DIBURU,TETAPI TETAP BERSYUKUR

Senin, 7 Maret 2011

Bacaan : Mazmur 57

1Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Jangan memusnahkan. Miktam Dari Daud, ketika ia lari dari pada Saul, ke dalam gua.

(57-2) Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu.

2(57-3) Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku.

3(57-4) Kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan aku, mencela orang-orang yang menginjak-injak aku. Sela Kiranya Allah mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya.

4(57-5) Aku terbaring di tengah-tengah singa yang suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam.

5(57-6) Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!

6(57-7) Mereka memasang jaring terhadap langkah-langkahku, ditundukkannya jiwaku, mereka menggali lobang di depanku, tetapi mereka sendiri jatuh ke dalamnya. Sela

7(57-8) Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur.

8(57-9) Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar! 9(57-10) Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa;

10(57-11) sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan. 11(57-12) Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!

DIBURU,TETAPI TETAP BERSYUKUR

Ada banyak hal yang bisa membuat tempat kerja tidak menyenangkan. Mungkin sang atasan yang bersikap otoriter, atau gemar merendahkan bawahan. Atau, rekan kerja yang suka bergosip, menggunjingkan teman sendiri. Atau, senior yang suka menekan. Atau, alasan lain yang lebih khusus. Jika Anda merasa demikian, mari belajar dari Daud.

Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul menarik untuk Mazmur 57: “Diburu Musuh, tetapi Ditolong Allah”. Mazmur ini ditulis ketika Daud diburu Saul dan harus melarikan diri ke gua-gua. Ketika itu Daud berseru memohon belas kasihan Allah (ayat 2-4). Ia menceritakan kesulitan yang ia hadapi (ayat 5, 7). Dan, yang menjadi kunci kemenangan Daud adalah: ia terus bersyukur serta berharap kepada kemuliaan, kasih setia, dan kebaikan Tuhan (ayat 6, 7-12).

Kita mungkin tidak diburu musuh, tetapi diburu atasan yang otoriter, rekan kerja yang tidak mau bekerja sama, atau hal-hal lain yang membuat kita tak nyaman bekerja. Sikap mengomel, menyalahkan keadaan, dan memprotes tidak akan memperbaiki keadaan, bahkan kerap kali justru memperburuk. Ketika kita “diburu” hal-hal demikian, contohlah Daud. Ia berseru kepada Tuhan dan mengandalkan Dia. Ia bersyukur dan berharap pada kasih setia Tuhan. Pada waktu-Nya, Dia mengangkat Daud menjadi Raja Israel.

Kalau Tuhan sanggup menolong Daud, tentu Dia sanggup menolong kita juga. Namun, sudahkah kita mencontoh sikap Daud? Tetap bersikap benar, menjagai hati, dan terus memuliakan Tuhan di tempat kerja? Tidak berkecil hati, dan tetap berpaut kepada Tuhan? –GS

TEMPAT KERJA ADALAH LADANG DI MANA TUHAN MEMINTA KITA

TAK HANYA MENCARI PENGHIDUPAN TETAPI JUGA MEMPRAKTIKKAN IMAN

Sumber : www.sabda.org

Iklan

BUKU PANDUAN

Senin, 28 Desember 2009

Bacaan : Mazmur 119:88-105

119:88. Hidupkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu, supaya aku berpegang pada peringatan yang Kauberikan.

119:89. Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga.

119:90 Kesetiaan-Mu dari keturunan ke keturunan; Engkau menegakkan bumi, sehingga tetap ada.

119:91 Menurut hukum-hukum-Mu semuanya itu ada sekarang, sebab segala sesuatu melayani Engkau.

119:92. Sekiranya Taurat-Mu tidak menjadi kegemaranku, maka aku telah binasa dalam sengsaraku.

119:93. Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku.

119:94. Aku kepunyaan-Mu, selamatkanlah aku, sebab aku mencari titah-titah-Mu.

119:95. Orang-orang fasik menantikan aku untuk membinasakan aku; tetapi aku hendak memperhatikan peringatan-peringatan-Mu.

119:96. Aku melihat batas-batas kesempurnaan, tetapi perintah-Mu luas sekali.

119:97. Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.

119:98. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku.

119:99 Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan.

119:100 Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu.

119:101. Terhadap segala jalan kejahatan aku menahan kakiku, supaya aku berpegang pada firman-Mu.

119:102. Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu, sebab Engkaulah yang mengajar aku.

119:103. Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.

119:104 Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta.

119:105. Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

BUKU PANDUAN

Belum lama saya membeli handphone baru. Saya merasa begitu kesulitan saat pertama kali memakainya karena tidak mengerti cara menggunakannya. Lalu saya membaca buku panduan penggunaannya. Dan terperangah mendapati begitu banyak fasilitas yang tersedia dan dapat dipergunakan. Namun, ada juga banyak larangan dan peringatan, demi keamanan saya dan orang-orang yang berkomunikasi dengan saya. Sayangnya, banyak orang tidak mematuhi peringatan itu, sehingga terjadi kecelakaan yang tak diinginkan. Ada juga yang enggan membaca buku panduan, sehingga tak maksimal memakai fitur yang ada.

Demikian juga Tuhan sudah memberi kita buku panduan hidup, yaitu firman Tuhan agar kita hidup dengan baik, sesuai maksud dan rencana-Nya mencipta kita. Namun, kita kerap kali malas membaca firman Tuhan, dan hidup semau kita seperti orang bebal. Karena itu jangan heran jika hidup kita terasa kacau dan tidak efektif. Bahkan, menjadi malapetaka bagi orang lain. Kita membaca bahwa pemazmur terus merenungkan firman Tuhan dalam hari-harinya. Itulah yang menjadikannya lebih bijak daripada musuh, pengajar, dan bahkan orangtua. Hidupnya pun tidak menyimpang dari hukum-hukum Tuhan. Firman Tuhan pula yang menjadi kekuatannya saat mengalami kesengsaraan. Firman Tuhan begitu penting baginya seperti pelita yang menerangi jalannya yang gelap (ayat 105).

Sebab Tuhan yang menciptakan kita, Dia pula yang paling tahu bagaimana kita harus menjalani hidup ini. Jika kita mau hidup maksimal seperti yang Tuhan inginkan, tak ada jalan lain kecuali setia merenungkan dan melakukan firman-Nya –VT

FIRMAN TUHAN ADALAH PETUNJUK MENJALANI HIDUP

MENGABAIKANNYA BERARTI MENYIA-NYIAKAN HIDUP

Sumber : www.sabda.org

TAK MEMEDULIKAN TUHAN

Kamis, 2 Juli 2009

Bacaan : Mazmur 63:1-9

63:1. Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda. (63-2) Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair.

63:2 (63-3) Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu.

 

63:3. (63-4) Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.

63:4 (63-5) Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu.

63:5 (63-6) Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji.

63:6 (63-7) Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, —

 

63:7. (63-8) sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai.

63:8 (63-9) Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.

63:9 (63-10) Tetapi orang-orang yang berikhtiar mencabut nyawaku, akan masuk ke bagian-bagian bumi yang paling bawah.

 

TAK MEMEDULIKAN TUHAN

Sebagai mantan guru SMA dan dosen tidak tetap di universitas, saya sering berpikir seperti ini: Alangkah tidak menyenangkan berdiri di depan kelas dan tak diperhatikan oleh seorang siswa pun — berbicara tetapi tidak didengarkan oleh siapa pun, mengajar tetapi tidak dipedulikan para siswa.

Tak seorang pun suka apabila dirinya diabaikan. Pada saat kita sedang berbicara dengan seorang teman, sakit hati rasanya apabila kata-kata kita tidak diperhatikan. Ketika kita di toko dan sedang membutuhkan bantuan, sakit hati rasanya apabila para pegawai toko tidak memedulikan kita. Kalau kita sedang berjuang menghadapi masalah, sakit hati rasanya apabila tak seorang pun menawarkan bantuan.

Jadi, bayangkan betapa berdukanya Allah bila kita tidak memedulikan-Nya. Baca lebih lanjut