Kamis, 29 Januari 2009

Bacaan : Keluaran 17:1-7

17:1. Kemudian berangkatlah segenap jemaah Israel dari padang gurun Sin, berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, sesuai dengan titah TUHAN, lalu berkemahlah mereka di Rafidim, tetapi di sana tidak ada air untuk diminum bangsa itu.

 

17:2 Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: “Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.” Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?”

 

17:3 Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?”

 

17:4 Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: “Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!”

 

17:5 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah.

 

17:6 Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.” Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel.

 

17:7 Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?”

 

Kelangkaan Air?

kesulitan-air1

Di Indonesia air mudah didapat. Tidak demikian halnya di gurun pasir Mesir. Medannya sangat gersang. Kering. Suhu di siang hari mencapai lebih dari 400C. Disitu air menjadi sangat berharga. Ini soal hidup-mati. Tanpa air cukup, Anda akan mengalami dehidrasi, bahkan kematian. Di gurun itu, Anda bisa membeli 1,5 liter air botolan seharga 20-50 ribu rupiah. Namun pada zaman Musa, tidak ada penjual air! Bisa dipahami betapa paniknya orang Israel ketika mereka kekurangan air. Kematian sudah membayang. Mereka pun bersungut-sungut.

Dalam situasi panik dan stres, bersungut-sungut adalah respons alami yang sangat manusiawi. Masalahnya, umat Israel punya cukup alasan untuk tidak bersungut-sungut. Bukankah selama ini mereka hidup dari mukjizat Tuhan hari demi hari? Tiang awan dan tiang api tampak memimpin di depan. Baru saja Tuhan membuat air pahit di Mara menjadi manis sehingga bisa diminum (Keluaran 15:22-27). Sebelumnya, Tuhan telah membelah laut Merah sehingga mereka bisa berjalan di tengahnya (Keluaran 14:15-31). Tidak cukupkah semua pengalaman penuh mukjizat itu meyakinkan mereka bahwa kali ini pun Tuhan akan menolong lagi? Bahwa Tuhan tak akan membiarkan mereka mati kehausan?

Jadi, masalah mendasar umat Tuhan saat itu bukanlah kelangkaan air, melainkan kelangkaan iman. Kita pun bisa mengalami hal serupa. Lain kali, jika Anda mulai bersungut-sungut, ingat lagi berapa banyak pertolongan Tuhan yang pernah Anda alami di masa lalu. Yang mustahil telah dibuat menjadi mungkin. Tidakkah Anda yakin bahwa Tuhan akan menolong Anda sekali lagi? -JTI

SETIAP KALI TUHAN MENOLONG KITA,

TIDAK PERNAH DIA BERKATA: “INI KALI YANG TERAKHIR!”

Iklan