INDAHNYA CINTA KITA

Senin, 5 November 2012

Bacaan : Kidung Agung 1:1-17

1:1. Kidung agung dari Salomo.

1:2. –Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur,

1:3 harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu!

1:4 Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi! Sang raja telah membawa aku ke dalam maligai-maligainya. Kami akan bersorak-sorai dan bergembira karena engkau, kami akan memuji cintamu lebih dari pada anggur! Layaklah mereka cinta kepadamu!

1:5 Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma.

1:6 Janganlah kamu perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku. Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga.

 

1:7. Ceriterakanlah kepadaku, jantung hatiku, di mana kakanda menggembalakan domba, di mana kakanda membiarkan domba-domba berbaring pada petang hari. Karena mengapa aku akan jadi serupa pengembara dekat kawanan-kawanan domba teman-temanmu?

1:8 –Jika engkau tak tahu, hai jelita di antara wanita, ikutilah jejak-jejak domba, dan gembalakanlah anak-anak kambingmu dekat perkemahan para gembala.

1:9 –Dengan kuda betina dari pada kereta-kereta Firaun kuumpamakan engkau, manisku.

1:10 Moleklah pipimu di tengah perhiasan-perhiasan dan lehermu di tengah kalung-kalung.

1:11 Kami akan membuat bagimu perhiasan-perhiasan emas dengan manik-manik perak.

1:12. –Sementara sang raja duduk pada mejanya, semerbak bau narwastuku.

1:13 Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur, tersisip di antara buah dadaku.

1:14 Bagiku kekasihku setangkai bunga pacar di kebun-kebun anggur En-Gedi.

1:15 –Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu.

1:16 –Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita.

1:17 Dari kayu aras balok-balok rumah kita, dari kayu eru papan dinding-dinding kita.

 

INDAHNYA CINTA KITA

Bukan kebetulan cinta menghinggapi manusia. Tuhanlah yang menciptakannya. Perintah pertama dan utama-Nya adalah agar manusia mencintai-Nya dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Kidung Agung adalah kitab yang paling gamblang mengekspresikan cinta, karena memang ditulis sebagai syair-syair cinta Raja Salomo. Kitab ini adalah salah satu tulisan suci yang dibacakan pada hari raya Paskah umat Yahudi. Para penafsir sepakat bahwa kitab ini memberikan model seksualitas yang sehat sebagaimana rancangan Tuhan, yaitu hubungan antara laki-laki dan perempuan (bukan antara sesama jenis), dan dinikmati dalam ikatan pernikahan yang kudus.

Meski kitab ini secara unik mengangkat hubungan kasih dalam pernikahan, ada banyak hal yang dapat direnungkan dalam konteks hubungan kita dengan Tuhan. Misalnya yang kita baca hari ini. Betapa kita terpesona melihat cinta yang berkobar hebat di antara kedua mempelai. Sosok dan keindahan dari yang terkasih membayang ke mana pun pergi (ayat 2-3, 7-8, 9-10, 12-14). Waktu-waktu bersama begitu menggairahkan, begitu dinanti (ayat 15-17). Pernahkah cinta kita kepada Tuhan berkobar sedemikian hebat?

Pikirkan saja waktu-waktu teduh kita. Apakah dilalui dengan gairah dan kerinduan untuk bertemu Tuhan? Ataukah itu rutinitas yang ingin kita lewati dengan cepat saja? Apakah keindahan pribadi dan karya Tuhan adalah hal-hal yang senang kita renungkan ketika menjalani hari-hari kita, ataukah kita terlalu sibuk untuk memikirkan-Nya? Diiringi syukur atas cinta yang Tuhan karuniakan dalam relasi kita dengan orang-orang terkasih, mari memeriksa temperatur cinta kita kepada Tuhan. –HAN

KETIKA KITA MENGASIHI TUHAN, 

KITA MERINDUKAN KEHADIRAN-NYA DAN MENIKMATI KEINDAHAN-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

MEMANDANG SALAH

Senin, 24 Oktober 2011

Bacaan : Mazmur 119:33-37 

119:33. Perlihatkanlah kepadaku, ya TUHAN, petunjuk ketetapan-ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir.

119:34 Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati.

119:35. Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya.

119:36 Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba.

119:37. Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan!

MEMANDANG SALAH

Suatu kali Bung Hatta menginginkan sebuah sepatu bermerek yang berkualitas bagus, tetapi cukup mahal. Ia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung. Namun, tabungannya selalu berkurang untuk memenuhi keperluan keluarga atau orang-orang yang meminta bantuan. Akhirnya, hingga meninggal Bung Hatta tidak pernah membeli sepatu itu. Baginya, menjadi berarti bagi keluarga dan kerabat lebih membuatnya bahagia daripada memiliki sepatu mahal.

Secara lebih dalam, pemazmur memberitahukan sumber kebahagiaan yang sesungguhnya. Dalam terjemahan Today’s English Version, Mazmur 119:35 berbunyi: “Buatlah aku taat pada perintah-perintah-Mu, karena di situlah aku menemukan kebahagiaan.” Itu sebabnya di ayat berikutnya pemazmur meminta: “Berilah saya kerinduan yang besar untuk menaati hukum-hukum-Mu, lebih besar dari keinginan saya untuk menjadi kaya” (ayat 36). Inilah yang menghindarkannya dari mengejar “hal yang hampa” (ayat 37, TB).

Sebagai sarana hidup, uang adalah benda netral. Sayang, banyak orang kemudian memandang salah. Ia mengira sumber kebahagiaannya ialah uang, agar ia dapat memiliki ini itu. Maka, ada uang, bahagia. Tak ada uang, susah, bingung, dan khawatir. Padahal semestinya tidak demikian. Kebahagiaan terjadi jika kita mengikuti kehendak Kristus dan menaati firman-Nya. Dengan begitu, secara berturutan kita akan menikmati damai, sukacita, dan hidup yang berarti. Dan, tentu saja Dia yang besar dan mengasihi kita akan mencukupkan apa yang kita perlu di hidup ini (Filipi 4:19). Kejarlah sumber bahagia yang sejati, bukan yang hampa –AW

KEMBALIKAN UANG KE POSISI SEMULA

YAKNI SEBAGAI HAMBA, BUKAN TUAN KITA

Dikutip : www.sabda.org

DOA HAMPA

Rabu, 13 Oktober 2010

Bacaan : Lukas 6:12-16

6:12. Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.

6:13 Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul:

6:14 Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus,

6:15 Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot,

6:16 Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

DOA HAMPA

Sebuah lagu lama berlirik menegur: Sering kali aku berdoa/hanya karena tak ingin dicela/Namun kini kusadar Tuhan, seharusnya ku datang/Dengan segenap rindu dari lubuk hatiku/Dengan hasrat yang tulus/Karena ku cinta pada-Mu/Tak hanya memikirkan berkat yang Kauberikan/Sungguh hanya karena ku mengasihi-Mu Yesus.

Kalau mau jujur, kerap kali yang keluar dari mulut kita adalah doa yang “sekadar berdoa”-doa sebatas menjalankan aktivitas rutin, mengucap kata-kata hafalan tanpa penghayatan, atau sekadar menunaikan kewajiban. Doa hanya karena tak mau dicela orang lain. Bahkan, kadang-kadang juga doa yang terburu-buru. Pokoknya jika sudah berdoa, hati sudah merasa tenang sebab kewajiban sudah terlaksana. Padahal, sejatinya doa tidak seperti itu. Doa harus lebih banyak berisi tentang ungkapan hati dan kasih kepada Tuhan. Dalam bacaan hari ini, Yesus berdoa semalam-malaman, sebab lewat doa, Dia menjalin hubungan dengan Bapa. Melalui doa, Dia mencurahkan isi hati-Nya dan menangkap kehendak Bapa-Nya.

Jika doa kita hanya berisi kata-kata yang kosong, maka tak ada bedanya kita berdoa seperti orang Farisi. Mereka berdoa dengan bibirnya, tetapi sebenarnya hatinya jauh dari Tuhan (Matius 7:6). Doa bukan agar dipuji orang, tetapi agar hati terarah kepada Allah. Doa bukan kewajiban, tetapi doa harus merupakan sebuah kerinduan. Jika doa hanya dilakukan karena motivasi-motivasi dangkal se-macam ini, maka akan lahir doa-doa yang hampa. Namun, jika sebuah doa lahir karena kerinduan, maka itulah yang mengetuk hati Tuhan –PK

TUHAN TAK PERNAH LUPUT MEMPERHATIKAN

DOA SEDERHANA YANG DINAIKKAN

DARI HATI YANG MENGASIHI-NYA

Sumber : www.sabda.org

DOA SEPAKAT

Pesan Gembala

28 Maret 2010

Edisi 119 Tahun 03

DOA SEPAKAT

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati. Dalam Matius 18, Yesus memberikan sebuah janji yang luar biasa kepada orang-orang percaya. Dia berkata: ”Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang daripadamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di Sorga.” (Matius 18:19).

Doa yang sepakat itulah yang membuka sumber-sumber di Sorga. Yesus berkata bahwa kita dapat memiliki “apapun juga” bila kita sepakat/sehati dalam doa. Nampaknya tidak ada kualifikasi atau batasan bila kita sehati. Dan kita perlu mempelajari sifat doa yang sehati dan bagaimana menerapkannya. Seperti setiap prinsip yang Alkitabiah, adalah sangat penting bagi kita untuk memahami dan berpegang pada konteks yang ada.

Dalam bagian pertama dari ayat 18, Yesus berbicara mengenai kedudukan dalam Kerajaan Allah, batu-batu sandungan dan domba yang hilang. Dalam ayat 15-35, Yesus mengajar mengenai mendisiplin seorang saudara seiman dan pengampunan. Yesus berkata bahwa apabila seorang saudara seiman menolak koreksi, maka kesalahannya harus diteguhkan oleh dua atau tiga orang saksi (ayat 16). Bila tidak ada pertobatan, maka seluruh jemaat harus memberikan disiplin. Dalam konteks inilah Yesus berkata bahwa apapun yang kita ikat atau lepaskan di dunia juga akan terikat atau terlepas di Surga.

“Mengikat dan melepaskan” mencakup tiga bidang yang utama.

PERTAMA, penerapan otoritas rohani atas Setan dan kerajaannya.

KEDUA, mengikat dan melepaskan orang-orang dari dosa dan kesalahan. Kita bukanlah orang-orang yang mengampuni dosa; hanya Allah yang sanggup melakukan hal iu. Meskipun demikian, bila kita menolak memberikan/membebaskan orang-orang yang telah mengakui dosa-dosanya di hadapan Allah, maka masih ada belenggu yang berakibat pada kehidupan mereka. Kita harus memberikan pengampunan atau kelepasan, sehingga Petrus memberikan pertanyaan “sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku?”

KETIGA, mengikat dan melepaskan akan mencakup jawaban atas doa. Selanjutnya Tuhan Yesus berbicara demikian: “Jika dua orang daripadamu sepakat”. Kesehatian atau kesepakatan menghasilkan jawaban atas doa yang kita naikkan, kita harus belajar sehati. Perjanjian baru memakai beberapa istilah/kata dalam bahasa Yunani bagi kata SEPAKAT.

Dalam Matius 5:25, kita disuruh untuk bedamai dengan musuh kita segera. Dalam bahasa Yunani-nya adalah EUNOEO yang artinya rekonsiliasi. Dalam I Yohanes 5:8 kita diberitahu baha Roh dan Air dan Darah. Kata Yunani-nya disini adalah EKSIS dan itu digunakan untuk menegaskan. Dalam Kisah para Rasul 15:5 kita diberitahu bahwa “perkataan para nabi sesuai satu sama lain”. Konkordasi Strong mendefinisikan kata SUMPHONEO sebagai “menjadi harmonis”. Kata yang sama digunakan dalam Matius 18:19 . Kata SUMPHONEO berasal dari kata SUM yang merupakan kata depan yang berarti bersatu dengan, dan kata PHONE yang artinya mengartikulasikan sebuah nada atau suara. Bila digabungkan kedua kata tersebut maka berkembang menjadi kata simponi yang artinya sebuah kesatuan suara yang muncul dalam dalam simponi yang sempurna.

Doa sepakat adalah kesehatian yang sempurna antara hati, kerinduan, harapan dan suara dua orang atau lebih yang sedang berdoa (dikutip dari Clarke Commentary). Selanjutnya Clarke mengatakan seperti beberapa alat musik yang dimainkan dengan penuh keahlian sangat menyukakan hati manusia. Demikian pula doa umat Allah yang harmonis menyukakan hati Tuhan. Sebuah simponi terdiri dari berbagai macam alat musik, masing-masing alat musik memiliki ciri khas dan unik, memiliki karakteristik dan suara. Meskipun demikian bila dimainkan dengan selaras maka menghasilkan musik yang indah.

Doa sepakat adalah perpaduan individu-individu yang unik dengan sebuah tujuan yang sama dalam kesatuan Roh. Jadi dibutuhkan dua orang percaya atau lebih untuk menaikkan doa sepakat. Seorang percaya tidak dapat sepakat dengan orang yang belum percaya kecuali itu adalah doa untuk keselamatan orang yang belum percaya itu. Namun bila dua atau tiga orang yang adalah umat Allah, masing-masing mengijinkan pikiran Kristus dan sifat-Nya menguasai mereka, menaikkan doa sepakat , terjadi sesuatu..!!!

Siapakah yang lebih bisa sehati, dibandingkan sepasang suami istri? Di dalam Kristus mereka menjadi satu, bukan hanya secara fisik namun juga di dalam Roh. Jemaat dan kelompok-kelompok kecil dapat menaikkan doa sepakat, namun mereka jarang bisa menandingi kesehatian sepasang suami istri Kristen yang komit. Itulah sebabnya mengapa begitu penting bagi suami istri Kristen untuk berdoa bersama. Doa mereka yang sehati dapat memindahkan gunung. Meskipun demikian mereka tetap harus memerlukan latihan bersama, sebab dengan latihan bisa membawa mereka menjadi lebih baik.

Allah sedang memulihkan doa di dalam gereja. Doa adalah alat yang penuh kuasa yang tersedia bagi kita orang percaya.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien

Gembala Sidang

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA