NYANYIAN ALAM

Senin, 10 September 2012

Bacaan : Mazmur 19:1-7

19:1. Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (19-2) Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;

19:2 (19-3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.

19:3 (19-4) Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar;

19:4 (19-5) tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari,

19:5 (19-6) yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.

19:6 (19-7) Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya.

19:7. (19-8) Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.

 

NYANYIAN ALAM

Apa buktinya Allah ada?” selalu menjadi topik hangat dalam diskusi keagamaan. Ini bukan saja pertanyaan yang muncul dari mereka yang tidak percaya adanya Allah, namun juga dari kalangan yang memercayai adanya Allah. Logika berpikir yang sangat mendasar untuk menjawabnya adalah: segala ciptaan ada karena ada penciptanya. Makin rumit suatu ciptaan, makin hebat pula penciptanya.

Logika inilah yang juga dipakai pemazmur dalam merenungkan keberadaan Allah. Ia melihat betapa Allah meninggalkan sangat banyak jejak dan bukti tentang keberadaan-Nya melalui alam semesta. Percaya bahwa langit, matahari, dan segala kompleksitas alam di sekitar kita itu ada dengan sendirinya adalah sebuah ide konyol dari mereka yang menekan bisikan nurani. Keindahan, kemegahan dan keteraturan jagat raya menyiratkan ada arsitek agung di baliknya. Buah karya Allah, yaitu bumi dan segala isinya adalah salah satu cara Allah untuk membisikkan keberadaan-Nya.

Keberadaan alam semesta tidak hanya layak menjadi alat pembuktian namun sepantasnya menimbulkan pesona dan hormat kepada Sang Pencipta. Kalau langit saja bisa menceritakan pekerjaan Tuhan yang mulia, betapa lebih lagi kita sebagai ciptaan-Nya yang paling agung, yang dibuat seturut gambar-Nya. Sudah selayaknya kita juga menjadi pencerita kemuliaan-Nya dan pemberita pekerjaan tangan-Nya. Seberapa besar kekaguman kita kepada-Nya dan seberapa banyak cerita hidup kita menjadikan orang kagum kepada-Nya? –PBS

KETIKA KITA TERPESONA TERHADAP ALAM SEMESTA,

NYATAKAN KEKAGUMAN KEPADA PENCIPTA-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

MASIH TAKJUBKAH KITA?

Minggu, 08 Januari 2012

Bacaan : Mazmur 19:1-7 

19:1. Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (19-2) Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;

19:2 (19-3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.

19:3 (19-4) Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar;

19:4 (19-5) tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari,

19:5 (19-6) yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.

19:6 (19-7) Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya.

MASIH TAKJUBKAH KITA?

Sekelompok siswa kelas 1 SD tampak asyik menggambar ciptaan Tuhan yang mereka temui di halaman sekolah. Setelah beberapa saat, seorang anak menunjukkan hasil karyanya kepada guru. Gambar sebuah bunga dengan kelopak putih dan bagian putik berwarna oranye. Ketakjuban terpancar jelas dari wajahnya. “Ibu guru, Tuhan hebat, ya, bisa menciptakan bunga yang warnanya tidak luntur jika tersiram air. Kalau luntur kan warna putihnya jadi kotor!” Ya, jika mencermati beragam ciptaan Tuhan, ada begitu banyak hal yang akan membuat kita takjub. Betapa hebat dan kreatifnya Dia!

Sebagaimana anak tadi, Daud juga diliputi kekaguman yang luar biasa akan Tuhan. Ia menengadah ke atas dan langit pun seolah bercerita tentang kehebatan Pelukisnya. Ia menelusuri cakrawala yang entah di mana ujungnya, terpesona dengan garis batas langit yang dibuat Tuhan itu. Ia merasakan panas matahari dan menyadari bahwa sinarnya mewartakan keagungan Sang Pencipta ke seluruh penjuru bumi. Dari pagi hingga malam, dari kutub utara hingga selatan, siapa yang dapat menutupi kesaksian Tuhan yang dahsyat tentang diri-Nya sendiri?

Hari ini, ketika hangat mentari menyapa, adakah rasa takjub akan Tuhan meliputi kita? Ketika melewati jejeran aneka pohon di sepanjang jalan, adakah gelora kekaguman akan Tuhan menyeruak dalam sanubari? Tidak ada hari yang biasa-biasa saja ketika panca indera kita benar-benar diaktifkan. Lihat, hirup, sentuh, teliti sekeliling kita, dan biarkan nada ketakjuban mengalun sekali lagi bagi Pribadi yang selayaknya menerima segala hormat dan pujian kita –SWS

KETAKJUBAN AKAN TUHAN MEMBUAT KITA SEMAKIN RINDU MENYEMBAH-NYA

Dikutip : www.sabda.org

BERHATI DEGIL

Jumat, 12 Agustus 2011

Bacaan : Markus 6:45-52

 6:45. Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.

6:46 Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.

6:47 Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat.

6:48 Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.

6:49 Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,

6:50 sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

6:51 Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung,

6:52 sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.

  

BERHATI DEGIL

Orang bijak bisa belajar dari apa pun. Tidak saja dari hal positif, tetapi bahkan dari hal negatif. Maka, kita bersikap bijak dengan tetap berusaha belajar sesuatu dari bacaan hari ini, walau kisahnya menceritakan tentang para murid Yesus yang tidak berhati peka.

Biasanya, kisah Yesus dan para murid berakhir dengan pengalaman positif. Namun kali ini, sang “narator” melaporkan bahwa para murid belum juga mengerti, hati mereka tetap “degil” atau “tidak peka” dalam terjemahan barunya (ayat 52). Kata “degil” berasal dari bahasa Yunani: poroo, artinya “tertutupi oleh sesuatu yang tebal, mengeras, tak kunjung paham”. Ya, hati para murid tetap poroo, walau mereka baru mengalami peristiwa hebat: Yesus berjalan di atas air. Ironis, bukan? Setelah Yesus menyatakan diri pun, para murid tetap “sangat tercengang dan bingung” (ayat 51). Padahal sebelumnya Yesus juga baru saja membuat mukjizat: memberi makan 5.000 orang (6:30-44, 52). Sungguh disayangkan, hati para murid ini begitu kaku, beku, dan tertutup, sehingga lawatan Tuhan di depan mata tak kunjung menghasilkan sukacita yang penuh rasa kagum.

Kita pun kerap bersikap seperti para murid. Kita tidak selalu cepat paham dan tidak selalu mengerti karya Tuhan. Hati kita tetap degil, keras, kaku, bebal, poroo. Hari ini, mari panjatkan doa untuk satu hal: meminta kepekaan hati untuk melihat kehadiran dan karya Tuhan setiap hari. Agar kita dapat senantiasa hidup dengan rasa syukur dan kagum tiada henti, atas kebaikan-Nya yang tersebar dalam banyak peristiwa. Hati yang penuh kagum, hormat, dan syukur kepada Allah akan membangkitkan kekuatan batin yang besar –DKL

BIARLAH HATI KITA SELALU TERBUKA

PADA SETIAP KETERLIBATAN TUHAN DI HIDUP KITA

Dikutip : www.sabda.org