YANG MAHAMULIA

Minggu, 7 April 2013

Bacaan   : Yehezkiel 1:15-28

1:15. Aku melihat, sungguh, di atas tanah di samping masing-masing dari keempat makhluk-makhluk hidup itu ada sebuah roda.

1:16 Rupa roda-roda itu seperti kilauan permata pirus dan keempatnya adalah serupa; buatannya seolah-olah roda yang satu di tengah-tengah yang lain.

1:17 Kalau mereka berjalan mereka dapat menuju keempat jurusan; mereka tidak berbalik kalau berjalan.

1:18 Mereka mempunyai lingkar dan aku melihat, bahwa sekeliling lingkar yang empat itu penuh dengan mata.

1:19 Kalau makhluk-makhluk hidup itu berjalan, roda-roda itu juga berjalan di samping mereka; dan kalau makhluk-makhluk hidup itu terangkat dari atas tanah, roda-roda itu turut terangkat.

1:20 Ke arah mana roh itu hendak pergi, ke sanalah mereka pergi, dan roda-rodanya sama-sama terangkat dengan mereka, sebab roh makhluk-makhluk hidup itu berada di dalam roda-rodanya.

1:21 Kalau makhluk-makhluk hidup itu berjalan, roda-roda itu berjalan; kalau mereka berhenti, roda-roda itu berhenti; dan kalau mereka terangkat dari tanah, roda-roda itu sama-sama terangkat dengan mereka; sebab roh makhluk-makhluk hidup itu berada di dalam roda-rodanya.

1:22 Di atas kepala makhluk-makhluk hidup itu ada yang menyerupai cakrawala, yang kelihatan seperti hablur es yang mendahsyatkan, terbentang di atas kepala mereka.

1:23 Dan di bawah cakrawala itu sayap mereka dikembangkan lurus, yang satu menyinggung yang lain; dan masing-masing mempunyai sepasang sayap yang menutupi badan mereka.

1:24 Kalau mereka berjalan, aku mendengar suara sayapnya seperti suara air terjun yang menderu, seperti suara Yang Mahakuasa, seperti keributan laskar yang besar; kalau mereka berhenti, sayapnya dibiarkan terkulai.

1:25 Maka kedengaranlah suara dari atas cakrawala yang ada di atas kepala mereka; kalau mereka berhenti, sayapnya dibiarkan terkulai.

 

1:26. Di atas cakrawala yang ada di atas kepala mereka ada menyerupai takhta yang kelihatannya seperti permata lazurit; dan di atas yang menyerupai takhta itu ada yang kelihatan seperti rupa manusia.

1:27 Dari yang menyerupai pinggangnya sampai ke atas aku lihat seperti suasa mengkilat dan seperti api yang ditudungi sekelilingnya; dan dari yang menyerupai pinggangnya sampai ke bawah aku lihat seperti api yang dikelilingi sinar.

1:28 Seperti busur pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan, demikianlah kelihatan sinar yang mengelilinginya. Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN. Tatkala aku melihatnya aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang berfirman.

 

YANG MAHAMULIA

Jika kita mencoba membayangkan atau berimajinasi mengenai kemuliaan Tuhan, kita akan menemui kesulitan karena keterbatasan kita. Pengarang atau penyair terbaik sekalipun tak akan dapat mengungkapkannya dengan kata-kata. Pelukis sekaliber Picasso juga tak akan mampu menuangkannya di atas kanvas. Pencipta lagu dan penyanyi tak akan bisa melantunkannya. Pemahat patung kelas dunia pun tak akan sanggup memahat sosok mulia ilahi.

Begitu juga yang dialami Yehezkiel. Betapa ia terbata-bata ketika melihat kemuliaan Tuhan. Kemuliaan Tuhan terlalu dahsyat untuk dapat diuraikan. Tidak heran, ketika kita membaca upaya Yehezkiel menggambarkannya, semakin banyak kata digunakan justru semakin bingung kita membayangkannya. Coba bayangkan ay. 15-28a, misalnya. Sangat sulit, bukan? Karena itu, hanya satu hal yang Yehezkiel perbuat tatkala diperhadapkan pada kemuliaan Tuhan yang begitu dahsyat: sujud menyembah dalam kerendahan hati (ay. 28).

Allah yang Mahamulia, yang jauh melampaui pikiran manusia, tidak bisa digambarkan oleh apa pun di muka bumi ini. Manusialah satu-satunya ciptaan Allah yang disebut gambar Allah (Kej 1:26-27). Manusia diciptakan Allah dengan menyandang citra Allah (imago Dei), untuk menyatakan kemuliaan Allah. Nah, apakah hidup kita-perkataan, pikiran, dan perbuatan kita-sudah memuliakan Tuhan? Oleh Yesus Kristus, Sang Manusia Sejati, kita dikuduskan agar layak memuliakan Allah! –ENO

MULIAKANLAH ALLAH DENGAN SELURUH ASPEK KEHIDUPAN KITA

 KARENA HANYA DIA YANG PATUT DISEMBAH.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

BERKAT DARI KRITIK

Sabtu, 29 Desember 2012

Bacaan: Amsal 15:29-33

15:29. TUHAN itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya.

15:30. Mata yang bersinar-sinar menyukakan hati, dan kabar yang baik menyegarkan tulang.

15:31. Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak.

15:32. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.

15:33. Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.

 

BERKAT DARI KRITIK

Meskipun saya senang belajar dari masukan orang lain, pada praktiknya tidak selalu mudah mencerna dan menerimanya. Suatu kali pemimpin saya mengembalikan sejumlah naskah yang sudah saya tulis dengan susah payah disertai komentar yang intinya mengatakan bahwa naskah-naskah itu harus dirombak ulang. Spontan saya protes dan berusaha membela pendapat saya. Lucunya, ketika pikiran sudah lebih tenang, dan saya membaca ulang komentar-komentar yang diberikan, saya menemukan banyak konsep saya yang memang keliru. Sambil memperbaikinya saya bersyukur. Kritik membangun mencegah saya melakukan kesalahan yang memalukan, sekaligus membuka wawasan dan mengasah ketajaman berpikir saya.

Alkitab memperingatkan kita untuk memiliki sikap yang terbuka untuk diajar. Teguran-teguran yang dimaksudkan untuk membangun haruslah didengarkan (ayat 31). Bukan didengarkan sambil lalu, tetapi diterima dengan pikiran terbuka. Teguran yang membangun itu disamakan dengan didikan, pengajaran yang memberikan akal budi (ayat 32). Rugi besar jika kita mengabaikannya, kita sedang membuang kesempatan untuk maju. Sikap yang mau diajar adalah cerminan kerendahan hati. Jika seseorang tidak cukup rendah hati untuk menerima masukan sesama, mungkinkah ia bisa sepenuh hati mendengarkan didikan Tuhan?

Acap kali pelayanan terhambat dan hubungan dalam tubuh Kristus bermasalah karena kita menolak untuk saling mendengarkan. Kita tidak mau belajar dari orang lain yang Tuhan tempatkan di sekitar kita. Adakah noda keangkuhan hati yang mungkin perlu kita bersihkan hari ini agar kita dapat dengan jernih melihat masukan-masukan yang penuh berkat di sekitar kita? –ELS

TEGURAN YANG TULUS IBARAT PISAU OPERASI.

 DITUJUKAN UNTUK MEMPERBAIKI, BUKAN UNTUK MENYAKITI.

Dikutip : www.sabda.org

NYANYIAN YANG MENYEMBAH

Sabtu, 10 November 2012

Bacaan : Kolose 3:12-17

3:12. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

NYANYIAN YANG MENYEMBAH

Agama Kristen adalah agama yang bernyanyi. Julukan ini sangat tepat karena nyanyian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat Allah. Sekitar setengah ibadah diisi oleh musik dan nyanyian pujian. Alkitab pun memuat begitu banyak referensi tentang betapa Allah menyukai nyanyian pujian. Namun, sadarilah bahwa tindakan menyanyikan lagu rohani tidak otomatis menjadikan hal tersebut sebagai penyembahan. Seringkali kita memuji Tuhan secara lahiriah tetapi tidak benar-benar menyembah Dia.

Bilamanakah suatu nyanyian menjadi penyembahan yang menyenangkan Allah? Ada tiga hal yang dapat kita amati dari nas hari ini. Pertama, nyanyian ini harus dipersembahkan oleh orang-orang percaya. Nasihat Paulus disampaikan kepada orang-orang yang telah menerima Kristus dan dibenarkan oleh-Nya (ayat 12). Hanya orang-orang yang demikian yang dapat memuji Allah atas karya keselamatan-Nya. Orang tidak percaya bisa saja menyanyikan lagu rohani dengan baik tetapi ia tidak sedang menanggapi pribadi dan karya Allah. Ia tidak sedang menyembah Allah. Kedua, nyanyian pujian harus selaras dengan Firman. Perkataan Kristus harus melandasi dan menuntun nyanyian kita (ayat 16). Akhirnya, nyanyian pujian harus ditujukan secara sadar kepada Allah (ayat 17). Melalui nyanyian pujian, kita berkomunikasi dengan Allah.

Marilah melantunkan nyanyian pujian bukan karena kita ikut-ikutan orang lain atau hanya menjalankan kewajiban agamawi. Namun, kita bernyanyi dengan didasari oleh Firman dan iman. Niscaya, pujian kita akan memperkenankan hati-Nya. –JIM

TANPA HATI PENYEMBAHAN, ENGKAU HANYA BERMAIN MUSIK,

BUKAN MENYEMBAH! -BOB KAUFLIN

Dikutip : www.sabda.org

TELADAN

Sabtu, 22 September 2012

Bacaan : Titus 2:1-10

2:1. Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat:

2:2 Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.

2:3 Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik

2:4 dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya,

2:5 hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.

2:6 Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal

2:7 dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,

2:8 sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.

2:9 Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah,

2:10 jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.

TELADAN

Saya mengenal seorang bapak yang sangat rajin mendorong anaknya datang beribadah di gereja. Setiap Minggu pagi ia akan membangunkan anaknya, membantunya bersiap-siap, lalu mengantarnya ke sekolah minggu. Namun, setelahnya, ia sendiri tidak mengikuti kebaktian dan pergi ke tempat lain. Entah bagaimana anak ini memahami makna ibadah di gereja dengan teladan bapaknya yang demikian. Tanpa pemahaman yang benar, kemungkinan ia akan meninggalkan gereja setelah bapaknya tiada.

Sikap yang demikian tidaklah disarankan Paulus kepada Titus, anak rohaninya yang sedang melayani di Kreta. Titus dinasihatkan agar menjadi seorang yang dapat diteladani. Ia harus lebih dulu melakukan apa yang baik ketika menasihatkan orang untuk menguasai diri dalam segala hal (ayat 6).

Titus diharapkan untuk setia memberitakan firman dengan benar (ayat 8) dan juga dapat menghidupi apa yang diajarkannya, sebab pemberitaan yang keliru dan kesaksian yang buruk dari umat Tuhan akan memberi celah bagi orang untuk tidak menghormati Tuhan (bandingkan ayat 5). Sebaliknya, teladan yang diberikan dengan penuh kerendahan hati membuat lawan tak bisa mencela dan Tuhan dipermuliakan (bandingkan ayat 10).

Sudahkah kita menjadi teladan dalam pelayanan kita? Apakah ucapan dan tindakan kita sudah selaras dalam kebenaran? Adakah hal-hal yang perlu kita perbaiki agar pelayanan tidak terhalang? Dalam keterbatasan kita, menjadi teladan pasti melibatkan banyak aspek hidup pribadi yang perlu dikoreksi. Namun, jika hal itu akan membuat Tuhan makin dihormati orang, bukankah kita akan bersukacita melakukannya? –SLI

SEBAGAIMANA YANG DILAKUKAN KRISTUS,

MENJADI TELADAN BERARTI MELAKUKAN LEBIH DULU.

