dan lagi: “Aku akan menaruh kepercayaan kepada-Nya,” dan lagi: “Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepada-Ku.”

2:14. Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;

2:15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.

2:16 Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.

2:17 Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.

2:18 Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

MELAWAN KETAKUTAN

Dalam buku terkenalnya yang berjudul The Denial of Death [Penyangkalan Terhadap Kematian], penulis dan ahli antropologi, Ernest Becker berpendapat bahwa semua kekhawatiran dan ketakutan kita berakar dalam ketakutan kita akan kematian. Walaupun Becker bukan pengikut Kristus, studi ilmiahnya dapat menjadi catatan tambahan bagi Ibrani 2, yang berkata bahwa natur kita dipengaruhi oleh ketakutan akan kematian sepanjang hidup (ayat 15).

Kita semua mengenal perasaan takut itu. Dan, tentunya orang-orang yang kita jumpai dalam Alkitab pun mengalami ketakutan, mulai dari kekhawatiran yang menggentarkan sampai kepanikan yang mengerikan. Namun, kita tidak perlu takut, bahkan saat kita menghadapi kematian. Tuhan kita telah mengalami kematian dan menaklukkannya!

Penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa Yesus “dibuat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, … supaya oleh anugerah Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia” (2:9). Melalui kematian-Nya, Kristus telah mengalahkan “dia, yaitu Iblis yang berkuasa atas maut,” membebaskan kita dari “takutnya kepada maut” (ayat 14,15).

Apakah Anda menjadi korban dari ketakutan-ketakutan Anda sendiri? Ingatlah kembali janji Kitab Suci yang indah dan dapat mengusir ketakutan: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yesaya 41: 10) –VCG

JIKA ANDA PERCAYA BAHWA YESUS HIDUP
ANDA TIDAK PERLU TAKUT TERHADAP KEMATIAN

Sumber : www.sabda.org