NYANYIAN YANG MENYEMBAH

Sabtu, 10 November 2012

Bacaan : Kolose 3:12-17

3:12. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

NYANYIAN YANG MENYEMBAH

Agama Kristen adalah agama yang bernyanyi. Julukan ini sangat tepat karena nyanyian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat Allah. Sekitar setengah ibadah diisi oleh musik dan nyanyian pujian. Alkitab pun memuat begitu banyak referensi tentang betapa Allah menyukai nyanyian pujian. Namun, sadarilah bahwa tindakan menyanyikan lagu rohani tidak otomatis menjadikan hal tersebut sebagai penyembahan. Seringkali kita memuji Tuhan secara lahiriah tetapi tidak benar-benar menyembah Dia.

Bilamanakah suatu nyanyian menjadi penyembahan yang menyenangkan Allah? Ada tiga hal yang dapat kita amati dari nas hari ini. Pertama, nyanyian ini harus dipersembahkan oleh orang-orang percaya. Nasihat Paulus disampaikan kepada orang-orang yang telah menerima Kristus dan dibenarkan oleh-Nya (ayat 12). Hanya orang-orang yang demikian yang dapat memuji Allah atas karya keselamatan-Nya. Orang tidak percaya bisa saja menyanyikan lagu rohani dengan baik tetapi ia tidak sedang menanggapi pribadi dan karya Allah. Ia tidak sedang menyembah Allah. Kedua, nyanyian pujian harus selaras dengan Firman. Perkataan Kristus harus melandasi dan menuntun nyanyian kita (ayat 16). Akhirnya, nyanyian pujian harus ditujukan secara sadar kepada Allah (ayat 17). Melalui nyanyian pujian, kita berkomunikasi dengan Allah.

Marilah melantunkan nyanyian pujian bukan karena kita ikut-ikutan orang lain atau hanya menjalankan kewajiban agamawi. Namun, kita bernyanyi dengan didasari oleh Firman dan iman. Niscaya, pujian kita akan memperkenankan hati-Nya. –JIM

TANPA HATI PENYEMBAHAN, ENGKAU HANYA BERMAIN MUSIK,

BUKAN MENYEMBAH! -BOB KAUFLIN

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

STOP KOMPROMI!

Kamis, 20 September 2012

Bacaan : Galatia 5:16-26

5:16 Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.

5:17 Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.

5:18 Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.

5:19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,

5:20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,

5:21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

5:24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,

5:26 dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

 

STOP KOMPROMI!

Lagu band Seurieus Rocker Juga Manusia (2004) sangat populer pada masanya, dan judul itu sering digunakan sebagai plesetan. Dengan latah kita juga berkata: “orang Kristen juga manusia” atau “pendeta juga manusia” – artinya masih rentan terhadap dosa. Di satu sisi, memang benar sebagai manusia kita tak boleh pongah karena kita masih dapat jatuh dalam dosa. Di sisi lain, kerap ungkapan itu dijadikan dalih untuk membenarkan pelanggaran.

Alkitab menentang keras kompromi terhadap dosa. Keinginan daging, yang membuahkan dosa dan berbagai tindak kejahatan (ayat 19-21, 26), bertentangan dengan keinginan Roh Tuhan (ayat 17). Misalnya saja: hidup yang dikuasai nafsu bertolak belakang dengan pengendalian diri; perseteruan tidak sejalan dengan kasih; kepentingan diri sendiri dan kemurahan adalah dua sikap yang kontras. Mengikuti keinginan Roh tidak dapat dikompromikan dengan keinginan daging. Paulus mengingatkan, ini tidak sama dengan sekadar memenuhi hukum Taurat (ayat 18). Hukum menunjukkan apa yang salah, Roh menuntun orang melakukan apa yang benar. Tidak ada hukum yang menentang pimpinan Roh, karena Roh pasti menuntun pada kebenaran (ayat 23).

Di tengah berbagai situasi yang mengundang kompromi dengan dosa, kita perlu terus-menerus menyadari identitas kita sebagai milik Kristus. Tidak cukup kita menyadari apa yang salah, tetapi juga melakukan apa yang benar, apa yang seturut dengan keinginan Roh Tuhan. –BER

KATAKAN YA PADA ROH DAN TIDAK PADA DOSA.

KEDUANYA TIDAK MUNGKIN DIPERSATUKAN.

Dikutip : www.sabda.org

TUMBUH LEWAT PERSEKUTUAN

Rabu, 25 Januari 2012

Bacaan : Kolose 3:5-17

3:5. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,

3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).

3:7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.

3:8. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.

3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,

3:10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;

3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

3:12. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

TUMBUH LEWAT PERSEKUTUAN

Setelah dibaptis, Pakhomius seriusingin bertumbuh. “Bertapalah. Itu cara terampuh, ” nasihat seorang biarawan. Di tahun 315 M, tradisi bertapa memang marak. Orang memisahkan diri dari masyarakat yang korup. Menyendiri di gurun. Berdoa dan puasa. Setelah mencoba, Pakhomius merasa itu tidak tepat. “Bagaimana bisa belajar rendah hati, jika hidup sendiri? Bagaimana belajar bersabar, tanpa menjumpai sesama?” Ia pun berhenti bertapa dan mengembangkan spiritualitas persekutuan. Menurutnya, orang bertumbuh dalam pergaulan, bukan kesendirian.

Paulus memotret sifat-sifat manusia baru, antara lain: belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran (ayat 12). Ini buah kehidupan bersama. Belas kasihan dan kemurahan muncul saat melihat kebutuhan sesama. Kerendahan hati terbentuk saat menjumpai kelebihan orang lain. Kelemahlembutan dan kesabaran teruji saat berhadapan dengan hal-hal yang menyakitkan. Jemaat Kolose terdiri dari berbagai macam orang yang disatukan dalam kasih Kristus (ayat 11). Orang-orang “sulit” jelas ada (ayat 13). Namun, mereka diminta tetap bersatu (ayat 14). Tidak meninggalkan persekutuan. Di situlah terjadi proses pembentukan. Lewat konflik, orang saling menegur dan bertumbuh (ayat15-16).

Adakah orang yang kerap menjengkelkan Anda? Atau, Anda kecewa dengan perilaku orang-orang sulit di gereja? Ingatlah bahwa melalui mereka, sifat-sifat Anda kian diasah dan dibentuk Tuhan sebagai orang-orang pilihan-Nya. Jadi, bertahanlah! Sambut pembentukan Tuhan melalui persekutuan dengan hati bersyukur! –JTI

TANPA BELAJAR HIDUP SEHATI

TIADA PERTUMBUHAN IMAN SEJATI

Dikutip : www.sabda.org

ANTARA KARSA DAN KARYA

Kamis, 19 Januari 2012

Bacaan : Galatia 5:16-26

5:16 Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.

5:17 Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.

5:18 Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.

5:19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,

5:20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,

5:21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

5:24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,

5:26 dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

ANTARA KARSA DAN KARYA

Menteri Rekonstruksi Jepang, Ryu Matsumoto, mengundurkan diri karena telah bersikap kasar ketika berkunjung ke tempat korban tsunami beberapa waktu yang lalu. Menarik untuk menyimak apa yang ia jelaskan mengenai perilakunya: “Golongan darah saya B. Artinya saya bisa meledak sewaktu-waktu dan maksud saya tidak selalu sama dengan tindakan saya, ” ujarnya. Apakah pernyataannya itu mengandung kebenaran atau hanya untuk membela diri?

Sebenarnya, masalah ketidakserasian antara “keinginan melakukan” (karsa) dengan “apa yang dilakukan” (karya) adalah masalah klasik sejak dulu. Paulus menjelaskan penyebabnya: “keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging, sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” Kita bisa mengetahui karsa mana yang lebih kuat dalam diri seseorang dengan melihat karyanya. Perbuatan daging adalah segala tindakan dosa (19-21) sedangkan buah Roh adalah kasih, damai sejahtera dan segala hal baik lainnya (22-23). Sebagai milik Kristus, seharusnya karsa Roh Kudus menguasai hidup kita dan mengendalikan setiap karya kita (24-25).

Tidak mudah memang membuat serasi antara karsa dan karya sebagai seorang anak Tuhan. Itu sebabnya kita tidak dapat melakukannya sendiri. Kita perlu bergantung pada Roh Kudus untuk menolong kita. Mari terus memberi diri dan mohon kepekaan mengikuti pimpinan-Nya. Tindakan kita tidak tergantung pada golongan darah kita, tetapi tergantung siapa yang memimpinnya. Apakah kita dipimpin oleh Roh atau dikendalikan oleh kedagingan kita. Selamat dipimpin Roh! –ENO

BERILAH DIRI DIPIMPIN OLEH ROH KUDUS

ATAU KEDAGINGAN YANG AKAN MENGENDALIKAN KITA TERUS

Dikutip : www.sabda.org

ULAR DAN KATAK

Senin, 31 Oktober 2011

Bacaan : Galatia 5:1-6:2 

5:1. Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.

5:2 Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.

5:3 Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.

5:4 Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.

5:5 Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.

5:6 Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.

5:7 Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi?

5:8 Ajakan untuk tidak menurutinya lagi bukan datang dari Dia, yang memanggil kamu.

5:9 Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan.

5:10 Dalam Tuhan aku yakin tentang kamu, bahwa kamu tidak mempunyai pendirian lain dari pada pendirian ini. Tetapi barangsiapa yang mengacaukan kamu, ia akan menanggung hukumannya, siapapun juga dia.

5:11 Dan lagi aku ini, saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, mengapakah aku masih dianiaya juga? Sebab kalau demikian, salib bukan batu sandungan lagi.

5:12 Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya!

5:13. Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.

5:14 Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”

5:15 Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.

5:16 Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.

5:17 Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.

5:18 Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.

5:19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,

5:20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,

5:21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

5:24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,

5:26 dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

6:1. Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.

6:2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

ULAR DAN KATAK

Pada saat bencana banjir di Brisbane Queensland akhir tahun 2010 lalu, Armin Gerlach seorang teknisi kantor berita berhasil mengabadikan sebuah momen langka. Yakni rekaman foto tentang persahabatan seekor katak hijau yang mendapat tumpangan di punggung seekor ular coklat yang berenang melintasi genangan air akibat banjir. Bukankah seekor ular biasanya melahap katak yang lemah sebagai mangsanya? Namun, ketika bencana menimpa, dua hewan itu mampu mengesampingkan segala perbedaan di antara keduanya hingga si kuat memberi diri menyelamatkan si lemah.

Sebagai makhluk yang lebih mulia, seharusnya manusia bisa bersikap lebih dari itu. Namun kenyataannya, banyak orang hidup dengan memuaskan nafsu dagingnya sampai saling menggigit, menelan, dan membinasakan (ayat 15). Oleh sebab itu, Paulus mengingatkan bahwa kita telah dimerdekakan dari perbudakan dosa oleh penebusan Kristus (5:1). Maka, jangan sampai kita berbalik lagi ke dalam kehidupan lama (ayat 16-21). Setiap orang beriman harus menghidupi hakikat hidup barunya, yaitu hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh (ayat 25) agar menghasilkan buah Roh (ayat 22-23). Bagaimana hidup oleh Roh itu diwujudkan dalam relasi antar orang beriman, agar hidup ini menghasilkan buah Roh yang memberkati sesama dan memuliakan Tuhan?

Ingat dan terapkan firman ini sebagai petunjuk praktis hidup sehari-hari: Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (Galatia 6:2). Sebagai orang yang sudah dibebaskan Kristus dari dosa, kiranya hidup kita jauh dari sikap egois, penuh dengki, saling menggigit dan menelan –SST

TUHAN MENYELAMATKAN KITA DENGAN KASIH YANG TIDAK EGOIS

MAKA BETAPA TAK TAHU MALUNYA KITA APABILA HIDUP EGOIS

Dikutip : www.sabda.org

LALANG DAN GANDUM

Shalom…salam miracle, jemaat yang diberkati Tuhan.

Cerita mengenai panen akhir tidak lepas dari perumpamaan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus sendiri dalam Matius 13:24-30, yaitu tentang gandum dan lalang. Bagian menarik dapat saudara temukan dalam ayat 29-30 “tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berbekas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku. Ayat-ayat ini berbicara mengenai panen akbar yang akan terjadi pada akhir zaman.

 

Tetapi sebelum panen itu terjadi, terjadi pemisahan antara lalang dan gandum, kedua jenis tanaman itu sama-sama bertumbuh di tempat yang sama. Jadi kedua tanaman ini berbicara mengenai orang benar dan orang fasik yang dibiarkan hidup berdampingan bersama-sama atau orang yang tinggal dalam kegelapan dengan kita yang telah menjadi anak terang. Lalu apa dampaknya? Yang jelas keduanya mempunyai cara dan gaya hidup sendiri-sendiri.

 

Tuhan sengaja membiarkan kita berada di tengah-tengah tetangga yang mungkin setiap hari mengolok karena kekristenan kita. Atau mungkin juga seseorang yang menyebalkan dengan tingkah lakunya, mungkin teman-teman kerja atau bahkan sahabat yang setiap hari menjebak saudara untuk berbuat dosa dengan melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hati Tuhan, atau saudara kecewa dengan arus informasi negatif melalui media massa, tontonan televisi atau internet yang mempengaruhi kejiwaan atau mental anak-anak. Saudara tidak bisa berdoa meminta supaya mereka disingkirkan, dipindahkan dari sekitar saudara atau “diangkat” Tuhan, sebab Tuhan izinkan ilalang itu tumbuh.

 

Yang penting disini adalah menjaga status saudara sebagai “gandum”. Perbuatan-perbuatan gandum itu terang dan memuliakan Bapa di Surga, senantiasa ada kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kelemahlembutan, juga penguasaan diri. Dan perbuatan-perbuatan terang dari gandum itu membuat heran kelompok ilalang. Seperti yang dikatakan Rasul Petrus dalam 1 Petrus 4:4 “sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka dalam kubangan  ketidaksenonohan yang sama, dan mereka menfitnah kamu.”

Sementara Rasul Yohanes menyampaikan nasehat terhadap mereka yang menutup hati, tidak menjadi terang terhadap saudaranya yang mungkin menyebalkan (1 Yohanes 3:17) dengan teguran, apakah ada kasih dalam orang tersebut? Untuk itu biarlah “terang” senantiasa ada dalam kehidupan kita semua sehingga dapat menjadi berkat bagi orang lain. Saudara dipanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain dengan apa yang saudara miliki sekarang ini.

 

Saya mau sampaikan kepada jemaat Tuhan semua sebagai “warga gandum” bahwa saudara mempunyai harga diri sebagai gandum, saudara bukan ilalang!! Bahkan kewargaan saudara disebutkan ada di dalam Surga (Filipi 3:20). Kalau saudara melakukan perbuatan-perbuatan yang memalukan dan senatiasa berbuat dosa, yang sebenarnya saudara sudah mengetahui bahwa itu perkara DOSA, itu berarti saudara menjerumuskan diri sendiri dan masuk dalam kubangan atau comberan. Saya percaya kita semua tidak mau tinggal dan diam dalam kubangan dosa, sebab betapa menyedihkan hal tersebut

Untuk itu pastikan bahwa saudara adalah gandum.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…!!

 

 

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Gembala Sidang

NASIB KELELAWAR

Rabu, 6 April 2011

Bacaan : Galatia 5:16-26

16Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.

17Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.

18Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.

19Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,

20penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,

21kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

22Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

23kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

24Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

25Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,

26dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

NASIB KELELAWAR

Dalam dongeng Aesop, suatu saat pasukan burung dan pasukan binatang buas berperang. Kelelawar mengamat-amati. Saat pasukan burung menang, si kelelawar mengaku-aku dirinya burung. Sebaliknya, saat pasukan binatang buas berjaya, ia mengaku-aku dirinya binatang buas. Sayang, muslihatnya ketahuan. Ia pun dibenci, baik oleh burung maupun oleh binatang buas. Sejak saat itu kelelawar suka menyembunyikan diri pada siang hari, dan baru keluar untuk mencari makan pada malam hari.

Dalam peperangan, tidak mungkin kita menjejakkan kaki sekaligus di atas dua kubu yang berlawanan. Begitu juga dalam mengikut Kristus Yesus. Mengikuti Kristus berarti meninggalkan segala sesuatu yang berlawanan dengan Dia. Kita tidak lagi mengejar pemuasan keinginan pribadi, tetapi memilih untuk menganut kehendak-Nya. Paulus menyebutnya sebagai “menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya” (ayat 24). Kita tidak dapat mengikuti jalan Tuhan sekaligus memuaskan hawa nafsu daging. Kristus menuntut pemisahan yang tegas.

Mengikut Kristus memberi kita kuasa atas dosa dan kedagingan. Bukan berarti kita tidak akan lagi mengalami pencobaan; sebaliknya, pencobaan terhadap kita malah akan semakin intensif. Namun, sekarang kita bukan lagi tanpa daya, melainkan dimampukan untuk menolak dan melawannya. Dalam Lukas 9:23, Yesus berkata bahwa pengikut-Nya harus “memikul salibnya setiap hari”. Setiap hari kita perlu menyerahkan kecenderungan untuk berdosa itu kepada Allah. Setiap hari menyalibkannya, dan dari waktu ke waktu meminta kuasa Roh Kudus memampukan kita mengatasinya –ARS

KARENA KRISTUS TELAH MEMENANGKAN PEPERANGAN

KITA DIMAMPUKAN UNTUK MENGATASI PENCOBAAN

Dikutip dari : www.sabda.org