IMAM SEKALIGUS KURBAN

Senin, 1 April 2013

 Bacaan   : Ibrani 7:18-28

7:18 Jadi, sekarang peraturan yang lama sudah dikesampingkan, sebab tidak kuat dan tidak berguna.

7:19 Hukum agama Yahudi tidak dapat membuat sesuatu pun menjadi sempurna. Itu sebabnya kita sekarang diberikan suatu harapan yang lebih baik; dengan itu kita dapat mendekati Allah.

7:20 Lagipula, semuanya itu disertai dengan sumpah dari Allah. Tidak ada sumpah seperti itu pada waktu imam-imam yang lain itu diangkat.

7:21 Tetapi Yesus diangkat menjadi imam pakai sumpah, pada waktu Allah berkata kepada-Nya, “Tuhan sudah bersumpah, dan Ia tidak akan merubah pendirian-Nya, ‘Engkau adalah imam selama-lamanya.'”

7:22 Dengan ini pula Yesus menjadi jaminan untuk suatu perjanjian yang lebih baik.

7:23 Ada lagi satu hal: imam-imam yang lain itu ada banyak, sebab mereka masing-masing mati sehingga tidak dapat meneruskan jabatannya.

7:24 Tetapi Yesus hidup selama-lamanya, jadi jabatan-Nya sebagai imam tidak berpindah kepada orang lain.

7:25 Oleh karena itu untuk selama-lamanya Yesus dapat menyelamatkan orang-orang yang datang kepada Allah melalui Dia, sebab Ia hidup selama-lamanya untuk mengajukan permohonan kepada Allah bagi orang-orang itu.

7:26 Jadi, Yesus itulah Imam Agung yang kita perlukan. Ia suci; pada-Nya tidak terdapat kesalahan atau dosa apa pun. Ia dipisahkan dari orang-orang berdosa, dan dinaikkan sampai ke tempat yang lebih tinggi dari segala langit.

7:27 Ia tidak seperti imam-imam agung yang lain, yang setiap hari harus mempersembahkan kurban karena dosa-dosanya sendiri dahulu, baru karena dosa-dosa umat. Yesus mempersembahkan kurban hanya sekali saja untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban.

7:28 Hukum agama Yahudi mengangkat orang yang tidak sempurna menjadi imam agung. Tetapi kemudian dari hukum itu, Allah membuat janji dengan sumpah bahwa Ia mengangkat sebagai Imam Agung, Anak yang sudah dijadikan Penyelamat yang sempurna untuk selama-lamanya.

 

IMAM SEKALIGUS KURBAN

Tugas seorang pengacara adalah membela hak dan kepentingan hukum kliennya. Pengacara yang baik akan mengerahkan segala pikiran dan daya upaya supaya kliennya terbebas dari jerat hukuman. Namun, sebaik-baiknya seorang pengacara, saya tidak pernah mendengar pengacara yang mau menyerahkan dirinya untuk menanggung hukuman si klien ketika yang bersangkutan terbukti bersalah. Tidak ada pengacara yang mau meringkuk di penjara atau dihukum mati demi menggantikan kliennya!

Dalam kitab Ibrani, Tuhan Yesus disebut sebagai Imam kita (ay. 21). Tugas-Nya menyerupai seorang pengacara yang berusaha membebaskan kita dari hukuman (ay. 25). Kekudusan Allah menuntut supaya orang berdosa dibinasakan. Tuhan Yesuslah yang menghadap Allah Bapa bagi keselamatan kita. Akan tetapi, Dia jauh melebihi para imam dalam Perjanjian Lama (ay. 28). Bila mereka memperdamaikan umat dengan Allah melalui pengurbanan hewan, Dia malah mengurbankan diri-Nya sendiri sebagai tebusan dosa kita. Bila pengurbanan hewan hanya menutup dosa sementara waktu, pengurbanan Tuhan Yesus menebus dosa untuk selama-lamanya (ay. 27).

