BODOH NAMUN TERPILIH

Kamis, 18 April 2013

Bacaan   : 1 Korintus 1:18-31

1:18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

1:19 Karena ada tertulis: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.”

1:20 Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?

1:21 Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.

1:22 Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat,

1:23 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,

1:24 tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

1:25 Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.

1:26 Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.

1:27 Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,

1:28 dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,

1:29 supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.

1:30 Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.

1:31 Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”

BODOH NAMUN TERPILIH

Setelah melayani beberapa tahun di Filipina Selatan sebagai misionaris, keluarga Tarigan kembali ke Medan dan membagikan pengalaman mereka. Untuk memudahkan mereka belajar bahasa lokal, mereka mempekerjakan seorang ibu setempat untuk mengurusi pekerjaan rumah tangga. Mereka harus bersabar karena ibu tersebut bekerja sangat lamban. “Ia tidak bisa mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. Kalau ia memasak sambil menyeterika, salah satunya pasti gosong”, katanya. Selama itu, mereka berulang-ulang memberitakan Injil kepadanya. Akhirnya, ibu itu percaya pada Yesus dan minta dibaptis.

Kemudian ibu itu minta izin untuk kembali ke desanya. Ia terbeban untuk memberitakan Injil kepada suaminya dan keluarganya yang lain. Dengan tidak banyak berharap, Pak Tarigan mengizinkannya. Beberapa bulan kemudian, ibu itu mengirim pesan, meminta agar Pak Tarigan datang karena sudah ada lima belas orang yang percaya dan siap dibaptis. Pak Tarigan tidak percaya begitu saja. Ia pergi untuk memeriksanya, dan memastikan apa yang mereka percayai. Ternyata, mereka memang mendapatkan pengajaran yang benar: bahwa Yesus mati untuk menyelamatkan mereka. Hingga saat ini, gereja hasil rintisan ibu itu masih terus bertumbuh.

Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar tidak bermegah atas berbagai kelebihan mereka. Allah dapat saja memilih orang yang tidak diperhitungkan oleh manusia, agar nyata kebesaran-Nya melalui mereka. Yang terpenting bukanlah siapa Anda, melainkan di tangan siapa Anda berada. –HT

JIKA TUHAN HENDAK MEMAKAI ANDA,

 SIAPAKAH YANG DAPAT MENCAMPAKKAN ANDA?

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

TAURAT DAN INJIL

Minggu, 31 Juli 2011

Bacaan : Roma 7:1-25

7:1. Apakah kamu tidak tahu, saudara-saudara, –sebab aku berbicara kepada mereka yang mengetahui hukum–bahwa hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu hidup?

7:2 Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu.

7:3 Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain.

7:4 Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah.

7:5 Sebab waktu kita masih hidup di dalam daging, hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh hukum Taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, agar kita berbuah bagi maut.

7:6 Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.

 

7:7. Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: “Jangan mengingini!”

7:8 Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati.

7:9 Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup,

7:10 sebaliknya aku mati. Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian.

7:11 Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku.

7:12 Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.

7:13 Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa.

 

7:14. Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.

7:15 Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.

7:16 Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik.

7:17 Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku.

7:18 Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.

7:19 Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

7:20 Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.

7:21 Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.

7:22 Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah,

7:23 tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.

7:24 Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?

7:25 Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (7-26) Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.

 

TAURAT DAN INJIL

Hukum Taurat itu baik, suci, benar (ayat 12), dan merupakan anugerah Allah bagi manusia. Namun, ia tidak dapat menjadi alat pembersih segala dosa manusia (Galatia 3:21). Hukum Taurat adalah cermin, agar melaluinya manusia mengenal dosa (ayat 7); agar manusia sadar bahwa ia begitu kotor dan tak berdaya menyelamatkan diri sendiri (ayat 18, 24); agar manusia mengenal kebenaran, walau ia kerap tak mampu melakukannya. Ketika ia ingin berbuat benar, nyatanya justru yang jahat yang kerap dilakukan (ayat 15, 19). Sampai-sampai, menyadari ketakberdayaannya Paulus berteriak, “… aku ini manusia celaka” (ayat 24). Maka, seharusnya Taurat membuat manusia berpaling kepada Allah. Mengaku dosanya, memohon ampun, dan membuka diri untuk mengalami anugerah pengampunan dosa di dalam Kristus (ayat 25).

Jika Taurat tak mampu mengubah manusia jahat, dengan apa kita dibenarkan? Inilah Injil, Kabar Baik itu. Di sini setiap orang beriman punya keyakinan kokoh bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan (Roma 1:16, 17). Kita bukan manusia celaka. Seperti Paulus, kita juga bersyukur ada harapan dalam keputusasaan. Mengapa? “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa …. siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman” (Yohanes 3:16, 18). Yesus berkata, “Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku … ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yohanes 5:24). Tuntutan ini kuat, tak kenal kompromi. Anda berhak mengabaikannya, tetapi nasib kekal Anda ditentukan oleh respons Anda terhadapnya. Saya sudah menerima-Nya, bagaimana dengan Anda? –SST

BAGIAN TUHAN ADALAH MENYEDIAKAN KESELAMATAN

BAGIAN KITA TINGGAL MENERIMANYA

Dikutip : www.sabda.org

HIDUP OLEH IMAN

Jumat, 6 Agustus 2010

Bacaan : Roma 1: 15-17

1:15 Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.

1:16. Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.

1:17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

HIDUP OLEH IMAN

Hidup oleh iman”. Kita kerap mendengar slogan ini, bahkan mungkin terlalu sering. Apa sebenarnya artinya? Acap kali orang menjawab, “artinya kalau saya beriman, saya akan hidup.” Apa artinya hidup? “Ya, saya masuk surga kalau saya mati nanti. Pokoknya saya percaya Yesus itu Tuhan, masuk surga, selesai sudah.”

Itu benar-kita diselamatkan karena kasih karunia oleh iman. Namun, tentu tidak selesai di situ. Apabila keselamatan semata urusan masuk surga, kenapa kita masih hidup sekarang, tidak mati saja, supaya langsung masuk surga? Atau mungkin ada yang mengatakan, beriman itu pokoknya percaya Yesus itu Tuhan, titik. Bagaimana saya hidup, itu urusan lain. Kalau begitu, iman jenis ini cuma soal menghafal dalam pikiran seperti menghadapi ujian di sekolah.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma meminta supaya kita hidup oleh iman. Kata asli yang digunakan untuk “hidup” (ayat 17) di sini sebetulnya berbicara tentang suatu kekuatan, daya yang terus berkelanjutan. Dengan kata lain, Paulus hendak menekankan bahwa iman ada dalam kehidupan kita sehari-hari di mana pun dan kapan pun; saat kita makan, saat kita minum, saat kita bekerja, saat kita mengambil keputusan, saat kita hendak berbelanja, saat kita hendak marah-iman memberikan “hidup” dalam hidup kita.

Contoh sederhana; soal tidur. Tanpa iman, banyak orang tidur dalam kekhawatiran, kegelisahan. Banyak orang tidur dengan hati tidak tenang, entah memikirkan pekerjaan, keuangan, dan lain-lain. Namun, iman yang membuat kita hidup adalah iman yang menjadikan kita dapat berkata seperti Daud, “Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab Tuhan menopang aku (Mazmur 3:6) –HSL

IMAN MEMBUAT HIDUP KITA JADI LEBIH HIDUP

SEHINGGA KITA DAPAT MERASAKAN KASIH TUHAN ITU CUKUP

Sumber : www.sabda.org

TERLALU TUA?

Rabu, 25 November 2009

Bacaan : Roma 1:14-17

1:14 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.

1:15 Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.

1:16. Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.

1:17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

TERLALU TUA?

Allah tidak kehabisan cara untuk menjangkau manusia. Jadi, jika Anda merasa bahwa Anda tidak memiliki kemampuan untuk menjangkau jiwa bagi Kristus, ingatlah Ethel Hatfield yang berusia 76 tahun. Karena ingin melayani Tuhan, ia bertanya kepada pendeta di gerejanya, apakah ia boleh mengajar Sekolah Minggu. Akan tetapi, pendeta tersebut berkata bahwa Ethel mungkin sudah terlalu tua! Ia pulang ke rumah dengan hati sedih dan kecewa.

Kemudian suatu hari, ketika Ethel sedang merawat kebun mawarnya, seorang mahasiswa keturunan Cina dari kampus yang ada di dekat situ berhenti untuk mengomentari keindahan bunga-bunga mawarnya. Ethel menawarkan secangkir teh. Ketika mereka sedang bercakap-cakap, Ethel berkesempatan untuk bercerita mengenai Yesus dan kasih-Nya. Keesokan harinya mahasiswa tadi datang bersama mahasiswa lain, dan itulah awal pelayanan Ethel.

Ethel merasa sangat senang dapat membagikan Injil Kristus kepada mahasiswa-mahasiswa tersebut, karena ia tahu bahwa Dia memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan. Injil-Nya adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Roma 1:16).

Justru karena Ethel sudah tua, para mahasiswa keturunan Cina itu mendengarkannya dengan rasa hormat dan penghargaan. Ketika ia meninggal, sekitar 70 orang keturunan Cina yang sudah menjadi orang percaya berkumpul di upacara pemakamannya. Mereka telah dimenangkan bagi Kristus oleh seorang wanita yang dianggap terlalu tua untuk mengajar kelas Sekolah Minggu! –VCG

TAK SEORANG PUN TERLALU TUA
UNTUK MENJADI SAKSI KRISTUS

Sumber : www.sabda.org

KEKUATAN ILAHI (Bagian 2)

PESAN GEMBALA

25 OKTOBER 2009

Edisi 97 Tahun 2

KEKUATAN ILAHI (Bagian 2)

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat yang diberkati Tuhan, hari ini kita melanjutkan renungan minggu lalu  tentang kekuatan Ilahi.

Mazmur 68:29 mengatakan: “Kerahkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, tunjukkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, Engkau yang telah bertindak bagi kami”.

Tuhan kita yang mengerahkan kekuatan. Ini tidak berasal dari pikiran manusia; kekuatan itu berasal dari Allah yang dalam bahasa Ibrani disebut Elohim. Mazmur 27:1 Daud menyatakan “…Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar”. Dan dalam Mazmur 29:11 “Tuhan kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya…” berulangkali Alkitab menyatakan bahwa ALLAH SAJALAH SUMBER KEKUATAN KITA.

Menarik untuk diperhatikan apa yang tertulis dalam Mazmur 68, pertama Daud menggambarkan “ALLAH KEKUATAN” sebelum dia mengatakan “KEKUATAN ALLAH”. Allah dinyatakan sebagai:

  1. BAPA KITA (ayat 6-7)
  2. PEMIMPIN KITA (ayat 8-11)
  3. KOMANDAN KITA (ayat 12-15)
  4. TEMPAT KEDIAMAN KITA (ayat 16-19)
  5. PENOPANG KITA (ayat 20-21)
  6. PENGAJAR KITA (ayat 22)
  7. PENUNTUT BALAS KITA (ayat 23-24)
  8. RAJA KITA (ayat 25-27)
  9. KEKUATAN KITA (ayat 28-29)

Alkitab menyatakan Allah seperti seorang Bapa yang membawa anak-anakNya dalam rasa aman, keadilan, kesatuan dan kemerdekaan. Kita melihat Dia menuntun dan menyediakan kebutuhan umatNya dalam perjalanan melalui padang gurun. Kita mengamati dengan terheran-heran saat Dia dalam kasihNya menghajar, mengampuni, dan menuntun keluargaNya yang tidak menurut berulang kali.

Kita terkagum-kagum ketika melihat Dia dalam kuasa, kemuliaan dan keagungan. Dan inilah Allah Maha Kuasa. “Tuhan kiranya memberikan kekuatan kepada (mu)…” Sesungguhnya, kekuatan Allah tidak bisa dipisahkan dari Allah. Kuasa Allah tidak bisa dipisahkan dari pribadi-Nya. Sementara berdiri di tempat kudus di dalam tabernakel, Daud berseru: “Akuilah kekuasaan Allah; kemegahan-Nya ada di atas Israel, kekuasaan-Nya di dalam awan-awan. Allah adalah dahsyat dari dalam tempat kudus-Nya; Allah Israel, Dia mengaruniakan kekuasaan dan kekuatan kepada umat-Nya. Terpujilah Allah!” (Mazmur 68:35-36). Di tempat kudus inilah Allah menunjukkan kekuatan dan kuasa-Nya.

Sementara kita menyembah Allah dalam kelemahan kita. Dalam penyembahan, kita disatukan dengan kehidupan-Nya dalam cara yang luar biasa. Rasul Paulus mengungkapkan kebenaran ini dengan kata-kata: “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Menarik untuk diperhatikan bahwa Paulus tidak menyatakan bahwa kuasa Kristus terpisah dari Pribadi Kristus. Dia malah berkata “di dalam Kristus” Paulus menemukan kekuatan. Kuasa Paulus berasal dari hubungannya dengan Tuhan.

Yesus berusaha menjelaskan kebenaran ini kepada murid-murid-Nya “di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5). Dialah pokok anggur, kita adalah carang-carangNya. Jika kita tidak menyatu dengan Pokok, kita akan dipotong dari kehidupan-Nya. Bila tidak tertancap kita tidak akan menghasilkan buah, tetapi menjadi layu dan mati. Hanya jika kita bersatu dengan kehidupan di dalam Kristus Yesus, maka Allah akan “memberikan kekuatan-Nya”. Di luar Dia, kita tidak memiliki kekuatan untuk dikerahkan. Sebelum bertemu Yesus, kita tidak mempunyai kekuatan rohani dan tanpa kekuatan rohani. Oleh karena itu, jika kita mencari sumber lain dari Tuhan untuk kuasa kehidupan, kita akan kecewa.

Sebagai orang-orang berdosa, kita perlu kuasa Allah untuk menyelamatkan kita dari dosa. Sebagai orang Kristen, kita masih membutuhkan kuasa Allah agar bertumbuh dalam kasih karunia, dan berperang melawan dunia, kedagingan dan setan. Tidak mungkin memulai dalam roh dan melanjutkan di dalam daging. Kita tidak dapat bergantung pada kekuatan, akal atau emosi kita sendiri untuk hidup berkemenangan di dalam Kristus. Jika kita berusaha dengan kekuatan sendiri, kita hanya akan menjadi kelelahan / kehabisan tenaga. Kita tidak dapat mengambil air dari sumur yang kering.

Allah mengetahui lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Dia tidak pernah menyuruh kita menyatakan kuasa yang tidak kita miliki. Daud menulis “sebab Tuhan sendiri tahu siapa kita, Dia ingat bahwa kita ini debu”. (Mazmur 103:14). Ketika Allah menuntut kekuatan kita, Dia tidak meminta kita mengambilnya dari diri kita sendiri. Tetapi, Dia sedang menawarkan kuasa hadirat-Nya. Kata Ibrani untuk menuntut adalah tsavah. Sedikitnya ada empat arti yang terkandung di dalamnya, yaitu:

  1. Mengirim seorang utusan
  2. Menunjuk
  3. Mempercayakan
  4. Mengatur kembali

(BERSAMBUNG)

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

KEKUATAN ILAHI

PESAN GEMBALA

18 OKTOBER 2009

Edisi 96 Tahun 2

KEKUATAN ILAHI

Shallom… Salam Miracle

Mazmur 68:29 mengatakan: “Kerahkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, tunjukkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, Engkau yang telah bertindak bagi kami”.

Allah telah memimpin umat-Nya ke tanah perjanjian. Israel telah menetap dan belajar bagaimana mengatur dirinya sendiri di antara bangsa-bangsa. Israel sedang mempersiapkan diri untuk menjadi suatu kekuatan dunia. Raja Daud gelisah di dalam rohnya, apakah bangsa Israel yang kecil ini benar-benar siap untuk berdiri menghadapi kekuatan musuh di sekitarnya? Daud menyadari bahwa bukan karena kekuatan mereka sehingga mereka bisa masuk ke tanah itu. Semua itu adalah karena karya Allah yang besar. Daud juga tahu bahwa hanya Tuhan yang dapat melindungi dan mengangkat apa yang Dia mulai.

Ketika kita berjalan bersama Allah di padang gurun kita harus berharap sepenuhnya pada Dia untuk menyediakan makanan, air, dan perlindungan dari panas dan dingin. Hanya Dia yang dapat menuntun dan melindungi kita melewati banyak bahaya di setiap sisi. Tidak ada tempat bagi kesombongan kita, kita harus senantiasa bergantung penuh pada Allah untuk membawa kita dengan selamat sampai di tanah perjanjian. Tetapi, saat kita sampai, sikap kita bisa berubah. Begitu mudahnya kita melupakan bagian Tuhan dalam keberhasilan kita. Kita mulai berpikir bahwa apa yang telah kita capai adalah kekuatan dan hikmat kita sendiri. Kita cenderung merasa aman dan cukup dalam diri sendiri. Berkat Allah seharusnya membuat kita bersyukur kepada-Nya, bukan melupakan-Nya. Kita harus selalu mengingat bahwa hanya “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Filipi 1:6), juga dalam Galatia 3:3 “Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?”

Kita bisa masuk dan menempati daerah baru hanya kuasa Allah. Hanya Dia saja yang dapat menyelesaikan apa yang Dia mulai. Betapa cepatnya persekutuan dan organisasi Kristen melupakan hal ini. Sementara program mereka berkembang, mereka semakin bergantung pada kemampuan mereka, dan semakin kurang bergantung pada Allah. Pada waktunya, hikmat dan kuasa Allah digantikan dengan kemampuan dan akal manusia. Mungkin kelihatannya saleh dari luar, tetapi kuasa Allah yang sejati telah lama meninggalkan mereka (II Timotius 3:5). Kita semua perlu mengingat bahwa siapa kita dan dimana kita berada di dalam Allah adalah semata-mata hanya karya kasih karunia-Nya. Jika kita menyingkirkan kuasa dan hadirat Tuhan Yesus dari kegiatan agami kita, seluruhnya akan pudar.

Di dalam pandangan Allah tidak ada lagi yang patut diperhatikan. Yesus berkata akan ada hari ketika banyak orang berpikir bahwa mereka telah melakukan perkara-perkara besar di dalam nama Tuhan akan kecewa. Dalam keterkejutan mereka, Allah akan menyatakan bahwa dia tidak pernah mengenal mereka. Pekerjaan duniawi mereka tidak dikenal dan tidak terlihat di sorga. Apa yang manusia capai melalui kesombongan dan kekuatannya tidak akan mendapat upah surgawi (Matius 7:21-23). Kita diharapkan bertumbuh di dalam Kristus dan menjadi kuat di dalam Tuhan. Tetapi, kita tidak akan pernah sampai ketempat di mana kita tidak membutuhkan hadirat dan kuasa-Nya. Kita akan selalu bergantung kepada-Nya,”sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kisah 17:28). Ini adalah kebenaran rohani yang ditetapkan oleh Allah sendiri. Dia tahu kita tidak bisa mendapatkan atau mempertahankan milik rohani kita di luar kuasa-Nya. Oleh karena itu Dia tidak sekadar membawa kita masuk ke Tanah Perjanjian, tetapi terus tinggal bersama kita untuk menguatkan kita.

Daud menyatakan kebenaran ini dengan jelas:””kerahkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, tunjukkanlah kekuatan-Mu, ya Allah, Engkau yang telah bertindak atas kami”. Tuhan kita yang mengerahkan kekuatan. Ini tidak berasal dari pikiran manusia; kekuatan itu berasal dari Allah yang dalam bahasa Ibrani disebut Elohim. Mazmur 27:1 Daud menyatakan “…Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar”. Dan dalam Mazmur 29:11 “Tuhan kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya…” berulangkali Alkitab menyatakan bahwa ALLAH SAJALAH SUMBER KEKUATAN KITA.

Menarik untuk diperhatikan apa yang tertulis dalam Mazmur 68, pertama Daud menggambarkan “ALLAH KEKUATAN” sebelum dia mengatakan “KEKUATAN ALLAH”. Allah dinyatakan sebagai:

  1. BAPA KITA (ayat 6-7)
  2. PEMIMPIN KITA (ayat 8-11)
  3. KOMANDAN KITA (ayat 12-15)
  4. TEMPAT KEDIAMAN KITA (ayat 16-19)
  5. PENOPANG KITA (ayat 20-21)
  6. PENGAJAR KITA (ayat 22)
  7. PENUNTUT BALAS KITA (ayat 23-24)
  8. RAJA KITA (ayat 25-27)
  9. KEKUATAN KITA (ayat 28-29)

Alkitab menyatakan Allah seperti seorang Bapa yang membawa anak-anakNya dalam rasa aman, keadilan, kesatuan dan kemerdekaan. Kita melihat Dia menuntun dan menyediakan kebutuhan umatNya dalam perjalanan melalui padang gurun… (BERSAMBUNG).

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA