BERDOALAH … BERDOALAH …

Jumat, 28 September 2012

Bacaan : Efesus 6:10-20

6:10. Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

6:11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

6:14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,

6:15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;

6:16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,

6:17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,

6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

 

6:19. juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil,

6:20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

 

BERDOALAH … BERDOALAH …

Setelah bertahun-tahun melayani suku Lisu tanpa hasil, misionaris J.O. Fraser merasa sangat depresi. Dalam kondisi putus asa ia berdoa dan menggerakkan sekitar 8-10 orang kristiani di negara asalnya untuk mendukungnya dalam doa terus-menerus. Tahun-tahun berikutnya, puluhan ribu orang Lisu menerima Kristus. Mencengangkan. Fraser bersaksi, “Tak ada gunanya mengajar atau berkhotbah kepada suku Lisu jika mereka masih dibelenggu oleh kuasa-kuasa yang tak kelihatan…. Anda berperang melawan masalah mendasar dari suku Lisu ini ketika Anda berdoa ….”

Fraser mengalami kebenaran yang disampaikan rasul Paulus berabad-abad sebelumnya kepada jemaat Efesus. Pemberitaan Injil bagi Paulus bukan sekadar sebuah metode bercerita tentang Juru Selamat, tetapi merupakan sebuah pertempuran rohani melawan kuasa-kuasa yang menentang Allah (ayat 12). Kepiawaian berbicara tidaklah cukup. Paulus sadar hanya kuasa Tuhan yang dapat memampukannya menyampaikan kebenaran dengan berani. Sebab itulah ia berdoa, dan juga mendorong jemaat Efesus untuk mendoakannya (ayat 18-20).

Kerap doa dipandang sebagai pelayanan yang kecil dan kurang berarti. Padahal doa justru menghubungkan kita dengan kuasa Allah yang tidak terbatas. Dalam kerinduan membawa orang kepada Tuhan, sudahkah doa kita prioritaskan? Pikirkanlah satu nama orang yang rindu Anda bawa mengenal Kristus, atau satu nama orang yang sedang memberitakan Injil, dan ambillah komitmen mendoakannya secara terus-menerus selama bulan ini. –ELS

DOA BUKANLAH UPAYA MENGATASI KEENGGANAN TUHAN,

TETAPI MENANGKAP APA YANG SIAP DIKERJAKAN-NYA. -MARTIN LUTHER

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

BAN SEREP

Kamis, 16 September 2010

Bacaan : Efesus 6:10-20

6:10. Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

6:11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

6:14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,

6:15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;

6:16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,

6:17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,

6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

6:19. juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil,

6:20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

BAN SEREP

Diana adalah wanita karier. Setiap hari hidupnya lekat dengan setir kemudi. Ia biasa menyetir sendiri mobil sedannya ke mana-mana. Suatu hari ban mobilnya bocor di jalan tol. Segera ia menelepon teman untuk minta bantuan. “Di mobilmu pasti ada ban serep, ” seru temannya, “Tahukah kamu cara memasangnya?” Diana menjawab: “Jangankan memasangnya, di mana letak ban serep itu saja aku tidak tahu!” Ban serep memang jarang diperhatikan. Ia baru diingat dan dicari saat kondisi sedang darurat.

Sama halnya dengan doa. Orang sering memandang doa sebagai ban serep. Mereka tekun berdoa saat hidup sudah terasa tidak karuan. Begitu jalan hidup kembali lapang, doa pun menghilang. Sikap ini bertentangan dengan pandangan Rasul Paulus. Ia memandang doa sebagai “senjata Allah”. Doa harus terus dikenakan agar orang beriman dapat bertahan dalam godaan. Ia harus dinaikkan “setiap waktu” (ayat 18). Kata “waktu” di sini memakai istilah kairos yang berarti kesempatan. Jadi, berdoalah pada setiap kesempatan yang muncul. Berdoa setiap waktu bukan berarti 24 jam kita harus melipat tangan dan menutup mata, melainkan terus hidup dalam kontak batin dengan Tuhan. Menyadari kehadiran-Nya. Doa harus dijadikan setir kemudi. Sesuatu yang utama, penting, dan mengendalikan sepak terjang kita. Dengan hidup dalam suasana doa, Tuhan bisa memimpin kita berkata dan bertindak sesuai kehendak-Nya. Kita bisa terus sehati sepikir dengan-Nya (ayat 19, 20).

Cobalah periksa kehidupan doa Anda akhir-akhir ini. Bagi Anda, apakah doa menjadi sekadar ban serep, atau menjadi setir kemudi yang mengendalikan arah hidup Anda? –JTI

BERDOA SETIAP WAKTU

MENGHINDARKAN KITA

DARI MASALAH YANG TIDAK PERLU

Sumber : www.sabda.org

PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH

PESAN GEMBALA

09 MEI 2010

PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH

Shalom…Salam miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati…Allah telah menyediakan perlengkapan perang bagi kita untuk menghadapi peperangan rohani. Rasul Paulus tidak menulis bahwa kita harus memakai perlengkapan perang kita, melainkan dia tuliskan bahwa kita harus memakai perlengkapan perang Allah. Prajurit atau para ksatria di Eropa pada abad pertengahan ketika menghadapi peperangan, maka mereka memakai perlengkapan perang lengkap dan mengenakan pelindung kepala serta topeng wajah mereka. Mereka nampak kuat, bertenaga dan merupakan pejuang-pejuang yang sangat terlatih dan sangat diperhitungkan oleh musuh. Tanpa memperhatikan kelemahan tubuh yang ada di dalam baju perang mereka itu, mereka kelihatan sebagai pejuang yang sangat berani dan tangguh.

Ketika kita memakai perlengkapan senjata Allah, kita nampak sangat kuat dan tangguh. Kemudian harus kita lakukan untuk memenangkan pertempuran. Kuasa yang ada pada kita harus dipergunakan, kita berbicara seperti Allah, berjalan seperti Allah, bertindak seperti Allah. Kita harus hidup dalam kuasa Allah. Kita tidak boleh masuk ke dalam pertempuran dengan kekuatan kita sendiri. Efesus 6:10-11, “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.”

Paulus mengingatkan kepada kita bahwa peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging , tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa dan kekuatan roh-roh jahat. Perjuangan kita bukanlah di alam jasmani, tetapi di dalam alam rohani, “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerntah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara, sebab itu ambilah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera, dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah.”

Rasul Paulus mengulangi kata “berdiri” sebanyak 3 kali. Pertama ketika dia mengatakan bahwa pada saat hari yang jahat tiba, kita akan sanggup untuk berdiri dengan teguh. Lalu dia berkata setelah kita selesai melakukan segala sesuatu, kita harus berdiri. Dan ketiga ketika dia berkata berdirilah tegap dengan baju zirah keadilan dan kaki kita berdasarkan kerelaan untuk memberitakan injil damai sejahtera. Kebenaran itu ialah firman Allah sendiri. Agar menjadi perlindungan bagi kita, kita harus tahu apa yang firman Allah katakan. Baju zirah keadilan kita adalah keadilan Allah. Kita tidak diminta untuk menjadi sempurna tetapi kita diminta untuk tidak melakukan dosa dalam hidup kita, agar baju zirah ini dapat tetap berada pada tempatnya. Kaki kita berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera. Kerelaan ini adalah bagian kita dan hal ini dilakukan dengan mempelajari firman Allah.

Paulus menulis kepada anak rohaninya yang bernama Timotius demikian:”Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang bererus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” Kita harus mengenakan perisai iman untuk memadamkan semua panah api dari si jahat. Panah api itu adalah pikiran, godaan, penyakit dan strategi setan lainnya yang dilemparkan kepada kita. Kita harus memadamkan itu semua dengan iman kepada Allah dan iman dalam firman-Nya. Ketopong keselamatan dikenakan ketika kita menerima keselamatan. Ini adalah sebuah keselematan yang bukan hanya memberikan kehidupan kekal bagi kita tetapi juga yang memulihkan kita sebagaimana yang Allah inginkan pada saat penciptaan. Ketopong keselamatan memampukan kita untuk memperbaharui pikiran kita kepada pewahyuan yang sempurnaakan keselamatan kita. Roma 12:2a, “janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…”. Pembaharuan pikiran ini datang melalui penyucian pikiran kita dengan air kehidupan yaitu firman Allah yang kita baca, pelajari dan renungkan. Efesus 5:26, “untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman.”. Kita diberikan satu senjata penyerang ampuh dan itu adalah Pedang Roh yaitu firman Allah. Paulus memberitahu kita lebih lanjut mengenai pedang Roh dalam kitab Ibrani; “sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati.” Ibrani 4:12.

Firman Allah adalah ikat pinggang kebenaran, penutup kaki dan pedang kita. Jadi tidak perlu untuk diragukan.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA.

IKLAN YANG MENIPU

Sabtu, 18 Juli 2009

Bacaan : Efesus 6:10-20

6:10. Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

6:11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

6:14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,

6:15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;

6:16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,

6:17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,

6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

 

6:19. juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil,

6:20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

 

IKLAN YANG MENIPU

Ada humor tentang seseorang yang mati dan diizinkan memilih ke surga atau neraka. Ia memutuskan untuk melihat-lihat dulu. Di surga ia melihat suasana yang sangat tenang. Sayup-sayup terdengar musik gereja yang lembut. Di sana semua orang berdoa. Rupanya ia tidak tertarik suasana seperti itu. Maka, ia melihat neraka; di mana semua orang sedang minum-minum sambil ditemani banyak perempuan dengan baju yang erotis. Mereka tertawa dan berfoya-foya. Ia pun memilih ke neraka. Malaikat mengantarnya kepada Lucifer, yang segera mengangkat dan siap mencemplungkannya ke belanga besar yang panas. Cepat-cepat ia protes, “Bukannya tadi ada musik, wanita, bar, dan minuman? Mana semua itu?” Dengan santai Lucifer menjawab, “Oh, itu tadi hanya iklan!”

Inilah yang kerap dilakukan Iblis: “beriklan”. Iblis selalu hadir dengan iklan yang membuat kita terpikat. Ia menawarkan dosa sebagai sesuatu yang menyenangkan; membungkusnya seperti kado yang indah, sehingga tanpa sadar banyak orang terpikat olehnya. Iblis selalu menjanjikan kenikmatan luar biasa. Agar kita tidak jatuh dalam perangkap, Paulus menasihati kita untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata rohani yang telah Tuhan berikan (ayat 11).

Iblis takkan pernah berhenti berusaha menjerat kita. Sekali kita lengah dan tertarik pada kenikmatan yang ia tawarkan, ia pun mengejar dan membujuk kita untuk terus melakukannya. Ia akan tertawa setelah tipuannya mampu memperdaya dan memikat kita. Karena itu, “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putusputusnya untuk semua orang kudus” (ayat 18) -PK

IBLIS SELALU MEMBUNGKUS DOSA DENGAN SANGAT MENARIK

JIKA TIDAK BERHATI-HATI, KITA BISA TERPIKAT OLEHNYA

Sumber : www.sabda.org