Kita harus membayar mahal untuk memperoleh jasa seorang pengacara top. Hal ini berbeda sekali dengan Tuhan Yesus sebagai Imam Agung kita. Kita tidak perlu membayar apa pun kepada-Nya. Justru Dialah yang telah membayar lunas diri kita dengan pengurbanan diri-Nya di atas kayu salib. Sudahkah kita datang kepada-Nya untuk memperoleh dan mensyukuri keselamatan yang kekal itu (ay. 25)? –JIM

PELANGGARAN MANUSIA ATAS KEKUDUSAN ALLAH HANYA BISA

DITEBUS OLEH PENGURBANAN ALLAH SENDIRI!

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

Iklan

TONGKAT HARUN

Senin, 5 September 2011

Bacaan : Bilangan 17 

17:1. TUHAN berfirman kepada Musa:

17:2 “Katakanlah kepada orang Israel dan suruhlah mereka memberikan kepadamu satu tongkat untuk setiap suku. Semua pemimpin mereka harus memberikannya, suku demi suku, seluruhnya dua belas tongkat. Lalu tuliskanlah nama setiap pemimpin pada tongkatnya.

17:3 Pada tongkat Lewi harus kautuliskan nama Harun. Bagi setiap kepala suku harus ada satu tongkat.

17:4 Kemudian haruslah kauletakkan semuanya itu di dalam Kemah Pertemuan di hadapan tabut hukum, tempat Aku biasa bertemu dengan kamu.

17:5 Dan orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas; demikianlah Aku hendak meredakan sungut-sungut yang diucapkan mereka kepada kamu, sehingga tidak usah Kudengar lagi.”

17:6 Setelah Musa berbicara kepada orang Israel, maka semua pemimpin mereka memberikan kepadanya satu tongkat dari setiap pemimpin, menurut suku-suku mereka, dua belas tongkat, dan tongkat Harun ada di antara tongkat-tongkat itu.

17:7 Musa meletakkan tongkat-tongkat itu di hadapan TUHAN dalam kemah hukum Allah.

17:8. Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam.

17:9 Kemudian Musa membawa semua tongkat itu keluar dari hadapan TUHAN kepada seluruh orang Israel; mereka melihatnya lalu mengambil tongkatnya masing-masing.

17:10 TUHAN berfirman kepada Musa: “Kembalikanlah tongkat Harun ke hadapan tabut hukum untuk disimpan menjadi tanda bagi orang-orang durhaka, sehingga engkau mengakhiri sungut-sungut mereka dan tidak Kudengar lagi, supaya mereka jangan mati.”

17:11 Dan Musa berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, demikianlah diperbuatnya.

17:12 Tetapi orang Israel berkata kepada Musa: “Sesungguhnya kami akan mati, kami akan binasa, kami semuanya akan binasa.

17:13 Siapapun juga yang mendekat ke Kemah Suci TUHAN, niscayalah ia akan mati. Haruskah kami habis binasa?”

TONGKAT HARUN

Pada 2009, seseorang dengan nama pena Chaos@Work menulis sebuah buku berjudul My Stupid Boss. Buku ini bercerita tentang “kegilaan” bos si penulis; dari meminta barang supplier secara cuma-cuma sampai menyalahkan anak buah ketika kapal lautnya terhambat cuaca buruk. Ternyata kisah bos yang “bodoh” ini menarik perhatian masyarakat luas. Bahkan setelah terbit jilid keduanya, muncul juga My Stupid Boss edisi Fans’ Stories, yang berisi curahan hati para pembaca mengenai para bos mereka sendiri.

Kesuksesan serial My Stupid Boss yang telah berulangkali dicetak ulang ini menguak sebuah realitas bahwa di dunia atau minimal di Indonesia banyak orang menjalankan kepemimpinannya dengan kurang bijak. Lalu, seperti apa sebaiknya sikap kita dalam menjalankan tugas kepemimpinan?

Pertama, kita harus ingat bahwa Tuhan tak menuntut bahwa hanya manusia “sempurna” yang dapat mengisi posisi pemimpin. Bahkan, Harun pernah mengizinkan bangsa Israel menyembah lembu emas dan bersekongkol dengan Miryam untuk melawan Musa (Bilangan 12). Namun, terpujilah Tuhan, ia masih dipercaya dan diberi kesempatan untuk memimpin. Kedua, sebagaimana tongkat yang kering menjadi hidup, kepemimpinan kita harus menghasilkan buah bagi sesama, serta mengubah lingkungan menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, tongkat Harun yang bertunas itu disimpan bersama Tabut Perjanjian. Setinggi apa pun posisi kita, seperti Harun yang diangkat menjadi imam besar Israel, ingatlah bahwa semuanya berasal dari Tuhan. Maka, kita harus mempertanggungjawabkannya kembali kepada-Nya –OLV

KEPEMIMPINAN SEJATI ADALAH KEPEMIMPINAN

YANG BERBUAH DAN BERTANGGUNG JAWAB KEPADA TUHAN

Dikutip : www.sabda.org

MENERIMA KRITIK

Sabtu, 13 Agustus 2011

Bacaan : Matius 21:33-46

21:33. “Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.

21:34 Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya.

21:35 Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu.

21:36 Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi merekapun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka.

21:37 Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.

21:38 Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.

21:39 Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya.

21:40 Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?”

21:41 Kata mereka kepada-Nya: “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.”

21:42 Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

21:43 Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.

21:44 (Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk.)”

21:45 Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya.

21:46 Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi.

 

MENERIMA KRITIK

Menerima kritik memang tidak enak. Telinga kita terasa panas dan lidah kita ingin segera membantah. Kalau kita punya kekuasaan yang cukup, kita ingin membungkam si pengkritik dengan cara apa pun, seperti yang digambarkan dalam film V for Vendetta. Film ini mengisahkan tentang situasi negara Inggris yang di masa depan dipimpin oleh seorang diktator. Suatu hari sang diktator menerima kritik dari seseorang. Tak lama kemudian, sekelompok pasukan menyergap si pengkritik tersebut. Lalu nasibnya tak pernah terdengar lagi sejak saat itu.

Dalam perikop Alkitab kita hari ini, Yesus mengkritik imam-imam kepala dan orang Farisi melalui perumpamaan-Nya. Secara spesifik, Dia mengkritik bahwa mereka selama ini telah menolak Allah, bahkan hendak membunuh Anak-Nya. Akan tetapi, bukannya para imam dan orang Farisi bertobat, mereka malah berusaha menyingkirkan Yesus. Kita tahu bahwa akhirnya mereka menangkap dan menyalibkan Yesus. Maka, kritik yang Yesus sampaikan tentang mereka sungguh menjadi kenyataan.

Kritik memang tidak enak didengar. Namun kalau dikelola dengan baik, kritik dapat menjadi sesuatu yang berharga. Caranya, dengan dengan tidak langsung bereaksi pada saat dikritik. Sebaliknya, tenangkan diri dan renungkan isi kritik itu. Kalau memang isinya benar, berterima-kasihlah kepada si pengritik dan mulailah mengubah diri kita. Kalau isi kritik itu salah, selidiki mengapa sampai orang melemparkan kritik tersebut. Mungkin ada sesuatu yang membuat orang itu salah mengerti tentang kita. Klarifikasikan hal tersebut. Kritik yang terasa pahit bisa saja menghasilkan buah yang manis –ALS

KRITIK MEMANG TAK ENAK DIDENGAR, TAPI PERLU

SEBAB IA AKAN MENUNJUKKAN YANG TIDAK BERES

~WINSTON CHURCHILL

Dikutip : www.sabda.org