PENGALAMAN DIKASIHI

Minggu, 3 Juni 2012

Bacaan : 2 Timotius 1:1-18

1:1. Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus,

1:2 kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.

1:3 Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.

1:4 Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.

1:5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

1:6. Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.

1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

1:8 Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.

1:9 Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman

1:10 dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

1:11 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru.

1:12 Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

1:13 Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

1:14 Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.

1:15. Engkau tahu bahwa semua mereka yang di daerah Asia Kecil berpaling dari padaku; termasuk Figelus dan Hermogenes.

1:16 Tuhan kiranya mengaruniakan rahmat-Nya kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara.

1:17 Ketika di Roma, ia berusaha mencari aku dan sudah juga menemui aku.

1:18 Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya pada hari-Nya. Betapa banyaknya pelayanan yang ia lakukan di Efesus engkau lebih mengetahuinya dari padaku.

PENGALAMAN DIKASIHI

Saya sedih sekali ketika dalam sebuah pertemuan diakonia gereja, seorang ibu mengatakan bahwa pelayanan kepada anak-anak jalanan tak ubahnya seperti membuang garam ke laut. Pada kesempatan lain, seorang pemuda menyatakan bahwa mengajari anak-anak di daerah kumuh perkotaan sebagai suatu kegiatan yang nyaris tak memberikan kemajuan berarti. Bagi mereka, upaya besar yang diberikan bagi anak-anak ini tidak sebanding dengan hasil yang didapat.

Dalam surat pribadinya kepada Timotius, Paulus memuji iman anak rohaninya ini (ayat 2). Menariknya, Paulus mengamati kualitas iman yang tulus ikhlas semacam ini lebih dulu ada di dua generasi di atasnya (ayat 5). Anak-anak berisiko dalam kasus di atas tak seberuntung Timotius. Timotius memiliki sang nenek, Lois, serta ibunya, Eunike, yang kehidupan imannya berimbas nyata membentuk imannya. Selain itu, Timotius juga memiliki Paulus yang memuridkan, meneguhkan, dan memberi teladan padanya (ayat 6-18).

Di dunia ini ada begitu banyak anak yang tidak memiliki orang dan lingkungan yang membentuk mereka menjadi pribadi yang baik. Hari demi hari mereka dipaparkan pada kehidupan penuh risiko kekerasan, pelecehan, dan eksploitasi. Tak mengherankan jika suatu saat mereka menjadi korban sekaligus pelaku kejahatan. Kita punya banyak kesempatan mendoakan dan mewujudkan kehadiran kerajaan Allah di antara mereka. Seperti apa yang diperbuat nenek Lois, ibu Eunike, dan Paulus pada Timotius, mari bergerak memberi ruang dan pengalaman dikasihi bagi bagi anak-anak yang kurang beruntung. –SCL

PENGALAMAN DIKASIHI DAN DIBIMBING PADA MASA KECIL

ADALAH BEKAL MENGASIHI DAN MELAYANI SEUMUR HIDUP.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

TERTUTUP DARAH

Jumat, 22 April 2011

Bacaan : Keluaran 12:1-28

1Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir:

2″Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun.

3Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga.

4Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang.

5Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing.

6Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja.

7Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya.

8Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit.

9Janganlah kamu memakannya mentah atau direbus dalam air; hanya dipanggang di api, lengkap dengan kepalanya dan betisnya dan isi perutnya.

10Janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi; apa yang tinggal sampai pagi kamu bakarlah habis dengan api.

11Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN.

12Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN.

13Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.

14Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.

15Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari pertamapun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, dari hari pertama sampai hari ketujuh, orang itu harus dilenyapkan dari antara Israel.

16Kamu adakanlah pertemuan yang kudus, baik pada hari yang pertama maupun pada hari yang ketujuh; pada hari-hari itu tidak boleh dilakukan pekerjaan apapun; hanya apa yang perlu dimakan setiap orang, itu sajalah yang boleh kamu sediakan.

17Jadi kamu harus tetap merayakan hari raya makan roti yang tidak beragi, sebab tepat pada hari ini juga Aku membawa pasukan-pasukanmu keluar dari tanah Mesir. Maka haruslah kamu rayakan hari ini turun-temurun; itulah suatu ketetapan untuk selamanya.

18Dalam bulan pertama, pada hari yang keempat belas bulan itu pada waktu petang, kamu makanlah roti yang tidak beragi, sampai kepada hari yang kedua puluh satu bulan itu, pada waktu petang.

19Tujuh hari lamanya tidak boleh ada ragi dalam rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, orang itu harus dilenyapkan dari antara jemaah Israel, baik ia orang asing, baik ia orang asli.

20Sesuatu apapun yang beragi tidak boleh kamu makan; kamu makanlah roti yang tidak beragi di segala tempat kediamanmu.”

21Lalu Musa memanggil semua tua-tua Israel serta berkata kepada mereka: “Pergilah, ambillah kambing domba untuk kaummu dan sembelihlah anak domba Paskah.

22Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorangpun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi.

23Dan TUHAN akan menjalani Mesir untuk menulahinya; apabila Ia melihat darah pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu itu, maka TUHAN akan melewati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu untuk menulahi.

24Kamu harus memegang ini sebagai ketetapan sampai selama-lamanya bagimu dan bagi anak-anakmu.

25Dan apabila kamu tiba di negeri yang akan diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang difirmankan-Nya, maka kamu harus pelihara ibadah ini.

26Dan apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini?

27maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.” Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah.

28Pergilah orang Israel, lalu berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun, demikianlah diperbuat mereka.

TERTUTUP DARAH

Pada 26 November 2008 segerombolan teroris menyerbu Taj Mahal Palace di Mumbai, India. Korban mencapai 200 jiwa, tetapi ada seorang tamu hotel yang selamat secara ajaib. Ia dan teman-temannya sedang makan malam ketika terdengar suara tembakan. Seseorang merenggutnya dan menyeretnya ke bawah meja. Teroris memasuki restoran, menembak ke segala arah, sampai setiap orang (menurut perkiraan mereka) tewas. Ternyata, pria tadi terluput. Ketika diwawancarai wartawan, ia menjelaskan, “Karena saya tertutupi oleh darah orang lain, mereka mengira saya sudah mati.”

Bangsa Israel memiliki kesan yang amat mendalam terhadap darah. Menjelang Tuhan menimpakan tulah kesepuluh ke atas Mesir, Dia memerintahkan bangsa Israel untuk mengadakan persiapan untuk meninggalkan negeri yang memperbudak mereka itu. Antara lain, mereka harus menyembelih domba dan menyapukan darahnya pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu. Setiap rumah yang ditandai dengan darah akan terluput dari tulah, dan bangsa Israel pun terbebas dari Mesir.

Pengalaman bangsa Israel merupakan simbol dari karunia Allah melalui Yesus Kristus bagi kita semua.

Karena Dia sudah membayar hukuman atas dosa kita karena kita ditutupi oleh darah pengorbanan-Nya kita diselamatkan dan memperoleh kehidupan kekal. Kita mungkin sulit memahami bagaimana darah-Nya “menutupi” kita, tetapi kita dapat menerima dan mengalaminya oleh iman. Hari ini, bagaimana kalau kita meluangkan waktu secara khusus untuk merenungkan suatu ayat atau menyanyikan lagu tentang darah Kristus? –ARS

YESUS MENCURAHKAN DARAH DAN MENGALAMI KEMATIAN

AGAR KITA TERBEBAS DARI DOSA DAN MENGALAMI KEHIDUPAN

Dikutip dari : www.sabda.org

ILUSI

Sabtu, 27 November 2010

Bacaan : Lukas 12:13-21

13Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.”

14Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?”

15Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

16Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.

17Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.

18Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.

19Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!

20Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? 21Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

ILUSI

Ilusi adalah bayangan yang menipu. Disangka nyata, padahal tidak. Ada satu ilusi di hidup ini yang begitu dipercaya manusia. Yakni bahwa seakan-akan manusia bisa “punya” sesuatu. Bukankah manusia berjuang agar bisa “punya” ini dan itu? Jika belum “punya”, ia ingin “punya”. Jika sudah “punya”, ia ingin “punya” lebih. Semua iklan menggelitik “rasa belum punya” kita. Orang yang dianugerahi talenta untuk berkarya, dibilang “punya” prestasi. Orang yang dikaruniai anak, mengaku “punya” anak. Orang kaya sering disebut “orang berpunya”. Betulkah manusia bisa benar-benar “punya”?

Perumpamaan Yesus menyingkap kebenaran, sekaligus membongkar kepalsuan (ilusi). Tokoh “orang kaya” ini menghidupi bayangan semu seolah-olah ia “punya”. Ia dilukiskan sebagai orang yang berdialog dengan diri sendiri tentang topik “punya”. Mulai dari posisi “belum punya” (ayat 17), “ingin punya” (ayat 18), sampai akhirnya membayangkan kalau “sudah punya” (ayat 19). Namun, akhir kisahnya tragis: jiwanya diambil, dan ia tak berdaya! Artinya, sebenarnya ia tak “punya” apa-apa. Apa yang ada padanya cuma titipan, karunia Allah. Termasuk jiwanya sendiri, ia tak ikut “punya”.

Berlagak “punya”, saling menuntut “punyaku, bukan punyamu” adalah sumber sengketa, termasuk di antara saudara. Seperti orang yang meminta Yesus menjadi penengah soal warisan di awal perum-pamaan (ayat 13). Ilusi ini menyesatkan. Padahal Sang Empunya segala sesuatu adalah Tuhan. Kita hanya pengelola segala milik-Nya yang dipercayakan: waktu, tenaga, harta, talenta, keturunan. Ber-syukurlah atasnya. Bekerja keraslah untuknya. Berbagilah dengannya. Bertanggung jawablah kepada Pemiliknya –PAD

KITA “DATANG” DAN “PERGI” TAK MEMBAWA APA-APA

SEGALANYA HANYA KARUNIA DARI SANG EMPUNYA SEGALA

Sumber : www.sabda.org

PERJUMPAAN YANG MENGUBAHKAN

Senin, 8 November 2010

Bacaan : Yohanes 4:1-14

4:1. Ketika Tuhan Yesus mengetahui, bahwa orang-orang Farisi telah mendengar, bahwa Ia memperoleh dan membaptis murid lebih banyak dari pada Yohanes

4:2 –meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya, —

4:3 Iapun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea.

4:4. Ia harus melintasi daerah Samaria.

4:5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf.

4:6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.

4:7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.”

4:8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.

4:9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)

4:10 Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

4:11 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?

4:12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?”

4:13 Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,

4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

 

PERJUMPAAN YANG

MENGUBAHKAN

Pernahkah hati Anda tertambat pada sesuatu atau seseorang? Sesuatu yang menambat hati kita pasti istimewa dan mengesankan; lalu menciptakan kenangan tersendiri dalam ingatan. Lebih dari itu, mungkin ia juga dapat mengubah jalan kehidupan kita selanjutnya.

Demikianlah yang terjadi pada suatu siang di Sikhar. Ada dua orang yang belum pernah saling jumpa. Mereka tampak berbeda. Yang satu lelaki, yang satu perempuan; yang satu Yahudi, yang lain Samaria; yang satu haus dan tak punya timba, yang satu lagi siap mengambil air dengan timba. Kedua orang ini bertemu di sumur. Alangkah mengejutkan karena lelaki tanpa timba yang haus itu justru memiliki air hidup yang membuat siapa pun yang meminumnya tak haus lagi. Sementara perempuan yang siap menimba, ternyata adalah pihak yang mendambakan air hidup itu.

Penjumpaan dan percakapan dengan lelaki itu begitu memesona dan mengubah hidup perempuan Samaria ini. Ia berubah-dari perempuan yang status sosialnya direndahkan karena kehidupan seksual yang mencengangkan, menjadi perempuan penginjil (ayat 28, 29). Ya! Setelah berjumpa dengan Yesus, ia bersaksi bahwa dahaga hatinya telah lenyap, diganti dengan air hidup yang terus mengalir. Mengapa? Sebab Yesus menyentuh hati yang haus dan mengalirkan kehidupan baru di hati perempuan itu.

Apabila Anda mengalami dahaga jiwa yang membuat Anda merasa hampa dan mencari-cari, datanglah dan mintalah air hidup kepada Yesus. Minta Tuhan berkarya; mengubah, memperbarui, dan menyegarkan segenap aspek hidup Anda-pikiran, perkataan, tindakan, karakter, dan sebagainya –DKL

KRISTUS MENAWARKAN AIR KEHIDUPAN
SUPAYA SETELAH MEMINUMNYA, KITA TAK PERNAH LAGI KEHAUSAN

Dikutip : www.sabda.org

MENGELOLA NEGERI

Sabtu, 10 April 2010

Bacaan : Kejadian 41:25-46

41:25 Lalu kata Yusuf kepada Firaun: “Kedua mimpi tuanku Firaun itu sama. Allah telah memberitahukan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya.

41:26 Ketujuh ekor lembu yang baik itu ialah tujuh tahun, dan ketujuh bulir gandum yang baik itu ialah tujuh tahun juga; kedua mimpi itu sama.

41:27 Ketujuh ekor lembu yang kurus dan buruk, yang keluar kemudian, maksudnya tujuh tahun, demikian pula ketujuh bulir gandum yang hampa dan layu oleh angin timur itu; maksudnya akan ada tujuh tahun kelaparan.

41:28 Inilah maksud perkataanku, ketika aku berkata kepada tuanku Firaun: Allah telah memperlihatkan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya.

41:29 Ketahuilah tuanku, akan datang tujuh tahun kelimpahan di seluruh tanah Mesir.

41:30 Kemudian akan timbul tujuh tahun kelaparan; maka akan dilupakan segala kelimpahan itu di tanah Mesir, karena kelaparan itu menguruskeringkan negeri ini.

41:31 Sesudah itu akan tidak kelihatan lagi bekas-bekas kelimpahan di negeri ini karena kelaparan itu, sebab sangat hebatnya kelaparan itu.

41:32 Sampai dua kali mimpi itu diulangi bagi tuanku Firaun berarti: hal itu telah ditetapkan oleh Allah dan Allah akan segera melakukannya.

41:33. Oleh sebab itu, baiklah tuanku Firaun mencari seorang yang berakal budi dan bijaksana, dan mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir.

41:34 Baiklah juga tuanku Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dan dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir.

41:35 Mereka harus mengumpulkan segala bahan makanan dalam tahun-tahun baik yang akan datang ini dan, di bawah kuasa tuanku Firaun, menimbun gandum di kota-kota sebagai bahan makanan, serta menyimpannya.

41:36 Demikianlah segala bahan makanan itu menjadi persediaan untuk negeri ini dalam ketujuh tahun kelaparan yang akan terjadi di tanah Mesir, supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan itu.”

41:37 Usul itu dipandang baik oleh Firaun dan oleh semua pegawainya.

41:38 Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?”

41:39 Kata Firaun kepada Yusuf: “Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau.

41:40 Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu.”

41:41 Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: “Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.”

41:42 Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari pada kain halus dan digantungkannya kalung emas pada lehernya.

41:43 Lalu Firaun menyuruh menaikkan Yusuf dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf: “Hormat!” Demikianlah Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.

41:44 Berkatalah Firaun kepada Yusuf: “Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu, seorangpun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir.”

41:45 Lalu Firaun menamai Yusuf: Zafnat-Paaneah, serta memberikan Asnat, anak Potifera, imam di On, kepadanya menjadi isterinya. Demikianlah Yusuf muncul sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.

41:46. Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir.

MENGELOLA NEGERI

Saat itu, status Yusuf masih narapidana. Namun karena hikmatnya, ia dapat berdiri di hadapan Firaun dan para pegawainya. Raja yang putus asa karena tak seorang ahli pun tahu makna mimpinya (ayat 24), kini mendapat jawaban hebat dan tepat dari narapidana Ibrani ini. Yusuf mengartikan mimpi Firaun bahwa akan ada 7 tahun kelimpahan dan 7 tahun kelaparan. Namun, ia juga segera memberi jalan keluarnya: sebagian hasil bumi harus disimpan dalam lumbung selama masa kelimpahan, agar di masa kesusahan ada persediaan. Agaknya Yusuf layak disebut ahli ekonomi dan ahli strategi sosial.

Ternyata, berada di negeri asing tak menghalangi kecemerlangan hikmatnya. Ia menabrak batas politis. Dalam tahuntahun berikutnya Yusuf menunjukkan bahwa pilihan Firaun tidak salah. Ia terbukti mumpuni (ayat 53-57). Ini menarik untuk direnungkan. Bukan hanya peningkatannya dari narapidana ke penguasa Mesir, melainkan juga sikap Yusuf yang sungguh memberikan hati untuk mengelola tugas berat di tanah asing. Dengan itu, ia pertama-tama berguna bagi Mesir. Namun kemudian, ia juga berguna bagi Israel, yang pada masa kelaparan tertolong oleh kemakmuran Mesir.

Yusuf melihat bahwa hidupnya yang naik turun-dijual sebagai budak, masuk penjara, sengsara, hingga dimuliakan di Mesir-sebagai karya Allah: “sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu” (45:5). Mari belajar dari Yusuf yang mengelola hidup demi membawa sejahtera bagi orang lain, masyarakat, dan bangsanya. Mari gunakan hikmat yang Allah karuniakan kepada kita dalam bidang masing-masing, untuk memberkati komunitas di tempat kita hidup -DKL

DI MANA KITA HIDUP
DI SITULAH KIRANYA TUHAN DIPUJI-PUJI

Sumber : www.sabda.org

Setiap Hari Menjadi Berkat

PESAN GEMBALA

24 JANUARI 2010

EDISI 110 TAHUN 3

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati, suatu kebahagiaan yang sangat besar ketika kita bisa membawa seseorang datang kepada Tuhan, dan mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dan tidak hanya sekedar menjadi orang Kristen. Namun bagi orang yang telah kita bawa untuk mengenal kebenaran yang sejati, kebahagiaannya adalah ketika bisa bertemu muka dengan muka secara pribadi dengan Tuhan, bukan melalui orang yang menuntunnya atau yang mengajarnya, tetapi ketemu secara pribadi dan memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan.

Suatu peristiwa yang sangat jelas dan menarik terjadi pada kisah seorang wanita Samaria di sumur Yakub. Kisah ini menceritakan bahwa Yesus harus melintasi Samaria, padahal ada jalur lain yang mudah ditempuh dan lebih aman secara manusia sebab terjadi pertentangan eksistensi antara orang Yahudi dengan orang Samaria, namun Yesus melalui jalur Samaria ini walau beresiko.

Ia telah mengetahui bahwa ada seorang wanita yang sangat membutuhkan pertolongan kasih-Nya, sebab ia memiliki sejarah yang gelap dengan segala kekurangan-kekurangan di masa lalu dalam hidup wanita itu.

Wanita itu memberikan air minum kepada  Yesus, sehingga Yesus meresponi demikian “jikalau engkau tahu tentang karunia Allah, dan siapa Dia yang berkata kepadamu, “berilah Aku minum!” niscaya engkau telah meminta kepadaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (Yohanes 4:10).

Yesus tahu masalahnya bukan terletak pada banyaknya ia mempunyai suami atau hubungan-hubungannya, yang sesungguhnya itu hanya gejala-gejala dari kerinduannya yang tidak ia sadari akan suatu hubungan kekal dengan satu-satunya Allah yang mampu memberikan. Suatu keputusan yang luar biasa sebab wanita Samaria itu mengambil air hidup yang ditawarkan oleh Yesus, dan akhirnya menjadi seorang pembawa berita kebenaran/keselamatan kepada kerabatnya dan tetangga-tetangganya.

Dia memberitakan “datang dan lihatlah orang ini dan terus mengatakan kepada setiap orang yang ditemuinya dalam setiap kesempatan, dia menjadi BERKAT. Semua orang di kota Samaria mengetahui siapa wanita ini yang sudah banyak berhubungan dengan banyak pria (hubungan yang negatif). Namun ketika wanita itu mengatakan tentang Yesus, maka ada keseriusan dalam perkataan wanita itu.

Saudara, setiap orang yang bertemu secara pribadi dengan Tuhan, maka akan ada sesuatu yang berbeda sebab telah diubahkan oleh Tuhan, dari kehidupan gelap menjadi terang, dari orang yang tidak dipercaya menjadi orang yang dipercaya, dari tidak dihiraukan menjadi perhatian yang baik dari banyak orang. Sehingga kerabat dan tetangga-tetangganya berdatangan untuk mengetahui apa yang telah terjadi dengan wanita tersebut dan akhirnya menjadi percaya kepada Yesus. Melalui perkataan wanita itu menjadikan banyak orang menjadi bertobat.

Yohanes menuliskannya sebagai berikut “banyak orang menjadi percaya karena perkataannya”. Mereka percaya apa yang telah didengar dari perkataan wanita itu. Namun dikonfirmasikan lewat pengalaman pribadi bersama Yesus “dan mereka berkata kepada perempuan itu, kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia” (Yohanes 4:42).

Bagi saudara yang membaca warta ini, apakah saudara mengalami perubahan ketika pertama kali bertemu Tuhan Yesus atau tidak merasakan sama sekali sesuatu yang harusnya berbeda, kalau tidak mengalami perubahan ketika pertama kali bertemu Tuhan Yesus atau tidak merasakan sama sekali sesuatu yang harusnya berbeda, kalau tidak mengalami sesuatu yang berbeda maka tidak mungkin membawa orang lain kepada Yesus Kristus .

Bagi kita yang mengalami pengalaman pribadi dengan Tuhan dan pengalaman itu adalah yang menyenangkan maka kita bisa membawa orang lain datang kepada Kristus, ketika kita menuntun orang-orang kepada Kristus, adalah penting bahwa mereka bisa melihat Dia muka dengan muka. Dan kita mengambil waktu bersama-sama dengan Dia sehingga orang-orang tahu bahwa kita telah bersama dengan Tuhan. Bersama dengan Tuhan segala sesuatu menjadi mungkin.

Dari kisah tersebut dapat kita pelajari bahwa wanita Samaria menjadi berkat bagi orang lain dan setiap orang yang telah mengenal Yesus melalui perkataan wanita itu juga menjadi berkat bagi orang lain sebab telah mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan. Mereka menjadikan setiap hari bergairah dan penuh dengan karya agung Tuhan.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, jadikanlah setiap hari dalam bulan ini dalam tahun ini menjadi berkat bagi orang lain. Seperti perempuan Samaria bertemu dengan Tuhan dan menjadikan orang lain untuk bertemu dengan Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati kita semua..amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

BAHASA ROH (Bagian 2)

PESAN GEMBALA

14 JUNI 2009

Edisi 78 Tahun 2

 

BAHASA ROH

(Bagian 2)

 

Shallom… Salam Miracle.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, minggu ini kita akan melanjutkan pemahaman kita tentang bahasa Roh.

  • BERBICARA DALAM BAHASA ROH ADALAH KARUNIA ALLAH BAGI SETIAP ORANG PERCAYA

“Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dalam  bahasa roh..” (1 Korintus 14:5). Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi ke seluruh dunia memberitakan Injil, membaptiskan mereka yang menerima keselamatan. Kemudian Dia berjanji: “tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya… mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka…” (Markus 16:7).

 

  • BERBICARA DALAM BAHASA ROH DIBERIKAN AGAR ORANG PERCAYA DAPAT BERBICARA SECARA SUPRANATURAL KEPADA ALLAH

Setiap orang percaya dalam Kristus merasa pada saat-saat tertentu tidak dapat mengungkapkan isi hati mereka kepada Allah dalam kata-kata. Dengan berbicara dalam bahasa roh Alkitab berkata: “siapa yang berkata-kata dalam bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia” (tidak bias dimengerti) (1 Korintus 14:2).

 

Tidak ada istilah “jika ini kehendakMu, Tuhan” mengenai cara berdoa supranatural ini. Roh Allah mengetahui kehendak Allah; demikianlah kita meminta “sesuai dengan kehendak-Nya”, “Dia mendengarkan kita”, dan “kita tahu behawa kita memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya” (1 Yohanes 5:14-15). Berdoa dalam bahasa roh membuka seluruh konsep baru tentang doa, persekutuan intim dengan Bapa, dan jawaban doa bagi mereka yang percaya.

 

  • BERBICARA DALAM BAHASA ROH ADALAH CARA YANG DITETAPKAN ALLAH BAGI SETIAP ORANG PERCAYA UNTUK MEMUJI TUHAN

Pada hari Pentakosta, ke-120 murid memuji Allah dalam bahasa-bahasa lain. Mereka menceritakan “perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” (Kisah 10:46). Ketika Roh Kudus turun atas Kornelius dan rombongannya, mereka mulai BERKATA-KATA DALAM BAHASA ROH DAN MEMUJI ALLAH.

 

  • BERBICARA DALAM BAHASA ROH DIBERIKAN SUPAYA ROH KITA BERDOA

Alkitab membuat hal ini jelas “sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa” (1 Korintus 14:14). Ayat 15 dari pasal yang sama ini berbicara tentang doa dan nyanyian “oleh Roh Kudus yang ada dalamku” yang jelas berbeda dari doa, pujian dan perkataan kita kepada Allah dalam bahasa yang tidak dimengerti lebih diperlukan bagi saat teduh pribadi, dan persekutuan dengan Tuhan.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan janji-janji Tuhan ini diberikan bagi mereka yang percaya (bagi SEMUA yang percaya), sejak hari Pentakosta sampai kedatangan Tuhan kembali.

 

Tuhan Yesus memberkati kita semua… amien

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA