ALLAH JURUSELAMAT

Kamis, 21 Februari 2013

Bacaan: 1 Timotius 1:1-2

1:1. Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita,

1:2 kepada Timotius, anakku yang sah di dalam iman: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.

ALLAH JURUSELAMAT

Sebagai orang Kristen, jika ditanya siapakah Juruselamat kita, pastilah kita akan menjawab: Yesus Kristus. Tetapi, dalam bacaan hari ini, Allah, bukan Yesus Kristus, yang disapa sebagai Juruselamat (1a). Rupanya sebutan Allah Sang Juruselamat lazim dipakai oleh orang Kristen mula-mula, seperti tercermin di dalam surat-surat pastoral (lih. 1 Tim 2:3, 4:10).

Apakah yang hendak ditekankan melalui penggunaan frasa ini? Bahwa Allah adalah sumber keselamatan. Dengan kata lain, kesadaran atas maksud keselamatan Allah bagi umat-Nya adalah dasar iman kita.

Karya keselamatan Allah itu menuntun kita kepada keyakinan bahwa Kristus adalah pengharapan kita (1b). Yesus adalah sumber kehidupan kekal yang menanti kita, juga dasar bagi kemuliaan yang akan diterima umat-Nya saat Dia datang kembali kelak. Karya keselamatan Allah itu mewujud di dalam diri Yesus Kristus. Paulus dan Timotius, yang diakui sebagai anaknya yang sah, mendapatkan panggilan untuk mengambil bagian dalam pelayanan mewartakan keselamatan tersebut.

Dasar iman ini mengingatkan kita bahwa pelayanan yang terlepas dari kesadaran akan karya keselamatan dan kehendak Allah hanya mendatangkan kesia-siaan. Surat Paulus kepada Timotius ini tidak hanya menyapa Timotius, tetapi juga menyapa kita, pengikut Kristus pada masa kini. Kita juga dipanggil Tuhan sebagai utusan-Nya untuk mengabarkan keselamatan. Ya, setelah menerima anugerah keselamatan, kita pun mendapatkan kehormatan untuk mewartakan kabar kesukaan itu. –ENO

ORANG YANG TELAH MENERIMA KARYA KESELAMATAN ALLAH

 AKAN TERPANGGIL UNTUK MEWARTAKAN KABAR KESUKAAN ITU

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

ORANG TANPA NAMA

Selasa, 24 November 2009

Bacaan : Titus 3:1-7

3:1. Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik.

3:2 Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.

3:3 Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci.

3:4 Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia,

3:5 pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

3:6 yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita,

3:7 supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.

ORANG TANPA NAMA

Bertahun-tahun yang lalu, saya menerima sebuah bingkisan berbentuk tabung melalui pos. Bingkisan tersebut berisi tongkat pancing bambu buatan Jim Schaaf yang indah sekali dan kili-kili pancing Bill Ballan yang klasik — peralatan pancing yang mahal dan harganya tidak terjangkau. Ada catatan tulisan tangan yang berbunyi, “Saya ingin melakukan sesuatu bagi Anda.” Sampai sekarang ini, saya tidak tahu siapa yang mengirimkan bingkisan tersebut.

Penyair William Cowper juga punya sahabat yang tak ia kenal dan mengiriminya berbagai hadiah, tetapi tak pernah menyebutkan namanya. Komentar Cowper setiap kali menerima hadiah selalu sama, “Orang yang tak dikenal telah datang.” Saya sering memikirkan ucapannya ketika memancing dengan tongkat pancing itu, “Orang yang tak dikenal telah datang.” Saya selalu berterima kasih kepada sahabat yang tak saya ketahui namanya atas kebaikan dan kasihnya.

Sepanjang hidup, Allah mencurahkan kebaikan-Nya — kebenaran, keindahan, persahabatan, kasih, dan tawa, serta banyak lagi. Dan, kita bersikap seakan kita tidak tahu dari mana asalnya. Allah telah menjadi Sahabat kita yang tidak dikenal.

Namun, Dia tak ingin selamanya tidak dikenal. Jika Anda ingin tahu lebih banyak lagi tentang Sahabat rahasia Anda, bacalah Injil, karena Dia tampak paling nyata dalam diri Yesus. Kasih selalu ada di dalam hati Allah, tetapi di dalam Yesus, kasih itu “kelihatan”. Allah, yang dinyatakan dalam diri Yesus, adalah Sahabat Anda yang baik hati dan penuh kasih. Apakah Anda akan mengakui-Nya dan berterima kasih kepada-Nya hari ini? –DHR

SAHABAT YANG PALING KITA KASIHI HANYALAH BAYANGAN
JIKA DIBANDINGKAN DENGAN YESUS

Sumber : www.sabda.org