TUTTI FRATELLI

 

Rabu, 24 November 2010

Bacaan : 1 Yohanes 3:14-18

14Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.

15Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.

16Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

17Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?

18Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

TUTTI FRATELLI

Konon yang menggerakkan Henry Dunant untuk mendirikan organisasi Palang Merah Internasional adalah suatu pertempuran di sebuah daerah bernama Solferino, Italia, pada 1859. Saat itu, jatuh 38.000 korban luka maupun meninggal dari kedua belah pihak. Namun, hampir tidak ada orang yang peduli. Karena itu, Dunant menggerakkan warga sekitar untuk merawat, tanpa memedulikan latar belakang korban, di pihak mana ia berada. Tutti fratelli (semua adalah saudara) merupakan slogan mereka hari itu.

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita menemukan prinsip serupa dengan kisah di atas. Rasul Yohanes mengingatkan jemaat agar selalu berbuat baik kepada sesama-hidup tanpa membuat “kotak-kotak pemisah”. Berbuat baik dan mengasihi berarti juga belajar peka akan kebutuhan sesama kita; ketika sesama mengalami kekurangan, kita tidak menutup pintu hati kita (ayat 17). Jemaat, yang telah me-ngenal kasih Kristus serta menjalani hidup baru, dengan demikian diajak untuk mengasihi bukan hanya dengan perkataan atau sebatas lidah, melainkan juga dengan perbuatan nyata (ayat 18).

Dalam kitab-kitab Injil pun kita menemukan bahwa berkali-kali Tuhan Yesus mengajar kita-anak-anak-Nya-untuk mengasihi dan berbuat baik tanpa pilih-pilih. Bangsa Yahudi atau Samaria, kaya atau miskin, sahabat atau musuh. Perintah ini mengembalikan kita pada hakikat keberadaan manusia, yang sesungguhnya adalah saudara-bersaudara. Tak ada penghalang yang layak membatasi kita untuk tidak berbuat baik kepada sesama. Biarlah gereja Tuhan memulai lagi gerakan kasihnya. Sebab dari sikap hidup yang seperti itu pulalah Injil tersebarkan –ALS

SEBAB DUNIA INI ADALAH SATU KELUARGA

MAKA SETIAP ORANG HARUS SALING MENERIMA DENGAN KASIH

Sumber : www.sabda.org

Iklan