TIDAK BANYAK MELIHAT

Senin, 5 Juli 2010

Bacaan : Filipi 4:10-13

4:10. Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.

4:11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

4:12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

TIDAK BANYAK MELIHAT

Kawan saya, suami-istri pemilik warung makan sederhana, mengatur keuangan secara menarik. Setiap hari mereka menyisihkan penghasilan ke dalam beberapa kaleng menurut keperluan-keperluan tertentu. Dengan cara itu, mereka berhasil mencicil sepeda motor selama dua tahun, dan kini masih aktif membayar premi asuransi pendidikan untuk kedua anak mereka. Apa kunci mereka dalam berdisiplin mengelola keuangan? “Tidak sering jalan-jalan, ” kata sang istri. Lo, kok? “Kalau sering jalan-jalan, kan banyak yang dilihat. Kalau banyak yang dilihat, banyak juga yang diinginkan, ” jelasnya.

Firman Tuhan secara khusus menyoroti keinginan. Sesuatu yang masih tersimpan di dalam hati; belum terwujud menjadi tindakan—tetapi, mengapa dilarang? Memangnya ada yang salah dengan keinginan? Apakah manusia tidak boleh memiliki keinginan? Tentu tidak. Yang dikedepankan oleh perintah Allah itu ialah pentingnya mengendalikan keinginan. Tidak semua hal perlu diinginkan. Keinginan ada yang patut dan ada yang tidak patut; mesti dipilah dan dipilih mana yang sesuai dengan firman-Nya.

Meskipun masih di dalam hati, keinginan yang tidak terkendali menjadikan kita rentan terhadap pencobaan. Bukannya mengumbar keinginan, Paulus mendorong kita untuk selalu “belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan” (ayat 11). Belajar untuk bersyukur atas apa yang sudah kita miliki; berkat yang sudah disediakan Tuhan. Dengan begitu, kita akan menggunakan berkat tersebut secara efektif. Kita tidak menghambur-hamburkannya untuk keinginan yang sia-sia, tetapi memanfaatkannya untuk hal-hal yang bermakna –ARS

KEINGINAN YANG TIDAK DIKENDALIKAN

AKAN BERBALIK MENGENDALIKAN KITA

Sumber : www.sabda.org

Iklan

MENANG

Rabu, 28 April 2010

Bacaan : Lukas 21:1-4

21:1. Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan.

21:2 Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.

21:3 Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu.

21:4 Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

MENANG

Di dunia ini, kita terbiasa menganggap orang yang menang adalah orang yang sukses mengalahkan orang lain. Menjadi nomor satu, itulah definisi pemenang. Bagi seorang pengusaha, menjadi yang terkaya di dunia. Bagi seorang politikus, menjadi orang nomor satu di negaranya. Bagi seorang pelajar, menjadi juara di sekolahnya. Dan seterusnya.

Namun, apakah itu juga definisi kemenangan di mata Allah? Kalau kita melihat kisah tentang janda miskin dan persembahannya, kita menemukan suatu definisi yang berbeda.

Janda miskin ini hanya memberikan dua peser uang. Jumlah yang menurut kamus Alkitab, sangatlah kecil nilainya. Kalah telak dibandingkan persembahan orang-orang kaya. Namun, bagi Yesus, persembahan ini justru lebih berharga daripada persembahan orang-orang kaya! Menurut standar Allah, si janda miskin ini tampil sebagai pemenang. Bagi Dia, kemenangan seseorang diukur dari seberapa maksimal ia berusaha memberikan apa yang ia mampu. Bukan seberapa hebat ia dibandingkan orang lain.

Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi yang nomor satu, tetapi menjadi yang terbaik yang kita bisa. Pola pikir ini memberi ketenangan sekaligus memacu kita. Ketenangan, karena kita tidak perlu menjalani hidup dengan membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Tidak perlu takut dicap kalah bersaing. Terpacu, karena Tuhan meminta kita memberikan yang terbaik yang kita bisa. Untuk berusaha semaksimal mungkin memenuhi segala potensi kita. Untuk tidak mudah berpuas hati. Melainkan terus mendorong diri untuk maju, memakai semua bakat dan karunia yang Allah percayakan –ALS

SEORANG PEMENANG YANG SEJATI ADALAH SESEORANG YANG BERHASIL

MEMENUHI SEGALA POTENSI YANG ALLAH PERCAYAKAN KEPADANYA

Sumber : www.sabda.org

MENGELOLA NEGERI

Sabtu, 10 April 2010

Bacaan : Kejadian 41:25-46

41:25 Lalu kata Yusuf kepada Firaun: “Kedua mimpi tuanku Firaun itu sama. Allah telah memberitahukan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya.

