KEPAHITAN HIDUP

Rabu, 20 Juli 2011

Bacaan : Rut 1:1-22

1:1. Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing.

1:2 Nama orang itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem-Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana.

1:3 Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya.

1:4 Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya.

1:5 Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya.

 

1:6. Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka.

1:7 Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya. Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda,

1:8 berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: “Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku;

1:9 kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya.” Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras

1:10 dan berkata kepadanya: “Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu.”

1:11 Tetapi Naomi berkata: “Pulanglah, anak-anakku, mengapakah kamu turut dengan aku? Bukankah tidak akan ada lagi anak laki-laki yang kulahirkan untuk dijadikan suamimu nanti?

1:12 Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku: Ada harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki,

1:13 masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?”

1:14 Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya.

1:15 Berkatalah Naomi: “Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu.”

1:16 Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;

1:17 di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!”

1:18 Ketika Naomi melihat, bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia, berhentilah ia berkata-kata kepadanya.

 

1:19. Dan berjalanlah keduanya sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu karena mereka, dan perempuan-perempuan berkata: “Naomikah itu?”

1:20 Tetapi ia berkata kepada mereka: “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.

1:21 Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.”

1:22 Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab. Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.

 

KEPAHITAN HIDUP

Kejatuhan Orde Baru yang diikuti kerusuhan massal mengakibatkan banyak orang lari ke luar negeri. Ada yang seluruh hartanya terjarah habis. Ada pula yang menjual segala miliknya dengan murah dan bertekad memulai hidup baru di negeri yang dianggapnya lebih aman, stabil, dan adil. Namun, tak jarang setelah mengalami hidup di negara maju, ternyata kenyataan hidup tak seindah yang diimpikan. Bahkan, banyak yang merasa hidupnya lebih berat dan susah sehingga memutuskan pulang tanah kelahirannya.

Seperti itulah situasi Naomi. Ketika terjadi kelaparan di Israel, Naomi bersama Elimelekh dan dua anak laki-laki mereka memutuskan pindah ke Moab. Tak ada tanda bahwa mereka bertanya dan bergumul dengan Tuhan, sebab kemakmuran negeri tetangga sudah terbayang. Tahun-tahun berlalu. Kedua putranya memperistri putri-putri Moab. Ternyata kenyataan berbeda dengan impian. Suami dan kedua putranya meninggal. Tinggal Naomi dan kedua menantunya berjuang mempertahankan hidup. Apakah tinggal di tanah yang bukan pemberian Tuhan itu lebih baik? Tidak, Naomi mengalami kepahitan hingga ia mengubah namanya menjadi Mara (pahit). Ia merasa Tuhan telah melakukan banyak hal yang pahit kepadanya. Aneh bukan? Ia sendiri membuat keputusan tanpa bertanya kepada Tuhan, tetapi saat mengalami kepahitan, ia menuduh Tuhan penyebabnya.

Ketika kita mengalami kesulitan dan masalah besar, apakah pertimbangan yang kerap menguasai kita? Emosi dan keinginan diri sendiri, bukan? Tak jarang Tuhan mengizinkan kita mengalaminya, agar kita belajar melihat rencana Tuhan dengan bertahan dan tabah sampai akhirnya kemenangan menjadi bagian kita –SST

CARILAH TUHAN SEBELUM MENGAMBIL KEPUTUSAN

SEBAB DIA YANG TAHU SEGALA APA YANG ADA DI DEPAN

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

HIDUP BENAR

Sabtu, 18 Desember 2010

Bacaan : Mazmur 20:1-10

(1) Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (20-2) Kiranya TUHAN menjawab engkau pada waktu kesesakan! Kiranya nama Allah Yakub membentengi engkau!

(2) (20-3) Kiranya dikirimkan-Nya bantuan kepadamu dari tempat kudus dan disokong-Nya engkau dari Sion.

(3) (20-4) Kiranya diingat-Nya segala korban persembahanmu, dan disukai-Nya korban bakaranmu. Sela

(4) (20-5) Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kaukehendaki dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kaurancangkan.

(5) (20-6) Kami mau bersorak-sorai tentang kemenanganmu dan mengangkat panji-panji demi nama Allah kita; kiranya TUHAN memenuhi segala permintaanmu.

(6) (20-7) Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.

(7) (20-8) Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita.

(8) (20-9) Mereka rebah dan jatuh, tetapi kita bangun berdiri dan tetap tegak.

(9) (20-10) Ya TUHAN, berikanlah kemenangan kepada raja! Jawablah kiranya kami pada waktu kami berseru!

HIDUP BENAR

Harold Kushner, seorang penulis ternama, pernah mengemukakan sebuah hukum yang berbunyi: “Anything that should be set right sooner or later will”, artinya: Apa pun yang dikerjakan dengan benar, cepat atau lambat akan terbukti benar”. Ketika saya mencoba menghayatinya dalam relasi saya dengan Tuhan, maka hukum ini dapat diungkap kembali sebagai berikut: tak ada yang dapat menghalangi Allah untuk mengerjakan kebaikan bagi mereka yang dikasihi-Nya.

Hidup dan perjuangan manusia memang bisa jadi penuh lika-liku dan sarat onak duri. Namun suatu saat, semuanya akan jelas dan bermakna. Semuanya akan mengarahkan mata orang beriman untuk melihat kebaikan Tuhan. Di ayat 7, Daud berefleksi demikian: “Sekarang aku tahu …”. Ini mengisyaratkan bahwa sebelumnya Daud pernah merasa tidak tahu, pernah bingung melihat “peta hidup” yang ia jalani. Namun, akhirnya ia tahu sesuatu dan memahami apa yang Tuhan kerjakan di hidupnya. Apakah itu? “Bahwa Tuhan memberikan kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya”. Itulah pengalaman iman Daud dalam lika-liku hidupnya-dari sebagai seorang gembala, menjadi seorang pejuang, dan akhirnya menjadi raja.

Apakah hidup Anda sedang mengalami kesukaran dan perjuangan yang berat? Saking beratnya, Anda tidak mengerti apa maksud Tuhan di balik semua peristiwa yang dialami. Jika demikian, jangan tawar hati dan putus asa. Tetapkan hati dan yakinlah pada janji Tuhan yang akan memberi kemenangan. Asal Anda hidup dengan benar. Melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Maka, hidup benar itu akan Tuhan ganjar –DKL

TUHAN HANYA MEMINTA KITA UNTUK HIDUP BENAR

MAKA DIA AKAN MENGUBAH MASALAH MENJADI JALAN KELUAR

Sumber : www.sabda.org

BERPIKIR POSITIF (PART 2)

PESAN GEMBALA

28 November 2010

BERPIKIR POSITIF (PART 2)

 

Shalom…salam miracle.

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati Tuhan, kali ini kita membahas tentang berpikir positif khususnya melihat dan memanfaatkan peluang sekalipun sangat kecil. Ketika Raja Saul dan pasukannya cemas dan ketakutan menghadapi Goliat, Daud berkata: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Daud bukan hanya melihat peluang kemenangan dengan optimis. Tetapi dia memberikan dirinya untuk maju. Dia tidak mengajukan kakaknya atau menasehati Raja Saul yang perkasa untuk berani maju menghadapi Goliat. Daud bukan hanya berbicara, tetapi integritasnya, membawanya untuk membuktikan tindakan sesuai dengan ucapannya. Dia menawarkan solusi bukan hanya dengan kata-kata tapi dengan segenap kehidupannya. Di atas awan masih ada awan, dan bagi Daud di atas Goliat masih ada Tuhan yang maha besar.

 

Orang yang berpikir negatif adalah orang yang mengungkung dirinya dalam kecemasan dan ketakutan. Orang yang sedemikian akan melihat setiap masalah dari sisi kesulitan dan tantangannya. Nalar dan pikirannya tidak bisa sepenuhnya berfungsi karena telah dirongrong dan dipakai untuk memikirkan kecemasan dan ketakutannya. Saul dan bangsa Israel cemas dan ketakutan ketika melihat Goliat yang besar dan mendengar perkataan Goliat yang menghina bangsa Israel, dengan pakaian perangnya yang lengkap. Saul dan pasukannya tidak melihat peluang untuk dapat mengalahkannya.

 

Daud memiliki iman yang besar disertai dengan cara berpikir yang positif dalam menghadapi Goliat. Karena urapan Tuhan yang memenuhinya dengan kuasa, dia bisa berpikir dengan jernih dan cemerlang. Daya pikir dan nalarnya dapat digunakan sepenuhnya karena tidak dirongrong oleh kecemasan, kekuatiran, dan ketakutan. Daud beriman kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan, ditambah dengan komitmen yang tinggi. Dengan itu, Daud bisa berkonsentrasi penuh untuk melihat setiap kemungkinan yang kecil sekalipun untuk menggapai sukses dan kemenangan.

 

Daud tidak memandang kepada baju zirah, perisai, pedang, tombak, lembing dan ketopong yang dikenakan oleh Goliat. Matanya tertuju kepada Allah yang besar bukan masalah yang besar, dan dalam pikirannya berkonsentrasi akan apa yang segera dilakukan dalam pertempuran yang dihadapinya. Dengan pikiran yang jernih dan cemerlang Daud melihat satu “Titik Peluang” yang sangat kecil namun sangat vital yaitu DAHI GOLIAT. Dahi dan mata Goliat tidak tertutup oleh ketopong, dan itulah yang dilihat oleh Daud. Dia bisa melihat suatu peluang yang sangat kecil, tapi tidak hanya melihat peluang itu, namun dalam kapasitas dan kemampuan yang ada, dengan batu dan umban dia manfaatkan peluang yang kecil itu pada waktu yang tepat dan cara yang benar. Dahi itu tidak bisa ditebasnya dengan pedang, karena dia belum terlatih memakai pedang untuk perang, dan juga dia tidak membawa pedang itu. Dahi itu juga tidak dipanahnya karena dia tidak mempunyai busur dan anak panahnya. Tidak juga dihujamnya dengan tombak, karena tangannya yang kecil untuk dapat melontarkan sebuah tombak perang ke arah Goliat.

 

Daud mengambil batu dan umban yang dibawanya, dan diarahkan ke dahi Goliat sehingga terbenam ke dalam dahinya dan Goliat KNOCKED DOWN tergeletak jatuh. Daud tidak mengarahkan umbannya ke arah baju zirah yang tebal, karena bagaimana pun kerasnya pasti tidak akan menembus baju zirah Goliat. Dengan melepaskan senjata dan kemampuan kita pada sasaran yang kurang tepat kita tidak akan pernah sukses. Cara kerja ala demikian akan menciptakan orang-orang yang tampaknya bekerja keras dalam waktu kerja yang lama tetapi tidak menghasilkan sesuatu.

 

Daud memakai senjatanya yang unik dan khas walaupun sebenarnya itu tidak popular, terlebih dalam medan perang yang dahsyat. Senjata itu sesuai untuk dirinya dan sangat dikenalnya dengan baik dan dia ahli dalam menggunakannya. Banyak pekerjaan besar dimulai dengan peralatan yang sederhana dan tidak popular, namun digunakan dengan waktu yang tepat, di tempat yang tepat dan cara yang tepat. Ketika melihat peluang yang ada, Daud tidak menunda untuk memanfaatkannya. Daud segera mengayunkan umpan batu itu sekuat tenaga sehingga batu itu mengenai dahi dan masuk ke dahi Goliat. Daud memanfaatkan peluang yang tepat, berkonsentrasi, cermat dan bertindak dengan segenap kekuatan yang ada padanya. Belum tentu peluang yang sama akan datang lagi. Seorang pemenang akan segera memanfaatkan peluang yang didapatnya. Hari ini, jam sekarang ini, keadaan sekarang ini tidak akan pernah kembali lagi. Peluang tidak pernah berteriak, kitalah yang harus mencari dan memanfaatkannya. Kemenangan Daud telah dipersiapkan sejak sebelum pertarungan sampai pertarungan terjadi. Tapi memanfaatkan peluang adalah ibarat memakai kunci pintu untuk membuka pintu rumah yang menjadi tujuan dari perjalanan yang ditempuh. Alkitab menegaskan bahwa kemenangan Daud tidak didapat dengan pedang di tangan. Tetapi dengan kesederhanaan, ketaatan, mengandalkan Tuhan dan melihat serta memanfaatkan peluang yang ada.

 

SELAMAT NATAL…KASIH ALLAH MEMENUHI KITA SEMUA…

TUHAN YESUS MEMBERKATI…AMIEN

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

TIDAK KEHILANGAN SENYUM

Selasa, 9 November 2010

Bacaan : 2 Tawarikh 20:1-18

20:1. Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim.

20:2 Datanglah orang memberitahukan Yosafat: “Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar,” yakni En-Gedi.

20:3 Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.

20:4 Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN.

20:5 Lalu Yosafat berdiri di tengah-tengah jemaah Yehuda dan Yerusalem di rumah TUHAN, di muka pelataran yang baru

20:6 dan berkata: “Ya TUHAN, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tangan-Mu, sehingga tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau.

20:7 Bukankah Engkau Allah kami yang menghalau penduduk tanah ini dari depan umat-Mu Israel, dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabat-Mu itu, untuk selama-lamanya?

20:8 Lalu mereka mendiami tanah itu, dan mendirikan bagi-Mu tempat kudus untuk nama-Mu. Kata mereka:

20:9 Bila sesuatu malapetaka menimpa kami, yakni pedang, penghukuman, penyakit sampar atau kelaparan, kami akan berdiri di muka rumah ini, di hadapan-Mu, karena nama-Mu tinggal di dalam rumah ini. Dan kami akan berseru kepada-Mu di dalam kesesakan kami, sampai Engkau mendengar dan menyelamatkan kami.

20:10 Sekarang, lihatlah, bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir ini! Ketika orang Israel datang dari tanah Mesir, Engkau melarang mereka memasuki negerinya. Oleh sebab itu mereka menjauhinya dan tidak memusnahkannya.

20:11 Lihatlah, sebagai pembalasan mereka datang mengusir kami dari tanah milik yang telah Engkau wariskan kepada kami.

20:12 Ya Allah kami, tidakkah Engkau akan menghukum mereka? Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.”

20:13 Sementara itu seluruh Yehuda berdiri di hadapan TUHAN, juga segenap keluarga mereka dengan isteri dan anak-anak mereka.

 

20:14. Lalu Yahaziel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, dihinggapi Roh TUHAN di tengah-tengah jemaah,

20:15 dan berseru: “Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.

20:16 Besok haruslah kamu turun menyerang mereka. Mereka akan mendaki pendakian Zis, dan kamu akan mendapati mereka di ujung lembah, di muka padang gurun Yeruel.

20:17 Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu.”

20:18 Lalu berlututlah Yosafat dengan mukanya ke tanah. Seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalempun sujud di hadapan TUHAN dan menyembah kepada-Nya.

 

TIDAK KEHILANGAN SENYUM

Di sebuah desa kecil yang setahun sebelumnya hancur karena gempa bumi, tinggal seorang ibu sebatang kara. Ibu itu terkenal karena senyumnya yang lembut kepada setiap orang yang dijumpainya. Suatu hari seorang pemuda bertanya, “Ibu selalu tersenyum, apakah Ibu tidak pernah merasa susah?” Ibu itu menjawab, “Pernah. Setahun yang lalu saya kehilangan semuanya; suami, anak-anak, cucu-cucu, dan harta benda karena gempa bumi. Saya hanya punya baju di badan, tanpa sanak keluarga dan hidup terlunta-lunta.” “Lalu sejak kapan Ibu bisa kembali tersenyum?” tanya pemuda itu lagi. “Sejak saya menyadari, bahwa saya masih memiliki Allah, ” jawab ibu itu pula.

Bacaan Alkitab hari ini berkisah tentang bangsa Yehuda yang tengah terjepit karena ancaman orang Moab dan Amon. Di tengah kekalutan dan ketakutan itu, Yosafat mengajak seluruh bangsa berseru kepada Allah. Dan, Allah tidak tinggal diam. Dia menjawab seruan mereka melalui Yahaziel, seorang Lewi dari bani Asaf. “Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah” (ayat 15).

Mungkin sekarang kita pun tengah berhadapan dengan “orang Moab dan Amon”; kesusahan dan kemalangan yang bertubi-tubi, kegagalan dan kehilangan yang menyesakkan. Dan, kita merasa tidak sanggup lagi menghadapi semua itu. Dalam situasi demikian kita diingatkan, bahwa kita masih memiliki Allah. Allahlah, bukan kita, yang akan “berperang” menghadapi semua itu. Sehingga, seperti ibu dalam kisah tadi, kita tidak akan kehilangan senyum –AYA

ALLAH ADALAH SUMBER KEKUATAN YANG TEGUH

DI TENGAH SEGALA PENCOBAAN YANG TERJADI

Dikutip : www.sabda.org

MENGALAHKAN KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN

Shalom…Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati Allah.

Dalam Filipi 4:13, Paulus menyatakan
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Mengalahkan kejahatan dengan kebaikan tidak hanya merupakan teknik yang bersifat spiritual, tetapi juga menunjukkan arti dan maksud dari penerapan kemenangan yang sudah diraih oleh Yesus Kristus.

Kalau kita pelajari bahwa kerajaan Setan menggunakan prinsip yang sebaliknya. Setan sangat senang menambah kekuatan atas orang-orang dengan cara mencobai mereka untuk melakukan hal-hal yang bersifat sebaliknya dari hal-hal yang bersifat positif.

Seperti halnya mempengaruhi umat Tuhan untuk tidak bergereja, berdoa, membaca Alkitab, melakukan penipuan kepada saudaranya sendiri, melukai perasaan orang lain, bertindak kasar terhadap isteri terhadap suami, homoseksual, pornografi. Hal-hal itu membawa mereka masuk ke dalam kutuk melalui kendali Setan.

Untuk hidup di dalam kebenaran Allah, maka kita harus mampu terlibat di dalam mempengaruhi sekeliling kita dengan kebenaran dan kebaikan.

Ketika melawan “musuh” sebenarnya kita sedang memanifestasikan aspek karakter Kristus yang merupakan lawan dari pencobaan yang sedang kita hadapi. Ambillah pernyataan Yesus berkenaan dengan roh-roh jahat yang khusus “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.” (Matius 17:21).

Suatu nasihat untuk menjauhkan diri dari makanan adalah mungkin karena murid-murid pada saat itu sedang menghadapi Iblis yang memiliki nafsu besar, seperti kerakusan dan juga nafsu birahi.

Berpuasa merupakan suatu tindakan yang memiliki arti yang sangat besar. Puasa merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengalahkan musuh. Puasa memang sangat sulit dan dengan berpuasa mengirim kita untuk berlari minta tolong kepada Yesus. Ketika tubuh kita berteriak minta makan, maka kita tahu, bahwa kita memerlukan anugerah untuk melanjutkan puasa kita, tanpa pertolongan Allah atau anugerah Allah, maka akan mengalami kesulitan atau penderitaan.

Penyangkalan terhadap keinginan besar menjadi suatu peperangan pribadi yang sangat hebat. Kelaparan dan kelemahan kita membuat kita menjadi rendah hati. Kita benar-benar memerlukan anugerah dari Tuhan untuk mempertahankan komitmen kita untuk menjauhkan diri dari makanan dan nafsu keserakahan. Kemiskinan atau kelemahan dari kecukupan kita diungkapkan dan kecukupan dari Kristus dinyatakan. Mari kita renungkan penerapan kebenaran Kristus. Kita disalibkan bersama Kristus dan sifat kita yang lama dihancurkan. Kemudian kehidupan Kristus mendiami hidup kita di dalam kemenangan. Inilah prinsip yang sudah diubahkan. Hidup-nya adalah bagi kita dan kekuatan-Nya yang sempurna ada ketika kita mengakui kelemahan. “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:20). “sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5).

Ketika kita mengenal aktivitas penghulu-penghulu di udara dengan segala karakter khususnya, maka kita perlu menanganinya. Tidak hanya menahan dan mengalahkan pencobaan, tetapi juga dengan mendoemonstrasikan tindakan-tindakan yang positif. Mazmur 3:4-7 “Tetapi Engkau, Tuhan adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. Dengan nyaring aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. Sela. Aku membaringkan diri, lalu tidur, aku bangun, sebab Tuhan menopang aku! Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku”.

Gereja kita sudah ditugaskan untuk menjadi berkat bagi kota Tarakan, mari kita mulai dengan mencabut akar-akar kejahatan. Berikanlah segala kebaikan yang sudah Tuhan karuniakan kepada kita kepada orang lain atau yang membutuhkan. Kalau Gereja kita sekarang memiliki proyek. Yaitu membangun Gedung Gereja, hal ini tidak saja sebagai suatu proyek pembangunan, tetapi juga merupakan suatu kesempatan untuk membawa kita masuk ke dalam level rohani yang lebih tinggi dan menjadi berkat bagi kota Tarakan. Walaupun dana pembangunan kita tidak berlebihan atau pas-pasan, namun kita bersyukur dapat membagi berkat dengan memberi persembahan kepada beberapa Gereja yang ada di Tarakan yang juga sedang membangun. Untuk itu mari jemaat Tuhan senantiasa mendukung dalam doa, pemikiran, tenaga juga dana untuk penyelesaian proyek pembangunan Gereja Bethany GTM.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien

Gembala Sidang,
Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

IBADAH YANG SEJATI

4 APRIL 2010

EDISI 120 TAHUN 03

PESAN GEMBALA

IBADAH YANG SEJATI

Shallom…salam miracle

Jemaat Bethany yang diberkati Tuhan, bulan April merupakan bulan yang sangat spesial bagi kita, sebab umat Kristen di seluruh dunia memperingati bagaimana pengorbanan Yesus Kristus yaitu dengan mati di kayu salib menebus dosa umat manusia. Dan akhirnya menunjukkan kepada kita semua yang percaya, bahwa Dia mengalami kemenangan atas maut melalui kuasa kebangkitan-Nya.

Natal memang penting dan baik dirayakan oleh orang percaya, namun Paskah sangat penting, karena memang kedatangan Tuhan membawa misi yang luar biasa ke dunia ini, yaitu pengorbanan diri-Nya untuk menunjukkan kasih-Nya kepada kita, tanpa penyaliban, kematian dan kebangkitan-Nya, sia-sialah kekristenan kita. Tuhan Yesus memulai ibadah yang baru dengan pengorbanan darah-Nya sendiri, sehingga sistem ibadah dalam Perjanjian Lama (PL) yang selalu ditandai dengan pengorbanan hewan, tidak perlu lagi dilakukan. Tetapi bukan berarti orang-orang percaya yang beribadah kepada Tuhan tidak perlu berkorban. Rasul Paulus dalam nasehatnya kepada jemaat yang ada di kota Roma (Roma 12:1) mengatakan:”…aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itulah IBADAH mu yang sejati…”

Selain itu Paulus juga menunjukkan betapa kasih Allah itu melimpah kepada setiap orang percaya yang senantiasa mendukung dalam banyak hal pelayanan. Ada beberapa hal supaya kita memiliki ibadah yang berkenan kepada Tuhan :

1. Pekerjaan jangan mengganggu ibadah

    Keluaran 6:9 “lalu Musa mengatakan demikian kepada orang Israel, tetapi mereka tidak mendengarkan Musa KARENA MEREKA PUTUS ASA DAN KARENA PERBUDAKAN YANG BERAT…”. Kata perbudakan menunjukkan kepada pekerjaan yang sangat berat dan dengan paksa. Dalam kerja paksa yang dilakukan bangsa Israel, mereka ditarget untuk membuat batu bata dalam jumlah tertentu. Inilah yang membuat mereka berat untuk mendengarkan Firman Tuhan melalui hamba Tuhan. Di zaman sekarang banyak juga terjadi kepada orang Kristen dengan target tertentu dalam omset, hasil dan sebagainya, maka menghalangi untuk melakukan ibadah kepada Tuhan, apalagi seseorang yang bekerja pada tempat yang salah atau bukan bidangnya sehingga tidak mendatangkan sukacita dan tidak bisa berprestasi maksimal, akhirnya putus asa dan menjauh dari Tuhan. Untuk itu miliki pekerjaan yang senantiasa bisa mendukung kita dalam ibadah kepada Tuhan.

    2. Menikmati karya Tuhan lebih jauh

    Setelah seseorang menerima keselamatan, bukan berarti duduk menanti semua kegenapan janji Tuhan terjadi dalam hidupnya: ibadah ala kadarnya, membaca Alkitab kalau ada waktu senggang, berdoa hanya ketika menghadapi permasalahan, tetapi sekaranglah saatnya bagi kita semua untuk bertumbuh mengenal Tuhan dan rencana-Nya, mari kita semua berjalan bersama Tuhan sampai berhasil (makmur, kaya, sembuh, ekonomi baik) dan mengikut Tuhan sampai garis akhir.

    3. Beribadah dengan membawa seisi rumah

    Keselamatan adalah masalah pribadi masing-masing kepada Tuhan, bukan masalah komunal dengan Tuhan, sehingga satu keluarga tidak hanya diwakili oleh suami kepada kepala keluarga, atau isteri yang banyak waktu untuk beribadah sehingga mewakili suami atau anak-anak, atau anak-anak yang mewakili orang tuanya yang penting hadir diketahui gembala atau pengurus gereja. Mari kita semua membawa keluarga kita untuk memperoleh berkat, keberhasilan, dan keselamatan dari Tuhan.

    Selamat Paskah, Tuhan Yesus memberkati…

    Gembala Sidang

    Pdt. Ir. Joko Susanto, MA