INDAHNYA CINTA KITA

Senin, 5 November 2012

Bacaan : Kidung Agung 1:1-17

1:1. Kidung agung dari Salomo.

1:2. –Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur,

1:3 harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu!

1:4 Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi! Sang raja telah membawa aku ke dalam maligai-maligainya. Kami akan bersorak-sorai dan bergembira karena engkau, kami akan memuji cintamu lebih dari pada anggur! Layaklah mereka cinta kepadamu!

1:5 Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma.

1:6 Janganlah kamu perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku. Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga.

1:7. Ceriterakanlah kepadaku, jantung hatiku, di mana kakanda menggembalakan domba, di mana kakanda membiarkan domba-domba berbaring pada petang hari. Karena mengapa aku akan jadi serupa pengembara dekat kawanan-kawanan domba teman-temanmu?

1:8 –Jika engkau tak tahu, hai jelita di antara wanita, ikutilah jejak-jejak domba, dan gembalakanlah anak-anak kambingmu dekat perkemahan para gembala.

1:9 –Dengan kuda betina dari pada kereta-kereta Firaun kuumpamakan engkau, manisku.

1:10 Moleklah pipimu di tengah perhiasan-perhiasan dan lehermu di tengah kalung-kalung.

1:11 Kami akan membuat bagimu perhiasan-perhiasan emas dengan manik-manik perak.

1:12. –Sementara sang raja duduk pada mejanya, semerbak bau narwastuku.

1:13 Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur, tersisip di antara buah dadaku.

1:14 Bagiku kekasihku setangkai bunga pacar di kebun-kebun anggur En-Gedi.

1:15 –Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu.

1:16 –Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita.

1:17 Dari kayu aras balok-balok rumah kita, dari kayu eru papan dinding-dinding kita.

INDAHNYA CINTA KITA

Bukan kebetulan cinta menghinggapi manusia. Tuhanlah yang menciptakannya. Perintah pertama dan utama-Nya adalah agar manusia mencintai-Nya dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Kidung Agung adalah kitab yang paling gamblang mengekspresikan cinta, karena memang ditulis sebagai syair-syair cinta Raja Salomo. Kitab ini adalah salah satu tulisan suci yang dibacakan pada hari raya Paskah umat Yahudi. Para penafsir sepakat bahwa kitab ini memberikan model seksualitas yang sehat sebagaimana rancangan Tuhan, yaitu hubungan antara laki-laki dan perempuan (bukan antara sesama jenis), dan dinikmati dalam ikatan pernikahan yang kudus.

Meski kitab ini secara unik mengangkat hubungan kasih dalam pernikahan, ada banyak hal yang dapat direnungkan dalam konteks hubungan kita dengan Tuhan. Misalnya yang kita baca hari ini. Betapa kita terpesona melihat cinta yang berkobar hebat di antara kedua mempelai. Sosok dan keindahan dari yang terkasih membayang ke mana pun pergi (ayat 2-3, 7-8, 9-10, 12-14). Waktu-waktu bersama begitu menggairahkan, begitu dinanti (ayat 15-17). Pernahkah cinta kita kepada Tuhan berkobar sedemikian hebat?

Pikirkan saja waktu-waktu teduh kita. Apakah dilalui dengan gairah dan kerinduan untuk bertemu Tuhan? Ataukah itu rutinitas yang ingin kita lewati dengan cepat saja? Apakah keindahan pribadi dan karya Tuhan adalah hal-hal yang senang kita renungkan ketika menjalani hari-hari kita, ataukah kita terlalu sibuk untuk memikirkan-Nya? Diiringi syukur atas cinta yang Tuhan karuniakan dalam relasi kita dengan orang-orang terkasih, mari memeriksa temperatur cinta kita kepada Tuhan. –HAN

KETIKA KITA MENGASIHI TUHAN,  

KITA MERINDUKAN KEHADIRAN-NYA DAN MENIKMATI KEINDAHAN-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

INDAHNYA CINTA KITA

Senin, 5 November 2012

Bacaan : Kidung Agung 1:1-17

1:1. Kidung agung dari Salomo.

1:2. –Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur,

1:3 harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu!

1:4 Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi! Sang raja telah membawa aku ke dalam maligai-maligainya. Kami akan bersorak-sorai dan bergembira karena engkau, kami akan memuji cintamu lebih dari pada anggur! Layaklah mereka cinta kepadamu!

1:5 Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma.

1:6 Janganlah kamu perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku. Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga.

 

1:7. Ceriterakanlah kepadaku, jantung hatiku, di mana kakanda menggembalakan domba, di mana kakanda membiarkan domba-domba berbaring pada petang hari. Karena mengapa aku akan jadi serupa pengembara dekat kawanan-kawanan domba teman-temanmu?

1:8 –Jika engkau tak tahu, hai jelita di antara wanita, ikutilah jejak-jejak domba, dan gembalakanlah anak-anak kambingmu dekat perkemahan para gembala.

1:9 –Dengan kuda betina dari pada kereta-kereta Firaun kuumpamakan engkau, manisku.

1:10 Moleklah pipimu di tengah perhiasan-perhiasan dan lehermu di tengah kalung-kalung.

1:11 Kami akan membuat bagimu perhiasan-perhiasan emas dengan manik-manik perak.

1:12. –Sementara sang raja duduk pada mejanya, semerbak bau narwastuku.

1:13 Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur, tersisip di antara buah dadaku.

1:14 Bagiku kekasihku setangkai bunga pacar di kebun-kebun anggur En-Gedi.

1:15 –Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu.

1:16 –Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita.

1:17 Dari kayu aras balok-balok rumah kita, dari kayu eru papan dinding-dinding kita.

 

INDAHNYA CINTA KITA

Bukan kebetulan cinta menghinggapi manusia. Tuhanlah yang menciptakannya. Perintah pertama dan utama-Nya adalah agar manusia mencintai-Nya dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Kidung Agung adalah kitab yang paling gamblang mengekspresikan cinta, karena memang ditulis sebagai syair-syair cinta Raja Salomo. Kitab ini adalah salah satu tulisan suci yang dibacakan pada hari raya Paskah umat Yahudi. Para penafsir sepakat bahwa kitab ini memberikan model seksualitas yang sehat sebagaimana rancangan Tuhan, yaitu hubungan antara laki-laki dan perempuan (bukan antara sesama jenis), dan dinikmati dalam ikatan pernikahan yang kudus.

Meski kitab ini secara unik mengangkat hubungan kasih dalam pernikahan, ada banyak hal yang dapat direnungkan dalam konteks hubungan kita dengan Tuhan. Misalnya yang kita baca hari ini. Betapa kita terpesona melihat cinta yang berkobar hebat di antara kedua mempelai. Sosok dan keindahan dari yang terkasih membayang ke mana pun pergi (ayat 2-3, 7-8, 9-10, 12-14). Waktu-waktu bersama begitu menggairahkan, begitu dinanti (ayat 15-17). Pernahkah cinta kita kepada Tuhan berkobar sedemikian hebat?

Pikirkan saja waktu-waktu teduh kita. Apakah dilalui dengan gairah dan kerinduan untuk bertemu Tuhan? Ataukah itu rutinitas yang ingin kita lewati dengan cepat saja? Apakah keindahan pribadi dan karya Tuhan adalah hal-hal yang senang kita renungkan ketika menjalani hari-hari kita, ataukah kita terlalu sibuk untuk memikirkan-Nya? Diiringi syukur atas cinta yang Tuhan karuniakan dalam relasi kita dengan orang-orang terkasih, mari memeriksa temperatur cinta kita kepada Tuhan. –HAN

KETIKA KITA MENGASIHI TUHAN, 

KITA MERINDUKAN KEHADIRAN-NYA DAN MENIKMATI KEINDAHAN-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

SAAT HARUS MENANTI

Minggu, 7 Oktober 2012

Bacaan : Yesaya 40:18-31

40:18. Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?

40:19 Patungkah? Tukang besi menuangnya, dan pandai emas melapisinya dengan emas, membuat rantai-rantai perak untuknya.

40:20 Orang yang mendirikan arca, memilih kayu yang tidak lekas busuk, mencari tukang yang ahli untuk menegakkan patung yang tidak lekas goyang.

40:21 Tidakkah kamu tahu? Tidakkah kamu dengar? Tidakkah diberitahukan kepadamu dari mulanya? Tidakkah kamu mengerti dari sejak dasar bumi diletakkan?

40:22 Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman!

40:23 Dia yang membuat pembesar-pembesar menjadi tidak ada dan yang menjadikan hakim-hakim dunia sia-sia saja!

40:24 Baru saja mereka ditanam, baru saja mereka ditaburkan, baru saja cangkok mereka berakar di dalam tanah, sudah juga Ia meniup kepada mereka, sehingga mereka kering dan diterbangkan oleh badai seperti jerami.

40:25 Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus.

40:26 Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat.

 

40:27. Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: “Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?”

40:28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.

40:29 Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.

40:30 Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,

40:31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

 

SAAT HARUS MENANTI

Begitu mendapat kepastian diterima di sebuah universitas di Jepang, sahabat saya jadi sangat bersemangat. Enam bulan menanti waktu berangkat dipenuhinya dengan berbagai persiapan seperti belajar bahasa, membeli koper besar dan baju hangat, juga mencari banyak informasi tentang negeri Sakura itu

Bangsa Israel juga sedang menanti. Mereka menanti pertolongan Tuhan. Tapi tampaknya tidak banyak harapan dalam penantian mereka. Banyak yang berpaling mencari jalan keluar lain (ayat 18-20). Memang sebagian besar orang Israel saat itu kemungkinan adalah generasi yang hanya mendengar Tuhan dari cerita kakek-nenek mereka. Benarkah Tuhan mendengar dan akan menjawab? Bagaimana saya tahu Dia sanggup dan akan bertindak? Melalui nabi Yesaya, Tuhan menegur kebutaan rohani mereka dan menunjukkan bukti-bukti kehadiran dan kekuasaan-Nya (ayat 21- 28). Hanya pengenalan akan Tuhan yang dapat menghidupkan harapan dan memberikan kekuatan dalam penantian

Ketika menantikan campur tangan Tuhan, apa yang biasanya kita lakukan? Adakah kita mereka-reka sendiri sosok Tuhan yang kita mau, dan bagaimana Dia harus bertindak, lalu kecewa karena harapan kita tak kunjung terpenuhi? Carilah jejak karya-Nya di sekitar kita, resapilah penyataan diri-Nya dalam Alkitab. Berdoalah dengan penuh pengharapan. Renungkan tiap situasi yang dialami dan tanyakanlah apa Tuhan ingin kita pelajari. Biarlah penantian kita akan Tuhan tidak menjadi masa “menganggur” yang tak jelas, tetapi menjadi masa-masa mengalami kekuatan baru yang dihasilkan dari makin dalamnya pengenalan kita akan Dia. –LIT

JADIKAN MASA-MASA MENANTIKAN PERTOLONGAN TUHAN

UNTUK MAKIN MENGENAL DAN MENGALAMI PRIBADI-NYA

Dikutip : www.sabda.org

KERINDUAN YUDAS

Kamis, 27 September 2012

Bacaan : Yudas 1:17-25

1:17 Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus.

1:18 Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: “Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka.”

1:19 Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus.

1:20 Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.

1:21 Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.

1:22 Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu,

1:23 selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.

1:24 Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya,

1:25 Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

 

KERINDUAN YUDAS

Anda mungkin pernah membaca syair klasik ini: Jika kebutuhan terbesar manusia itu adalah pengetahuan, tentulah Allah mengutus seorang pendidik. Jika itu kesehatan jasmani, tentulah Allah mengutus seorang dokter. Jika itu uang, tentulah Allah mengutus seorang ahli ekonomi. Jika itu kesenangan, tentulah Allah mengutus seorang yang pintar menghibur. Akan tetapi, kebutuhan terbesar manusia adalah pengampunan, sebab itu Allah mengutus seorang Juru Selamat.

Syair ini kurang lebih menggambarkan keyakinan dan kerinduan Yudas – bukan Yudas Iskariot, tetapi Yudas saudara Yakobus. Kebutuhan akan Juru Selamat lebih dari segalanya. Tanpa hal itu manusia binasa. Sejak awal surat Yudas penuh berisi peringatan tentang penghakiman dan hukuman kekal bagi orang-orang yang menyangkal Yesus (ayat 4-5). Pada akhir suratnya, Yudas mendorong umat Tuhan bukan hanya untuk memperkuat iman, tetapi juga menolong orang yang ragu-ragu atau belum percaya untuk menerima anugerah keselamatan. “Merampas mereka dari api” adalah ungkapan yang sangat kuat. Bayangkan saja menyelamatkan orang dari kebakaran. Tentu tidak bisa dengan santai dan berlambat-lambat. Setiap detik begitu berharga. Tidak ada kesempatan kedua.

Jika kita benar meyakini bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus, tidakkah setiap hari adalah kesempatan berharga untuk mewartakan-Nya? Kecuali kita tidak betul-betul yakin api penghakiman tersedia. Kecuali kita merasa manusia dapat menyelamatkan dirinya sendiri di luar Kristus. Kecuali kita yakin bahwa yang terpenting manusia hidup senang sebelum maut menjemput. Apa yang kita yakini tentang kekekalan akan tercermin dalam doa-doa kita, perhatian kita pada sesama, kesaksian hidup kita. –ELS

BERTEMU JURU SELAMAT MEMBUAT HIDUP JADI BERMAKNA.

SUDAHKAH ANDA SENDIRI MENGALAMI-NYA?

Dikutip : www.sabda.org

TIDAK TERHINGGA

Kamis, 2 Agustus 2012

Bacaan : Mazmur 147:1-11

147:1. Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.

147:2 TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai;

147:3 Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;

147:4 Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya.

147:5 Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga.

147:6 TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi.

147:7 Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi!

147:8 Dia, yang menutupi langit dengan awan-awan, yang menyediakan hujan bagi bumi, yang membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput.

147:9 Dia, yang memberi makanan kepada hewan, kepada anak-anak burung gagak, yang memanggil-manggil.

147:10 Ia tidak suka kepada kegagahan kuda, Ia tidak senang kepada kaki laki-laki;

147:11 TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.

 

TIDAK TERHINGGA

Hang (baca: heng). Itu istilah yang sering terlontar ketika komputer macet, tidak bisa lagi memberi respons apa-apa. Mungkin program yang dijalankan terlalu banyak atau berat. Atau, ada virus yang menghambat kerjanya. Istilah ini juga dipakai sebagian orang untuk menggambarkan bahwa mereka sedang tidak bisa berpikir lebih jauh. Mungkin karena terlalu penat atau kurang istirahat. Kondisi hang mengingatkan kita bahwa teknologi dan manusia, secanggih apa pun, sepintar apa pun, ada batasnya.

Sebaliknya, Tuhan tidak terbatas. Perenungan pemazmur melambungkan imajinasi kita untuk memahami Dia yang “tidak terhingga”. Mengumpulkan kembali umat Israel yang tercerai berai di seluruh penjuru dunia bukan hal sulit bagi-Nya (ayat 2). Memulihkan orang yang sudah tidak punya harapan hidup adalah keahlian- Nya (ayat 3). Menghitung bintang di galaksi terjauh pun mudah saja bagi-Nya (ayat 4). Menyelimuti langit dengan awan, menurunkan hujan di tempat tertentu dan menahannya di belahan bumi lainnya, membuat gunung, menumbuhkan rerumputan, memberi makan hewan-hewan di padang, semua bisa dilakukan-Nya sekaligus! (ayat 8-9). Kehebatan manusia maupun sarana-sarana yang digunakan manusia dalam berkarya tidak mengesankan-Nya (ayat 11).

Kita kerap frustrasi dengan waktu yang sempit dan tanggung jawab yang banyak. Kita tidak tahu bagaimana menyikapi relasi yang rusak sementara kasih dan kesabaran kita terbatas. Kita tidak mahahadir, otak kita tidak mahatahu. Namun, mana yang lebih sering kita andalkan? Diri kita, sesama manusia, teknologi, atau … Tuhan yang tak terhingga? Sungguh, kita perlu senantiasa diingatkan betapa hebat dan tidak terbatasnya Tuhan kita! –MEL

FRUSTRASI HADIR KETIKA KITA MENGANDALKAN SUMBER-SUMBER

YANG TERBATAS, DAN MENGABAIKAN DIA YANG TAK TERBATAS.

Dikutip : www.sabda.org

LUPE

Rabu, 6 Juni 2012

Bacaan : Lukas 22:39-46

22:39. Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia.

22:40 Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.”

22:41 Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya:

22:42 “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

22:43 Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.

22:44 Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.

22:45 Lalu Ia bangkit dari doa-Nya dan kembali kepada murid-murid-Nya, tetapi Ia mendapati mereka sedang tidur karena dukacita.

22:46 Kata-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.”

 

LUPE

Lupe. Ya, Anda tidak salah baca. Judul ini sengaja dipilih agar tidak mudah dilupakan. Lupe (baca: loo’-pay) adalah bahasa Yunani untuk dukacita, perasaan yang berat, gundah, penuh derita dan kesedihan karena menghadapi saat-saat sulit yang tak terhindarkan. Apa yang biasanya Anda lakukan ketika mengalaminya? Ada yang suka bepergian atau berkumpul dengan teman untuk melupakan masalah. Beberapa lainnya mungkin seperti saya, tidur! Harapannya, dengan tidur, kita tidak lagi lupe atau tidak lagi menderita.

Para murid juga dicatat tidur karena dukacita. Mungkin mereka awalnya berdoa seperti saran Yesus, tetapi karena lelah fisik dan pikiran, mereka pun terlelap. Bisa juga mereka memang memilih tidur karena tak sanggup lagi berdoa. Jika kesulitan tak dapat dihindari, apa gunanya berdoa? Yesus menegur mereka. Berdoa itu vital agar mereka jangan jatuh dalam pencobaan (ayat 46). Makin sulit situasinya, makin perlu kita terhubung dengan Bapa. Yesus sendiri dalam raga manusia gentar dan ingin menghindari penderitaan. Sebab itu, Dia berdoa, memohon agar dalam saat paling kelam, Dia dapat berespons seturut kehendak Bapa (ayat 42). Dengan kekuatan dari Bapa, Yesus menghadapi salib. Murid-murid-Nya? Lari dan menyangkal Yesus.

Iblis tahu bahwa ketika kita terhubung dengan Bapa, kita akan beroleh kekuatan untuk tetap taat melakukan kebenaran, seberat apa pun risikonya. Sebab itu, ia akan menghalangi kita dengan segala cara untuk berdoa. Menjelang kedatangan Kristus kembali, ia akan makin gencar mencobai anak-anak Tuhan. Mari hidup dengan berjaga-jaga dan berdoa. Yesus berjanji, kita akan beroleh kekuatan yang kita perlukan (Lukas 21:36). –ELS

BERDOA MEMAMPUKAN KITA MELAKUKAN KEHENDAK BAPA.

COBAAN IBLIS BERUSAHA MENGGAGALKANNYA.

Dikutip : www.sabda.org

PENGALAMAN DIKASIHI

Minggu, 3 Juni 2012

Bacaan : 2 Timotius 1:1-18

1:1. Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus,

1:2 kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.

1:3 Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.

1:4 Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.

1:5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

1:6. Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.

1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

1:8 Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.

1:9 Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman

1:10 dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

1:11 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru.

1:12 Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

1:13 Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

1:14 Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.

1:15. Engkau tahu bahwa semua mereka yang di daerah Asia Kecil berpaling dari padaku; termasuk Figelus dan Hermogenes.

1:16 Tuhan kiranya mengaruniakan rahmat-Nya kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara.

1:17 Ketika di Roma, ia berusaha mencari aku dan sudah juga menemui aku.

1:18 Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya pada hari-Nya. Betapa banyaknya pelayanan yang ia lakukan di Efesus engkau lebih mengetahuinya dari padaku.

PENGALAMAN DIKASIHI

Saya sedih sekali ketika dalam sebuah pertemuan diakonia gereja, seorang ibu mengatakan bahwa pelayanan kepada anak-anak jalanan tak ubahnya seperti membuang garam ke laut. Pada kesempatan lain, seorang pemuda menyatakan bahwa mengajari anak-anak di daerah kumuh perkotaan sebagai suatu kegiatan yang nyaris tak memberikan kemajuan berarti. Bagi mereka, upaya besar yang diberikan bagi anak-anak ini tidak sebanding dengan hasil yang didapat.

Dalam surat pribadinya kepada Timotius, Paulus memuji iman anak rohaninya ini (ayat 2). Menariknya, Paulus mengamati kualitas iman yang tulus ikhlas semacam ini lebih dulu ada di dua generasi di atasnya (ayat 5). Anak-anak berisiko dalam kasus di atas tak seberuntung Timotius. Timotius memiliki sang nenek, Lois, serta ibunya, Eunike, yang kehidupan imannya berimbas nyata membentuk imannya. Selain itu, Timotius juga memiliki Paulus yang memuridkan, meneguhkan, dan memberi teladan padanya (ayat 6-18).

Di dunia ini ada begitu banyak anak yang tidak memiliki orang dan lingkungan yang membentuk mereka menjadi pribadi yang baik. Hari demi hari mereka dipaparkan pada kehidupan penuh risiko kekerasan, pelecehan, dan eksploitasi. Tak mengherankan jika suatu saat mereka menjadi korban sekaligus pelaku kejahatan. Kita punya banyak kesempatan mendoakan dan mewujudkan kehadiran kerajaan Allah di antara mereka. Seperti apa yang diperbuat nenek Lois, ibu Eunike, dan Paulus pada Timotius, mari bergerak memberi ruang dan pengalaman dikasihi bagi bagi anak-anak yang kurang beruntung. –SCL

PENGALAMAN DIKASIHI DAN DIBIMBING PADA MASA KECIL

ADALAH BEKAL MENGASIHI DAN MELAYANI SEUMUR HIDUP.

Dikutip : www.sabda.org