41:26 Ketujuh ekor lembu yang baik itu ialah tujuh tahun, dan ketujuh bulir gandum yang baik itu ialah tujuh tahun juga; kedua mimpi itu sama.

41:27 Ketujuh ekor lembu yang kurus dan buruk, yang keluar kemudian, maksudnya tujuh tahun, demikian pula ketujuh bulir gandum yang hampa dan layu oleh angin timur itu; maksudnya akan ada tujuh tahun kelaparan.

41:28 Inilah maksud perkataanku, ketika aku berkata kepada tuanku Firaun: Allah telah memperlihatkan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya.

41:29 Ketahuilah tuanku, akan datang tujuh tahun kelimpahan di seluruh tanah Mesir.

41:30 Kemudian akan timbul tujuh tahun kelaparan; maka akan dilupakan segala kelimpahan itu di tanah Mesir, karena kelaparan itu menguruskeringkan negeri ini.

41:31 Sesudah itu akan tidak kelihatan lagi bekas-bekas kelimpahan di negeri ini karena kelaparan itu, sebab sangat hebatnya kelaparan itu.

41:32 Sampai dua kali mimpi itu diulangi bagi tuanku Firaun berarti: hal itu telah ditetapkan oleh Allah dan Allah akan segera melakukannya.

41:33. Oleh sebab itu, baiklah tuanku Firaun mencari seorang yang berakal budi dan bijaksana, dan mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir.

41:34 Baiklah juga tuanku Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dan dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir.

41:35 Mereka harus mengumpulkan segala bahan makanan dalam tahun-tahun baik yang akan datang ini dan, di bawah kuasa tuanku Firaun, menimbun gandum di kota-kota sebagai bahan makanan, serta menyimpannya.

41:36 Demikianlah segala bahan makanan itu menjadi persediaan untuk negeri ini dalam ketujuh tahun kelaparan yang akan terjadi di tanah Mesir, supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan itu.”

41:37 Usul itu dipandang baik oleh Firaun dan oleh semua pegawainya.

41:38 Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?”

41:39 Kata Firaun kepada Yusuf: “Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau.

41:40 Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu.”

41:41 Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: “Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.”

41:42 Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari pada kain halus dan digantungkannya kalung emas pada lehernya.

41:43 Lalu Firaun menyuruh menaikkan Yusuf dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf: “Hormat!” Demikianlah Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.

41:44 Berkatalah Firaun kepada Yusuf: “Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu, seorangpun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir.”

41:45 Lalu Firaun menamai Yusuf: Zafnat-Paaneah, serta memberikan Asnat, anak Potifera, imam di On, kepadanya menjadi isterinya. Demikianlah Yusuf muncul sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.

41:46. Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir.

MENGELOLA NEGERI

Saat itu, status Yusuf masih narapidana. Namun karena hikmatnya, ia dapat berdiri di hadapan Firaun dan para pegawainya. Raja yang putus asa karena tak seorang ahli pun tahu makna mimpinya (ayat 24), kini mendapat jawaban hebat dan tepat dari narapidana Ibrani ini. Yusuf mengartikan mimpi Firaun bahwa akan ada 7 tahun kelimpahan dan 7 tahun kelaparan. Namun, ia juga segera memberi jalan keluarnya: sebagian hasil bumi harus disimpan dalam lumbung selama masa kelimpahan, agar di masa kesusahan ada persediaan. Agaknya Yusuf layak disebut ahli ekonomi dan ahli strategi sosial.

Ternyata, berada di negeri asing tak menghalangi kecemerlangan hikmatnya. Ia menabrak batas politis. Dalam tahuntahun berikutnya Yusuf menunjukkan bahwa pilihan Firaun tidak salah. Ia terbukti mumpuni (ayat 53-57). Ini menarik untuk direnungkan. Bukan hanya peningkatannya dari narapidana ke penguasa Mesir, melainkan juga sikap Yusuf yang sungguh memberikan hati untuk mengelola tugas berat di tanah asing. Dengan itu, ia pertama-tama berguna bagi Mesir. Namun kemudian, ia juga berguna bagi Israel, yang pada masa kelaparan tertolong oleh kemakmuran Mesir.

Yusuf melihat bahwa hidupnya yang naik turun-dijual sebagai budak, masuk penjara, sengsara, hingga dimuliakan di Mesir-sebagai karya Allah: “sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu” (45:5). Mari belajar dari Yusuf yang mengelola hidup demi membawa sejahtera bagi orang lain, masyarakat, dan bangsanya. Mari gunakan hikmat yang Allah karuniakan kepada kita dalam bidang masing-masing, untuk memberkati komunitas di tempat kita hidup -DKL

DI MANA KITA HIDUP
DI SITULAH KIRANYA TUHAN DIPUJI-PUJI

Sumber : www.sabda.org

MENABUR KEBAIKAN

Senin, 15  Februari 2010

MENABUR KEBAIKAN

Bacaan : Amsal 11:24-25

11:24. Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.

11:25. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.

MENABUR KEBAIKAN

Di desa Arjasari, Bandung Selatan, terdapat sebuah gedung berlantai dua bergaya minimalis. Gedung megah menurut ukuran desa itu adalah perpustakaan. Bermula dari keinginan sederhana seorang tukang gorden keliling bernama Ayi Rohman untuk mendirikan perpustakaan bagi anak-anak di desanya. Mang Ayi, begitu ia biasa disapa, percaya bahwa sumber kemiskinan adalah kebodohan. Dan kebodohan bisa dientaskan dengan meningkatkan budaya baca masyarakat sekitar.

Berawal dari tujuh puluh buah buku hasil cari sana-sini, berdirilah perpustakaan seadanya di ruang tamu rumahnya. Untuk menambah koleksi bukunya, Mang Ayi biasa menyisihkan hasil jualan gordennya. Sekarang, bantuan donatur telah mengalir; gedung permanen, koleksi buku yang terbilang lengkap, dan terutama minat baca anak-anak di desanya meningkat pesat. Mang Ayi tidak lagi berjualan gorden, ia total mengurus perpustakaannya. Dan yang tidak pernah ia bayangkan adalah kesejahteraannya justru meningkat. “Dulu waktu jadi tukang gorden, melihat uang satu juta saja sudah sebuah keajaiban. Kini, setelah saya memikirkan orang lain, saya malah mendapatkan hidup yang lebih baik,” tuturnya.

Firman Tuhan hari ini berkata: “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan. Siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum” (ayat 25). Tentu bukan berarti kita kemudian berbuat baik kepada sesama dengan prinsip memancing, “Melempar teri untuk mendapat kakap”. Sebab itu artinya berpamrih, tidak tulus. Sebaliknya, yang ditekankan di sini adalah jangan pelit berbuat kebaikan kepada orang lain. Sebab hukum Tuhan berkata bahwa dengan memberi, kita bukannya habis, melainkan justru akan mendapat –AYA

SIAPA YANG MENABUR KEBAIKAN

AKAN MENUAI BERKAT

Sumber : www.sabda.org

BERANI MEMBERI

PESAN GEMBALA

7 FEBRUARI 2010

EDISI 112 TAHUN 3

BERANI MEMBERI

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat yang diberkati Tuhan, hari ini kita belajar mengenai berani memberi.Kitab Amsal menyatakan “ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu kekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia seendiri akan diberi minum. Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum”. Hukum ini sungguh-sungguh bekerja. Jika Saudara berani mengujinya, Allah akan memberi Saudara lebih banyak berkat daripada apa yang dapat Saudara tampung.

Buatlah sebuah keputusan berkualitas dengan cara selalu melakukan apa yang Allah perintahkan agar Saudara lakukan. Jika Allah berkata YA, sementara buku tabungan kita berkata TIDAK, maka akan lebih baik menuruti kata Tuhan. Tetapi jangan ssekalipun melakukan sesuatu yang Allah katakana TIDAK, walaupun buku tabungan kita berkata YA atau BISA. Mari belajar dipimpin oleh Roh Kudus, bukan saldo tabungan kita.

Paulus berkata bahwa siapa menabur sedikit akan menuai sedikit pula, tetapi ia juga berkata “dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelimpahan di dalam pelbagai kebijakan”. Di sini Allah berkata bahwa Dia adalah pemberi dan kita adalah penabur. Dia menyediakan benih bagi penabur dan roti sebagai makanan sehari-hari. Dia akan memberikan kepada kita benih untuk ditabur. Jika kita menyerahkan diri agar Tuhan pakai, maka hukum tabur tuai ini akan berlaku bagi kita.

Allah senantiasa melihat motivasi kita. Jika motivasi kita benar, dan melakukan pemberian menurut kemampuan kita sekarang ini, maka akan masuk ke dalam kelimpahan. Tetapi, sebagian orang berhenti memberi setelah mereka menerima cukup uang. Sumber daya yang mereka miliki menjadi kering dan habis, dan uang tersebut menjadi lenyap tidak bersisa.

Hal lain adalah jangan menunda-nunda ketika Allah berbicara kepada Saudara untuk menabur dalam suatu proyek tertentu. Ketika Roh Kudus berbicara untuk menabur, maka kita harus segera menabur. Tidak ada kepuasan yang lebih besar daripada memberi bagi pekerjaan Tuhan. Betapa menyenangkan karena kita independent dari dunia ini dan memiliki kebebasan untuk bertindak dan melakukan apa yang Allah perintahkan agar kita lakukan.

Rasul Paulus meminta kepada jemaat di Korintus untuk memberi bagi pelayanan kasih atau bagi orang-orang miskin di Yerusalem, hal tersebut dikarenakan Kristus Yesus sendiri telah menjadi miskin, agar melalui kemiskinan-Nya, mereka boleh menjadi kaya dan lalu dapat memberi.

Jemaat yang dikasihi Tuhan…

Usahakanlah untuk selalu menabur benih-benih di tanah yang subur dan jangan menabur padda saat di bawah tekanan, namun dengan sukacita ketika memberi. Seperti rasul Paulus yang emnasehatkan demikian “sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu”.

Allah telah mendirikan dan menyiapkan sebuah rencana keuangan bagi Kerajaan-Nya dan ini melibatkan kita untuk memberi secara sukarela bagi pekerjaan-Nya. Ini adalah sebuah pelayanan kepada Tuhan, yang mana sama berharganya dengan pujian dan penyembahan.

Kesempatan ini juga saya menyampaikan kepada seluruh jemaat untuk tetap berdoa bagi pembangunan Gereja.

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Hal Kecil Membawa Hasil Sesuatu Yang Besar

PESAN GEMBALA

10 JANUARI 2010

EDISI 108 TAHUN 3

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati, Elia adalah seorang nabi yang hidup di masa kelaparan atau masa kekeringan dengan kondisi masyarakat yang serba memprihatinkan, baik secara fisik, kesehatan maupun kondisi mental kerohaniannya.

Tidak ada hujan selama tiga setengah tahun. Hal ini membawa dampak negatif bagi umat Tuhan. Elia tidak begitu dikenal masyarakat ketika itu. Alkitab juga tidak mencatat apa pun tentang orang tuanya, mereka berasal dari Tisbe, yang merupakan tempat tidak terkenal yang terletak di pegunungan.

Elia merupakan contoh teladan yang  baik dari banyak umat Tuhan yang sering berkata “saya tidak mampu melakukan apa pun bagi Allah karena saya tidak mempunyai gelar, tidak pandai, tidak banyak harta, tidak berasal dari orang-orang yang mendapat kesempatan”. Memang sebenarnya Elia keadaannya juga seperti demikian, bahkan menurut Alkitab, Elia dipanggil dari suatu tempat yang samar-samar, namun suatu hari Elia mengucapkan suatu statemen pengumuman yang luar biasa “tidak akan turun hujan sampai aku memberitahukan kembali”.

Saudara, apakah ini suatu pernyataan kesombongan dari seorang yang tidak dikenal? Bahkan dia mendapatkan jalannya menuju istana raja dan mengumumkan:”Demi Tuhan yang hidup, Allah Isreal yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan” (I Raja-raja 17:1).

Setelah setahun kelaparan, Tuhan menyuruhnya untuk mengunjungi istana kembali membawa perintah bahwa Allah akan menurunkan hujan ke bumi. Apa yang membuat Elia percaya diri demikian? Kepekaan terhadap Allah dan firman Allah yang luar biasa, sama sekali bukan kesombongan berlebihan.

Bertahun-tahun sebelumnya di kitab Ulangan, Elia mencatat, “Apabila engkau menyembah berhala-berhala di tanah yang telah kuberikan kepadamu sebagai janji maka Aku akan menutup langit sehingga tidak ada hujan”. Firman Allah telah berdiam di hati Elia. Ia bertindak sesuai dengan Firman Allah, suatu tindakan, berdasarkan pernyataan Ulangan, didukung oleh kepercayaan yang tak tergoyahkan akan siapa Allah, dan suatu keyakinan bahwa Allah dan firman-Nya adalah satu. Juga memiliki kepekaan akan suara Allah.

Kisah ini sangat terkenal dan spektakuler, di langit Elia melihat sebuah awan yang berukuran kecil kira-kira sebesar kepalan tangan orang, hal yang kecil. Tanda yang tidak mengejutkan, dan ketika melihatnya, ia menyuruh hamba-hambanya untuk menyiapkan sebuah kereta guna memberitakan kepada raja Ahab bahwa hujan akan segera turun. Hanya sekepal awan, hanya dua ikan dan lima roti, hanya sebuah buli-buli kecil. Tidak ada apa-apa, kecuali kemudian Allah menyatakan bahwa Ia bersedia dan mampu melakukan “jadilah kepadamu sesuai dengan imanmu”.

Jemaat yang diberkati Tuhan, apa yang ada padamu sekarang? Adakah iman kepercayaan? Seharusnya iman sebesar biji sesawi harus ada. Iman bahwa Allah mampu mengambil apa yang tidak begitu berarti dan melipatgandakannya sesuai dengan kemampuan Allah yang tidak terbatas. Pada waktu yang lalu saya sarankan kepada jemaat supaya menyelidiki di dalam rumah, apakah yakin bahwa Roh Kudus ada di rumah, di tempat pekerjaan, dan sebagainya. Ketika Roh Kudus turut bekerja di dalam rumah dan pekerjaan, maka perkara-perkara yang terjadi bisa terselesaikan dengan berhasil.

Apa yang membuat pelipatgandaan dapat terjadi? Bahwa bagi janda dengan buli-buli minyak dan Elia dapat menurunkan hujan adalah ketika dengan iman, prinsip ini kiranya dapat memotivasi kita untuk mempergunakannya dalam keseharian kita. Mari senantiasa mempergunakan iman kita dan terus menuangkan minyak seperti ibu janda yang hanya memiliki sedikit minyak dalam buli-buli, menuangkan minyak dari kasih dan kasih Kristus ke dalam hidup orang lain. Semakin kita menuangkan maka kita akan semakin diisi penuh oleh persediaan dari Allah. Perlu adanya pembelajaran baik kepada mereka yang diberkati dengan harta benda dunia dan kemudian mengambil bagian secara finansial dari dalam rumahnya dan menuangkan ke dalam hidup orang-orang yang lebih menderita lewat kekuatan finansialnya, juga kepada setiap umat Tuhan yang hanya memiliki harta dunia yang “sedikit”, tetap harus menuangkan minyak yang “sedikit” itu. Tak peduli apa pun latar belakang budaya atau status sosial, status finansialnya, semua sama tingginya di bawah kaki Salib Kristus. Apabila hal ini dikerjakan maka semuanya akan menerima pelipatgandaan dari Tuhan kita. Dan alami di tahun kelimpahan, mujizat dan pemulihan..!!!

Tuhan Yesus memberkati kita semua..amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA