MENOLAK FIRMAN TUHAN

Sabtu, 20 April 2013

Bacaan   : Yeremia 36:20-32

36:20. Kemudian pergilah mereka menghadap raja di pelataran, sesudah mereka menyimpan gulungan itu di kamar panitera Elisama. Mereka memberitahukan segala perkataan ini kepada raja.

36:21 Raja menyuruh Yehudi mengambil gulungan itu, lalu ia mengambilnya dari kamar panitera Elisama itu. Yehudi membacakannya kepada raja dan semua pemuka yang berdiri dekat raja.

36:22 Waktu itu adalah bulan yang kesembilan dan raja sedang duduk di balai musim dingin, sementara di depannya api menyala di perapian.

36:23 Setiap kali apabila Yehudi selesai membacakan tiga empat lajur, maka raja mengoyak-ngoyaknya dengan pisau raut, lalu dilemparkan ke dalam api yang di perapian itu, sampai seluruh gulungan itu habis dimakan api yang di perapian itu.

36:24 Baik raja maupun para pegawainya, yang mendengarkan segala perkataan ini, seorangpun tidak terkejut dan tidak mengoyakkan pakaiannya.

36:25 Elnatan, Delaya dan Gemarya memang mendesak kepada raja, supaya jangan membakar gulungan itu, tetapi raja tidak mendengarkan mereka.

36:26 Bahkan raja memerintahkan pangeran Yerahmeel, Seraya bin Azriel dan Selemya bin Abdeel untuk menangkap juru tulis Barukh dan nabi Yeremia, tetapi TUHAN menyembunyikan mereka.

36:27 Sesudah raja membakar gulungan berisi perkataan-perkataan yang dituliskan oleh Barukh langsung dari mulut Yeremia itu, maka datanglah firman TUHAN kepada Yeremia, bunyinya:

36:28 “Ambil pulalah gulungan lain, tuliskanlah di dalamnya segala perkataan yang semula ada di dalam gulungan yang pertama yang dibakar oleh Yoyakim, raja Yehuda.

36:29 Mengenai Yoyakim, raja Yehuda, haruslah kaukatakan: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah membakar gulungan ini dengan berkata: Mengapakah engkau menulis di dalamnya, bahwa raja Babel pasti akan datang untuk memusnahkan negeri ini dan untuk melenyapkan dari dalamnya manusia dan hewan?

36:30 Sebab itu beginilah firman TUHAN tentang Yoyakim, raja Yehuda: Ia tidak akan mempunyai keturunan yang akan duduk di atas takhta Daud, dan mayatnya akan tercampak, sehingga kena panas di waktu siang dan kena dingin di waktu malam.

36:31 Aku akan menghukum dia, keturunannya dan hamba-hambanya karena kesalahan mereka; Aku akan mendatangkan atas mereka, atas segala penduduk Yerusalem dan atas orang Yehuda segenap malapetaka yang Kuancamkan kepada mereka, yang mereka tidak mau mendengarnya.”

36:32 Maka Yeremia mengambil gulungan lain dan memberikannya kepada juru tulis Barukh bin Neria yang menuliskan di dalamnya langsung dari mulut Yeremia segala perkataan yang ada di dalam kitab yang telah dibakar Yoyakim, raja Yehuda dalam api itu. Lagipula masih ditambahi dengan banyak perkataan seperti itu.

 

MENOLAK FIRMAN TUHAN

Pemberitaan firman Allah pasti berdampak, entah pertobatan entah perlawanan. Bacaan hari ini, beserta dengan ayat-ayat sebelumnya, salah satu contohnya. Pembacaan firman Tuhan sebanyak tiga kali menghasilkan tanggapan yang berbeda-beda. Setelah pembacaan yang pertama (Yer 36:8-10), Barukh diminta membacakan ulang firman Tuhan itu di hadapan para pemuka negara (ay. 11-15). Pembacaan kedua membuat hati para pemuka menjadi gentar dan mereka merasa bahwa raja harus mendengar firman ini (ay. 16-19). Namun, sayang sekali, pembacaan yang ketiga di hadapan Raja Yoyakim menghasilkan penolakan. Kesempatan bertobat yang disediakan Allah ditolak mentah-mentah. Raja bahkan membakar gulungan yang berisi firman Tuhan tersebut serta memerintahkan penangkapan Yeremia dan Barukh.

Namun, pemberitaan firman Tuhan tidak pernah sia-sia. Firman dari gulungan kitab yang sudah disobek dan dibakar itu ditulis ulang. Ini menunjukkan bahwa firman Tuhan tidak bisa dimusnahkan manusia. Selain itu, nubuat penghukuman dalam firman Tuhan itu akan tergenapi. Hukuman itu berupa penghapusan keturunan Yoyakim dari takhta Daud dan berbagai malapetaka yang akan menimpa dirinya, keturunannya, para pengikutnya, dan umat Yehuda yang menolak untuk bertobat.

Bagaimanakah respon kita terhadap firman Tuhan? Apakah kita menyambut firman itu dan memberi diri kita untuk dididik dalam kebenaran? Ataukah kita mengabaikannya? Respon kita menentukan pertumbuhan iman kita. –ENO

MENANGGAPI FIRMAN TUHAN DENGAN BENAR

 ADALAH DASAR DARI PERTUMBUHAN IMAN.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

Iklan

BOIM VS BONEK

Rabu, 10 April 2013

Bacaan   : Ibrani 11:32-40

11:32. Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi,

11:33 yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa,

11:34 memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing.

11:35 Ibu-ibu telah menerima kembali orang-orangnya yang telah mati, sebab dibangkitkan. Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik.

11:36 Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan.

11:37 Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan.

11:38 Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung.

11:39 Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.

11:40 Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.

 

BOIM VS BONEK

Ada pendukung tim sepak bola yang dikenal dengan sebutan bonek, kependekan dari bondo (modal) nekat. Julukan yang jitu. Demi mendukung kesebelasan kesayangan, tidak jarang mereka hanya bermodalkan semangat plus kenekatan, tanpa atau dengan sedikit uang di saku. Masalahnya, kenekatan tersebut kadang harus dibayar mahal sampai mempertaruhkan nyawa.

Bondo nekat jelas berbeda dari bondo iman. Bukan hanya pengertiannya yang berbeda, hasilnya juga berbeda. Deretan nama tokoh iman yang kita baca hari ini bukanlah orang-orang yang bermodalkan semangat atau kenekatan belaka. Mereka punya iman! Tindakan mereka bukan terdorong oleh euforia, melainkan lahir karena iman, keyakinan akan keberadaan Allah yang berperan aktif dalam kehidupan mereka (ay. 6). Uraian panjang lebar dalam ay. 33-35a memperlihatkan sebagian hal-hal mengagumkan yang mereka alami. Pada titik tertentu, mereka juga mempertaruhkan nyawa mereka. Semua itu mereka lakukan bukan karena tergerak oleh fanatisme buta, melainkan karena menyadari bahwa mereka sedang mengamalkan kebenaran yang mereka yakini.

Iman tidak mengesampingkan logika atau perhitungan “di atas kertas”. Tindakan iman bukan melawan logika, melainkan melampaui logika. Iman juga tidak dapat dipisahkan dari kebenaran firman Tuhan. Jika hari-hari ini kita sedang dihadapkan pada kondisi sulit atau perkara yang mustahil, ini waktunya untuk menghadapi semua itu dengan berbeda: dengan iman, dengan berpegang teguh pada kebenaran, bukan dengan sekadar nekat! –IDO

IMAN BERBEDA DARI KENEKATAN KARENA IMAN MELIBATKAN

 CAMPUR TANGAN ALLAH.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

BERIBADAH DALAM KEHIDUPAN

Jumat, 5 April 2013

Bacaan   : Amos 5:21-27

5:21. TUHAN berkata, “Aku benci dan muak melihat perayaan-perayaan agamamu!

5:22 Kalau kamu membawa kurban bakaran dan kurban gandum, Aku tidak akan menerimanya. Aku tak mau menerima binatang-binatangmu yang gemuk-gemuk itu yang kamu persembahkan kepada-Ku sebagai kurban perdamaian.

5:23 Hentikan nyanyian-nyanyianmu yang membisingkan itu; Aku tak mau mendengarkan permainan kecapimu.

5:24 Lebih baik, berusahalah supaya keadilan mengalir seperti air, dan kejujuran seperti sungai yang tak pernah kering.

5:25 Hai umat Israel, pada waktu Aku menuntun kamu melalui padang gurun empat puluh tahun lamanya, Aku tidak menuntut persembahan dan kurban dari kamu.

5:26 Tapi sekarang kamu menyembah Sakut yang kamu anggap rajamu itu, dan Kewan, bintang yang kamu dewakan itu. Karena itu arca-arca yang telah kamu buat itu harus kamu angkut sendiri.

5:27 Apabila Aku membuang kamu ke suatu negeri yang lebih jauh dari Damsyik. Aku TUHAN yang bernama Allah Yang Mahakuasa telah berbicara.”

 

BERIBADAH DALAM KEHIDUPAN

Kritik itu seperti obat yang pahit, tak enak rasanya tapi banyak gunanya. Memang ada kritik yang dilontarkan sekenanya dan oleh karenanya sering tak seimbang. Namun, ada banyak kritik yang berguna karena disampaikan dengan motivasi yang bersih (walau kritiknya bisa saja tetap setajam pisau bedah).

Amos mengkritik umat Israel yang tinggal di wilayah utara dengan amat tajam, terutama soal kehidupan ibadah dan kehidupan sosial mereka. Ia memperingatkan mereka untuk bertobat agar tidak dihukum. Masalahnya, mereka bebal sehingga pada 722 SM Asyur membumihanguskan negeri mereka. Sebetulnya kehancuran ini bisa dihindari jika umat mau mendengarkan kritikan pedas nabi. Ia mencela mereka karena memisahkan ritus agama dari kesaksian hidup. Ibadah mereka memang rapi, teratur, padat, indah, sistematis, dan rutin. Namun, Tuhan tidak berkenan. Jika dilakukan terpisah dari kesaksian hidup di luar ibadah, ritual semata tidaklah berguna!

Ritus di tempat ibadah dan kehidupan sehari-hari mesti menjadi satu keutuhan. Dalam nas hari ini, Amos menyerukan agar keadilan dan kebenaran selalu ada dan berlimpah dalam hidup kita. Itu yang dikehendaki Tuhan. Ritus perlu berjalan dengan baik, namun bukan berarti kita lalu mengabaikan kebenaran dan keadilan dalam keseharian. Baik dalam ritus ibadah maupun dalam keseharian, kita senantiasa melayani Tuhan dan sesama. Tidak mengotak-ngotakkan, lalu hidup secara munafik dalam dua dunia. Di dunia rohani dan dunia sekuler, kita mesti utuh. –DKL

RITUS YANG BENAR ADA DI TENGAH-TENGAH KEHIDUPAN KITA INI:

 IBADAH (ROHANI) ADALAH AVODAH (KERJA SEHARI-HARI).

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

MASIH BERGERILYA

Senin, 25 Maret 2013

Bacaan: Efesus 4:1-16 

4:1. Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.

4:2. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

4:3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

4:4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,

4:5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,

4:6 satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

4:7 Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.

4:8 Itulah sebabnya kata nas: “Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia.”

4:9 Bukankah “Ia telah naik” berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah?

4:10 Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.

4:11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,

4:12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,

4:13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,

4:14 sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,

4:15 tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

4:16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

 

MASIH BERGERILYA

Perang Dunia II telah usai. Namun, Letnan Dua Hiroo Onoda, prajurit Jepang yang bertugas di Pulau Lubang, Filipina, tidak percaya. Ia memilih bersembunyi di hutan. Ia menganggap selebaran, surat, foto, atau koran yang dijatuhkan sebagai tipu muslihat musuh. Selama hampir 30 tahun ia terus berjuang sebagai gerilyawan. Pada 1974, seorang mahasiswa Jepang melacak jejaknya dan menemukannya. Namun, ketika diajak pulang, Onoda menolak. Akhirnya, pemerintah Jepang mengutus mantan komandan Onada, Mayor Yoshimi Taniguchi, mendatangi dan memerintahkannya untuk meletakkan senjata. Barulah Onada menurut dan bersedia pulang ke negerinya.

Hidup Onada pun berubah. Ia tidak lagi menyerang para petani Filipina dan, di Jepang, ia menggalang dana beasiswa bagi anak-anak mereka. Pada 1996 ia berkunjung kembali ke Pulau Lubang dan menyerahkan sumbangan sebesar 10.000 dolar untuk sekolah setempat. Ia berterima kasih pada penduduk pulau itu, yang membiarkannya terus hidup selagi ia bersikeras tetap menjadi prajurit gerilya walaupun perang telah usai.

Kesadaran akan identitas diri kita tak ayal memengaruhi perilaku kita. Paulus mengingatkan jemaat di Efesus akan identitas mereka, yaitu umat yang telah dipanggil Tuhan dan dimerdekakan dari belenggu dosa. Ia lalu memberikan beberapa petunjuk tentang cara hidup yang baru, cara hidup yang selaras dengan panggilan itu. Ya, alih-alih terus berkutat dengan dosa, bukankah sepatutnya kita bersukacita merayakan kemerdekaan anugerah-Nya dengan penuh rasa syukur? –ARS

ORANG BERDOSA TAK AYAL PASTI BERBUAT DOSA;
ORANG BENAR DAPAT MEMILIH UNTUK MENJAUHI DOSA

Dikutip : www.sabda.org

 

1.000 KELERENG

Selasa, 19 Maret 2013

Bacaan: Matius 6:25-34 

6:25. “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,

6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?

6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

 

1.000 KELERENG

Jeffrey Davis menulis buku berjudul 1.000 Marbles (1.000 kelereng) karena tergugah ajakan seorang penyiar senior dalam acara radionya. Si penyiar mengajak para pendengar untuk selalu menata prioritas karena masa hidup manusia ada batasnya. Jika seseorang hidup hingga usia 75 tahun, maka dikalikan dengan 52 (jumlah minggu dalam setahun), berarti orang itu memiliki 3.900 pekan yang bisa ia pergunakan dengan cara terbaik.

Saat itu si penyiar sudah berusia 55 tahun. Jadi, andai ia diberi hidup sampai usia 75, berarti ia tinggal punya 1.000 minggu lagi! Ia bergegas ke toko mainan. Membeli 1.000 kelereng. Lalu menaruhnya di toples kaca. Setiap minggu ia akan mengeluarkan satu kelereng dan membuangnya. Sejak itu, berkurangnya kelereng di dalam toples memperingatkannya betapa ia harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ia mesti menata prioritas hidup secara benar dan mengutamakan hal yang terpenting.

Tanpa menata prioritas, kita akan membuang banyak waktu secara percuma untuk hal yang kurang penting atau bahkan yang tak berguna. Sebaliknya, prioritas yang benar mengarahkan kita pada tujuan utama kita: memuliakan nama-Nya. Melalui segala hal dalam hidup kita. Jadi, sudahkah kita mencari Kerajaan Allah? Sudahkah keluarga kita memuliakan Dia? Sudahkah pekerjaan kita memancarkan kemurahan-Nya? Sudahkah pelayanan kita menyatakan kebesaran kuasa-Nya? Carilah dahulu Kerajaan Allah. Maka, semua yang kita perlukan, tak usah kita khawatirkan, karena Dia akan mencukupkan. –AW

JANGAN TENGGELAM DALAM AKTIVITAS DAN RUTINITAS
BERILAH PRIORITAS PADA KRISTUS DI TEMPAT TERATAS

Dikutip : www.sabda.org

MUSLIHAT KUDA TROYA

Minggu, 17 Maret 2013

Bacaan: Efesus 6:10-20 

6:10. Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

6:11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

6:14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,

6:15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;

6:16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,

6:17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,

6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

 

6:19. juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil,

6:20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

 

MUSLIHAT KUDA TROYA

Pasukan Yunani, setelah mengepung Troya selama sepuluh tahun tanpa hasil, membuat kuda-kudaan raksasa dan mengisinya dengan prajurit pilihan. Mereka lalu pura-pura berlayar pergi. Warga Troya menganggap patung kuda itu sebagai trofi kemenangan dan menyeretnya ke dalam benteng. Malamnya, prajurit Yunani keluar dari perut kuda, membukakan gerbang bagi prajurit lain yang menunggu di luar, dan menaklukkan Troya.

Kita orang percaya juga hidup dalam peperangan. Bukan peperangan fisik, tapi peperangan rohani yang tak kelihatan. Musuh kita digambarkan sebagai para penguasa, kuasa dunia yang gelap, dan roh-roh di udara. Mereka sangat jahat dan licik, dengan penuh tipu daya dapat menyusup ke dalam benteng pertahanan orang percaya untuk merusak kesatuan dan mencemari kesucian hidup orang beriman. Mereka menyerang dan membengkokkan lembaga yang dipandang sakral (seperti perkawinan, gereja, pengadilan), profesi yang dianggap mulia (seperti guru, pendeta, dokter, hakim), dan nilai-nilai kebajikan yang luhur.

Tuhan sudah menyediakan perlengkapan senjata rohani yang lengkap dan penuh kuasa (ay. 13-16) untuk menghadapi tipu daya musuh. Kita perlu berdiri teguh dalam kemenangan yang telah diraih Kristus, menggunakan pedang roh, yaitu firman Tuhan, dan bersandar pada Allah dalam doa (ay. 10, 17, 18). Anugerah-Nya memampukan kita untuk hidup sebagai manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef 4:24). –SST

KEGELAPAN HANYA DAPAT DIUSIR OLEH TERANG, 
TIPU MUSLIHAT HANYA DAPAT DIPATAHKAN OLEH KEBENARAN

Dikutip : www.sabda.org

KUALITAS VS JABATAN

Senin, 4 Februari 2013

Bacaan: Galatia 2:1-10

2:1. Kemudian setelah lewat empat belas tahun, aku pergi pula ke Yerusalem dengan Barnabas dan Tituspun kubawa juga.

2:2 Aku pergi berdasarkan suatu penyataan. Dan kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi–dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang–,supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha.

2:3 Tetapi kendatipun Titus, yang bersama-sama dengan aku, adalah seorang Yunani, namun ia tidak dipaksa untuk menyunatkan dirinya.

2:4 Memang ada desakan dari saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya dengan jalan itu mereka dapat memperhambakan kita.

2:5 Tetapi sesaatpun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kamu.

2:6 Dan mengenai mereka yang dianggap terpandang itu–bagaimana kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku, sebab Allah tidak memandang muka–bagaimanapun juga, mereka yang terpandang itu tidak memaksakan sesuatu yang lain kepadaku.

2:7 Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat

2:8 –karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat.

2:9 Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;

2:10 hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.

KUALITAS VS JABATAN

Semua orang ingin dihormati sesuai dengan posisi atau jabatan yang disandangnya walaupun kedudukan itu bukan diperolehnya karena suatu prestasi. Seharusnya, prestasi atau kualitas kerjalah yang menentukan tinggi rendahnya kedudukan seseorang di tempat kerja.

Paulus memperjuangkan pengakuan atas kerasulannya tidak berdasarkan posisinya sebagai rasul, tetapi berdasarkan kualitas pelayanannya. Bagi Paulus, pengakuan akan posisinya sebagai rasul bukan hal yang terpenting. Ia jauh lebih menghargai kehormatan yang dipercayakan kepadanya untuk memberitakan Injil. Baginya, pengakuan Kristus terhadap kerasulannya jauh lebih tinggi atau lebih sah dibandingkan pengakuan dari manusia. Rasul Paulus tidak mundur dari pelayanan walaupun pengakuan akan jabatan kerasulannya masih diperdebatkan oleh kaum Yahudi yang memperjuangkan legalitas hukum Taurat. Ia menempatkan posisi Injil di atas segala peraturan manusia yang membelenggu sehingga ia mengabaikan desakan agar kewajiban bersunat diberlakukan bagi orang percaya bukan Yahudi. Kebenaran Injil yang sekarang menjadi patokan moral dan iman bagi setiap orang percaya.

Bagaimana dengan kita, apakah kita mengejar kualitas atau hanya sekadar posisi? Di negeri ini banyak orang berlomba mengejar posisi dengan menghalalkan segala cara, mulai dari main suap sampai memakai ijazah palsu. Jangan terhanyut arus. Ingatlah, kualitas pribadi akan kita bawa sampai mati, sedangkan posisi bisa tumbang sewaktu-waktu jika tidak ditunjang oleh kualitas pribadi –ENO

KARAKTER YANG BERKUALITAS AKAN MENJADI PENOPANG YANG TEGUH

 BAGI KEDUDUKAN DAN PENCAPAIAN YANG MENJULANG

Dikutip : www.sabda.org