INVESTASI WAKTU

Rabu, 14 Desember 2011

Bacaan : Amsal 4:1-6

4:1. Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian,

4:2 karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku.

4:3 Karena ketika aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak, lemah dan sebagai anak tunggal bagi ibuku,

4:4 aku diajari ayahku, katanya kepadaku: “Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup.

4:5 Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian, jangan lupa, dan jangan menyimpang dari perkataan mulutku.

4:6 Janganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia, maka engkau akan dijaganya.

INVESTASI WAKTU

Seorang tokoh politik serta diplomat Amerika abad ke-19, Charles Francis Adams, punya buku harian. Suatu saat, di buku itu ia menulis: “Hari ini saya memancing dengan anak laki-laki saya satu hari terbuang percuma.” Ternyata, putranya, Brook Adams, juga memiliki buku harian. Dan, pada hari yang sama tersebut, Brook Adams menulis: “Pergi memancing dengan Ayah ini sungguh hari paling menyenangkan di hidupku!” Perbedaan pandangan terhadap satu pengalaman yang sama. Yang satu merasa membuang waktu, yang lain merasa sang ayah memberi investasi waktu yang berharga baginya.

Beda cara pandang seperti ini mungkin kerap terjadi. Kita merasa membuang waktu saat “hanya” bermain berbincang dengan anak-anak. Padahal bagi mereka, itulah tabungan emosi dan kepercayaan yang mereka dapat dari kebersamaan dengan orangtua. Dan, inilah keadilan Tuhan; kasih itu dapat dinyatakan dengan sesuatu yang dapat dilakukan tiap orangtua: investasi waktu yang tak menuntut kita untuk selalu keluar uang. Anak-anak hanya perlu kita ada bersama mereka, punya waktu mendengar mereka, punya kesempatan menyentuh mereka dengan kasih nan menenteramkan.

Salomo adalah salah satu tokoh Alkitab yang tercatat karena kebijaksanaan, kemasyhuran, kesuksesannya. Namun, siapakah pribadi di balik keberhasilannya itu? Betulkah ia menyebut-nyebut ayahnya yang berperan mendidik dan menasihatinya? Bacaan hari ini menunjukkan hal itu. Daud, ayah Salomo, memberi waktu yang ia punya untuk mengarahkan putranya agar hidup di jalan Tuhan. Dan, kita telah melihat hasilnya. Maka, sesibuk-sibuknya kita sebagai orangtua, mari prioritaskan selalu waktu untuk anak –AW

ANAK YANG MENCAPAI KEBERHASILAN DI HIDUPNYA

DIBESARKAN OLEH ORANGTUA YANG PUNYA WAKTU UNTUKNYA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

HIDUP TERKEKANG?

Minggu, 17 Juli 2011

Bacaan : Keluaran 20:1-17

20:1. Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:

20:2 “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

20:3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,

20:6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

20:7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

20:8 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:

20:9 enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,

20:10 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.

20:11 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

 

20:12. Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

20:13 Jangan membunuh.

20:14 Jangan berzinah.

20:15 Jangan mencuri.

20:16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

20:17 Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

 

HIDUP TERKEKANG?

 

Setelah menikah dengan saya, hidup suami saya berubah. Ada banyak aturan baru yang harus ditaati: tak boleh tidur di atas jam dua pagi, tak boleh minum minuman bersoda tiap hari, harus makan sayur, madu, juga vitamin, berolahraga minimal seminggu sekali, dan sebagainya. Suatu pagi saat sedang sarapan, saya mengatakan bahwa ia boleh dan harus minum yoghurt yang baik bagi kesehatan. Tiba-tiba ia nyeletuk, “Begini ya rasanya hidup dipelihara Tuhan. Dijagain. Yang tidak baik dilarang, yang baik dibolehkan.” Saya merenungkan dan melihat kebenaran kata-katanya. Saya memberi banyak aturan bukan untuk membatasi dan membuatnya menderita. Namun, supaya ia hidup sehat, panjang umur, dan bahagia.

Ketika Tuhan memberikan Sepuluh Perintah Allah, Dia rindu Israel menjadi bangsa yang berbeda. Menjadi bangsa yang berstandar moral tinggi; menjadi bangsa kepunyaan Allah sendiri. Semua perintah Allah adalah untuk kebaikan bangsa Israel. Supaya mereka dapat beristirahat (ayat 8), punya keluarga harmonis (ayat 12), menjadi masyarakat yang rukun (ayat 13-17). Pemazmur mengatakan bahwa segala jalan Tuhan, peringatan, dan hukum-Nya, adalah jalan untuk menunjukkan kasih kepada umat-Nya.

Sepuluh Perintah Allah tetap relevan dalam konteks budaya kita. Jika kita tidak menyadari bahwa hukum-hukum itu untuk kebaikan kita, mungkin kita akan menggerutu dan merasa Tuhan membatasi hidup kita. Namun, sadari bahwa perintah-Nya adalah untuk menjaga kita dari hal-hal yang jahat. Hari ini, mari lakukan perintah-perintah-Nya bukan dengan terpaksa, melainkan dengan hati sukacita –GS

JALAN TUHAN SEKALIPUN KADANG TERASA BERAT

TETAPI MEMBAWA PADA SUKACITA ABADI

Dikutip : www.sabda.org

BEDA JALAN

Jumat, 15 Oktober 2010

Bacaan : Yesaya 55:6-11

55:6. Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!

55:7 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.

55:8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.

55:9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

55:10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,

55:11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

BEDA JALAN

Dua anak menemukan sebuah kantong berisi dua belas butir kelereng. Mereka berdebat soal pembagian kelereng itu dan memutuskan untuk mendatangi seorang bapak yang mereka anggap bijak. Ketika diminta menengahi, bapak itu bertanya, mereka mau kelereng itu dibagi menurut kea-dilan manusia atau keadilan Tuhan. Anak-anak itu menjawab, “Kami mau yang adil. Jadi, bagilah menurut keadilan Tuhan.” Sang bapak pun menghitung kelereng tersebut, lalu memberikan tiga butir kepada salah satu anak, dan sembilan butir kepada anak yang lain. Pertanyaan sang bapak meng-ingatkan kita bahwa terkadang ada perbedaan besar antara keadilan yang diberikan manusia dan Allah.

Jalan Tuhan, pikiran dan rencana-Nya, jauh berbeda dari jalan manusia. Standar kebenaran dan keadilan-Nya juga lain dari standar manusia. Seperti langit dan bumi bedanya-kiasan Yesaya itu masih kita pakai sampai sekarang. Manusia hanya melihat sepotong gambar, Allah melihat gambar itu secara menyeluruh. Manusia hanya mengamati tindakan lahiriah, Tuhan sanggup menilik sampai ke relung hati yang paling dalam. Apa yang dianggap baik oleh Tuhan, bisa jadi malah dianggap jahat oleh manusia. Ketika kita berharap mendapat bagian sama rata, Tuhan membagikan karunia menurut keperluan masing-masing orang. Apa yang kita rasa lamban, bagi Dia indah pada waktunya.

Adakah harapan kita yang belum terwujud sampai saat ini? Atau, adakah doa yang sudah sekian lama kita panjatkan, tetapi kita belum kunjung melihat titik terang jawaban-Nya? Mungkin Tuhan bukannya berdiam diri. Bisa jadi Dia justru sedang menjawabnya secara tak terduga: menurut jalan-Nya, bukan menurut jalan kita –ARS

JANGAN MEMBENGKOKKAN JALAN TUHAN

MENURUT KEMAUAN KITA

KITALAH YANG HARUS MENUNDUKKAN DIRI

MENGIKUTI JALANNYA

Sumber : www.sabda.org

RON ARTEST

Rabu, 29 September 2010

Bacaan : Kisah Para Rasul 9:1-19, 26-31

9:1. Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar,

9:2 dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

9:3 Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia.

9:4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?”

9:5 Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.

9:6 Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.”

9:7 Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun.

9:8 Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik.

9:9 Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.

9:10. Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: “Ananias!” Jawabnya: “Ini aku, Tuhan!”

9:11 Firman Tuhan: “Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa,

9:12 dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.”

9:13 Jawab Ananias: “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.

9:14 Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.”

9:15 Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.

9:16 Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.”

9:17 Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”

9:18 Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis.

9:19 Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. (9-19b) Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik.

9:26 Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid.

9:27 Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus.

9:28 Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan.

9:29 Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia.

9:30 Akan tetapi setelah hal itu diketahui oleh saudara-saudara anggota jemaat, mereka membawa dia ke Kaisarea dan dari situ membantu dia ke Tarsus.

9:31 Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.

RON ARTEST

Ron Artest dulunya dikenal sebagai atlet NBA (Liga Bola Basket Amerika Serikat) yang meski berbakat, tetapi sangat temperamental dan kontroversial. Citra ini terbentuk terutama karena perkelahiannya dengan penonton dalam sebuah pertandingan pada 2004. Pada awal musim pertandingan 2009/2010, ia bergabung dengan tim juara bertahan, Los Angeles Lakers. Pada waktu itu, ia mengaku sudah berubah. Sayang, banyak orang meragukannya. Namun, lewat pertandingan demi pertandingan, ia membuktikan janjinya. Hingga akhirnya ia malah berjasa besar membantu timnya menjadi juara liga.

Perjalanan hidup Paulus juga mirip dengan pengalaman Ron Artest. Ia dulunya adalah seorang musuh Kristus dan penganiaya jemaat. Singkat kata, masa lalunya begitu kelam. Namun oleh anugerah-Nya, Tuhan memanggilnya untuk bertobat melalui peristiwa di perjalanan ke Damsyik. Hanya saja, karena reputasi masa lalunya yang buruk, murid-murid yang lain sulit memercayai kalau Paulus sudah sungguh-sungguh berubah. Namun, kecurigaan ini tidak membuat Paulus undur. Ia terus berusaha meyakinkan mereka dengan bukti-bukti di hidupnya, bahwa ia sudah sungguh-sungguh berubah.

Salah satu tantangan dalam membuka lembaran hidup yang baru memang adalah kecurigaan dari orang-orang di sekitar kita, bahwa kita sudah sungguh-sungguh berubah. Akan tetapi, seperti yang dilakukan oleh Ron Artest dan Paulus, jangan kita undur karenanya. Sebaliknya, buktikanlah dengan menjalani hidup kita yang baru secara konsisten. Maka suatu hari kelak mereka akan percaya dan menerima kita sepenuhnya –ALS

ORANG YANG SUNGGUH BERTOBAT

PASTI AKAN MENUNJUKKAN

PERUBAHAN HIDUP YANG KONSISTEN

Sumber : www.sabda.org

Mengenali Musuh

Pesan Gembala

11 April 2010

Edisi 122 tahun 3

Mengenali Musuh

Shallom… Salam Miracle.

Jemaat Tuhan di gereja Bethany yang diberkati, Rasul Paulus mengatakan dalam Efesus 6:12 demikian “Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di dunia.” Sedangkan rasul Paulus mengatakan dalam 1 Petrus 5:8 demikian: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.

Sebagai orang percaya Tuhan, pasti kita tidak mencari musuh, tetapi selalu menghadapi oposisi. Hal ini disebabkan karema terang tidak dapat bersatu dengan gelap. Bila kita berada dalam terang akan menghadapi oposisi dari kegelapan, dan tidak bisa dalam zona netral atau di tengah-tengah antara terang dan kegelapan. Mau tidak mau, sadar atau tidak sadar, kita berada dalam medan peperangan. Dalam medan perang jika kita tidak menang kita menjadi pihak yang kalah. Mari kita perhatikan beberapa sikap/ pandangan orang percaya terhadap musuh.

PERTAMA, beranggapan bahwa musuh tidak ada dan peperangan rohani dalam kehidupan tidak pernah ada.

KEDUA, berangapan bahwa tidak perlu tahu musuh, yang penting bersandar pada Allah.

KETIGA, sangat tahu keberadaan musuh dan tanpa sadar lebih banyak membicarakan dan memikirkan musuh yang akhirnya membuatnya menjadi takut. Atau musuh menjadi BERHALA. Seharusnya orang percaya lebih banyak membicarakan Allah yang jauh lebih besar dan lebih dahsyat daripada membicarakan musuh. Semakin kita memposisikan Allah lebih sedikit daripada musuh, maka semakin mengalami ketakutan dan akhirnya kalah sebelum bertanding.

Rasul Paulus sudah mengingatkan bahwa “…sadar dan berjaga-jagalah…” dengan kesadaran itu Firman Tuhan mendorong dan menguatkan kita, kesadaran dalam mengerti dan mengetahui musuh kita tidak bermaksud untuk membuat kita takut, tetapi membuat kita berjaga-jaga dan menggunakan segenap senjata Allah dalam menghadapinya.

Iblis mempunyai banyak cara dan strategi (Pdt. Pondsius Takaliung, YPII, 1984), berikut daftar pekerjaan Iblis:

  1. Memperdayakan manusia dengan memutarbalikkan firman Allah (2 Korintus 11:3; Kejadan 3:1-5).
  2. Bertengkar dengan malaikat Mikhael tentang mayat Musa (Yudas 1:9).
  3. Mengelilingi dan menjelajahi bumi (Ayub 1:7).
  4. Mendatangkan orang-orang jahat, api dari langit, menggerakkan orang jahat, mendatangan angin ribut (Ayub 1:12-19).
  5. Mendatangkan penyakit yang keras (Ayub 2:6-7).
  6. Mencobai orang beriman (Matius 4:2).
  7. Merampas Firman Allah yang ditaburkan (Matius 13:19).
  8. Menaburkan orang jahat dimana-mana (Matius 13:38-39).
  9. Membelokkan seseorang dari jalan Tuhan (Matius 16:23).

10. Mendatangkan gangguan pada Tubuh (Lukas 22:31)

11. Masuk dalam hati manusia (Lukas 22:3)

12. Menampi murid Tuhan (Lukas 22:31).

13. Merasuk manusia (Yohanes 13:27).

14. Menguasai manusia untuk berdusta (Kisah 5:3).

15. Membinasakan tubuh manusia (I Korintus 5:5).

16. Menggoda suami istri (I Korintus 7:5).

17. Mencari keuntungan dalam kesedihan orang percaya (II Korintus 2:11).

18. Menyamar sebagai malaikat terang (II Korintus 11:14).

19. Mencegah maksud baik dari hamba Tuhan (I Tesalonika 2:18).

20. Berbuat baik, mujizat-mujizat palsu (II Tesalonika 2:9).

21. Menyesatkan janda-janda (I Timotius 5:15).

22. Menciptkan gereja sendiri (Wahtu 2:9).

23. Melemparkan orang beriman ke dalam penjara (Wahyu 2:10).

24. Menyesatkan dan mendakwa orang beriman (Wahyu 12:9-10).

25. Menggelapkan hati manusia untuk melihat kemuliaan Injil Kristus (II Korintus 4:4).

26. Berkuasa atas maut (Ibrani 2:14).

Oleh sebab itu seperti tertulis dalam I Petrus 5:9-11 menyatakan demikian: “Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa saudara-saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaanNya yang kekal, akan melengkapi, mengeuhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Tuhan Yesus memberkati kita semua….

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA