PENGALAMAN DIKASIHI

Minggu, 3 Juni 2012

Bacaan : 2 Timotius 1:1-18

1:1. Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus,

1:2 kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.

1:3 Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.

1:4 Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.

1:5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

1:6. Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.

1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

1:8 Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.

1:9 Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman

1:10 dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

1:11 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru.

1:12 Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

1:13 Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

1:14 Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.

1:15. Engkau tahu bahwa semua mereka yang di daerah Asia Kecil berpaling dari padaku; termasuk Figelus dan Hermogenes.

1:16 Tuhan kiranya mengaruniakan rahmat-Nya kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara.

1:17 Ketika di Roma, ia berusaha mencari aku dan sudah juga menemui aku.

1:18 Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya pada hari-Nya. Betapa banyaknya pelayanan yang ia lakukan di Efesus engkau lebih mengetahuinya dari padaku.

PENGALAMAN DIKASIHI

Saya sedih sekali ketika dalam sebuah pertemuan diakonia gereja, seorang ibu mengatakan bahwa pelayanan kepada anak-anak jalanan tak ubahnya seperti membuang garam ke laut. Pada kesempatan lain, seorang pemuda menyatakan bahwa mengajari anak-anak di daerah kumuh perkotaan sebagai suatu kegiatan yang nyaris tak memberikan kemajuan berarti. Bagi mereka, upaya besar yang diberikan bagi anak-anak ini tidak sebanding dengan hasil yang didapat.

Dalam surat pribadinya kepada Timotius, Paulus memuji iman anak rohaninya ini (ayat 2). Menariknya, Paulus mengamati kualitas iman yang tulus ikhlas semacam ini lebih dulu ada di dua generasi di atasnya (ayat 5). Anak-anak berisiko dalam kasus di atas tak seberuntung Timotius. Timotius memiliki sang nenek, Lois, serta ibunya, Eunike, yang kehidupan imannya berimbas nyata membentuk imannya. Selain itu, Timotius juga memiliki Paulus yang memuridkan, meneguhkan, dan memberi teladan padanya (ayat 6-18).

Di dunia ini ada begitu banyak anak yang tidak memiliki orang dan lingkungan yang membentuk mereka menjadi pribadi yang baik. Hari demi hari mereka dipaparkan pada kehidupan penuh risiko kekerasan, pelecehan, dan eksploitasi. Tak mengherankan jika suatu saat mereka menjadi korban sekaligus pelaku kejahatan. Kita punya banyak kesempatan mendoakan dan mewujudkan kehadiran kerajaan Allah di antara mereka. Seperti apa yang diperbuat nenek Lois, ibu Eunike, dan Paulus pada Timotius, mari bergerak memberi ruang dan pengalaman dikasihi bagi bagi anak-anak yang kurang beruntung. –SCL

PENGALAMAN DIKASIHI DAN DIBIMBING PADA MASA KECIL

ADALAH BEKAL MENGASIHI DAN MELAYANI SEUMUR HIDUP.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

Kekuatan, Kasih dan Pikiran Jernih

PESAN GEMBALA

14 MARET 2010

EDISI 117 TAHUN 3

Shalom… Salam Miracle.

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati, Rasul Paulus mengatakan kepada anak rohaninya Timotius demikian:”Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan melainkan roh kekuatan, kasih dan ketertiban.” (II Timotius 1:7). Allah telah memberikan roh kuasa, roh kasih dan roh ketertiban yang diterjemahkan lebih jauh adalah roh yang menghasilkan pikiran yang jernih bagi kita. Tiga hal ini tidak terdaftar secara kebetulan. Tiga hal itulah yang membuat kita tidak seharusnya mengalami ketakutan.

Alkitab berkata bahwa Allah tidak memberikan roh ketakutan kepada kita, oleh karena itu tidak perlu kita memilikinya. Bila Ia memberikan kepada kita, maka kita harus menerimanya. Bila kita mengusir ketakutan dari kehidupan kita, maka kita akan memiliki kekuatan, kasih, dan ketertiban/pikiran jernih. Setan datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan (Yohanes 10:10). Ia datang untuk mencuri kekuatan kita. Ia datang untuk mencuri kejernihan pikiran kita. Ia tidak ingin pikiran kita menjadi jernih atau tertib. Ia ingin pikiran kita dipenuhi oleh mimpi-mimpi dan bayangan-bayangan yang buruk sehingga kita tidak dapat berpikir jernih, sehingga kita tidak dapat menjalankan fungsi di bumi. Itu adalah rencana setan.

Yesus datang supaya kita mempunyai hidup dan mempunyainya dengan kelimpahan. Kata “hidup” dalam Yohanes 10:10 dalam teks Yunaninya adalah “zoe” yang artinya kehidupan yang dimiliki Allah. Yesus berkata, “Aku datang supaya engkau dapat memiliki kehidupan yang dimiliki Allah supaya engkau memiliki jenis kehidupan yang dimiliki Allah supaya engkau hidup seperti Allah hidup.” Allah senantiasa rindu supaya manusia hidup seperti Ia hidup. Kita melihat kerinduan itu diekspresikan dalam Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu. Allah memegang kendali dan Ia ingin manusia memegang kendali. Ia mengendalikan alam semesta, dan umat manusia memegang kendali atas bumi. Allah memberikan kekuasaan kepada manusia. Kekuasaan adalah hak dan kuasa untuk memerintah serta menguasai. Kita telah diberi hak oleh Allah untuk menjalani kehidupan yang penuh kuasa, kasih dan memiliki ketertiban/pikiran jernih.

Ketakutan masuk ke dalam diri manusia di taman Eden ketika Adam dan Hawa melakukan dosa pengkhianatan. Iman yang ada dalam diri mereka berubah menjadi ketakutan. Keyakinan terhadap Allah yang mereka miliki diganti dengan ketakutan. Keyakinan terhadap Allah yang mereka miliki diganti dengan ketakutan. Setelah Adam dan Hawa berbuat dosa, mereka mendengar suara Tuhan Allah berjalan-jalan di dalam taman pada hari sejuk, dan mereka mencoba bersembunyi dari Tuhan di antara pepohonan di dalam taman. Ketakutan akan membuat kita melakukan hal-hal yang bodoh, kita tidak bertukar pendapat dengan seorang yang memiliki ketakutan di dalam hatinya. Kita tidak bertukar pikiran dengan ketakutan. Ilmu medis telah memperhitungkan hal itu. Sebagian besar dokter tidak akan mengoperasi yang sedang dilanda ketakutan, mereka akan melakukan segala usaha yang dapat mereka melakukan untuk menghibur dan menenangkan pasien, juga memberikan pengertian-pengertian yang harus dipahami si pasien. Ada survey yang menyatakan bahwa tujuh puluh lima persen (75%) orang-orang yang dirawat di rumah sakit adalah orang-orang yang dilanda ketakutan, kekuatiran dan ketegangan.

Iman adalah sebuah kekuatan dan ketakutan adalah sebuah kekuatan, keduanya memiliki potensi untuk dikembangkan. Hanya tujuh persen (7 %) dari orang-orang yang tinggal di Rusia yang benar-benar menjadi anggota partai komunis, namun dari tujuh persen itu dapat mengendalikan sembilan puluh tiga persen manusia lainnya melalui ketakutan. Mereka tidak mengendalikan melalui senjata, peluru danbom. Mereka mengendalikan manusia lainnya dengan ketakutan.

Ketakutan dapat berpindah dari seseorang kepada orang-orang lainnya. Firman Allah berkata “camkanlah apa yang kamu dengar.” (Markus 4:24). Kita harus berhati-hati dengan apa yang kita dengar. Ketakutan mengganggu kejernihan pikiran kita. Kita perlu memahami hal ini. Kita dipihak yang percaya atau di pihak yang tidak percaya. Tidak percaya bukanlah berarti tidak memiliki kepercayaan. Tidak percaya berarti mempercayai hal-hal yang salah. Kita senantiasa mempercayai sesuatu. Bila kita beriman, kita akan menang. Bila kita menyerah pada ketakutan, maka kita akan tenggelam.

Ketakutan akan menarik roh-roh Iblis. Manusia telah menemukan bahwa beberapa spesies ikan hiu dapat mencium bau darah di dalam air dari jarak satu mil, dan mereka akan mengikuti bau itu tepat di tempat yang mengeluarkan darah. Ketakutan bagaikan hal seperti itu. Roh-roh Iblis di alam rohani akan mencium adanya ketakutan dan mengikutinya hingga ke orang yang sedang dilanda ketakutan. Kemudia roh-roh itu akan menemukan apa yang ditakuti oleh orang itu, ketika orang itu mulai mengucapkannya.

Yesus berkata bahwa apa yang diucapkan mulut meluap dari hati (Matius 12:34). Kita memberitahukan hal-hal yang kita takuti kepada setan dan mereka akan pergi ke luar dan berusaha agar yang kita takuti menjadi kenyataan.

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan melainkan roh kekuatan, kasih dan ketertiban.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Memperjuangkan Kasih

PESAN GEMBALA

10 Mei 2009

Edisi 73 Tahun 2

Shallom… salam miracle, jemaat Bethany yang diberkati Tuhan.

2 Timotius 1:7 menyatakan “sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”

1 Yohanes 4:18 “Di dalam KASIH tidak ada ketakutan, kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan, sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.”

Tidak ada perlindungan yang lebih besar yang memampukan Saudara, selain tinggal di dalam kasih Allah. Di dalam kasih Allah inilah kita mendapatkan ketenangan dan tidak dapat ditembus oleh musuh. Kasih Allah mengusir dan menghalau ketakutan. Hakikat kasih bertentangan dengan hakikat ketakutan.

Sifat kasih dijelaskan dalam ayat ini:

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. “

Dari ayat-ayat tersebut kita dapat menelusuri atribut-atribut ketakutan antara lain sebagai berikut:

Ketakutan itu tidak sabar, kikir, cemburuan, memegahkan diri, sombong, kasar, mencari kepentingan diri sendiri, dan mudah marah. Ketakutan menyimpan kesalahan orang lain. Ketakutan senang bila hal buruk yang dipikirkan terjadi. Ketakutan tidak pernah melindungi, tidak percaya, tidak berharap dan tidak bertekun.

Ketakutan adalah lawan dari kasih. Kasih dan ketakutan keduanya bekerja melalui hal-hal yang tidak kelihatan. Kasih menantang kita untuk meragukan apa yang kita lihat dan mempercayai apa yang tidak kita lihat, sedangkan ketakutan mendorong kita untuk percaya apa yang kelihatan dan meragukan apa yang tidak kelihatan. Ketakutan menggantikan kasih dan kasih mencampakkan ketakutan.

Ketakutan merupakan kekuatan rohani yang langsung menentang kasih dan perlindungan Allah di dalam hidup kita. Yesus telah menaklukkan ketakutan paling besar yang dihadapi setiap orang di antar kita yaitu ketakutan akan kematian. Sebagai Imam Besar, Dia memberikan belas kasihan atas kelemahan-kelemahan kita. Ketakutan dapat membelenggu Saudara dalam perbudakan jika Saudara mengijinkannya.

Yesus menang atas setiap cengkraman ketakutan ketika Dia menyerahkan nyawa-Nya di atas kayu salib. Ketakutan selalu menyebabkan keraguan pada diri kita dalam mengenal kehendak Allah, tetapi kita dapat mengenal kehendak Allah melalui pembaharuan pikiran kita. Jika kita mengenal Allah yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna, maka kita tidak akan ragu untuk tunduk pada kehendak-Nya.

Roma 8:6 “8:6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.”

Allah menghendaki pikiran kita dikendalikan oleh Roh-Nya, bukan oleh roh ketakutan. Ketakutan akan membuat kita gelisah dan bingung terus menerus. Ketakutan tidak menghendaki kita mengalami damai. Coba kita perhatikan bahwa pikiran yang berdosa dan tidak percaya membawa pada kematian, sebaliknya Roh Allah memimpin kita pada jalan kehidupan dan damai. Allah akan menjagai kita dan memberikan damai sejahtera-Nya karena kita percaya dan memilih melakukan apa yang menjadi perintah-Nya. Atau dengan kata lain Allah akan memberikan damai sajahtera-Nya dan bukan roh ketakutan.

Memperbaharui pikiran berarti mempercayai setiap kebaikan dan kesetiaan-Nya, bahkan sewaktu kita tidak mengerti bagaimana firman-Nya akan digenapi dalam hidup kita. Dengan percaya pada apa yang tidak kita lihat dan mengerti, maka kita memadukan firman-Nya dengan iman. Inilah satu-satunya cara bagaimana firman Allah menjadi hidup dalam kita.

Pengetahuan tentang Injil tidak mempunyai nilai bagi orang-orang Israel yang mengembara di padang gurun meskipun mereka siang malam disertai hadirat Tuhan, tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari. Untuk kita sekarang, hal ini menjadi peringatan bahwa hal yang sama bisa saja terjadi kepada kita jika kita tidak waspada, untuk menerima dan mewarisi janji Allah tentang kehidupan kekal, Yesus memerintahkan:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu… dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien

Gembala Sidang

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA