OBAT BAGI HATI

Senin, 7 Juni 2010

Bacaan : Yesaya 40:1-5

40:1. Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu,

40:2 tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya.

40:3. Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!

40:4 Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran;

40:5 maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.”

OBAT BAGI HATI

Dua katak terjatuh ke lubang yang dalam. Keduanya berusaha melompat keluar, tetapi tidak berhasil. Menyadari lubang itu terlalu dalam bagi seekor katak, maka katak-katak yang lain meneriaki mereka agar menyerah saja. Menyuruh mereka mengikhlaskan diri untuk mati saja di situ, sebab upaya mereka akan sia-sia. Salah satu katak percaya akan teriakan teman-temannya. Ia putus asa dan menyerah untuk mati. Tetapi yang lain tidak. Ketika para katak berteriak, ia justru makin giat melompat. Dan akhirnya, ia berhasil keluar! Teman-temannya heran dan baru tahu kemudian, ternyata katak itu tuli. Ternyata, tadi ia mengira teman-temannya menyorakinya untuk terus berjuang.

Umat Yehuda yang terjerumus di “lubang” pembuangan Babel sudah lelah berharap. Letih menanggung hukuman Tuhan. Terpuruk akibat penindasan penjajah. Mereka rindu kampung halaman dan haus kelepasan. Nabi Yesaya diutus Tuhan untuk membangkitkan semangat mereka yang patah. Dengan apa? Dengan kata-kata penghiburan! Dengan seruan pendorong semangat! Dengan suara penyulut api pengharapan. Dengan perkataan-perkataan yang membangun. Itulah yang mereka butuhkan. Dan Tuhan memenuhinya.

Perkataan yang diterima oleh otak kita sungguh berdampak dahsyat. Perkataan yang negatif menjatuhkan semangat. Meruntuhkan harga diri. Mengacaukan pikiran dan suasana hati. Sebaliknya, perkataan yang positif membangkitkan gairah. Menyalakan harapan. Memberi kekuatan. Seperti obat yang menyembuhkan. Banyak orang memerlukan siraman rohani dari ucapan mulut kita. Jadi, perbanyaklah kata-kata penghiburan, dari bibir kita –PAD

DALAM PERKATAAN SELALU TERKANDUNG KUASA

BISA MEMATIKAN, BISA JUGA MENGHIDUPKAN

ANGSA HITAM

Bacaan : Ester 6:1-11

6:1. Pada malam itu juga raja tidak dapat tidur. Maka bertitahlah baginda membawa kitab pencatatan sejarah, lalu dibacakan di hadapan raja.

6:2 Dan di situ didapati suatu catatan tentang Mordekhai, yang pernah memberitahukan bahwa Bigtan dan Teresh, dua orang sida-sida raja yang termasuk golongan penjaga pintu, telah berikhtiar membunuh raja Ahasyweros.

6:3 Maka bertanyalah raja: “Kehormatan dan kebesaran apakah yang dianugerahkan kepada Mordekhai oleh sebab perkara itu?” Jawab para biduanda raja yang bertugas pada baginda: “Kepadanya tidak dianugerahkan suatu apapun.”

 

6:4. Maka bertanyalah raja: “Siapakah itu yang ada di pelataran?” Pada waktu itu Haman baru datang di pelataran luar istana raja untuk memberitahukan kepada baginda, bahwa ia hendak menyulakan Mordekhai pada tiang yang sudah didirikannya untuk dia.

6:5 Lalu jawab para biduanda raja kepada baginda: “Itulah Haman, ia berdiri di pelataran.” Maka titah raja: “Suruhlah dia masuk.”

6:6 Setelah Haman masuk, bertanyalah raja kepadanya: “Apakah yang harus dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya?” Kata Haman dalam hatinya: “Kepada siapa lagi raja berkenan menganugerahkan kehormatan lebih dari kepadaku?”

6:7 Oleh karena itu jawab Haman kepada raja: “Mengenai orang yang raja berkenan menghormatinya,

6:8 hendaklah diambil pakaian kerajaan yang biasa dipakai oleh raja sendiri, dan lagi kuda yang biasa dikendarai oleh raja sendiri dan yang diberi mahkota kerajaan di kepalanya,

6:9 dan hendaklah diserahkan pakaian dan kuda itu ke tangan seorang dari antara para pembesar raja, orang-orang bangsawan, lalu hendaklah pakaian itu dikenakan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya, kemudian hendaklah ia diarak dengan mengendarai kuda itu melalui lapangan kota sedang orang berseru-seru di depannya: Beginilah dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya!”

6:10 Maka titah raja kepada Haman: “Segera ambillah pakaian dan kuda itu, seperti yang kaukatakan itu, dan lakukanlah demikian kepada Mordekhai, orang Yahudi, yang duduk di pintu gerbang istana. Sepatah katapun janganlah kaulalaikan dari pada segala yang kaukatakan itu.”

6:11 Lalu Haman mengambil pakaian dan kuda itu, dan dikenakannya pakaian itu kepada Mordekhai, kemudian diaraknya Mordekhai melalui lapangan kota itu, sedang ia menyerukan di depannya: “Beginilah dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya.”

 

ANGSA HITAM

Nassim Nicholas Taleb menulis buku “Black Swan” untuk memperkenalkan fenomena angsa hitam. Fenomena ini mengacu pada peristiwa-peristiwa tak terduga yang berdampak masif. Orang baru bisa mereka-reka penjelasannya setelah peristiwa itu terjadi. Contohnya bencana tsunami, larisnya Harry Potter, kemenangan Obama, atau anak tukang becak yang kaya mendadak karena menjadi juara kontes menyanyi. Fenomena semacam itu ditelaah melalui ilmu ketidakpastian, teori kemungkinan, dan masalah kemujuran.

Mordekhai mengalami fenomena angsa hitam yang menyenangkan. Haman, wakil raja Persia yang membencinya, menyusun siasat untuk membunuhnya dan bahkan sudah menyiapkan tiang gantungan. Namun, malamnya raja secara tak terduga sulit tidur. Ia meminta dibacakan kitab sejarah dan mendapati bahwa Mordekhai pernah berjasa menyelamatkan nyawanya. Esoknya, bukannya dihukum gantung, Mordekhai malah mendapatkan penghargaan dari raja.

Apakah itu kebetulan belaka? Alkitab tidak mengenal kebetulan. Baca lebih lanjut