MENANTIKAN

Senin, 18 Februari 2013

 Bacaan: Wahyu 19:1-10

19:1. Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: “Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita,

19:2 sebab benar dan adil segala penghakiman-Nya, karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu.”

19:3 Dan untuk kedua kalinya mereka berkata: “Haleluya! Ya, asapnya naik sampai selama-lamanya.”

19:4 Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata: “Amin, Haleluya.”

 

19:5. Maka kedengaranlah suatu suara dari takhta itu: “Pujilah Allah kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar!”

19:6 Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.

19:7 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

19:8 Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.)

19:9 Lalu ia berkata kepadaku: “Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba.” Katanya lagi kepadaku: “Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.”

19:10 Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: “Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat.”

 

MENANTIKAN

Kita tentu pernah mendengar atau mungkin malah ikut melontarkan guyonan semacam ini: “Aku ingin Tuhan Yesus segera datang kembali… setelah aku kawin, setelah aku sukses dalam karier dan kaya raya, setelah aku beranak-cucu, atau (yang agak rohani) setelah dampak pelayananku mendunia.” Kenapa kedatangan kembali Yesus Kristus cenderung diasosiasikan sebagai gangguan di tengah keasyikan aktivitas kita di dunia ini?

Paling tidak ada dua gambaran besar tentang kedatangan Tuhan akhir zaman. Pertama, kedatangan-Nya seperti pencuri yang muncul mendadak pada waktu malam. Dia datang untuk membawa penghakiman pada orang-orang yang hidup dalam kegelapan. Dia datang secara tiba-tiba di tengah keasyikan mereka menikmati hawa nafsu duniawi (lihat 1 Tesalonika 5:1-11).

Kedua, kedatangan-Nya seperti mempelai laki-laki yang menjemput mempelai perempuan idamannya. Mempelai perempuan telah siap sedia, menantikan dengan penuh gairah dan kerinduan. Kedatangan-Nya menjadi alasan untuk menggelar suatu perayaan yang penuh sukacita, sorak-sorai, dan kemenangan. Dunia telah dijatuhi hukuman, dan orang-orang kudus memerintah bersama Dia dalam kekekalan (lihat Wahyu 19:1-10).

Jadi, bagaimana? Apakah Anda merasa “terganggu” oleh gagasan tentang kedatangan-Nya kembali, atau sungguh-sungguh siap sedia menantikannya? Sebagai orang kudus, entah kita meninggal dunia terlebih dahulu entah kita menyambut kedatangan-Nya selagi masih hidup, kedatangan-Nya kembali adalah sumber pengharapan dan sukacita. –ARS

PENGHARAPAN AKAN KEDATANGAN KEMBALI KRISTUS MEMBANGKITKAN

 SUKACITA YANG MENGUATKAN KITA MENGHADAPI TANTANGAN HIDUP

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

SUDAH TAHU AKHIRNYA

Senin, 30 April 2012

Bacaan : Wahyu 19:1-21

19:1. Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: “Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita,

19:2 sebab benar dan adil segala penghakiman-Nya, karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu.”

19:3 Dan untuk kedua kalinya mereka berkata: “Haleluya! Ya, asapnya naik sampai selama-lamanya.”

19:4 Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata: “Amin, Haleluya.”

 

19:5. Maka kedengaranlah suatu suara dari takhta itu: “Pujilah Allah kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar!”

19:6 Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.

19:7 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

19:8 Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.)

19:9 Lalu ia berkata kepadaku: “Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba.” Katanya lagi kepadaku: “Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.”

19:10 Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: “Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat.”

 

19:11. Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang Setia dan Yang Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil.

19:12 Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali Ia sendiri.

19:13 Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: “Firman Allah.”

19:14 Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti Dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih.

19:15 Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa.

19:16 Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: “Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan.”

19:17 Lalu aku melihat seorang malaikat berdiri di dalam matahari dan ia berseru dengan suara nyaring kepada semua burung yang terbang di tengah langit, katanya: “Marilah ke sini dan berkumpullah untuk turut dalam perjamuan Allah, perjamuan yang besar,

19:18 supaya kamu makan daging semua raja dan daging semua panglima dan daging semua pahlawan dan daging semua kuda dan daging semua penunggangnya dan daging semua orang, baik yang merdeka maupun hamba, baik yang kecil maupun yang besar.”

19:19 Dan aku melihat binatang itu dan raja-raja di bumi serta tentara-tentara mereka telah berkumpul untuk melakukan peperangan melawan Penunggang kuda itu dan tentara-Nya.

19:20 Maka tertangkaplah binatang itu dan bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang telah mengadakan tanda-tanda di depan matanya, dan dengan demikian ia menyesatkan mereka yang telah menerima tanda dari binatang itu dan yang telah menyembah patungnya. Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang.

19:21 Dan semua orang lain dibunuh dengan pedang, yang keluar dari mulut Penunggang kuda itu; dan semua burung kenyang oleh daging mereka.

 

 

SUDAH TAHU AKHIRNYA

Saya tak pernah melewatkan satu pun tayangan X-Men. Namun, saat film terbaru tayang dan mengisahkan asal-usul salah satu tokohnya, Wolverine, saya merasa tidak terlalu antusias. Alasannya, saya sudah tahu seperti apa akhir ceritanya: Wolverine pasti tetap hidup. Kalau ia mati, kisah X-Men akan berantakan. Lalu saya sadar bahwa meski saya sudah tahu akhir ceritanya, saya belum tahu bagaimana cerita itu berkembang hingga selesai. Inilah yang membuat X-Men menarik.

Demikian juga dengan akhir dunia. Kitab Wahyu membeberkan akhir ceritanya: Tuhan pasti mengalahkan Si Jahat, menyempurnakan kembali Kerajaan-Nya, dan memulihkan kembali seluruh ciptaan. “Binatang itu pun tertangkap dan bersama-sama dengan dia nabi palsu …. Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala dengan belerang” (ayat 20). Namun begitu, tahu bagaimana cerita berakhir tak boleh membuat kita berdiam diri. Kebenaran ini memberi kita hak istimewa untuk ambil bagian dalam jalan cerita serta mengalami bagaimana akhir ceritanya; menjadi bagian dari orang-orang yang berseru: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! …” (ayat 6-7).

Mari ambil bagian dalam cerita tersebut; terlibat dalam karya pelayanan-Nya. Tak terbatas pada pelayanan gerejawi, tetapi juga pekerjaan, keluarga, masyarakat, bahkan dunia. Diiringi keyakinan pengharapan bahwa apa yang kita lakukan tidak sia-sia; kita tahu bahwa pada akhirnya Dia yang kita layani akan bertakhta sampai selama-lamanya. –ALS

PENGETAHUAN AKAN AKHIR CERITA DUNIA SEHARUSNYA MENDORONG KITA

ANTUSIAS MELAYANI TUHAN DALAM HIDUP DI DUNIA.

Dikutip : www.sabda.org

ORANG KRISTEN DUNIA

Rabu, 29 Februari 2012

Bacaan : Lukas 24:36-49

24:36. Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!”

24:37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.

24:38 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?

24:39 Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.”

24:40 Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.

24:41 Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: “Adakah padamu makanan di sini?”

24:42 Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng.

24:43 Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.

24:44 Ia berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.”

24:45 Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.

24:46 Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,

24:47 dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.

24:48 Kamu adalah saksi dari semuanya ini.

24:49 Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.”

ORANG KRISTEN DUNIA

David Bryant membedakan dua macam orang Kristen. Pertama, orang Kristen duniawi (worldly Christian), yaitu mereka yang sudah di selamatkan, tetapi tidak tertarik membawa keselamatan pada dunia, sebaliknya mereka memandang dunia sebagai sarana bagi keuntungan dan kepentingan pri badinya. Kedua, orang Kristen dunia (world Christian), yaitu orang yang sudah diselamatkan, dan mengarahkan kehidupannya di dunia untuk misi, membawa berita keselamatan kepada segala bangsa.

Dalam pengajaran Tuhan Yesus, kita melihat bahwa keselamatan dan misi adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Perhatikan bacaan kita hari ini. Setelah meneguhkan para murid tentang kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran-kebenaran penting bagi pelayanan mereka selanjutnya. Dia merangkumkan bahwa seluruh isi kitab Taurat, kitab para nabi, dan kitab mazmur menunjuk pada penggenapan keselamatan di dalam Diri-Nya (ayat 46). Namun bukan hanya itu, garis besar Kitab Suci juga adalah tentang bagaimana berita keselamatan ini harus disampaikan kepada segala bangsa (ayat 47).

Orang Kristen duniawi-orang yang puas dengan berkat keselamatan bagi diri sendiri-dan orang Kristen dunia-orang yang merindukan keselamatan itu juga sampai kepada segala bangsa. Dari dua kelompok ini, Anda termasuk yang mana? Gaya hidup dan prioritas macam apa yang harus kita ubah jika kita ingin bertumbuh sebagai orang-orang Kristen dunia-orang-orang yang merindukan agar semua bangsa dapat kembali bersukacita di dalam Tuhan? –JOO

Resep menghasilkan orang Kristen duniawi:

Ajarkanlah keselamatan tanpa misi

Dikutip : www.sabda.org

AKIBAT DIMABUK KEKUASAAN

Senin, 20 Desember 2010

Bacaan : Matius 2:16-18

16Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.

17Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia:

18″Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”

 

AKIBAT DIMABUK KEKUASAAN

Pada satu sisi, Herodes sebetulnya raja yang baik. Selama hampir empat puluh tahun bertakhta, ia berhasil menciptakan perdamaian dan menjaga ketertiban di Kanaan. Ia jugalah yang membangun Bait Allah di Yerusalem. Pada masa-masa sulit yang melanda negerinya, ia memerintahkan penurunan pajak, sehingga rakyat tertolong. Bahkan, ketika terjadi kelaparan hebat, ia tidak segan-segan menggunakan persediaan emasnya untuk membeli gandum bagi rakyatnya yang kelaparan.

Namun di sisi lain, kalau sudah menyangkut kekuasaan, ia sangat keras dan “berdarah dingin”. Ia tidak ingin orang lain menyaingi, apalagi melebihi kekuasaannya. Demi kekuasaannya, ia tega membunuh istrinya (Mariamne), ibunya (Alexandra), dan tiga anaknya (Antipater, Alexander, dan Aristobulus). Ia seorang paranoid (selalu menaruh takut serta curiga terhadap orang lain). Ketakutan terbesarnya: kehilangan kekuasaan. Karenanya ia akan menghalalkan segala cara untuk mempertahankannya.

Maka, kita bisa membayangkan, betapa gelisahnya Herodes ketika mendengar kabar dari para Majus tentang Raja yang baru lahir di daerah kekuasaannya. Dan, ketika rencana liciknya untuk melenyapkan “Sang Raja” itu kandas, keluarlah perintah mahasadis: pembunuhan anak-anak di bawah usia dua tahun.

Begitulah orang kalau sudah dimabuk kekuasaan; akal sehat tumpul, hati nurani tidak berfungsi. Ini bisa terjadi juga dalam lingkup lebih kecil; di kantor (atasan takut tersaingi bawahan), di gereja (pendeta senior takut tersaingi yuniornya), di rumah (suami takut disaingi istri). Akibatnya, ketidaksejahteraan, pertentangan, perpecahan. Semoga kita dijauhkan dari mabuk kekuasaan –AYA

KEKUASAAN PERLU DIIRINGI DENGAN KERENDAHAN HATI

SEBAB KALAU TIDAK, SALAH-SALAH BISA MENGHANCURKAN DIRI SENDIRI

Sumber : www.sabda.org

WASPADAI KUASA ANDA

Jumat, 18 Juni 2010

Bacaan : Keluaran 5:15-23

5:15. Sesudah itu pergilah para mandur Israel kepada Firaun dan mengadukan halnya kepadanya: “Mengapakah tuanku berlaku seperti itu terhadap hamba-hambamu ini?

5:16 Jerami tidak diberikan lagi kepada hamba-hambamu ini tetapi walaupun begitu, kami diperintahkan: Buatlah batu bata. Dan dalam pada itu hamba-hambamu ini dipukuli, padahal rakyat tuankulah yang bersalah.”

5:17 Tetapi ia berkata: “Pemalas kamu, pemalas! Itulah sebabnya kamu berkata: Izinkanlah kami pergi mempersembahkan korban kepada TUHAN!

5:18 Jadi sekarang, pergilah, bekerja! Jerami tidak akan diberikan lagi kepadamu, tetapi jumlah batu bata yang sama harus kamu serahkan.”

5:19 Maka mengertilah para mandur Israel, bahwa mereka ada dalam keadaan susah, karena dikatakan kepada mereka: “Kamu tidak boleh mengurangi jumlah batu bata pada tiap-tiap hari.”

5:20 Waktu mereka meninggalkan Firaun berjumpalah mereka dengan Musa dan Harun, yang sedang menantikan mereka,

5:21 lalu mereka berkata kepada keduanya: “Kiranya TUHAN memperhatikan perbuatanmu dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama kami kepada Firaun dan hamba-hambanya dan dengan demikian kamu telah memberikan pisau kepada mereka untuk membunuh kami.”

5:22 Lalu Musa kembali menghadap TUHAN, katanya: “Tuhan, mengapakah Kauperlakukan umat ini begitu bengis? Mengapa pula aku yang Kauutus?

5:23 Sebab sejak aku pergi menghadap Firaun untuk berbicara atas nama-Mu, dengan jahat diperlakukannya umat ini, dan Engkau tidak melepaskan umat-Mu sama sekali.”

WASPADAI KUASA ANDA

Erasmus Darwin seorang penyair Inggris pernah menulis, “Orang yang memperbolehkan adanya penindasan, telah membagi-bagikan kejahatan.” Penindasan ditujukan pada pihak yang lebih lemah karena ada kuasa yang lebih besar dari si penindas. Kuasa sendiri pada dasarnya tidak memuat sesuatu yang buruk, tetapi jika kuasa dipakai secara negatif, kejahatan bisa mulai bersemi dari situ.

Setelah bertemu Musa dan Harun untuk kali pertama, Firaun justru menjadi semakin jahat. Juga semakin keras menindas umat Israel yang diperbudak. Semula, pembuatan batu bata oleh para budak disuplai dengan bahan baku jerami oleh orang Mesir. Kini para budak pembuat batu bata itu harus mencari jerami sendiri, tetapi jumlah batu bata yang dicetak tak boleh berkurang. Jika jumlahnya berkurang, maka para mandor Israel akan dipukuli (ayat 14). Tak heran, para mandor ini kemudian menyalurkan kejengkelan mereka kepada Musa dan Harun (ayat 21). Situasi runyam semacam ini adalah hasil penindasan manusia satu terhadap yang lain. Kejahatan yang berhubungan dengan kuasa selalu turun ke bawah, dan mengenai pihak yang lebih lemah. Namun, Allah tidak membiarkan kecenderungan manusiawi semacam ini terus terjadi. Dan, Dia bisa turun tangan untuk membongkar keangkuhan orang yang menindas sesama dengan kuasanya (ayat 24)!

Berhati-hatilah dengan kekuasaan yang saat ini melekat pada diri Anda. Hendaknya kita menggunakannya_dalam posisi apa pun dan di mana pun_untuk menyejahterakan sesama, bukan menindas. Ingatlah bahwa ada Dia yang mengawasi segalanya. Jangan sampai “tangan yang kuat” itu menegur kita –DKL

TUHAN MAHAKUASA

MAKA TAK ADA GUNANYA MANUSIA SOK KUASA

Sumber : www.sabda.org

TIDAK CUKUP KUAT

Sabtu, 22 Agustus 2009

Bacaan : Zefanya 2:13-15

2:13 Ia akan mengacungkan tangan-Nya terhadap Utara, akan membinasakan Asyur, dan akan membuat Niniwe menjadi tempat yang sunyi sepi, kering seperti padang gurun.

2:14 Dan di tengah-tengahnya akan berbaring kawanan binatang, yakni segala macam binatang hutan; baik burung undan maupun burung bangau akan bermalam di hulu tiangnya; burung ponggok akan berbunyi di tingkap, burung gagak di ambang pintu: Pemapan dari kayu aras telah tersingkap!

2:15 Itulah kota yang beria-ria yang penduduknya begitu tenteram dan yang berkata dalam hatinya: “Hanya ada aku dan tidak ada yang lain!” Betapa dia sudah menjadi tempat yang tandus, tempat pembaringan bagi binatang-binatang liar. Setiap orang yang lewat dari padanya akan bersuit dan mengayun-ayunkan tangannya.

 

TIDAK CUKUP KUAT

Dalam film Kung Fu Panda, penjaga penjara tersinggung ketika utusan Master Shifu memintanya memperkuat penjagaan. Ia merasa penjaranya sudah sangat kuat: seribu penjaga, dan hanya satu tahanan, Tai Lung. Belum lagi sistem pengamanannya amat canggih. Namun, sebuah celah kecil yang luput dari perhatiannya berhasil dimanfaatkan Tai Lung untuk melepaskan diri dari belenggu. Dengan kelihaiannya, penjahat itu melumpuhkan penjaga satu per satu dan dengan kegesitannya ia berhasil mendobrak pintu penjara, lalu meloloskan diri.

Zefanya menubuatkan kehancuran Niniwe. Saat itu, menurut Life Application Study Bible, Niniwe merupakan pusat kebudayaan, teknologi, dan keelokan di Timur Dekat. Perpustakaan dan gedung-gedung megah menghiasi kota, sistem irigasi yang canggih mengairi perkebunan yang menghampar permai, perbentengannya diperkokoh dengan 1.500 menara. Kota itu beria-ria dan tenteram, sikap yang menggambarkan kepongahan dan kesembronoan, dilandasi oleh rasa aman yang palsu. Mirip dengan penjaga penjara tadi, ia merasa paling unggul, tiada tandingan, baik dalam kekayaan maupun kedigdayaan. Namun, sekitar sepuluh tahun setelah nubuatan ini, Niniwe benar-benar rata dengan tanah. Ia hancur karena kecongkakannya.

Nubuatan ini dapat mengingatkan kita agar waspada terhadap berbagai bentuk kesuksesan, seperti kekayaan, kepandaian, atau kekuasaan. Jangan sampai kita terlena, sehingga merasa bahwa diri kita paling unggul, tidak memerlukan Tuhan, dan merendahkan orang lain. Bukankah “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yakobus 4:6) -ARS

KESOMBONGAN BERKAWAN AKRAB DENGAN KECEROBOHAN:

IA MEMBUAT KITA LENGAH TERHADAP KELEMAHAN PRIBADI

Sumber : www.sabda.org