ANUGERAH DAN SYUKUR

Sabtu, 25 Juli 2009

Bacaan : Mazmur 8

8:1. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud. (8-2) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.

8:2 (8-3) Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.

 

8:3. (8-4) Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:

8:4 (8-5) apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

8:5 (8-6) Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

8:6 (8-7) Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:

8:7 (8-8) kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;

8:8 (8-9) burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.

8:9 (8-10) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!

 

ANUGERAH DAN SYUKUR

Ada banyak acara bagi-bagi uang di televisi Indonesia. Bentuknya bisa berupa kuis, undian, bantuan, dan sebagainya. Semua penerima uang tersebut selalu menunjukkan kegembiraan. Tetapi ada sedikit perbedaan respons antara mereka yang mendapat uang yang berupa bantuan, dengan mereka yang mendapatkannya karena menang kuis. Biasanya, kelompok yang pertama menunjukkan rasa syukur yang meluap-luap kepada pembawa acara. Hal ini lebih jarang terjadi di kelompok yang kedua.

Perbedaan ini disebabkan oleh karena cara pandang yang berbeda. Mereka yang mendapatkan uang dengan memenangkan suatu kuis, merasa layak mendapatkan uangnya. Sementara mereka yang menerima uang sebagai bantuan tanpa berbuat apa pun yang membuatnya pantas menerima, melihat uang tersebut sebagai anugerah.

Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita bahwa hubungan kita dengan Allah sebetulnya adalah seperti orang yang menerima “uang bantuan”. Kita terlalu kecil untuk dapat dipandang layak diperhatikan Allah. Akan tetapi, oleh anugerah-Nya, justru Allah menjadikan kita puncak dan pemimpin ciptaan.

Fakta ini seharusnya menghadirkan perasaan takjub dan syukur kepada-Nya. Sayangnya, kadang kala kita lupa akan hal tersebut. Kadang kita merasa bahwa kita layak untuk diberkati Allah, mungkin karena merasa sudah aktif melayani, memberi banyak persembahan, bekerja keras dalam hidup, dan sebagainya. Akibatnya, kita jadi merasa tidak perlu lagi bersyukur. Hari ini kita diingatkan bahwa kita semua terlalu kecil bagi Allah, tetapi anugerah-Nya sangatlah besar bagi kita. Karena itu, kita harus selalu bersyukur pada-Nya -ALS

MENGHASILKAN UNGKAPAN SYUKUR DALAM DIRI KITAKESADARAN AKAN KEBESARAN ANUGERAH ALLAH PADA KITA

Sumber : www.sabda.org

Iklan

Siapakah Saya?

Kamis, 8 Januari 2009

Bacaan : Mazmur 8

8:1. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud. (8-2) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.

 

8:2 (8-3) Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.

 

8:3. (8-4) Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:

 

8:4 (8-5) apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

 

8:5 (8-6) Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

 

8:6 (8-7) Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:

 

8:7 (8-8) kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;

 

8:8 (8-9) burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.

 

8:9 (8-10) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!

 

Siapakah Saya?

Lagu yang berjudul Who Am I? [Siapakah Saya?] karangan Mark Hall dari kelompok musik Casting Crowns, dimulai dengan kalimat demikian: “Siapakah diri saya, sehingga Tuhan segala bumi ingin mengetahui nama saya, ingin merasakan luka yang saya alami?”

Dalam lagu ini, Hall membandingkan hidup kita dengan “bunga yang cepat layu, yang muncul hari ini dan lenyap keesokan harinya … seperti setitik uap air di udara”. Ia merenungkan, “Apabila kita mengerti betapa kecilnya kita sebenarnya dan betapa luar biasanya Allah, maka kasih Allah akan menjadi lebih besar bagi kita.”

Saya kemudian teringat akan pertanyaan Daud dalam Mazmur 8. Saat ia merenungkan langit, bulan, dan bintang, ia merasa takjub oleh Allah alam semesta yang menciptakan dan menopang semuanya itu. Dalam perasaan kagum, ia melontarkan pertanyaan, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?” (ayat 5).

Mengapa kita menjadi objek kasih, perhatian, dan pemikiran Allah? Dalam lagunya, Hall menjawab pertanyaan itu dengan: “Bukan karena siapa saya, namun karena apa yang telah Engkau lakukan; bukan karena apa yang telah saya lakukan, namun karena siapa Engkau.”

Siapakah Allah? Dia adalah kasih. Apakah yang telah Allah lakukan? Dia memberikan Putra-Nya yang tunggal Yesus untuk mati bagi kita dan membayar hukuman dosa kita (1 Yohanes 4:7-9). Tidak mengherankan apabila kita ingin berseru bersama sang pemazmur, “Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (Mazmur 8:2,10) –AMC

Sumber : http://www.sabda.org

ALLAH MENGASIHI KITA, BUKAN KARENA SIAPA KITA
NAMUN KARENA SIAPA DIA