AYAH SEJATI

Jumat, 15 Maret 2013

Bacaan: Kejadian 7 

7:1. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.

7:2 Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya;

7:3 juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi.

7:4 Sebab tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan Aku akan menghapuskan dari muka bumi segala yang ada, yang Kujadikan itu.”

 

7:5. Lalu Nuh melakukan segala yang diperintahkan TUHAN kepadanya.

7:6 Nuh berumur enam ratus tahun, ketika air bah datang meliputi bumi.

7:7 Masuklah Nuh ke dalam bahtera itu bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya karena air bah itu.

7:8 Dari binatang yang tidak haram dan yang haram, dari burung-burung dan dari segala yang merayap di muka bumi,

7:9 datanglah sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, jantan dan betina, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh.

7:10 Setelah tujuh hari datanglah air bah meliputi bumi.

 

7:11. Pada waktu umur Nuh enam ratus tahun, pada bulan yang kedua, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit.

7:12 Dan turunlah hujan lebat meliputi bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya.

 

7:13. Pada hari itu juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan isteri Nuh, dan ketiga isteri anak-anaknya bersama-sama dengan dia, ke dalam bahtera itu,

7:14 mereka itu dan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata yang merayap di bumi dan segala jenis burung, yakni segala yang berbulu bersayap;

7:15 dari segala yang hidup dan bernyawa datanglah sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu.

7:16 Dan yang masuk itu adalah jantan dan betina dari segala yang hidup, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh.

 

7:17. Empat puluh hari lamanya air bah itu meliputi bumi; air itu naik dan mengangkat bahtera itu, sehingga melampung tinggi dari bumi.

7:18 Ketika air itu makin bertambah-tambah dan naik dengan hebatnya di atas bumi, terapung-apunglah bahtera itu di muka air.

7:19 Dan air itu sangat hebatnya bertambah-tambah meliputi bumi, dan ditutupinyalah segala gunung tinggi di seluruh kolong langit,

7:20 sampai lima belas hasta di atasnya bertambah-tambah air itu, sehingga gunung-gunung ditutupinya.

 

7:21. Lalu mati binasalah segala yang hidup, yang bergerak di bumi, burung-burung, ternak dan binatang liar dan segala binatang merayap, yang berkeriapan di bumi, serta semua manusia.

7:22 Matilah segala yang ada nafas hidup dalam hidungnya, segala yang ada di darat.

7:23 Demikianlah dihapuskan Allah segala yang ada, segala yang di muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang melata dan burung-burung di udara, sehingga semuanya itu dihapuskan dari atas bumi; hanya Nuh yang tinggal hidup dan semua yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu.

7:24 Dan berkuasalah air itu di atas bumi seratus lima puluh hari lamanya.

 

AYAH SEJATI

Paus Yohanes XXIII pernah berkata, “Seorang ayah bisa dengan mudah memiliki anak. Jauh lebih sulit bagi seorang anak untuk bisa memiliki ayah yang sejati.” Sebuah pernyataan yang menggelitik, tetapi diam-diam kita benarkan. Memang, sekadar menjadi ayah sangat berbeda dengan menjadi ayah sejati. Ayah sejati mengesampingkan kepentingan dirinya sendiri sejak ia memiliki anak. Ayah sejati mendampingi dengan kasih saat sang anak tertatih belajar menjalani hidup. Ayah sejati tak hanya mempersiapkan warisan duniawi, tetapi menurunkan iman yang membawa pada hidup kekal.

Sebagai ayah, Nuh menunjukkan tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang mengarahkan hidup seluruh keluarganya. Walau dunia tempat tinggal mereka sudah begitu kacau karena kejahatan dan ketidaktaatan, Nuh tetap bertahan hidup benar dan tidak bercela (Kej 6:9). Tentu itu bukan hal mudah baginya. Namun ia sanggup melakukannya, karena ia bergaul karib dengan Tuhan. Tak heran ia mendapat kasih karunia istimewa dari Tuhan. Dan, tak berhenti di situ saja. Ia menurunkan kepercayaannya itu kepada seluruh keluarganya. Buktinya, di tengah masyarakat yang bersikeras tak mau mendengar peringatan Nuh, istri, anak, dan menantunya masih mau percaya dan mengikutinya. Dan, ketika mereka mengikuti pimpinan Nuh, mereka pun selamat dari kebinasaan (Kej 7:23).

