KEPUTUSAN

Sabtu, 26 November 2011

Bacaan : Matius 26:47-56 

26:47. Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.

26:48 Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: “Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia.”

26:49 Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: “Salam Rabi,” lalu mencium Dia.

26:50 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya.

26:51 Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya.

26:52 Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.

26:53 Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?

26:54 Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?”

26:55 Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku.

26:56 Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi.” Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.

KEPUTUSAN

Jika kita mengonsumsi makanan berlemak setiap hari dalam porsi besar, apa yang akan terjadi lima tahun mendatang? Timbunan lemak dan kolesterol. Jika kita mengisap dan menghabiskan dua bungkus rokok setiap hari, apa yang akan terjadi dengan tubuh kita di tahun-tahun mendatang? Paru-paru kita akan rusak. Demikianlah, setiap hari kita membuat keputusan penting. Sebagian dari kita mungkin akan memilih kesenangan bagi diri sendiri saat ini, walau di masa depan ada akibat yang tidak menyenangkan. Sebaliknya, ada juga keputusan yang kini terasa tidak nyaman, tetapi hasilnya baik di masa mendatang.

Malam itu, setelah perjamuan terakhir dengan para murid, merupakan waktu yang berat bagi Yesus. Sebenarnya Dia bisa membiarkan murid-murid melakukan perlawanan guna mencegah penangkapan-Nya (ayat 51). Dia juga bisa memerintahkan pasukan malaikat untuk melindungi dan melepaskan-Nya dari perjalanan menuju salib yang mengerikan. Akan tetapi, Dia memilih untuk taat kepada perintah Bapa-Nya melangkah menuju salib. Sebab, Dia sangat tahu keputusan-Nya ini akan berdampak bagi kehidupan manusia di masa mendatang.

Mungkin hari ini Tuhan membawa kita memasuki masa-masa yang paling sulit di hidup kita. Dan, kita mesti mengambil keputusan penting. Pertimbangkanlah dengan saksama. Keputusan yang membuat kita nyaman belum tentu berakhir indah dan memuliakan Allah. Pertimbangkanlah masak-masak, termasuk dampaknya di masa depan bagi kita maupun bagi orang-orang di sekeliling kita. Dan, apakah Allah dimuliakan melalui keputusan tersebut –PK

KEPUTUSAN KITA HARI INI BISA MENENTUKAN HIDUP KITA DI HARI ESOK

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

GRUSA-GRUSU

Jumat, 13 Agustus 2010

Bacaan : Kejadian 25:29-34, 28:6-9

25:29. Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang.

25:30 Kata Esau kepada Yakub: “Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah.” Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom.

25:31 Tetapi kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.”

25:32 Sahut Esau: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?”

25:33 Kata Yakub: “Bersumpahlah dahulu kepadaku.” Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya.

25:34 Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.

28:6. Ketika Esau melihat, bahwa Ishak telah memberkati Yakub dan melepasnya ke Padan-Aram untuk mengambil isteri dari situ–pada waktu ia memberkatinya ia telah memesankan kepada Yakub: “Janganlah ambil isteri dari antara perempuan Kanaan” —

28:7 dan bahwa Yakub mendengarkan perkataan ayah dan ibunya, dan pergi ke Padan-Aram,

28:8 maka Esaupun menyadari, bahwa perempuan Kanaan itu tidak disukai oleh Ishak, ayahnya.

28:9 Sebab itu ia pergi kepada Ismael dan mengambil Mahalat menjadi isterinya, di samping kedua isterinya yang telah ada. Mahalat adalah anak Ismael anak Abraham, adik Nebayot.

GRUSA-GRUSU

Grusa-grusu adalah sebuah istilah yang dipakai untuk menjelaskan sikap seseorang yang serba terburu-buru dan tidak berpikir panjang dalam menyikapi sesuatu. Akibatnya, orang yang demikian kerap kali mengambil keputusan yang tidak bijaksana. Dan akhirnya, ia harus menuai masalah di kemudian hari karena keputusan tersebut.

Esau adalah seorang tokoh di Alkitab yang tercatat kerap bertindak grusa-grusu. Dalam dua bagian bacaan hari ini, kita temukan setidaknya dua tindakannya yang demikian. Pertama, tindakannya menjual hak kesulungan demi roti dan masakan kacang merah karena ia sangat lapar. Kedua, tindakannya yang grusa-grusu mengambil istri-perempuan yang tidak diperkenan orangtuanya. Akibatnya, Esau menghadapi banyak masalah dengan orangtuanya; ia meremehkan dan mencampakkan arti pentingnya berkat Allah atas hak kesulungan. Dan, bangsa Edom, keturunannya, juga terkena dampaknya.

Ada banyak sebab seseorang bertindak grusa-grusu. Bisa karena dikuasai nafsu seperti Esau, panik, percaya diri secara berlebihan, dan sebagainya. Adalah penting untuk tetap menjaga diri tidak bertindak ceroboh dalam situasi-situasi tersebut. Caranya bisa dengan menahan diri untuk tidak segera mengambil keputusan. Sebaliknya, berusaha mencari pendapat dari orang lain terlebih dahulu, terutama orang yang bersikap kritis terhadap kehidupan kita-orang-orang yang tidak segan menegur atau menasihati kita. Sebab masukan mereka sangat menolong kita melihat aspek-aspek yang sebelumnya tidak bisa kita lihat. Dengan perspektif baru ini kita dapat mengambil keputusan untuk bertindak lebih bijaksana –ALS

AMBILLAH SETIAP KEPUTUSAN

TIDAK DENGAN GRUSA-GRUSU

TETAPI DENGAN PENUH PERTIMBANGAN MATANG

Sumber : www.sabda.org

Keputusan yang Mengubahkan

PESAN GEMBALA

17 JANUARI 2010

EDISI 109 TAHUN 3

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati…Kita telah menjalani tahun 2010 selama setengah tahun, kiranya berkat-berkat Allah senantiasa menyertai kita IMANUEL…!

Dalam Yosua 2:1-21 dikisahkan disana tentang 2 orang pengintai utusan Yosua dan seorang perempuan sundal yang bernama Rahab, kesempatan ini kita lebih menyoroti Rahab, dia adalah seorang penduduk suatu negeri yang dipenuhi dengan berbagai kejahatan, dan memang demikianlah cara hidup orang Kanaan.

Tetapi saat kaum Ibrani mengalahkan Yerikho, ia mendengar tentang Allah yang benar dan hidup yaitu YEHOVA. Rahab mulai menyadari bahwa ada perbedaan antara allah-nya dengan Alah Israel. Allah Israel bukan hanya menjanjikan pertolongan tetapi juga Allah yang mampu membebaskan. Sehingga memahami bahwa ia telah diperhadapkan pada janji-janji palsu allahnya.

Allah yang didengarnya ini lebih kuat dan hebat daripada allah-allahnya. Rahab menanggapi bahwa 2 orang pengintai dari Israel itu menunjukkan adanya penyertaan Tuhan mereka, sehingga bertemu dengan dia satu-satunya penduduk Yerikho yang hatinya mau percaya.

Rahab berkata kepada kedua pengintai itu “AKU TAHU, BAHWA TUHAN TELAH MEMBERIKAN NEGERI INI KEPADA KAMU… SEBAB TUHAN ALLAHMU IALAH ALLAH DI LANGIT DI ATAS DAN DI BUMI DI BAWAH…”

Hal yang luar biasa terjadi yaitu seorang pelacur yang memiliki iman yang kuat. Kisahnya mengajarkan kita bahwa kita jangan pernah menghakimi kondisi rohani seseorang dengan pandangan yang sekilas saja. Hal ini tidak mengejutkan sebab ketika Yesus datang ke dunia ini, bukan orang-orang religius, bangsawan, atau tokoh hebat yang menerima Dia, bahkan mereka menolak Yesus, tetapi justru yang menerima adalah pemungut cukai, orang-orang sederhana bahkan orang-orang berdosa.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, masa lalu kita seringkali menentukan kemana kita akan menuju di masa yang akan datang, dan itu menolong kita untuk memutuskan apa yang harus kita kerjakan. Pengalaman kita membentuk nilai-nilai yang akan mempengaruhi keputusan kita.

Pengalaman-pengalaman itu dapat mengubah kehidupan kita dan mempersiapkan kita untuk menjalani kehidupan di masa mendatang. Rahab memiliki sebuah pilihan dari beberapa pilihan. Pilihannya yang pertama adalah pilihan yang mudah. Suara hatinya tentu mengatakan kepadanya “segalanya akan berjalan baik, hidupmu menyenangkan, maka serahkan saja kedua mata-mata itu dan kamu pasti menjadi pahlawan”. Namun kemudian Rahab berpikir kembali “apa untungnya menjadi pahlawan di kota yang jahat”.

Kita seringkali juga berpikir demikian, mungkin hidupku tidaklah berarti, mungkin aku tidak dapat berdiri dengan teguh dalam iman, tapi hidupku sudah menyenangkan, sehingga aku tidak mau melakukan sesuatu yang akan menghancurkan perahuku.

Kunci untuk menikmati kehidupan ini adalah tetap mencari keamanan bagi diri sendiri. Jadi saudara, setiap saat, menentukan/menguji kesetiaan kita. Oleh karena itu setiap kita akan diperhadapkan seperti seperti yang dialami oleh Rahab. Kepada siapakah kita akan setia? Kita dapat menjadi terkenal dan nyaman di Yerikho kita, atau kita akan maju menuju ke dalam kerajaan yang baru, suasana yang baru.

Rahab tidak melakukan dengan memilih keduanya. Dia harus memilih apakah orang Ibrani itu diserahkan dan kalah, atau Yerikho yang mengalami kehancuran, dia harus mengambil keputusan yang tepat, demikian juga kita. Ini bukanlah suatu keputusan yang mudah bagi Rahab, Yerikho adalah kota yang indah dengan pengairan yang baik, serta adanya taman-taman yang menarik, dan banyak sejarah baginya. Untuk mengambil keputusan bagi Allah, berarti ia harus bersiap menggantikan dunianya. Kemenangan orang Ibrani berarti bahwa ia harus kehilangan penghidupannya, rumahnya akan menjadi berantakan bahkan reruntuhan, walaupun ia dan keluarganya saja yang selamat.

Mengapa Rahab memilih keputusan itu dan berani melakukannya? Dimanakah ia menemukan keberanian untuk membuat lompatan iman kepada Allah yang belum dikenalnya? Surat Ibrani memberikan jawabannya kepada kita, “Dalam iman, mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikannya itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air. Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ. Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.” (Ibrani 11:13-16). “Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik.(Ibrani 11:31)..jadi dengan IMAN.

Keputusan yang menentukan dan akhirnya tidak tergoyahkan. Allah tidak pernah meninggalkan setiap kita yang datang kepada-Nya. Hal yang paling buruk dalam hidup bukanlah salah membuat keputusan, melainkan menolak untuk membuat keputusan. Semua orang percaya kepada Allah, masa lalunya telah dikuburkan di Yerikho dan telah dibangkitkan di dalam Kristus. Allah ingin menguburkan dosa-dosa dan menciptakan hidup baru dalam Kristus.

Tuhan Yesus memberkati kita semua..amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA