IMAN YANG BESAR

Selasa, 14 Juni 2011

Bacaan : Lukas 7:1-10

7:1. Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum.

7:2 Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.

7:3 Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.

7:4 Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: “Ia layak Engkau tolong,

7:5 sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.”

7:6 Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku;

7:7 sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.

7:8 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”

7:9 Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!”

7:10 Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.

 

IMAN YANG BESAR

Dapatkah Anda membayangkan bagaimana rasanya dikagumi oleh orang besar, misalnya seorang presiden? Wah, tentu kita merasa sangat tersanjung! Lalu, bagaimana jika Allah Sang Putra Yesus Kristus mengagumi manusia? Rasanya belum pernah terdengar, bukan?

Perhatikan kisah ini. Ada perwira Romawi yang menjadi penguasa di Kapernaum. Ia baik hati, suka berderma, dan memperhatikan kesejahteraan rakyat yang dijajahnya. Sekalipun menurut orang Yahudi ia dianggap kafir, ia bermurah hati membangun rumah ibadah Yahudi. Ketika pembantunya sakit keras, ia sangat gelisah. Padahal, pembantu pada zaman itu identik dengan budak dan biasanya bukan warga Romawi. Diutusnya para pemuka Yahudi untuk memohon pertolongan Yesus hingga mereka pun memaksa Yesus menolong si perwira, sebab ia penguasa yang berjasa.

Perwira ini menyadari ketidaklayakannya. Karena itu, ia yakin bahwa jika Yesus mau menyembuhkan, Dia tak perlu datang ke rumahnya. Sebab, dari jauh Yesus bisa memerintahkan kuasa-Nya untuk menyembuhkan (ayat 6-8). Mungkinkah perwira ini meyakini bahwa Yesus adalah Mesias, penguasa surga yang sedang melawat dunia? Ketika umat Israel masih memperdebatkan apakah Yesus utusan Allah atau penyesat, perwira ini membuat Yesus tercengang. Yang dianggap kafir justru memiliki iman yang jauh lebih besar daripada orang yang menganggap dirinya umat pilihan Allah.

Milikilah iman sang perwira. Ia merendahkan diri, menyadari ketidaklayakannya di hadapan Yesus. Namun, ia sangat meyakini ketuhanan dan kebesaran Yesus. Ia mempercayai Yesus dengan sepenuh hatinya. Tuhan senang melihat iman seperti ini –SST

BERIMAN KEPADA YESUS BERARTI MENYADARI

KETIDAK LAYAKAN KITA

DAN MEMERCAYAI KEBESARAN-NYA YANG NYATA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

KARENA ORGAN RUSAK

Kamis, 23 Desember 2010

Bacaan : Markus 2:1-12

1Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah.

2Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka,

3ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang.

4Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.

5Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”

6Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya:

7″Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”

8Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?

9Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?

10Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” –berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–:

11″Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”

12Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kita lihat.”

KARENA ORGAN RUSAK

Kabar buruk itu muncul menjelang malam Natal 1818. Joseph Mohr, seorang pendeta Austria, diberi tahu bahwa organ di gerejanya rusak dan perbaikannya memakan waktu lama, sehingga organ itu tidak akan dapat dipakai untuk mengiringi ibadah malam Natal. Ia kebingungan. Natal tanpa iringan musik? Ia pun duduk menggubah lagu yang dapat dinyanyikan oleh paduan suara dengan iringan gitar. Ia menulis tiga bait yang bersahaja, tetapi dengan melodi yang kuat. Malam itu, jemaat di gereja kecil itu menyanyikan “Stille Nacht” (Malam Kudus) untuk pertama kalinya. Karena organ yang rusak, kita mewarisi lagu Natal yang populer sepanjang masa.

Sesungguhnya, masalah tidak akan menghentikan orang yang beriman. Empat pembawa orang lumpuh itu tidak mau menyerah ketika pintu rumah tempat Yesus berada tertutup oleh kerumunan orang. Pada zaman itu, rumah-rumah terbuat dari batu dan mempunyai atap rata dari campuran lumpur dan jerami. Di luar, ada tangga menuju atap. Keempat orang itu membawa temannya ke atap, membongkar atap itu secukupnya, dan menurunkan si lumpuh sampai di depan Yesus. Menyaksikan iman mereka, Yesus memuji mereka dan menyembuhkan orang lumpuh itu. Iman mereka sukses menembus kebuntuan!

Apakah ada rencana Anda yang tertunda? Apakah Anda terpaksa mengubah haluan karena adanya suatu rintangan? Selama tujuan Anda benar, jangan biarkan hambatan menghentikan langkah Anda. Tuhan mungkin sedang mengarahkan Anda untuk menempuh jalur lain, jalur alternatif yang hasilnya akan jauh lebih baik daripada apabila Anda bertahan di jalur yang semula –ARS

HAMBATAN BUKANLAH JALAN BUNTU

MELAINKAN TANTANGAN UNTUK MENGUJI KREATIVITAS

Sumber : www.sabda.org

TUJUH KEAJAIBAN DUNIA

Sabtu, 19 Desember 2009

Bacaan : Matius 11:20-24

11:20 Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya:

11:21 “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.

11:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.

11:23 Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini.

11:24 Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.”

TUJUH KEAJAIBAN DUNIA

Seorang guru memberi tugas kepada murid-muridnya untuk menyebutkan tujuh keajaiban dunia. Sebagian besar murid segera menuliskan jawabannya di kertas mereka. Namun, Ririn hanya termangu-mangu di bangkunya. Dan ketika jam pelajaran hampir selesai, kertasnya masih kosong. Gurunya heran karena Ririn tergolong anak cerdas.

“Masakan kau tidak tahu satu pun keajaiban dunia, Rin?” tanya gurunya. “Sebenarnya banyak, Bu, tapi saya bingung memilih yang mana.” Kening gurunya berkerut, dan meminta Ririn menjelaskan. Ririn pun menyebutkan keajaiban dunia versinya: bisa melihat, bisa mendengar, bisa berkata-kata, bisa menyayangi, dan sebagainya. Gurunya tertegun, sekaligus tersadar: betapa mudah kita mengagumi karya hebat buatan manusia, dan menganggap biasa saja berbagai keajaiban yang Tuhan karuniakan secara cuma-cuma!

Yesus mengecam Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum karena menyambut dingin karya Tuhan di tengah mereka. Kota-kota itu termasuk daerah yang pertama kali mendengar berita pertobatan yang disampaikan Yesus. Berbagai mukjizat juga Dia lakukan. Yesus bahkan memilih Kapernaum sebagai kediaman-Nya sekeluar dari Nazaret. Namun, kota-kota itu bergeming. Berita Injil dan mukjizat Tuhan tak menggugah mereka bertobat dan berbalik dari kejahatan mereka.

Menurut Roma 2:4, maksud kemurahan Allah ialah menuntun kita ke dalam pertobatan: mengalami perubahan hati, sikap, dan perilaku. Bagaimana tanggapan kita terhadap firman yang kita dengar dan kita baca? Bagaimana sikap kita terhadap kebaikan yang Tuhan limpahkan dalam hidup kita? –ARS

BERSYUKUR ATAS KEAJAIBAN TUHAN DALAM HIDUP KITA

ADALAH TITIK AWAL MENUJU PERTOBATAN DAN PERUBAHAN HIDUP

Sumber : www.sabda.org

Kasih yang Semesta

Jumat, 14 November 2008

Bacaan : Matius 8:5-13

8:5. Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:

8:6 “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.”

8:7 Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.”

8:8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.

8:9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”

8:10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.

8:11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,

8:12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

8:13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

 

Kasih yang Semesta

kenalcinta_1Dulu saya bersekolah di SD milik gereja. Mayoritas murid beragama kristiani, namun suasananya tidak selalu “kristiani”. Anak orang kaya cenderung bergaul dengan yang “setara”. Jika ada anak orang miskin di antara mereka; maka ia hanya akan sering disuruh-suruh atau dijadikan semacam bodyguard. Sementara itu saya, karena malas disuruh-suruh dan tak berbakat jadi bodyguard, hanya bisa berteman dengan mereka yang juga berkantong “tipis”. Ya, orang cenderung aman dengan yang “setara”, sehingga tali kasih yang terjalin bukan kasih semesta!

Kasih semesta adalah kasih yang melampaui batas-batas sosial, ekonomi, budaya, agama, dan “kotak-kotak” buatan manusia lainnya. Yesus menunjukkan kasih-Nya yang semesta saat menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum. Yang Dia tolong adalah hamba orang Romawi. Ia orang Romawi-yang tentu tak karib dengan orang Yahudi, masih pula statusnya hanya seorang hamba! Akan tetapi, dua “batasan” ini tidak menghalangi Yesus untuk mengasihi dan menolong!

Bahkan sang perwira Romawi-tuan dari hamba yang sakit itu, juga menunjukkan kasih semesta, kasih yang lintas batas. Ia memperjuangkan kesembuhan orang yang berbeda status sosial dengannya (hamba). Kedua, ia mengusahakan kesembuhan hambanya dengan memercayai bahwa Yesus yang adalah orang Yahudi itu sangat berkuasa untuk menolong. Inilah yang membuat Yesus heran sehingga berkata, “Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun [bahkan] di antara orang Israel” (ayat 10).

Kasih yang semesta menembus berbagai batas dan membuka banyak kemungkinan tak terduga. Bagaimana kasih kita? -DKL