PENCURI

Kamis, 23 Juni 2011

Bacaan : Yohanes 10:1-10

10:1. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok;

10:2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.

10:3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.

10:4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.

10:5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

10:6 Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.

10:7 Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu.

10:8 Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka.

10:9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.

10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

 

PENCURI

Pencurian merupakan peristiwa kriminal merugikan yang kerap terjadi di sekitar kita. Pencurian uang, kendaraan, dan harta benda lainnya. Akan tetapi, tidak ada pencuri yang lebih profesional dari Iblis. Cara kerjanya sangat halus dan rapi sehingga banyak orang kristiani yang menjadi target Iblis seakan-akan tidak menyadari bahwa ada begitu banyak hal di dalam hidupnya telah dicuri oleh Iblis. Mereka baru menyadari ketika segala sesuatu sudah habis. Apa saja yang kerap dicuri oleh Iblis?

Kegembiraan: Iblis ingin mencuri sukacita kita. Keyakinan: Iblis ingin kita meragukan Allah. Pendirian: Iblis ingin kita berdiri untuk sesuatu yang kosong. Belas kasihan: Iblis ingin kita menjadi egois, tidak memedulikan orang lain. Komitmen: Iblis ingin kita menjadi orang yang tidak berketetapan hati. Damai sejahtera: Iblis ingin kita hidup dalam kehampaan. Kepastian: Iblis ingin kita meragukan keselamatan yang kita terima dari Yesus. Karakter: Iblis ingin kita tidak bertumbuh dalam Kristus. Kekudusan: Iblis ingin hidup kita tidak layak di hadapan-Nya. Iblis ingin mencuri segala yang baik dari hidup kita dengan cara-cara keji; membunuh dan membinasakan kita (ayat 10) jasmani dan rohani. Ini sangat kontras dengan tawaran Yesus, Gembala kita. Dia datang untuk memberikan hidup (ayat 10).

Apakah hari-hari ini kita kehilangan kasih, sukacita, damai sejahtera, komitmen, keyakinan, karakter Allah, dan sebagainya? Bisa jadi Iblis telah memanfaatkan setiap kesempatan untuk mencurinya. Mintalah kuasa Tuhan untuk merebut kembali semua “kekayaan” surgawi yang sudah dicuri Iblis –PK

IBLIS SELALU MEMANFAATKAN SITUASI DAN KONDISI

UNTUK MENCURI “KEKAYAAN” SURGAWI DALAM HIDUP KITA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

YAKIN WALAU SENDIRI

Selasa, 10 Mei 2011

Bacaan : 1 Raja-raja 18:21-39

18:21. Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.” Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun.

18:22 Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: “Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi TUHAN, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya.

18:23 Namun, baiklah diberikan kepada kami dua ekor lembu jantan; biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong-motongnya, menaruhnya ke atas kayu api, tetapi mereka tidak boleh menaruh api. Akupun akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya ke atas kayu api dan juga tidak akan menaruh api.

18:24 Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan akupun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!” Seluruh rakyat menyahut, katanya: “Baiklah demikian!”

18:25 Kemudian Elia berkata kepada nabi-nabi Baal itu: “Pilihlah seekor lembu dan olahlah itu dahulu, karena kamu ini banyak. Sesudah itu panggillah nama allahmu, tetapi kamu tidak boleh menaruh api.”

18:26 Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: “Ya Baal, jawablah kami!” Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat-jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu.

18:27 Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: “Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga.”

18:28 Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka.

18:29 Sesudah lewat tengah hari, mereka kerasukan sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian.

18:30 Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: “Datanglah dekat kepadaku!” Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan itu.

18:31 Kemudian Elia mengambil dua belas batu, menurut jumlah suku keturunan Yakub. –Kepada Yakub ini telah datang firman TUHAN: “Engkau akan bernama Israel.” —

18:32 Ia mendirikan batu-batu itu menjadi mezbah demi nama TUHAN dan membuat suatu parit sekeliling mezbah itu yang dapat memuat dua sukat benih.

18:33 Ia menyusun kayu api, memotong lembu itu dan menaruh potongan-potongannya di atas kayu api itu.

18:34 Sesudah itu ia berkata: “Penuhilah empat buyung dengan air, dan tuangkan ke atas korban bakaran dan ke atas kayu api itu!” Kemudian katanya: “Buatlah begitu untuk kedua kalinya!” Dan mereka berbuat begitu untuk kedua kalinya. Kemudian katanya: “Buatlah begitu untuk ketiga kalinya!” Dan mereka berbuat begitu untuk ketiga kalinya,

18:35 sehingga air mengalir sekeliling mezbah itu; bahkan parit itupun penuh dengan air.

18:36 Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: “Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.

18:37 Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.”

18:38 Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.

18:39 Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: “TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!”

 

YAKIN WALAU SENDIRI

Pertarungan antara satu orang versus empat ratus lima puluh orang hendak digelar-untuk memenangkan hati sebuah bangsa. Sangat tidak imbang. Di atas kertas, yang satu orang tentu tak berdaya. Apalagi, bangsa yang diperebutkan sudah cenderung berpihak pada yang mayoritas.

Begitulah ketika Elia menantang 450 nabi Baal di gunung Karmel, untuk menunjukkan di hadapan bangsa Israel, siapa Tuhan. Apakah Baal, atau Allah Israel. Mereka sepakat mempersiapkan korban bakaran tanpa api, lalu masing-masing akan meminta api kepada kuasa yang mereka percayai sebagai Tuhan (ayat 23, 24). Sejak pagi, para nabi Baal mulai meminta api kepada allah mereka. Namun sampai petang, bahkan sampai mereka melukai diri “… tidak ada suara, tidak ada yang menjawab …” (ayat 26).

Lalu ketika tiba giliran Elia, ia maju dengan keyakinan penuh. Walau sendirian, ia tahu Tuhannya hidup. Ia percaya Tuhannya adalah Tuhan yang benar. Ia tak ragu sedikit pun Tuhannya dahsyat. Itu sebabnya ia bahkan meminta orang menyiram potongan lembu korbannya dengan air-12 buyung penuh (ayat 34)! Dan, ia hanya perlu berdoa dengan lembut. Maka, Tuhannya yang hidup mendengar dan menjawab doanya dengan ajaib (ayat 38). Hingga seluruh Israel kembali sujud kepada Tuhan.

Keyakinan Elia kepada Tuhan tak digoyahkan oleh sedikitnya pendukung yang berpihak kepadanya. Tak dilemahkan oleh ancaman maupun tantangan yang menghadang. Keyakinan seperti ini dapat kita miliki juga bila jika mau terus bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Tuhan. Dengan terus setia mempelajari firman-Nya. Dan, dengan terus melibatkan Tuhan ketika menjalani hidup ini –AW

JANGAN BURU-BURU MERASA LEMAH ATAU KALAH

SEBAB KITA SELALU DAPAT MENGANDALKAN ALLAH

Dikutip : www.sabda.org

HIDUP OLEH IMAN

Jumat, 6 Agustus 2010

Bacaan : Roma 1: 15-17

1:15 Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.

1:16. Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.

1:17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

HIDUP OLEH IMAN

Hidup oleh iman”. Kita kerap mendengar slogan ini, bahkan mungkin terlalu sering. Apa sebenarnya artinya? Acap kali orang menjawab, “artinya kalau saya beriman, saya akan hidup.” Apa artinya hidup? “Ya, saya masuk surga kalau saya mati nanti. Pokoknya saya percaya Yesus itu Tuhan, masuk surga, selesai sudah.”

Itu benar-kita diselamatkan karena kasih karunia oleh iman. Namun, tentu tidak selesai di situ. Apabila keselamatan semata urusan masuk surga, kenapa kita masih hidup sekarang, tidak mati saja, supaya langsung masuk surga? Atau mungkin ada yang mengatakan, beriman itu pokoknya percaya Yesus itu Tuhan, titik. Bagaimana saya hidup, itu urusan lain. Kalau begitu, iman jenis ini cuma soal menghafal dalam pikiran seperti menghadapi ujian di sekolah.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma meminta supaya kita hidup oleh iman. Kata asli yang digunakan untuk “hidup” (ayat 17) di sini sebetulnya berbicara tentang suatu kekuatan, daya yang terus berkelanjutan. Dengan kata lain, Paulus hendak menekankan bahwa iman ada dalam kehidupan kita sehari-hari di mana pun dan kapan pun; saat kita makan, saat kita minum, saat kita bekerja, saat kita mengambil keputusan, saat kita hendak berbelanja, saat kita hendak marah-iman memberikan “hidup” dalam hidup kita.

Contoh sederhana; soal tidur. Tanpa iman, banyak orang tidur dalam kekhawatiran, kegelisahan. Banyak orang tidur dengan hati tidak tenang, entah memikirkan pekerjaan, keuangan, dan lain-lain. Namun, iman yang membuat kita hidup adalah iman yang menjadikan kita dapat berkata seperti Daud, “Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab Tuhan menopang aku (Mazmur 3:6) –HSL

IMAN MEMBUAT HIDUP KITA JADI LEBIH HIDUP

SEHINGGA KITA DAPAT MERASAKAN KASIH TUHAN ITU CUKUP

Sumber : www.sabda.org