Para ayah, di tangan Anda ada mandat Tuhan untuk memimpin keluarga Anda pada kehidupan sejati dalam Kristus. Hiduplah karib dengan Tuhan, maka seluruh keluarga Anda akan mengikuti dengan rela, percaya, dan sukacita. –AW

KETIKA AYAH MENELADANKAN KETAATAN KEPADA TUHAN, 
MAKA KELUARGA AKAN MEMBERI RESPON YANG SEPADAN

Dikutip : www.sabda.org

INTEGRITAS SEORANG PELAYAN

Sabtu, 25 Februari 2012

Bacaan : 2 Korintus 6:1-10

6:1. Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.

6:2 Sebab Allah berfirman: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.” Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.

6:3 Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.

6:4 Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran,

6:5 dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa;

6:6 dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik;

6:7 dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela

6:8 ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai,

6:9 sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati;

6:10 sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.

INTEGRITAS SEORANG PELAYAN

Integritas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah “mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran”. Apabila disederhanakan, kurang lebih demikian artinya: apa yang kita pikirkan harus sama dengan kita katakan dan apa yang kita katakan harus sama dengan tindakan yang kita lakukan; di mana pun; kapan pun. Ini terlebih lagi berlaku di dalam pelayanan kita kepada Allah.

Paulus dan rekan-rekannya telah membuktikan integritas mereka sebagai pelayan Allah. Perhatikan frasa “dalam segala hal” dalam ayat 4. Mereka menjaga integritas dalam setiap bagian kehidupan. Mudah untuk mempraktikkan kasih, kesabaran, kemurnian, dan ketaatan pada Roh Kudus ketika situasi baik dan orang-orang menghormati kita. Akan tetapi, dapatkah sikap yang sama dipertahankan ketika kesusahan melanda, orang-orang mengumpat dan memfitnah kita, keuangan tidak lancar, dan maut mengancam? Itulah yang diteladankan Paulus dan rekan-rekannya (ayat 4-10). Dengan menjaga integritas sebagai pelayan Allah, mereka dapat mendorong jemaat untuk melakukan hal yang sama (ayat 1).

Mari memeriksa diri, apakah kita sudah menyatakan sikap sebagai pelayan Allah dalam seluruh bagian kehidupan, baik itu di rumah, gereja, lingkungan kerja, sekolah, dan masyarakat? Atau jangan-jangan, orang lain melihat kita sebagai batu sandungan? Mari belajar menjadi pelayan Allah yang berintegritas. Tidak menjadi batu sandungan, tetapi menjadi berkat bagi orang lain. –BWA

Status “Pelayan Allah” bukan hanya di dalam tembok gereja

Status itu berlaku di setiap waktu dan segala tempat

Dikutip : www.sabda.org


KRISTUS MATI GANTI KITA

Senin, 25 Juli 2011

Bacaan : 2 Korintus 5:11-21

5:11 Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang. Bagi Allah hati kami nyata dengan terang dan aku harap hati kami nyata juga demikian bagi pertimbangan kamu.

 

5:12. Dengan ini kami tidak berusaha memuji-muji diri kami sekali lagi kepada kamu, tetapi kami mau memberi kesempatan kepada kamu untuk memegahkan kami, supaya kamu dapat menghadapi orang-orang yang bermegah karena hal-hal lahiriah dan bukan batiniah.

5:13 Sebab jika kami tidak menguasai diri, hal itu adalah dalam pelayanan Allah, dan jika kami menguasai diri, hal itu adalah untuk kepentingan kamu.

5:14 Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.

5:15 Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.

 

5:16. Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.

5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

5:18 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.

5:19 Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

5:20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

 

 

KRISTUS MATI GANTI KITA

Shi Jian Feng seorang petani dari Tiongkok dijatuhi hukuman seumur hidup karena dianggap menghindar membayar biaya tol sebanyak 2.300 kali, senilai Rp5.050.000.000, 00. Namun, setelah putusan diambil, tiga hakim yang mengadili perkaranya dicopot dari jabatannya. Pasalnya, adik Jian Feng yang bernama Shi Jun Feng menyerahkan diri kepada polisi dan mengakui bahwa kakaknya itu tidak bersalah. Sang kakak hanya mengambil alih kesalahannya. Dan, Jun Feng pun mengaku telah menyuap petugas pengadilan. Mungkinkah Jian Feng meniru apa yang telah dilakukan Yesus Kristus?

Sebagai Allah Sang Putra, Yesus hadir di dunia sebagai manusia sejati yang sama dengan kita, tetapi Dia tidak berdosa (Ibrani 4:15). Karena semua orang telah jatuh ke dalam dosa maka tak seorang pun berhak menggantikan hukuman sesamanya yang berdosa. Hanya Yesus; manusia Allah itulah yang pantas menggantikannya. Dia pun memberi diri-Nya untuk mati disalibkan, menggantikan kutuk dosa semua umat manusia (2 Korintus 5:21). Dan karena Dia Allah, Yesus berhak mengampuni dosa.

Di atas salib itulah keadilan dan kasih Allah bertemu, hingga dosa seluruh umat manusia lunas terbayar. Diberkatilah orang-orang yang mau percaya dan menerima anugerah pengampunan-Nya. Agar manusia lamanya dimatikan di atas salib Kristus, dan ia menjalani hidup baru untuk Kristus yang telah menebus dosanya (ayat 14-15). Hidupnya penuh syukur, dalam persekutuan dan ketaatan kepada Allah. Hingga ia mampu membangun relasi baru dengan sesama dalam kasih, kejujuran, sikap saling mengampuni dan memberkati –SST

HANYA YESUS YANG MAU DAN MAMPU

MENGGANTIKAN POSISI KITA SEBAGAI SANG TERDAKWA DOSA

Dikutip : www.sabda.org

ANJURAN DAN LARANGAN

Rabu, 9 Februari 2011

Bacaan : 2 Raja-raja 22:8-20

8Berkatalah imam besar Hilkia, kepada Safan, panitera itu: “Telah kutemukan kitab Taurat itu di rumah TUHAN!” Lalu Hilkia memberikan kitab itu kepada Safan, dan Safan terus membacanya.

9Kemudian Safan, panitera itu, masuk menghadap raja, disampaikannyalah kabar tentang itu kepada raja: “Hamba-hambamu ini telah mengambil seluruh uang yang terdapat di rumah TUHAN dan memberikannya ke tangan para pekerja yang diangkat mengawasi rumah itu.”

10Safan, panitera itu, memberitahukan juga kepada raja: “Imam Hilkia telah memberikan kitab kepadaku,” lalu Safan membacakannya di depan raja.

11Segera sesudah raja mendengar perkataan kitab Taurat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya.

12Kemudian raja memberi perintah kepada imam Hilkia, kepada Ahikam bin Safan, kepada Akhbor bin Mikha, kepada Safan, panitera itu, dan kepada Asaya, hamba raja, katanya:

13″Pergilah, mintalah petunjuk TUHAN bagiku, bagi rakyat dan bagi seluruh Yehuda, tentang perkataan kitab yang ditemukan ini, sebab hebat kehangatan murka TUHAN yang bernyala-nyala terhadap kita, oleh karena nenek moyang kita tidak mendengarkan perkataan kitab ini dengan berbuat tepat seperti yang tertulis di dalamnya.”

14Maka pergilah imam Hilkia, Ahikam, Akhbor, Safan dan Asaya kepada nabiah Hulda, isteri seorang yang mengurus pakaian-pakaian, yaitu Salum bin Tikwa bin Harhas; nabiah itu tinggal di Yerusalem, di perkampungan baru. Mereka memberitakan semuanya kepadanya.

15Perempuan itu menjawab mereka: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel! Katakanlah kepada orang yang menyuruh kamu kepada-Ku!

16Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan malapetaka atas tempat ini dan atas penduduknya, yakni segala perkataan kitab yang telah dibaca oleh raja Yehuda;

17karena mereka meninggalkan Aku dan membakar korban kepada allah lain dengan maksud menimbulkan sakit hati-Ku dengan segala pekerjaan tangan mereka; sebab itu kehangatan murka-Ku akan bernyala-nyala terhadap tempat ini dengan tidak padam-padam.

18Tetapi kepada raja Yehuda, yang telah menyuruh kamu untuk meminta petunjuk TUHAN, harus kamu katakan demikian: Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Mengenai perkataan yang telah kaudengar itu,

19oleh karena engkau sudah menyesal dan engkau merendahkan diri di hadapan TUHAN pada waktu engkau mendengar hukuman yang Kufirmankan terhadap tempat ini dan terhadap penduduknya, bahwa mereka akan mendahsyatkan dan menjadi kutuk, dan oleh karena engkau mengoyakkan pakaianmu dan menangis di hadapan-Ku, Akupun telah mendengarnya, demikianlah firman TUHAN,

20sebab itu, sesungguhnya Aku akan mengumpulkan engkau kepada nenek moyangmu, dan engkau akan dikebumikan ke dalam kuburmu dengan damai, dan matamu tidak akan melihat segala malapetaka yang akan Kudatangkan atas tempat ini.” Lalu mereka menyampaikan jawab itu kepada raja.

ANJURAN DAN LARANGAN

Ada satu cara yang saya terapkan dalam mendidik anak. Di sebuah kertas saya menuliskan beberapa kata kunci mengenai hal-hal yang boleh dan yang tak boleh mereka lakukan. “Mengerjakan PR”, “bangun tepat waktu”, “minum susu”, adalah hal-hal yang harus dikerjakan. “Berebut mainan”, “terlalu banyak nonton televisi”, adalah aktivitas yang saya larang. Jika mereka melakukan yang dianjurkan, saya akan membawa mereka bermain keluar rumah atau membelikan buku menggambar kesukaan mereka. Sebaliknya, jika mereka melakukan apa yang dilarang, saya akan memberi mereka hukuman.

Yosia, seorang raja yang lembut hatinya, menyediakan dirinya untuk mendengar dan berusaha menaati Tuhan dengan membaca dan mempelajari Taurat yang ditemukan di rumah Tuhan. Ia mendengar dengan sungguh-sungguh apa hukuman yang Tuhan tetapkan bagi mereka yang me-ninggalkan Dia (ayat 17), dan juga apa berkat Tuhan bagi mereka yang taat (ayat 18-20). Yosia men-jadikan Taurat Tuhan sebagai cermin yang patut dipercaya tentang apa yang seharusnya dilakukan umat Tuhan, dan apa yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Kesungguhan untuk mau dikoreksi oleh Tuhan melalui firman-Nya harus kita pelihara. Kita butuh mendidik diri sendiri untuk mengikuti apa yang dianjurkan Tuhan dan menghindari apa yang dilarang oleh-Nya. Salah satu cara sederhananya: buatlah daftar apa yang Dia kehendaki untuk dilakukan dan apa yang tidak, setiap kali selesai membaca firman. Lalu taati dan kerjakan setiap hal di daftar itu dengan sabar dan setia. Biarlah firman Tuhan menjadi petunjuk hidup kita yang terutama –FZ

BERKAT DIBERIKAN SEBAGAI UPAH KETAATAN

DAN MURKA SEBAGAI UPAH PELANGGARAN

Sumber : www.sabda.org

BERPIKIR POSITIF (PART 2)

PESAN GEMBALA

28 November 2010

BERPIKIR POSITIF (PART 2)

 

Shalom…salam miracle.

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati Tuhan, kali ini kita membahas tentang berpikir positif khususnya melihat dan memanfaatkan peluang sekalipun sangat kecil. Ketika Raja Saul dan pasukannya cemas dan ketakutan menghadapi Goliat, Daud berkata: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Daud bukan hanya melihat peluang kemenangan dengan optimis. Tetapi dia memberikan dirinya untuk maju. Dia tidak mengajukan kakaknya atau menasehati Raja Saul yang perkasa untuk berani maju menghadapi Goliat. Daud bukan hanya berbicara, tetapi integritasnya, membawanya untuk membuktikan tindakan sesuai dengan ucapannya. Dia menawarkan solusi bukan hanya dengan kata-kata tapi dengan segenap kehidupannya. Di atas awan masih ada awan, dan bagi Daud di atas Goliat masih ada Tuhan yang maha besar.

 

Orang yang berpikir negatif adalah orang yang mengungkung dirinya dalam kecemasan dan ketakutan. Orang yang sedemikian akan melihat setiap masalah dari sisi kesulitan dan tantangannya. Nalar dan pikirannya tidak bisa sepenuhnya berfungsi karena telah dirongrong dan dipakai untuk memikirkan kecemasan dan ketakutannya. Saul dan bangsa Israel cemas dan ketakutan ketika melihat Goliat yang besar dan mendengar perkataan Goliat yang menghina bangsa Israel, dengan pakaian perangnya yang lengkap. Saul dan pasukannya tidak melihat peluang untuk dapat mengalahkannya.

 

Daud memiliki iman yang besar disertai dengan cara berpikir yang positif dalam menghadapi Goliat. Karena urapan Tuhan yang memenuhinya dengan kuasa, dia bisa berpikir dengan jernih dan cemerlang. Daya pikir dan nalarnya dapat digunakan sepenuhnya karena tidak dirongrong oleh kecemasan, kekuatiran, dan ketakutan. Daud beriman kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan, ditambah dengan komitmen yang tinggi. Dengan itu, Daud bisa berkonsentrasi penuh untuk melihat setiap kemungkinan yang kecil sekalipun untuk menggapai sukses dan kemenangan.

 

Daud tidak memandang kepada baju zirah, perisai, pedang, tombak, lembing dan ketopong yang dikenakan oleh Goliat. Matanya tertuju kepada Allah yang besar bukan masalah yang besar, dan dalam pikirannya berkonsentrasi akan apa yang segera dilakukan dalam pertempuran yang dihadapinya. Dengan pikiran yang jernih dan cemerlang Daud melihat satu “Titik Peluang” yang sangat kecil namun sangat vital yaitu DAHI GOLIAT. Dahi dan mata Goliat tidak tertutup oleh ketopong, dan itulah yang dilihat oleh Daud. Dia bisa melihat suatu peluang yang sangat kecil, tapi tidak hanya melihat peluang itu, namun dalam kapasitas dan kemampuan yang ada, dengan batu dan umban dia manfaatkan peluang yang kecil itu pada waktu yang tepat dan cara yang benar. Dahi itu tidak bisa ditebasnya dengan pedang, karena dia belum terlatih memakai pedang untuk perang, dan juga dia tidak membawa pedang itu. Dahi itu juga tidak dipanahnya karena dia tidak mempunyai busur dan anak panahnya. Tidak juga dihujamnya dengan tombak, karena tangannya yang kecil untuk dapat melontarkan sebuah tombak perang ke arah Goliat.

 

Daud mengambil batu dan umban yang dibawanya, dan diarahkan ke dahi Goliat sehingga terbenam ke dalam dahinya dan Goliat KNOCKED DOWN tergeletak jatuh. Daud tidak mengarahkan umbannya ke arah baju zirah yang tebal, karena bagaimana pun kerasnya pasti tidak akan menembus baju zirah Goliat. Dengan melepaskan senjata dan kemampuan kita pada sasaran yang kurang tepat kita tidak akan pernah sukses. Cara kerja ala demikian akan menciptakan orang-orang yang tampaknya bekerja keras dalam waktu kerja yang lama tetapi tidak menghasilkan sesuatu.

 

Daud memakai senjatanya yang unik dan khas walaupun sebenarnya itu tidak popular, terlebih dalam medan perang yang dahsyat. Senjata itu sesuai untuk dirinya dan sangat dikenalnya dengan baik dan dia ahli dalam menggunakannya. Banyak pekerjaan besar dimulai dengan peralatan yang sederhana dan tidak popular, namun digunakan dengan waktu yang tepat, di tempat yang tepat dan cara yang tepat. Ketika melihat peluang yang ada, Daud tidak menunda untuk memanfaatkannya. Daud segera mengayunkan umpan batu itu sekuat tenaga sehingga batu itu mengenai dahi dan masuk ke dahi Goliat. Daud memanfaatkan peluang yang tepat, berkonsentrasi, cermat dan bertindak dengan segenap kekuatan yang ada padanya. Belum tentu peluang yang sama akan datang lagi. Seorang pemenang akan segera memanfaatkan peluang yang didapatnya. Hari ini, jam sekarang ini, keadaan sekarang ini tidak akan pernah kembali lagi. Peluang tidak pernah berteriak, kitalah yang harus mencari dan memanfaatkannya. Kemenangan Daud telah dipersiapkan sejak sebelum pertarungan sampai pertarungan terjadi. Tapi memanfaatkan peluang adalah ibarat memakai kunci pintu untuk membuka pintu rumah yang menjadi tujuan dari perjalanan yang ditempuh. Alkitab menegaskan bahwa kemenangan Daud tidak didapat dengan pedang di tangan. Tetapi dengan kesederhanaan, ketaatan, mengandalkan Tuhan dan melihat serta memanfaatkan peluang yang ada.

 

SELAMAT NATAL…KASIH ALLAH MEMENUHI KITA SEMUA…

TUHAN YESUS MEMBERKATI…AMIEN

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Yesus Selalu Mengingat

Shalom…salam miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati Tuhan, dalam Mazmur 37:23-24 menyatakan “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak; sebab Tuhan menopang tangannya.

 

Allah adalah Allah yang mampu melakukan segala sesuatu dan tidak pernah akan gagal, sebab Dialah sumber keberhasilan. Tetapi bagaimana dengan kenyataan kehidupan kita yang disebut “anak-anak Tuhan”. Kenyataan dalam kehidupan kita sering menunjukkan kegagalan atau ada saat-saat dimana kita gagal. Yesus tidak pernah gagal, namun Yesus memperhitungkan kegagalan. Itulah sebabnya Ia dengan penuh kasih berkata “apabila ia jatuh, tidak sampai tergeletak; sebab Tuhan menopang tangannya!”.

 

Cobalah bertanya kepada olahragawan atau pelari yang sedang bertanding, dalam beberapa detik bisa membuat kegagalan untuk meraih kemenangan di atas garis finish. Hal ini juga sering terjadi dalam pelayanan seorang pendeta.

 

Suatu kali ada seorang pendeta yang mengakui bahwa telah melakukan yang terbaik yang mampu ia lakukan, ia telah menyemangati jemaat untuk semakin dekat dengan Tuhan dengan tidak meninggalkan persekutuan dan ibadah, melakukan banyak kegiatan kerohanian, namun jumlah kehadiran dalam gereja tidak bertambah atau banyaknya kursi yang kosong. Kemudian ia dikuatkan oleh hamba Tuhan yang lain bahwa yang terbaik adalah telah coba melakukannya, sebab kegagalan sesungguhnya adalah terletak pada tidak mencoba.

 

Dalam pandangan Alkitab yang berasal dari Firman Allah bahwa menang dapat dilihat dalam kesetiaan, ketaatan, dan semangat untuk melanjutkan. Anak-anak Allah memiliki kelebihan yang dunia tidak miliki. “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita” Roma 8:37. Kita bukanlah pemenang-pemenang biasa, namun lebih daripada pemenang. Ini memberi kita semangat untuk bergerak maju. Hanya sedikit yang sudah belajar untuk memberi diri mereka hak untuk jatuh dan gagal. Hampir segala sesuatu dalam kehidupan kita berpotensi memiliki kekalahan, kegagalan, ketidakberuntungan. Mengalami penolakan, jatuh, gagal, mencapai tujuan, tidak mencapai target, membiarkan dosa terjadi merupakan suatu tumpukan kegagalan yang dapat menjadi dasar dimana kita dapat dengan semangat untuk mendirikan dan membangun kembali. Kemenangan dalam pengalaman-pengalaman kegagalan dari kehidupan bertujuan meneguhkan kepenuhan kita di dalam Kristus.

 

Allah tidak menjanjikan suatu kesuksesan yang mudah dan penuh. Allah menjanjikan kemenangan bahkan di dalam kehidupan yang gelap.

 

Sebagai hamba Tuhan, Saya menyadari bahwa rencana-rencana dan pemikiran-pemikiran Saya tidak selalu berada dan sesuai dengan waktu yang telah Allah tentukan, “Sebab pikiran-Ku bukanlah pikiranmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku…seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu, dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55:8-9, Saya harus belajar seperti yang Rasul Paulus katakan dan lakukan, “Menawan segala pikiran dan menaklukkan kepada Kristus.” 2 Korintus 10:5.

 

Saya memiliki mimpi dan cita-cita ketika memulai pelayanan penggembalaan 2,5 tahun yang lalu, yaitu membangun Gereja di pinggir jalan di sekitar kota Tarakan, yang mudah dijangkau oleh umat Tuhan. Gereja itu diperuntukkan untuk kemuliaan Tuhan, dan sebuah simbol kepada masyarakat bahwa banyak umat Tuhan berdoa dua puluh empat jam sehari. Saya merasa ada suatu harapan ketika orang-orang melewati gereja di daerah kampung Bugis itu akan melihat Gereja dengan salibnya, dan mengetahui bahwa Gereja itu melambangkan kehadiran Allah. Saya sampaikan mimpi ini kepada pengurus Gereja dan umat Tuhan, mereka senang. Banyak yang memberi dukungan melalui doa dan juga keuangan, sampai saat ini kadang saya terkagum-kagum karena kebaikan Tuhan melalui banyak anak-anak Tuhan yang memberkati, baik dari orang tua, anak muda, bahkan anak-anak sekolah minggu. Bukti bahwa Allah senantiasa ingat kepada umatnya.

 

Saya mengetahui ada seorang anak Tuhan yang telah memberikan persembahan pembangunan gereja, walaupun secara materi/finansialnya di mata kebanyakan orang “bukan orang berada”, namun saya melihat dia memiliki suatu kekayaan yang luar biasa, saya tahu dia dipakai oleh Tuhan untuk menjadi berkat. Saya percaya Tuhan Yesus pasti memberi pertolongan dan hikmat kepada kita semua sampai selesainya pembangunan gedung gereja tersebut.

 

Kitab 2 Samuel memuat kisah rumah impian raja Daud, temannya telah menyediakan tempat yang megah bagi Daud dan keluarganya untuk tempat tinggal. Lalu Daud menyadari bahwa tidak ada tempat bagi tabut perjanjian. Ia bertekad untuk mendirikan rumah “yang jauh lebih indah” bagi Allah. Di dalamnya akan ada tempat yang dirancang khusus untuk tabut tersebut…luar biasa. Ia mendatangkan tukang-tukang terbaik dan merancang menggunakan bahan kuat dan terbaik. Daud membagikan visinya yang indah akan suatu tempat bagi rumah Allah kepada Natan, sang nabi, seorang yang sangat istimewa dan penasehat.

 

Ketika saya memiliki visi untuk membangun gedung Gereja banyak yang memberikan dorongan “Ayo pak maju terus”, “Mari kita lakukan”, “Jangan menyerah Pak…pasti jadi..!”. Karena sempat beberapa waktu yang lalu mengalami kebimbangan terhadap proyek pembangunan ini terutama bagaimana dengan dananya, namun saya percaya Tuhan Yesus selalu ingat akan anak-anak-Nya. Allah sanggup melakukan segala perkara besar dan memakai siapa saja yang Allah kehendaki. Dari hal itu mari dukung doa terus buat pembangunan gedung Gereja dan pelayanan kita.

 

Tuhan Yesus memberkati kita semua…amien.

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

MELAYANI TUHAN

PESAN GEMBALA

02 MEI 2010

EDISI 124 TAHUN 3

MELAYANI TUHAN

Shallom…Salam miracle…

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati…Kali ini kita membahasa tentang melayani Tuhan, semua pelayanan yang kita kerjakan seharusnya tertuju kepada Allah. Dalam melayani Allah, kita mengenal siapa Allah dan apa hubungan kita dengan Dia. Sejarah mencatat bahwa ketaatan seorang bawahan atau hamba yang dengan senang dan sukarela memberikan kesetiaan, dedikasi, dan bahkan nyawanya bagi atasannya atau tuannya.

Dalam zaman Raja Alexander Agung terjadi peperangan yang sangat hebat di Sungai Granicus. Dalam peperangan tersebut Alexander Agung memimpin pasukannya, dan terjadilah peristiwa yang luar biasa ketika Raja Alexander Agung terdesak dan dalam bahaya, maka sahabatnya yang bernama Clitus, menyelamatkan nyawanya. Sahabatnya itu dengan kerelaan menyelamatkan teman sekaligus Rajanya.

Alfonso de Albuquerque sangat berdedikasi dan tetap setia kepada raja Emanuel dari Portugal, walaupun raja itu seringkali mengabaikan dia.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama dikisahkan tentang kesetiaan Daud yang melayani raja Saul, walaupun Saul dikuasai dengan iri hati dan berusaha untuk membunuh Daud berulang kali, namun Daud tetap setia dan menghormati Saul. Apabila contoh-contoh tersebut di atas dengan jelas dan berani dapat dengan setia menyerahkan diri mereka untuk melayani raja, bukankah kita harus lebih lagi melayani Allah kita yang penuh dengan kemuliaan?

Raja yang kita layani tidak lain adalah pencipta alam semesta. Dia berdaulat terhadap semua peristiwa, segala makhluk, dan manusia. Dia yang membentuk kita, mengasihi kita, dan menyelamatkan kita. Raja kita adalah Raja yang mulia, penuh hikmat, penuh kasih karunia dan kemurahan, baik, tidak berubah dan penuh kuasa.

Dalam Wahyu dikatakan demikian: “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Jika manusia mau melayani raja-raa seperti Alexander Agung, yang membiarkan egonya mendorong membunuh temannya yang telah menyelamatkan nyawanya; raja Emanuel yang mengkhianati hambanya yang setia ke dalam tangan musuhnya, apa seharusnya tanggapan kita terhadap Tuhan dan Raja?

Kita harus melayani Tuhan dengan setia..!! Dalam pencobaan di Padang Gurun, Yesus menanggapi setan dengan kata-kata: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Lukas 4:8). Dalam ketidakmengertian kita, kita memberikan hidup kita kepada pekerjaan, sambutan meriah, pengaruh, atau kepada keberuntungan. Ambisi pribadi telah merampas waktu kita dan menyakiti hati kita. Kita pikir kita dapat bermain-main dengan materialisme dan menaruh Allah di temapt yang telah kita bangun untuk Dia, tetapi itu tidak benar.

Yesus menjelaskan dengan berkata: “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13). Bodoh kalau kita mencoba membagi perhatian kita antara materialisme dan Bapa.

Allah kita adalah Allah yang cemburu, bukan cemburu yang emosional melainkan cemburu yang ditandai dengan semangat untuk melindungi suatu hubungan kasih. Betapa beruntungnya kita bahwa Allah yang cemburu meneguhkan hubungan kasih kita dengan Dia. Jika kita tidak memilikinya, maka hubungan akan berada dalam bahaya. Untuk kemuliaan-Nyalah dan untuk kebaikan kita sehingga dalam kekuatan-Nya kita mempunyai jaminan kasih-Nya.

Kita harus menanggapi apa yang Allah lakukan dan kasih-Nya kepada kita dengan tekun melayani Dia. Dalam perintahnya kepada jemaat di Roma, Paulus mendorong mereka untuk melayani dengan tekun: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Dia.” (Roma 12:11). Dengan kasih Allah dan dengan dikasihi Allah, kita melayani Dia dengan sepenuh hati, dengan ketaatan tanpa kompromi. Dalam semua yang kita lakukan, perhatian kita bukan pada penghormatan, kemakmuran atau kemasyuran, tetapi untuk menyenangkan Allah saja.

Yesus adalah teladan kita dalam ketekunan dan semangat. Setelah Dia menyucikan bait Allah dari mereka yang mengejar uang, “Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Yohanes 2:17). Seperti Yesus, kita harus dikuasai oleh keinginan untuk melayani Tuhan kita.

Bagi kita semua, baik dalam mimbar, sekolah minggu, Y4C, dan kelompok FA, harus berusaha mengenal Allah lebih sungguh dan untuk membantu orang lain memperluas pengetahuan orang lain untuk mengenal Allah. Para pelayan yang melayani membagi kehidupannya dengan Allah dalam Doa. Sehingga mampu mendorong orang lain untuk melayani Dia dengan Kasih. Sehingga perlu menjaga kehidupan dari dosa dan segala hal yang dapat menghilangkan hubungan dengan Allah, ketika orang lain jatuh dalam dosa, maka melalui pelayanan kita dapat membawa orang itu untuk bertobat dan mengakuinya di hadapan Allah. Pelayanan kepada Allah meluapkan pelayanan kepada manusia. Jemaat yang dikasihi Tuhan…Kiranya kita semua semakin dapat melayani Allah kita.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA