SABAT UNTUK MANUSIA

Jumat, 14 September 2012

Bacaan : Markus 2:23-28

2:23 Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.

2:24 Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”

2:25 Jawab-Nya kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan,

2:26 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu–yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam–dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutn

2:27 Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat,

2:28 jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”

 

SABAT UNTUK MANUSIA

Meski memahami bahwa Sabat dirancang Tuhan sebagai hari perhentian, bagi banyak orang kristiani yang aktif di gereja, Sabat justru hari yang melelahkan. Ada banyak pelayanan atau acara gereja yang dilangsungkan pada hari itu. Akibatnya, bukan berkat Tuhan yang dirasakan, tetapi setumpuk kepenatan.

Masalah ini bukan masalah baru. Sibuk di hari Sabat sudah biasa bagi para imam di zaman Perjanjian Lama. Hal ini dikutip Yesus untuk menegur orang Farisi yang menghakimi para murid-Nya (ayat 23-24). Orang Farisi sibuk dengan berbagai larangan, namun mengabaikan maksud Tuhan sendiri atas hari Sabat. Jelas menurut Yesus, Tuhan merancang Sabat bukan sebagai aturan yang memberatkan (ayat 27). Sabat ditetapkan Tuhan untuk kebaikan manusia, sehingga dapat beristirahat dan menikmati berkat Tuhan secara khusus (bdk. Kejadian 2:1-3, Keluaran 20:8-11). Tindakan orang Farisi menyempitkan makna Sabat pada ritual dengan banyak aturan, padahal Sabat menunjukkan hati Tuhan yang begitu mengasihi ciptaan-Nya, termasuk para murid yang sedang butuh makanan.

Apakah Sabat menjadi beban atau sukacita bagi Anda? Apakah yang menjadi fokus Sabat Anda: Kristus atau ritual ibadah dan pelayanan? Jika hari Minggu adalah hari yang “sibuk” bagi Anda, pikirkanlah satu hari perhentian lainnya sebagai hari di mana Anda benar-benar dapat beristirahat dan menikmati Tuhan secara khusus. Alkitab menyebutkan satu dari enam hari haruslah dikuduskan sebagai hari Sabat. Entah itu hari Sabtu, Minggu, Senin, atau hari lainnya, yang terutama adalah Tuhan menjadi pusat dan sumber sukacita kita, bukan yang lain. –MEL

SABAT ADALAH PERINGATAN AKAN KASIH TUHAN

YANG MENYELAMATKAN DAN MEMBAWA SUKACITA.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

SABAT UNTUK TUHAN

Kamis, 13 September 2012

Bacaan : Keluaran 20:1-17

20:1. Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:

20:2 “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

20:3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,

20:6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

20:7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

20:8 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:

20:9 enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,

20:10 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.

20:11 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

 

20:12. Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

20:13 Jangan membunuh.

20:14 Jangan berzinah.

20:15 Jangan mencuri.

20:16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

20:17 Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

 

 

SABAT UNTUK TUHAN

Orang bisa berdebat apakah Sabtu atau Minggu adalah Sabat yang dimaksudkan oleh Alkitab. Namun, tidak diragukan, kedua hari itu adalah hari yang paling banyak digunakan orang untuk berbelanja, pesiar, nonton, kumpul keluarga, dan hal-hal lain demi “menyegarkan diri”, yang sulit dilakukan pada hari kerja. Tidak salah bukan? Bukankah Sabat berarti beristirahat? Tuhan sendiri yang memerintahkannya.

Tapi ada yang menarik dalam perintah Tuhan ini. Ayat 10 mengatakan bahwa umat Tuhan harus menguduskan hari Sabat sebagai hari milik-Nya, dalam terjemahan BIS: hari istirahat yang khusus untuk Tuhan. Jadi, Sabat bukan waktu istirahat tanpa tujuan, melainkan waktu istirahat yang dikhususkan untuk berfokus pada Tuhan. Tuhan sendiri beristirahat jelas bukan karena kelelahan. Dia berhenti dan melihat segala yang diciptakan-Nya sungguh amat baik, lalu secara khusus memberkatinya (ayat 11, bdk. Kejadian 2:1-3). Tuhan menghendaki ciptaan-Nya punya waktu istirahat yang khusus untuk mengingat semua karya dan anugerah-Nya; juga memercayakan diri pada pemeliharaan-Nya sekalipun ada satu hari yang tidak digunakan untuk bekerja.

Bagaimana selama ini kita melewatkan hari Sabat? Bisa jadi kita terlihat beribadah di gereja, namun kita sedang tidak terarah pada Tuhan. Bisa jadi kita punya banyak aktivitas yang menyenangkan guna mengistirahatkan otak dan badan yang penat, tetapi kita melupakan sama sekali Tuhan, Sang Pemilik hari Sabat. Bisa jadi kita berlibur, tapi sarat kekhawatiran takut berkat Tuhan tak cukup menghidupi kita. Mari rayakan hari perhentian dengan fokus yang benar: fokus kepada Tuhan, Sang Pemilik hari Sabat. –MEL

SABAT MEMPERBARUI JASMANI DAN ROHANI KITA

AGAR SELALU SEGAR DAN SUKACITA MELAYANI TUHAN.

Dikutip : www.sabda.org

BERISTIRAHAT

Sabtu, 5 November 2011 

Bacaan : Keluaran 31:12-17 

31:12. Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

31:13 “Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu.

31:14 Haruslah kamu pelihara hari Sabat, sebab itulah hari kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat itu, pastilah ia dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya.

31:15 Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, hari kudus bagi TUHAN: setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari Sabat, pastilah ia dihukum mati.

31:16 Maka haruslah orang Israel memelihara hari Sabat, dengan merayakan sabat, turun-temurun, menjadi perjanjian kekal.

31:17 Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat.”

BERISTIRAHAT

Ada banyak cara orang beristirahat. Ada yang menikmatinya dengan berolahraga atau berjalan-jalan bersama sahabat. Ada yang berekreasi dengan bermain video game atau menikmati makanan enak. Ada juga yang menikmatinya dengan tidur atau sekadar bermalas-malasan di rumah. Saya sendiri menikmati istirahat dengan pergi ke tempat wisata alam.

Apa pun caranya, istirahat adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Namun, ada sebagian orang yang melihat istirahat sebagai sesuatu yang tidak produktif. Memang pada zaman ini, semua orang dituntut untuk bersaing dan berusaha menjadi yang paling unggul. Seorang pegawai terpaksa bekerja lembur setiap hari supaya tidak dicap sebagai pegawai yang kalah rajin dibandingkan yang lain. Seorang anak dipaksa memenuhi waktu kosongnya dengan berbagai macam kursus, supaya ia lebih unggul daripada anak-anak yang lain.

Akan tetapi, mari kita mengingat bagaimana secara khusus Tuhan menciptakan hari Sabat. Apabila mengikuti pola-Nya ketika menciptakan dunia, sesungguhnya Tuhan sedang mengajar kita untuk bekerja selama enam hari, kemudian beristirahat di hari yang ketujuh. Melaluinya, Tuhan hendak menunjukkan bahwa istirahat bukanlah sesuatu yang tidak produktif. Sebaliknya, inilah kunci keseimbangan hidup istirahat justru sangat penting untuk menyegarkan kita secara fisik dan rohani.

Maka, ketika kita lelah, jangan ragu untuk beristirahat. Secara teratur, selalu sediakan waktu untuk beristirahat. Setelah istirahat itu dijalani, kita akan dikuatkan dan disegarkan untuk kembali melanjutkan tugas dengan lebih baik –ALS

BERISTIRAHATLAH SETELAH BERKARYA

AGAR KITA PUNYA KEKUATAN UNTUK MENGERJAKAN KARYA BERIKUTNYA

Dikutip : www.sabda.org

MENGASAH GERGAJI

Minggu, 7 Agustus 2011

Bacaan : Kejadian 2:1-3

MENGASAH GERGAJI

Satu hari, seorang anak kecil bernama Anna mendiskusikan peristiwa penciptaan bersama sahabatnya, Fynn. “Mengapa Tuhan beristirahat pada hari ketujuh? Menurutku Dia tidak melakukannya karena lelah.” “Lalu?” “Dia melakukannya karena istirahat ialah sebuah keajaiban terbesar.” Kisah ini adalah satu bagian dari novel berjudul Mister God, this is Anna karangan Fynn. Namun, jika kita menilik kem-bali Kejadian 2, kita akan menemukan fakta bahwa istirahat itu memang merupakan hal yang penting. Allah memberkati dan menguduskan hari ketujuh, sebab Dia hendak mengingatkan manusia untuk beristirahat.

Terkadang istirahat mendapat konotasi negatif dalam masyarakat kita sebagai langkah si pemalas. Namun sebaliknya, orang yang mengabaikan istirahat itu sesungguhnya seperti penebang kayu yang bodoh, seperti terurai dalam prinsip Seven Habits yang banyak menginspirasi orang. Penebang kayu yang bodoh akan terus bekerja mati-matian, bahkan walau kapaknya telah menjadi tumpul. Ia tidak mau berhenti sejenak untuk mengasah kapaknya, sehingga hasil tebangannya tidak maksimal.

Dalam hal beristirahat, kita pun dapat mencontoh Yesus. Di tengah kesibukan-Nya mengajar dan menolong orang, kita kerap menjumpai kisah dalam Injil, di mana Dia mencari waktu untuk sendiri. Untuk berdiam diri dan berdoa. Itulah istirahat yang sejati. Berhenti sejenak dari rutinitas dan mencari waktu bersama Tuhan. Sudahkah kita mengambil waktu istirahat, yang di dalamnya kita juga mengam-bil waktu bersama Tuhan yang memulihkan dan menyegarkan hidup kita? –OLV

AMBILLAH ISTIRAHAT BERSAMA TUHAN

AGAR PULIH KEKUATAN RAGA DAN JUGA JIWA

Dikutip : http://www.sabda.org

Menjadi Tenang

4 Juli 2010

Edisi 133 Tahun 3

Pesan Gembala

MENJADI TENANG

Shallom…Salam miracle..

Jemaat Tuhan di gereja Bethany yang diberkati Tuhan, kita semua harus belajar menjadi tenang di hadirat Allah, menjadi tenang bagi orang percaya, dapat dipergunakan untuk menggambarkan suatu waktu ketika orang-orang Kristen mengambil waktu untuk berpikir. Kita mulai dari kitab dalam Perjanjian Lama yaitu kitab Mazmur yang menuliskan kata “SELA” sebanyak tujuh puluh empat (74) kali dan kata yang sama ditulis dalam Habakuk sebanyak tiga (3) kali. Yang dimaksud kata “SELA” adalah suatu perhentian atau peristirahatan dan menjadi tenang, seperti halnya dalam permainan musik, kadang diperlukan suatu sela. Arti yang lain dari sela adalah “berhenti sejenak dan pikirkanlah”, maksudnya adalah kita harus belajar menjadi tenang dihadapan Allah.

Dalam musik sebuah perhentian atau istirahat menekankan akan variasi dan intensitasnya dan membuat menjadi sesuatu yang baru. Ketika Allah memilih untuk menggunakan satu kata sebanyak tujuh puluh (70) kali, itu menjadi sesuatu yang menarik perhatian pembacanya. Kita ketahui bahwa setiap titik dan koma adalah diinspirasi dan mempunyai arti. Maka jelaslah setiap kata pun dihembusi oleh nafas Allah. I Tesalonika 4:11 menyatakan “Belajarlah tenang”. Terjemahan lain berbunyi “Berkonsentrasilah untuk menjadi tenang”. Allah sedang berkata bahwa kita harus belajar menjadi tenang. Disiplin menghasilkan ketenangan. Yesaya 30:15 berkata “Di dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”. Banyak dari kita perlu mengenal diri kita sendiri namun kita takut sendirian. Perlu bantuan siaran radio atau televisi untuk menemani tidur, dan sedikit sekali yang mengambil waktu untuk mendengar suara Tuhan. Sekarang ini masyarakat yag tinggal di kota sangat sibuk sehingga kehilangan apa yang dimiliki orang tua leluhur kita.

Mari coba kita menyimak buku-buku bacaan pada jaman sekarang dan kemudian membaca buku bacaan yang ditulis 20 sampai 100 tahun yang lalu. Buku bacaan yang terdahulu memiliki perbendaharaan kata yang hidup kaya akan maksud dan ilustrasi sehingga membuat buku-buku zaman sekarang kurang berbobot. Dengan alasan klise kurangnya waktu untuk berpikir. Allah memberikan dengan murah hati suatu kasadaran kepada kita akan manfaat-manfaat “Belajarlah menjadi tenang”. Ketika kita sendirian bersama Allah maka kita akan mengakui akan keberadaan Dia dan kebaikan-kebaikan-Nya. “Akibat kebenaran adalah ketenangan dan ketenraman untuk selamanya.” Orang-orang benar menginginkan menjadi tenang, jauh dari keramaian dan untuk sementara waktu agar supaya menjadi Kristus. Ada hal yang menarik ketika Daud menulis dan terdapat dalam Mazmur 42. Ketika ia berhenti sejenak dan berpikir dan mengingat waktu-waktu indah tatkala ia memimpin barisan-barisan menuju Bait suci, dan pengalaman lalu dimana kesetiaan Allah terbukti, ia dapat kembali memanggil Allah – batu karangnya – walaupun ia sedang mengalami saat-saat ujian. Dari waktu tenangnya Daud muncul sebagai seorang manusia yang letak hubungannya terhadap pergumulannya adalah benar.

Betapa amannya apabila kita mengalami lebih banyak waktu tenang, menyadari bahwa saat kita muncul dari waktu-waktu itu, roh kita akan diselimuti oleh damai sejahtera dan keyakinan yang menentramkan. Dalam waktu-waktu itu kita dapat mengingat kembali Allah dan diyakinkan akan kehadiran-Nya, kepedulian-Nya dan kasih-Nya. Orang-orang yang merasa tidak aman tidaklah menggunakan waktu tenang dengan baik. Mereka lebih suka tenggelam dalam rasa tidak amannya dan ketakutan-ketakutan mereka. Apapun penyakit seseorang, ambil beberapa menit untuk berpikir, kemudian memikirkan Allah dan kebaikan-Nya, hal ini merupakan obat syaraf yang terbaik yang pernah ada, disertai langkah berikutnya. Menarik sekali kalau Allah berkata kepada umat-Nya bahwa harus menjadwalkan waktu untuk menjadi tenang, agar supaya berhasil dan disertai dengan perenungan yang baik.

Yosua 1:8, “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.Banyak umat Tuhan bekerja dengan mati-matian mengejar keberhasilan dan akhirnya kelelahan dengan berbagai strategi yang dipakai untuk meraih keberhasilan. Saya percaya bahwa Allah mempunyai tujuan kepada umatnya dengan menyatakan untuk “menjadi tenang”. Allah adalah tuan kita dan kita ini bukan siapa-siapa. Itu memberi waktu untuk mengenal Allah lebih baik lagi dan beristirahat di dalam Dia. Semakin kita sibuk sebaiknya semakin banyak untuk menjadi tenang bersama Allah.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

BERSEMANGAT SAMPAI LELAH

Sabtu, 8 Mei 2010

Bacaan : Markus 6:30-32

6:30. Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.

6:31 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.

6:32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.

BERSEMANGAT SAMPAI LELAH

Rekan saya, seorang penulis, kena batunya. Apabila sedang terdorong menulis, ia mengunci diri di ruang belajar agar dapat berkonsentrasi menyelesaikan karya. Ia tidak mau diganggu, bahkan oleh istrinya. Sering ia sampai lupa makan dan tidur. Suatu saat ia jatuh sakit. Pencernaannya terganggu; lambungnya berdarah. Bisa diduga, itu akibat ia sering telat makan dan kurang istirahat. Pelajaran pahit itu mengubah kebiasaannya. Kini, ia tidak menulis dengan mengunci pintu kamar agar istrinya dapat mengantarkan makanan pada waktunya. Ia juga tidak sering-sering lagi begadang.

Yesus memahami bahayanya semangat kerja yang tidak seimbang. Pada awal pelayanan-Nya, Dia mengutus murid-murid untuk melayani. Mereka pun pergi dan dengan penuh semangat menjalankan pelayanan pertama mereka. Sekembalinya, mereka mengerumuni Yesus, bergairah untuk menceritakan pengalaman mereka. Namun, Yesus tampaknya tidak berlama-lama menyimak laporan mereka. Dia malah menyuruh mereka segera mencari tempat sunyi untuk beristirahat. Dia tidak ingin mereka terlalu bersemangat sampai akhirnya kelelahan. Sebaliknya, Dia ingin mengajari mereka perlunya menjaga ritme yang sehat antara bekerja dan beristirahat, suatu pola yang akan menunjang mereka untuk melayani secara berkelanjutan.

Apabila firman ini datang kepada kita hari ini, berarti kita diberi kesempatan untuk menata kembali irama hidup kita. Bagaimana jadwal dan agenda kita? Luangkanlah waktu untuk beristirahat di tengah kesibukan kerja. Jangan sampai kita terpaksa beristirahat gara-gara jatuh sakit! –ARS

BERISTIRAHAT SECARA MEMADAI

MENDUKUNG KITA BEKERJA SECARA LEBIH EFEKTIF

Sumber : www.sabda.org

PIT STOP

Minggu, 2 Agustus 2009

Bacaan : Markus 6:30-32

6:30. Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.

6:31 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.

6:32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.

 

PIT STOP

Michael Schumacher menjadi juara dunia Formula One (F1) tujuh kali. Ia mampu memacu mobil balapnya dengan kecepatan di atas 300 km/jam, menyelesaikan puluhan lap dalam waktu yang amat cepat. Ada satu hal yang selalu ia lakukan saat berlomba, yaitu melakukan pit stop. Di pit stop itu, ia berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar, mengganti ban yang aus, dan memeriksa peralatan mobilnya. Sesaat kemudian ia pun melanjutkan lomba.

Sejarah mencatat, dalam F1 strategi pit stop tidak jarang menjadi penentu. Perhentian sesaat di pit stop itu bisa mengantar seorang pembalap meraih kemenangan. Mirip dengan kehidupan kita. Setiap hari kita menjalani berbagai aktivitas dan kerap terjebak dalam rutinitas. Tujuh hari dalam seminggu kita memacu diri kita dengan berbagai kesibukan pekerjaan, mungkin ditambah juga dengan pelayanan di gereja atau aktivitas di tempat lain. Sehingga saking sibuknya sampai-sampai kita pun kerap kali lupa hal yang sangat penting, yaitu “berhenti” sejenak.

Dalam bacaan kita, Tuhan Yesus mengetahui kelelahan para murid-Nya setelah melayani orang banyak. Dia pun lalu mengajak mereka beristirahat, menarik diri dari kesibukan. Ada saat di mana kita harus sejenak berhenti. Mengambil jeda dari kebisingan hidup. Sejenak menarik diri dari hiruk pikuk rutinitas. Mengistirahatkan bukan hanya tubuh, tetapi juga hati dan pikiran. Saat di mana kita memeriksa dan mengasah diri. Ibarat merecharge baterai kehidupan kita. Untuk kemudian bersiap melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi -AYA

TANPA AKTIVITAS KITA BISA TUMPUL

TETAPI TANPA LIBUR KITA BISA AUS

Sumber : www.sabda.org