Dikutip : www.sabda.org

MENJADI ORANG KECIL

Selasa, 21 Agustus 2012

Bacaan : Lukas 10:21-24

10:21 Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.

10:22 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.”

10:23 Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.

10:24 Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”

 

MENJADI ORANG KECIL

“Kita bisa belajar banyak dari orang-orang kecil, ” mungkin Anda pernah mendengar kalimat bijak semacam ini. Orang kecil di sini jelas bukan berarti orang yang memiliki tubuh kecil. Maksudnya adalah orang yang sederhana, jauh dari gelimang harta, mungkin hanya pegawai rendahan yang tidak dianggap siapa-siapa. Melihat kondisi mereka, orang-orang yang memiliki taraf hidup lebih baik diingatkan untuk belajar bersyukur dan lebih menghargai apa yang mereka miliki.

Yesus juga bersukacita karena pernyataan Bapa kepada orang kecil (ayat 21). Apakah yang dimaksudkan sama dengan “orang kecil” yang biasa kita pahami? Ternyata tidak. Dalam bahasa aslinya, Yesus menggunakan kata yang berarti “anak kecil”. Melihat konteks Lukas 10, Yesus mengatakan hal ini pada waktu tujuh puluh murid-Nya kembali dari pelayanan dan berkisah bahwa mereka mengalami pernyataan kuasa Tuhan secara luar biasa (ayat 17-20). Yesus bersukacita karena pernyataan Bapa kepada mereka. Jelas mereka bukan anak kecil. Ini adalah kiasan untuk menunjukkan kerendahan hati anak kecil: bergantung penuh dan menyambut pertolongan yang dibutuhkan (bandingkan Matius 18:3; 19:14). Dengan demikian orang bijak dan orang pandai yang dikontraskan di sini dapat diartikan sebagai mereka yang sombong, mengandalkan diri sendiri, tidak butuh pertolongan Tuhan.

Bagaimana Tuhan akan menyatakan diri jika kita merasa “sudah tahu”, “sudah bisa”, dan tak mau dengan rendah hati membuka diri untuk diajar? Jika ini mewakili sikap Anda, ingatlah selalu, Tuhan bersuka cita menyatakan diri kepada orang-orang kecil. –LIT

ALLAH MENENTANG ORANG YANG CONGKAK,

TETAPI MEMBERI ANUGERAH KEPADA ORANG YANG RENDAH HATI -1 PETRUS 5:5

Dikutip : www.sabda.org

TEH YANG HAMBAR

Rabu, 11 Juli 2012

Bacaan : Yakobus 2:14-26

2:14. Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?

2:15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,

2:16 dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?

2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

2:19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.

2:20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?

2:21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?

2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.

2:23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.”

2:24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

2:25 Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?

2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

 

TEH YANG HAMBAR

Di suatu sore yang dingin, dua pemuda mampir ke angkringan memesan teh hangat. Selang beberapa menit, dua gelas teh yang masih mengepul telah terhidang. Sama persis. Setelah menyeruput sedikit, yang seorang berkata, “Kawan, sepertinya minuman kita tertukar. Teh ini rasanya hambar padahal saya memesan teh manis”. Temannya menyeruput teh di depannya, “Tapi, ini teh tawar sesuai pesanan saya. Minuman kita tidak tertukar”. Setelah diamati, minuman mereka memang tidak tertukar. Di dasar gelas pertama, ada gula setinggi satu centimeter. Gulanya belum diaduk, sehingga tehnya terasa hambar. Setelah gula itu diaduk, barulah teh manis bisa dinikmati.

Kehidupan orang kristiani juga seringkali demikian, sukar dibedakan dari yang bukan kristiani. Banyak orang nonkristiani juga percaya kepada Tuhan yang Mahaesa, rajin beribadah dan berbuat baik. Rasul Yakobus bahkan mengingatkan bahwa setan-setan pun percaya kepada Tuhan dan gemetar terhadap-Nya (ayat 18). Perbedaan baru bisa dirasakan ketika iman itu menyatu dengan perbuatan (ayat 22). Yakobus mencontohkan: ketaatan Abraham menunjukkan imannya kepada Allah yang berkuasa dan menepati janji-Nya; tindakan Rahab menunjukkan imannya kepada Allah Israel. Iman perlu “diaduk” sehingga menyatu dengan perbuatan kita sehari-hari.

Proses “diaduk” menjadi proses yang memerlukan kerendahan hati dan kerap terlewat dalam kehidupan beriman kita sehingga terkadang keberadaan kita di tengah masyarakat tak bisa memberi “rasa” apa-apa. Mari memeriksa diri: Apakah yang saya yakini tentang Allah dapat dirasakan dalam perbuatan saya? Apakah lewat perbuatan saya, orang bisa mengenali iman saya kepada Allah? –SCL

BANYAK PERBUATAN BAIK BISA DILAKUKAN TANPA IMAN KEPADA KRISTUS,

TETAPI TAK MUNGKIN KITA MENGAKU BERIMAN TANPA BERBUAT BAIK.

MARI BERENCANA

Senin, 18 Juni 2012

Bacaan : Amsal 24:1-7

24:1. Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka.

24:2 Karena hati mereka memikirkan penindasan dan bibir mereka membicarakan bencana.

 

24:3. Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan,

24:4 dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik.

24:5 Orang yang bijak lebih berwibawa dari pada orang kuat, juga orang yang berpengetahuan dari pada orang yang tegap kuat.

24:6 Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak.

 

24:7. Hikmat terlalu tinggi bagi orang bodoh; ia tidak membuka mulutnya di pintu gerbang.

 

MARI BERENCANA

Grusah-grusuh adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang menggambarkan seseorang yang bertindak tanpa pertimbangan matang; serba terburu-buru; bertindak seketika. Akibatnya, yang dikerjakan tentu tidak maksimal, bahkan sangat mungkin banyak keputusan yang kemudian disesali.

Salomo, menasihati kita dengan sebuah analogi militer: “hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang” (ayat 6). Tentara yang banyak tidak cukup, perlu perhitungan yang matang untuk mengarahkan mereka. Analogi lain adalah dalam membangun rumah, memilih benda berharga, dan memiliki wibawa (ayat 3-5). Perencanaan menunjukkan adanya hikmat, kepandaian, pengertian, dan kebijaksanaan. Salomo melanjutkan, “kemenangan tergantung kepada penasihat yang banyak.” Banyak mendengar nasihat akan memampukan seseorang membuat sebuah rencana yang baik dan matang. Salomo sendiri dikenal sebagai tokoh yang dikaruniai hikmat melebihi segala manusia yang pernah ada (lihat 1 Raja-raja 3:12). Namun rupanya, hikmat luar biasa yang diberikan Tuhan tidak membuatnya menjadi sombong dan keras kepala. Sebaliknya, hikmat memberikannya kesadaran dan kerendahan hati untuk mendengar banyak nasihat.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita hidup dengan semangat grusah-grusuh atau penuh perencanaan? Jangan biarkan hidup berlalu sia-sia karena kita lalai atau malas berencana. Rencana lahir dari hikmat, dan hikmat berasal dari takut akan Tuhan (lihat Amsal 1:7). Tuhan merindukan kehidupan kita memuliakan-Nya. Sebab itu mari mohon hikmat Tuhan untuk berencana serta kerendahan hati untuk mendengar banyak nasihat. –CAP

HIDUP BERSAMA TUHAN BUKANLAH HIDUP TANPA RENCANA,

MELAINKAN BERENCANA SESUAI KEHENDAK ALLAH.

Dikutip : www.sabda.org

MEMBACA ADIKARYA

Jumat, 2 Maret 2012

Bacaan : Yesaya 6

6:1. Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.

6:2 Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang.

6:3 Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!”

6:4 Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap.

 

6:5. Lalu kataku: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.”

6:6 Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah.

6:7 Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.”

6:8 Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”

 

6:9. Kemudian firman-Nya: “Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan!

6:10 Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh.”

6:11 Kemudian aku bertanya: “Sampai berapa lama, ya Tuhan?” Lalu jawab-Nya: “Sampai kota-kota telah lengang sunyi sepi, tidak ada lagi yang mendiami, dan di rumah-rumah tidak ada lagi manusia dan tanah menjadi sunyi dan sepi.

6:12 TUHAN akan menyingkirkan manusia jauh-jauh, sehingga hampir seluruh negeri menjadi kosong.

6:13 Dan jika di situ masih tinggal sepersepuluh dari mereka, mereka harus sekali lagi ditimpa kebinasaan, namun keadaannya akan seperti pohon beringin dan pohon jawi-jawi yang tunggulnya tinggal berdiri pada waktu ditebang. Dan dari tunggul itulah akan keluar tunas yang kudus!”

 

MEMBACA ADIKARYA

 

Saya takjub ketika membaca Les Miserables karya Victor Hugo, salah satu novel terbaik sepanjang masa. Penggambaran watak tokohnya amat detail dan konfliknya begitu memikat. Pengalaman itu mengajarkan paling tidak dua hal. Pertama, kerendahan hati: kecil sekali kemungkinannya saya mampu menggarap karya seelok itu. Kedua, meningkatkan citarasa sastrawi, membuat saya ingin membaca lebih banyak adikarya lainnya.

Yesaya mengalami hal yang jauh lebih hebat dari membaca novel adikarya: ia memandang kemuliaan Tuhan! Dan, pengalaman dahsyat itu mengubah hidupnya secara radikal. Menyaksikan kemuliaan Tuhan Yang Mahakudus, segera ia tersadar akan kenajisannya sebagai makhluk berdosa (ayat 5). Syukurlah, kemuliaan Tuhan itu sekaligus menjadi jawaban bagi keberdosaannya: perjumpaan ilahi itu menyucikan dirinya (ayat 6-7). Berbekal pengudusan dan kerendahan hati, Yesaya pun siap menjadi utusan Tuhan (ayat 8), menjalankan amanat yang Dia berikan (ayat 9-13).

Bagaimana kita melawan dosa? Cobalah membaca satu atau beberapa ayat yang memaparkan kemuliaan Tuhan. Hapalkanlah. Renungkanlah. Yakinilah kebenarannya. Biarlah Firman itu memenuhi pikiran dan hati kita. Mintalah pertolongan Roh Kudus untuk mengingatnya kembali di tengah kesibukan sehari-hari dan memunculkan ide untuk menerapkannya. Firman itu akan meningkatkan citarasa rohani kita; menguatkan kita untuk menepiskan tipu daya dosa; membuat kita lebih merindukan kemuliaan Tuhan daripada kesenangan duniawi; kemudian, siap menjadi utusan-Nya. –ARS

PERJUMPAAN DENGAN KEMULIAAN TUHAN

MELEMAHKAN DAYA PIKAT DOSA DALAM HIDUP KITA.

Dikutip : www.sabda.org

TUMBUH LEWAT PERSEKUTUAN

Rabu, 25 Januari 2012

Bacaan : Kolose 3:5-17

3:5. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,

3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).

3:7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.

3:8. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.

3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,

3:10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;

3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

3:12. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

TUMBUH LEWAT PERSEKUTUAN

Setelah dibaptis, Pakhomius seriusingin bertumbuh. “Bertapalah. Itu cara terampuh, ” nasihat seorang biarawan. Di tahun 315 M, tradisi bertapa memang marak. Orang memisahkan diri dari masyarakat yang korup. Menyendiri di gurun. Berdoa dan puasa. Setelah mencoba, Pakhomius merasa itu tidak tepat. “Bagaimana bisa belajar rendah hati, jika hidup sendiri? Bagaimana belajar bersabar, tanpa menjumpai sesama?” Ia pun berhenti bertapa dan mengembangkan spiritualitas persekutuan. Menurutnya, orang bertumbuh dalam pergaulan, bukan kesendirian.

Paulus memotret sifat-sifat manusia baru, antara lain: belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran (ayat 12). Ini buah kehidupan bersama. Belas kasihan dan kemurahan muncul saat melihat kebutuhan sesama. Kerendahan hati terbentuk saat menjumpai kelebihan orang lain. Kelemahlembutan dan kesabaran teruji saat berhadapan dengan hal-hal yang menyakitkan. Jemaat Kolose terdiri dari berbagai macam orang yang disatukan dalam kasih Kristus (ayat 11). Orang-orang “sulit” jelas ada (ayat 13). Namun, mereka diminta tetap bersatu (ayat 14). Tidak meninggalkan persekutuan. Di situlah terjadi proses pembentukan. Lewat konflik, orang saling menegur dan bertumbuh (ayat15-16).

Adakah orang yang kerap menjengkelkan Anda? Atau, Anda kecewa dengan perilaku orang-orang sulit di gereja? Ingatlah bahwa melalui mereka, sifat-sifat Anda kian diasah dan dibentuk Tuhan sebagai orang-orang pilihan-Nya. Jadi, bertahanlah! Sambut pembentukan Tuhan melalui persekutuan dengan hati bersyukur! –JTI

TANPA BELAJAR HIDUP SEHATI

TIADA PERTUMBUHAN IMAN SEJATI

Dikutip : www.sabda.org

BEREBUT KEPEMIMPINAN

Kamis, 15 Desember 2011

Bacaan : Matius 20:20-28

20:20. Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.

20:21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.”

20:23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”

20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.

20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;

20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

BEREBUT KEPEMIMPINAN

Perilaku anak-anak kerap membuat kita geli dan gemas. Kita memaklumi tingkah mereka sebab mereka memang tengah dalam tahap pertumbuhan dan pencarian jati diri. Akan tetapi, apabila perilaku itu terus terbawa sampai orang itu dewasa, itu bisa membuat muak. Kita menyebutnya kekanak-kanakan.

Sikap kekanak-kanakan itulah yang diperlihatkan oleh para murid ketika mempertengkarkan siapa yang lebih besar, siapa yang paling pantas memimpin, di antara mereka. Mereka ingin berada di posisi kepemimpinan, suatu posisi yang menuntut kedewasaan, tetapi mereka memandang kepemimpinan sebagai dunia yang berpusat pada aku, diriku, dan milikku. Kepemimpinan disambut sebagai wahana untuk memuaskan kepentingan dan ambisi pribadi.

Tuhan Yesus mengoreksi pandangan tersebut. Dia mengajukan cara pandang yang menjungkirbalikkan perspektif para murid. Kepemimpinan sejati tidak berfokus pada diri sendiri, tetapi pada kesejahteraan orang lain. Bekal utamanya ialah kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani sesama. Seorang pemimpin akan rela menyingkirkan kepentingan pribadinya demi memberikan sumbangsih yang bermakna bagi orang banyak. Kepemimpinan, dalam pandangan Yesus, bukan terutama mengacu pada kedudukan, melainkan pada sikap dan motivasi hati.

Bagaimana kecenderungan kita? Mengejar posisi atau mengutamakan kesediaan untuk melayani sesama? Mengincar keuntungan pribadi atau sungguh-sungguh rindu untuk memberkati orang lain, kalau perlu dengan mengorbankan kepentingan diri? Bersediakah kita merendahkan diri sebagai pelayan? –ARS

KEPEMIMPINAN ADALAH PANGGILAN YANG LUHUR DAN TINGGI

SEHINGGA UNTUK MERAIHNYA KITA HARUS MERENDAHKAN DIRI

Dikutip : www.sabda.org