BUKTI IMAN

Selasa, 11 September 2012

Bacaan : Yakobus 2:13-26

2:13 Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.

 

2:14. Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?

2:15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,

2:16 dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?

2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

2:19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.

2:20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?

2:21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?

2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.

2:23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.”

2:24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

2:25 Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?

2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

 

BUKTI IMAN

 

Kita, sebagai orang kristiani yakin bahwa kita tidak bisa dilahirkan kembali atau diselamatkan oleh karena perbuatan. Kita hanya bisa diselamatkan melalui iman kepada Yesus, Tuhan dan Juru Selamat kita. Tetapi mungkin kemudian muncul pertanyaan, “Bagaimana saya bisa tahu bahwa saya atau seseorang sudah mengalami kelahiran kembali?” Adakah bukti yang dapat terlihat secara nyata?

Yakobus memberi jawaban yang tepat. Kalau kita mencoba mencari bukti dari iman seseorang, perhatikanlah perbuatannya. Apa yang diperbuat seseorang mencerminkan apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Jika tutur lakunya sama sekali tidak mencerminkan orang yang sudah diselamatkan, imannya patut dipertanyakan (ayat 15-17). Yakobus memberi contoh tentang Abraham dan Rahab. Kita tidak bisa membaca pikiran dan hati mereka, tetapi bisa melihat bahwa mereka memercayai Allah melalui perbuatan mereka. Abraham rela mempersembahkan anaknya kepada Allah, Rahab mempertaruhkan nyawa untuk menyembunyikan mata-mata umat Allah (ayat 21, 25).

Adalah wajar kalau kita sendiri atau seseorang meragukan iman kita karena menemukan tindakan kita yang tidak menunjukkan buah pertobatan. Kalau kita secara konsisten berkanjang dalam dosa dan tidak merasa resah dengan ketidaktaatan kita, maka kita perlu waspada. Bandingkanlah bagaimana tutur laku dan kebiasaan-kebiasaan kita sebelum dan sesudah menerima Kristus. Perbuatan-perbuatan apa saja yang menunjukkan bahwa kita telah diselamatkan dan diubahkan oleh kasih karunia Kristus? –BWA

HANYA OLEH KARENA IMAN SESEORANG DAPAT DISELAMATKAN.

HANYA MELALUI KETAATAN KEPADA ALLAH IMAN SESEORANG DAPAT DIBUKTIKAN.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

LEBIH SAYANG TUHAN

Kamis, 6 September 2012

Bacaan : Kejadian 22:1-19

22:1. Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.”

22:2 Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

 

22:3. Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.

22:4 Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.

22:5 Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”

22:6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”

22:8 Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.

 

LEBIH SAYANG TUHAN

Suatu kali, anak kami yang berumur tiga tahun mengalami demam tinggi sampai mengigau. Maka, saya peluk dia kemudian kami ajak berdoa bersama. Hati kecil saya berdoa kepada Tuhan dengan berkata, “Biar saya saja yang mengalami sakit seperti ini, jangan anak saya.” Perasaan itu muncul karena rasa kasih sayang saya kepada anak pertama yang Tuhan anugerahkan bagi kami. Rasa sayang yang tentu juga dimiliki oleh kebanyakan orangtua.

Tuhan pun melihat rasa sayang yang begitu besar dalam diri Abraham kepada anak tunggalnya, Ishak (ayat 2). Abraham begitu sayang kepada Ishak sebab sekian lama ia menantikan anak ini dari Tuhan. Rasa sayang ini kemudian Tuhan uji, yaitu dengan meminta Abraham mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran kepada Tuhan (ayat 2). Bagaimana respons Abraham? Kasihnya yang besar kepada Ishak tentu memunculkan pergulatan batin yang berat. Namun, melihat tindakan iman yang ia lakukan (ayat 8-10) serta tanggapan Tuhan yang berkata: “dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku” (ayat 12, 16) menunjukkan bahwa Abraham lebih sayang kepada Tuhan. Kasihnya kepada Tuhan jauh melebihi kasihnya kepada Ishak. Kasihnya mengutamakan Dia yang berkuasa memberi dan mengambil (lihat Ayub 1:21).

Saat-saat ini, adakah hal-hal dalam kehidupan kita yang dapat mengalihkan kasih kita dari Tuhan? Pekerjaan, keluarga, harta, hobi, atau hal lain yang lekat di hati. Tuhan berkuasa memberi dan mengambil semua itu. Yang Dia minta, kita menjadikan-Nya yang terutama mulailah hari ini. –YKP

UTAMAKAN TUHAN LEBIH DARI SEGALANYA

 SEBAB DIA LAYAK MENDAPAT KESELURUHAN HIDUP KITA.

Dikutip : www.sabda.org

SYAFAAT ABRAHAM

Senin, 20 Agustus 2012

Bacaan : Kejadian 17:15-22

17:15. Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: “Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya.

17:16 Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.”

17:17 Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?”

17:18 Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”

17:19 Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.

17:20 Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.

17:21 Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.”

17:22 Setelah selesai berfirman kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham.

SYAFAAT ABRAHAM

Teka-teki buat Anda: Berapakah anak Abraham? Satu? Dua? Jawabannya: delapan! Ya, anak Abraham secara jasmani ada delapan (1 Tawarikh 1:28- 32). Namun, hanya dua yang disebut langsung sebagai keturunan Abraham, yaitu Ishak dan Ismael. Sisanya disebut sebagai keturunan Ketura, gundik Abraham. Menarik, ya? Kepada dua anak ini Allah menjanjikan berkat yang tidak diberikan kepada saudara-saudara mereka yang lain.

Allah berjanji melalui keturunan Abraham, semua bangsa di bumi akan diberkati (12:3, 26:4). Dalam terang Perjanjian Baru, ini adalah janji tentang Mesias yang akan datang! Rencana Allah sangat jelas untuk menggenapinya melalui keturunan Ishak, anaknya dari Sara. Dua kali Allah menekankan hal ini (ayat 19 dan 21) menunjukkan bahwa rencana-Nya tak dapat diganggu-gugat! Sunat yang diterima Ismael bersama semua hamba laki-laki di rumah Abraham hari itu menunjukkan bahwa mereka juga menaruh pengharapan pada janji Allah. Kelak, mereka pun akan menjadi penerima berkat dari Sang Juru Selamat yang akan datang!

Allah juga secara khusus memberkati Ismael. Keturunannya akan sangat banyak (ayat 20). Kaum muslim berpendapat mereka adalah keturunan Ismael melalui Qaydar (Kedar) dan Nabit (Nebayot). Dan benar bahwa hari ini jumlah mereka sangat banyak! Janji Allah sedang digenapi! Bagaimana awalnya hingga Ismael diberkati? Abraham telah bersyafaat bagi anak ini (ayat 18). Ia mengasihinya dan tak ingin Ismael kehilangan berkat Allah. Adakah hari ini kita juga mengasihi dan mau bersyafaat bagi keturunan Ismael, agar berkat dari Sang Juru Selamat dapat sampai kepada mereka? –JOE

JANJI ALLAH SELALU DITEPATI.

KITA AKAN MELIHAT KAUM ISMAEL DIBERKATI.

Dikutip : www.sabda.org

INIKAH KEHENDAK TUHAN?

Kamis, 15 Maret 2012

Bacaan : Kejadian 24:1-9

24:1. Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal.

24:2 Berkatalah Abraham kepada hambanya yang paling tua dalam rumahnya, yang menjadi kuasa atas segala kepunyaannya, katanya: “Baiklah letakkan tanganmu di bawah pangkal pahaku,

24:3 supaya aku mengambil sumpahmu demi TUHAN, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam.

24:4 Tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang isteri bagi Ishak, anakku.”

24:5 Lalu berkatalah hambanya itu kepadanya: “Mungkin perempuan itu tidak suka mengikuti aku ke negeri ini; haruskah aku membawa anakmu itu kembali ke negeri dari mana tuanku keluar?”

24:6 Tetapi Abraham berkata kepadanya: “Awas, jangan kaubawa anakku itu kembali ke sana.

24:7 TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah memanggil aku dari rumah ayahku serta dari negeri sanak saudaraku, dan yang telah berfirman kepadaku, serta yang bersumpah kepadaku, demikian: kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri ini–Dialah juga akan mengutus malaikat-Nya berjalan di depanmu, sehingga engkau dapat mengambil seorang isteri dari sana untuk anakku.

24:8 Tetapi jika perempuan itu tidak mau mengikuti engkau, maka lepaslah engkau dari sumpahmu kepadaku ini; hanya saja, janganlah anakku itu kaubawa kembali ke sana.”

24:9 Lalu hamba itu meletakkan tangannya di bawah pangkal paha Abraham, tuannya, dan bersumpah kepadanya tentang hal itu.

 

 

INIKAH KEHENDAK TUHAN?

Betapa menyenangkan jika kita bisa memastikan apa kehendak Tuhan setiap hari. Apa yang harus dilakukan dalam keluarga, pekerjaan, pendidikan anak, dan sebagainya. Seperti Abraham yang begitu yakin dalam langkah-langkahnya mencarikan isteri bagi Ishak, anaknya. Begitu yakinnya hingga ia berkata Tuhan akan mengutus malaikat-Nya untuk mewujudkan hal itu (ayat 7).

Bagaimana Abraham memastikan bahwa Tuhan menghendaki Ishak menikah, bahwa isterinya tidak boleh berasal dari Kanaan (ayat 3), dan bahwa Ishak tak boleh kembali ke negeri asalnya (ayat 6)? Bukankah

Tuhan tak pernah memerintahkannya secara detail? Kita melihat bahwa keyakinan Abraham berasal dari imannya kepada Firman yang sudah Tuhan berikan. Tuhan berjanji ia akan menjadi bangsa yang besar melalui keturunan Ishak (lihat Kejadian 17:15-19; 22:16-18). Karena itu, Abraham tak ragu Ishak harus menikah. Tuhan juga berfirman akan menghukum orang-orang Kanaan karena kejahatan mereka (lihat Kejadian 15:16, orang Amori mewakili para penyembah berhala di Kanaan). Jelas bagi Abraham, Ishak tak boleh beristerikan orang Kanaan. Tuhan juga telah memanggil Abraham keluar dari negerinya untuk memiliki tanah Kanaan (lihat Kejadian 13:14-15; 15:18-21). Abraham percaya janji Tuhan sehingga ia tak memperbolehkan Ishak kembali ke negeri asalnya.

Kerap kita ingin mengetahui kehendak Tuhan, tapi begitu sedikit memperhatikan, merenungkan, dan memercayai Firman yang sudah diberikan-Nya pada kita. Hanya ketika kita bertekun dan menaati apa yang sudah difirmankan Tuhan, kita dapat memiliki iman seperti Abraham, “Saya tak tahu segalanya, tapi saya tahu ini selaras dengan Firman Tuhan, jadi saya akan bertindak ….” –ELS

KEHENDAK TUHAN DAPAT MAKIN DIPAHAMI DAN DIIMANI

HANYA JIKA FIRMAN-NYA MENGISI PIKIRAN KITA SETIAP HARI.

Dikutip : www.sabda.org

DIMULAI DARI DIRI SENDIRI

Sabtu, 20 Maret 2010

Bacaan : Kejadian 27:30-36

27:30. Setelah Ishak selesai memberkati Yakub, dan baru saja Yakub keluar meninggalkan Ishak, ayahnya, pulanglah Esau, kakaknya, dari berburu.

27:31 Ia juga menyediakan makanan yang enak, lalu membawanya kepada ayahnya. Katanya kepada ayahnya: “Bapa, bangunlah dan makan daging buruan masakan anakmu, agar engkau memberkati aku.”

27:32 Tetapi kata Ishak, ayahnya, kepadanya: “Siapakah engkau ini?” Sahutnya: “Akulah anakmu, anak sulungmu, Esau.”

27:33 Lalu terkejutlah Ishak dengan sangat serta berkata: “Siapakah gerangan dia, yang memburu binatang itu dan yang telah membawanya kepadaku? Aku telah memakan semuanya, sebelum engkau datang, dan telah memberkati dia; dan dia akan tetap orang yang diberkati.”

27:34 Sesudah Esau mendengar perkataan ayahnya itu, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya serta berkata kepada ayahnya: “Berkatilah aku ini juga, ya bapa!”

27:35 Jawab ayahnya: “Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu.”

27:36 Kata Esau: “Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku.” Lalu katanya: “Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?”

DIMULAI DARI DIRI SENDIRI

Penipu dan pengecut. Awalnya, Yakub jelas bukan tokoh Alkitab favorit saya. Akan tetapi, ternyata ia mengajarkan saya sebuah filosofi hidup yang penting: setiap perbuatan memiliki konsekuensi yang akan kembali pada kita; entah perbuatan baik, atau pun perbuatan buruk. Dalam kalimat yang lain, seperti yang dikatakan Paulus, “Apa yang ditabur, itu juga yang dituai.”

Pengalaman hidup Yakub menunjukkan “hukum” tersebut. Pada masa muda, Yakub menipu ayahnya, Ishak, dan kakaknya, Esau. Ternyata kemudian, ketika ia melarikan diri dari rumahnya, ia ditipu pamannya, Laban (Kejadian 29:1-30). Dan bahkan di saat usianya telah beranjak tua, ia ditipu pula oleh anak-anaknya (Kejadian 37: 31-35).

Maka betapa pentingnya kita menjaga sikap dan perilaku kita sendiri. Di kemudian hari, pada masa Perjanjian Baru, Tuhan Yesus berulang kali menekankan pentingnya memulai perbuatan baik dari diri sendiri. Misalnya, jangan menghakimi kalau tidak mau dihakimi dengan takaran yang sama. Salah satu yang paling terkenal tentu ucapan-Nya dalam doa Bapa Kami: “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”

Kerap kali kita frustasi ketika berada dalam situasi yang kurang baik. Acap kali kita pusing berputar-putar mencari solusi atas permasalahan yang menghadang. Tetapi barangkali kita lupa bahwa kunci terpentingnya ada dalam diri kita sendiri. Seperti yang sering dikatakan oleh orang bijak: jika kita ingin membuat dunia menjadi lebih baik, ubahlah diri kita sendiri dulu-OLV

BILA SEGALA SESUATU AKHIRNYA KEMBALI KEPADA KITA

APAKAH YANG AKAN KITA GEMAKAN?

Sumber : http://www.sabda.org


PENIPU

Senin, 23 November 2009

Bacaan : Kejadian 27:19-33

27:19 Kata Yakub kepada ayahnya: “Akulah Esau, anak sulungmu. Telah kulakukan, seperti yang bapa katakan kepadaku. Bangunlah, duduklah dan makanlah daging buruan masakanku ini, agar bapa memberkati aku.”

27:20 Lalu Ishak berkata kepada anaknya itu: “Lekas juga engkau mendapatnya, anakku!” Jawabnya: “Karena TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku.”

27:21 Lalu kata Ishak kepada Yakub: “Datanglah mendekat, anakku, supaya aku meraba engkau, apakah engkau ini anakku Esau atau bukan.”

27:22 Maka Yakub mendekati Ishak, ayahnya, dan ayahnya itu merabanya serta berkata: “Kalau suara, suara Yakub; kalau tangan, tangan Esau.”

27:23 Jadi Ishak tidak mengenal dia, karena tangannya berbulu seperti tangan Esau, kakaknya. Ishak hendak memberkati dia,

27:24 tetapi ia masih bertanya: “Benarkah engkau ini anakku Esau?” Jawabnya: “Ya!”

27:25 Lalu berkatalah Ishak: “Dekatkanlah makanan itu kepadaku, supaya kumakan daging buruan masakan anakku, agar aku memberkati engkau.” Jadi didekatkannyalah makanan itu kepada ayahnya, lalu ia makan, dibawanya juga anggur kepadanya, lalu ia minum.

27:26 Berkatalah Ishak, ayahnya, kepadanya: “Datanglah dekat-dekat dan ciumlah aku, anakku.”

27:27 Lalu datanglah Yakub dekat-dekat dan diciumnyalah ayahnya. Ketika Ishak mencium bau pakaian Yakub, diberkatinyalah dia, katanya: “Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN.

27:28 Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah.

27:29 Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia.”

27:30. Setelah Ishak selesai memberkati Yakub, dan baru saja Yakub keluar meninggalkan Ishak, ayahnya, pulanglah Esau, kakaknya, dari berburu.

27:31 Ia juga menyediakan makanan yang enak, lalu membawanya kepada ayahnya. Katanya kepada ayahnya: “Bapa, bangunlah dan makan daging buruan masakan anakmu, agar engkau memberkati aku.”

27:32 Tetapi kata Ishak, ayahnya, kepadanya: “Siapakah engkau ini?” Sahutnya: “Akulah anakmu, anak sulungmu, Esau.”

27:33 Lalu terkejutlah Ishak dengan sangat serta berkata: “Siapakah gerangan dia, yang memburu binatang itu dan yang telah membawanya kepadaku? Aku telah memakan semuanya, sebelum engkau datang, dan telah memberkati dia; dan dia akan tetap orang yang diberkati.”

PENIPU

Ketika seorang pelayan di Ohio menanyakan SIM seorang pelanggan, ia sangat terkejut saat melihat foto di kartu tersebut. Itu adalah fotonya sendiri! Pelayan itu telah kehilangan kartu identitasnya sebulan sebelumnya, dan wanita muda tadi menggunakannya supaya punya “bukti” bahwa ia sudah cukup umur untuk minum alkohol. Pelayan itu memanggil polisi dan si pelanggan ditangkap atas tuduhan pencurian kartu identitas. Karena berusaha untuk mendapatkan keinginannya, wanita muda itu berpura-pura menjadi orang yang bukan dirinya.

Yakub, dalam Perjanjian Lama, juga berpura-pura. Dengan bantuan ibunya, Ribka, ia menipu ayahnya yang hampir meninggal supaya mengira ia adalah kakaknya, yaitu Esau, sehingga ia bisa mendapatkan berkat anak sulung (Kejadian 27). Usaha penipuan Yakub terbongkar, tetapi Esau sudah terlambat untuk menerima berkat tersebut.

Kini kepura-puraan juga kerap kali terjadi di gereja. Beberapa orang menunjukkan penampilan yang palsu. Mereka menggunakan kata-kata “kristiani,” pergi ke gereja hampir setiap Minggu, dan bahkan berdoa sebelum makan. Mereka berpura-pura “melakukan semuanya itu” hanya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Namun di dalam hati, mereka bergumul dengan kehancuran, rasa bersalah, keraguan, kecanduan, atau dosa lain yang tidak bisa dilepaskan.

Allah menempatkan kita di antara sekumpulan orang percaya supaya saling menguatkan. Terimalah kenyataan bahwa Anda tidak sempurna. Kemudian, mintalah nasihat kepada saudara yang saleh dalam Kristus –AMC

JADILAH SEPERTI YANG DIKEHENDAKI ALLAH BAGI ANDA
DAN JANGAN BERPURA-PURA MENJADI ORANG LAIN

Sumber : www.sabda.org

BERJALAN DALAM PERJANJIAN ALLAH

PESAN GEMBALA

31 MEI 2009

Edisi 76 Tahun 2

 

BERJALAN DALAM PERJANJIAN ALLAH

Shallom… Salam Miracle.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, firman Allah dalam Ulangan 8:18 mengatakan demikian “Tetapi haruslah engkau ingat kepada Tuhan, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan KEKUATAN untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan nenek moyangmu, seperti sekarang ini. Tujuan Allah memberikan kekuatan untuk memperoleh kekayaan adalah demi peneguhan perjanjian-Nya. Allah telah membuat perjanjian dengan nenek moyang orang Israel (Abraham). Dan, untuk meneguhkannya ia memberikan kekuatan kepada setiap orang Israel untuk memperoleh kekayaan / berkat. Ada beberapa hal yang senantiasa membuat kita bisa memperoleh berkat atau janji dari Tuhan, yaitu:

 

  1. ALLAH INGIN MEM BERKATI KITA

Dia sangat ingin membuat anak-anak-Nya bersukacita dan berbahagia. Dengan penuh kasih Dia ingin merasakan kasih-Nya, seperti orang tua ketika memberikan hadiah ulang tahun kepada anaknya dan ingin melihat anak-anaknya membuka hadiah-hadiah dengan sukacita.

 

  1. PERJUMPAAN DENGAN ALLAH ADALAH HAL YANG TERINDAH

Allah senantiasa melakukan hal yang terbaik bagi kita dengan menyediakan diriNya untuk dapat dinikmati oleh anak-anak-Nya, dan Allah mengusahakan supaya kita berusaha menjumpai-Nya dengan lebih banyak waktu dan tenaga daripada yang kita gunakan untuk mencari hal-hal yang lain.

 

  1. ROH KUDUS MEMAMPUKAN KEINGINAN KITA UNTUK DEKAT DENGAN TUHAN

Roh Kudus sebagai Roh Penolong senantiasa memberikan anugerah-Nya kepada kita semua.

 

Mari kita melihat bagaimana Allah dengan setia menggenapi janji-Nya. Dalam Kejadian 12:1-2 dapat kita pelajari bahwa ketika Abraham membuat perjanjian dengan Allah, Allah berjanji bahwa Ia akan memberkati Abraham, tetapi apa yang terjadi setelah Abraham keluar dari negeri bapa leluhurnya? Ketika tiba di Mesir, di sana dan negeri sekitarnya justru ada kelaparan yang hebat (Kejadian 12:9-10). Tetapi, apakah yang terjadi setelah itu? Abraham justru menjadi sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya.

 

Kita juga melihat apa yang terjadi dengan Ishak. Allah mengingatkan kepada Ishak supaya ia juga berjalan di dalam perjanjian berkat yang dibuat Allah dengan ayahnya. Ketika Ishak tahu  bahwa Allah ingin memberkati dan ia berusaha untuk berjumpa dengan DIA, maka ia menuai 100 kali lipat di tengah-tengah masa kelaparan, Ishak ber tambah kaya, bahkan sangat kaya sampai orang Filistin menjadi cemburu, sehingga mereka menutup sumur-sumur Ishak. Maka Ishak membuat kemah dan menggali sumur baru. Setiap kali ia menggali sumur, ia merasakan campur tangan Allah sebab Tuhan memberkatinya dengan mata air yang baru. Betapa besar penyertaan Tuhan kepada umat-Nya.

 

Kita juga melihat apa yang dilakukan Allah terhadap Yakub, seperti kepada Abraham dan Ishak Allah juga memberkati Yakub di tengah-tengah msa kelaparan yang hebat. Yaitu dengan cara Allah memakai Yusuf untuk memberkati keluarganya, suatu cara atau skenario Allah yang luar biasa, bahkan bangsa Mesir pun diselamatkan dari kelaparan karena terimbas pengaruh penyertaan Tuhan atas umat pilihan-Nya. Allah senantiasa mengganpai perjanjian berkat-Nya kepada setiap orang-orang benar. Perjanjian Allah adalah kekal dan tidak berubah. Di dalam Yesus Kristus tidak akan berubah, itulah sebabnya sejak Kristus membuat perjanjian dengan Allah, perjanjian tersebut tidak akan berubah selama-lamanya. Jadi, barangsiapa di dalam Kristus, ia telah berada di dalam perjanjian baru. Sebagai ciptaan baru, sekarang tidak ada lagi penghukuman karena pelanggaran Hukum Taurat, sebab semua akibat pelanggaran telah ditanggung oleh Kristus. Apa yang menjadi bagian kita? Sekarang kita tinggal menjalaninya dengan iman. Iman bahwa didalam Kristus, segala janji-janji Allah digenapi (2 Korintus 1:20) dan mentaati perintah Tuhan dengan iman, betapa indahnya kalau kit berjalan dengan ketaatan di dalam Kristus, maka Allah PASTI meneguhkan perjanjian-Nya dengan memberikan berkat-berkat-Nya.

 

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien.

 

 

Gembala Sidang

 

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA