REFORMASI KEDUA

Senin, 26 Maret 2012

Bacaan : 1 Petrus 4:7-11

4:7. Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.

4:8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.

4:9 Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut.

4:10 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.

4:11 Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

 

REFORMASI KEDUA

Berapa banyak orang-orang percaya yang “menganggur” di kerajaan Allah? Hasil survei nasional yang dilakukan Gallup di A.S. mendapati bahwa 10% anggota gereja yang aktif melayani secara pribadi, 50% tidak tertarik untuk melayani, dan 40% tertarik untuk melayani, tetapi tidak pernah diminta atau tidak tahu bagaimana. Kira-kira bagaimana hasilnya jika penelitian yang sama juga dilakukan di gereja atau persekutuan kita?

Pesan Alkitab sangat jelas. Alkitab memerintahkan setiap orang untuk melayani (ayat 10). Itu berarti 100% orang percaya, tanpa kecuali. Penggeraknya? Kasih yang sungguh-sungguh (ayat 8). Perlengkapannya? karunia yang sudah diberikan pada setiap orang percaya (ayat 10). Tanggung jawabnya? Memakai dan mengelola karunia yang sudah dianugerahkan Tuhan, baik itu karunia dalam perkataan maupun tindakan praktis (ayat 10-11). Tujuannya akhirnya? Supaya Allah dimuliakan (ayat 11).

Tuhan dimuliakan melalui komunitas orang percaya ketika anggota-anggotanya saling melayani satu sama lain dengan kasih. Namun, dalam praktiknya bukankah di berbagai tempat kita mendapati hanya segelintir orang tertentu yang sibuk melayani dan kebanyakan jemaat sibuk mengkritik sebagai penonton? Elton Trueblood berkata: “Jika reformasi yang pertama telah mengembalikan Firman Allah kepada umat Allah, kita sekarang memerlukan reformasi kedua untuk mengembalikan pekerjaan Allah kepada umat Allah.” Elton benar. Pekerjaan Allah adalah pelayanan dari seluruh orang percaya, bukan hanya orang-orang tertentu. Mari memulai reformasi kedua ini. Dari diri sendiri. Dari komunitas terdekat kita. –JOO

RANCANGAN ALLAH:

PEKERJAAN ALLAH DIKERJAKAN

BAGI KEMULIAAN ALLAH

OLEH SELURUH UMAT ALLAH.

Dikutip : www.sabda.org

 

Iklan

ALLELON

Senin, 13 Februari 2012

Bacaan : Roma 15:1-13

15:1. Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.

15:2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.

15:3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: “Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku.”

15:4 Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.

15:5. Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus,

15:6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.

15:7. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.

15:8 Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita,

15:9 dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: “Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.”

15:10 Dan selanjutnya: “Bersukacitalah, hai bangsa-bangsa, dengan umat-Nya.”

15:11 Dan lagi: “Pujilah Tuhan, hai kamu semua bangsa-bangsa, dan biarlah segala suku bangsa memuji Dia.”

15:12 Dan selanjutnya kata Yesaya: “Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan.”

15:13. Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.

ALLELON

Dietrich Bonhoeffer memberi peringatan yang perlu kita dengar: “Orang yang tidak bisa sendiri, berhati-hatilah pada komunitas …. Orang yang tidak berkomunitas, berhati-hatilah dengan kesendirian.” Dalam tarikan ke dua arah ini, banyak orang memandang waktu sendiri bersama Tuhan sebagai hal esensial, sedangkan berkomunitas sebagai hal opsional. Benarkah Alkitab mengajarkan demikian?

Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menunjukkan betapa pentingnya hidup berkomunitas bagi orang percaya. Orang yang sudah memiliki hidup baru dalam Kristus, tidak boleh mencari kesenangan sen diri (ayat 1-3), namun harus saling rukun (ayat 5), saling menerima (ayat 7), dan saling menasihati (14). Hal ini memuliakan Tuhan (ayat 7). Kata saling atau satu sama lain, adalah terjemahan kata Yunani: allelon. Allelon menyatakan pengakuan akan keterbatasan kita untuk bisa bertumbuh sendiri, dan kesadaran akan peran yang perlu kita penuhi dalam pertumbuhan saudara seiman. Allelon mengandung makna memberi dan menerima dalam komunitas sebagai bagian esensial dari perjalanan hidup rohani pribadi kita.

Manakah kecenderungan Anda: bersendiri atau berkomunitas? Bagaimana Anda memandang komunitas: esensial atau opsional? Ketika seseorang mulai meninggalkan persekutuan orang percaya, biasanya ia juga mulai meninggalkan disiplin-disiplin rohani lainnya. Mari taati firman Tuhan dengan memberi diri untuk saling mendukung dan membangun dalam komunitas keluarga Tuhan. –JOO

Marilah kita saling memperhatikan supaya kita

saling mendorong dalam kasih dan dalam perbuatan baik (Ibrani 10:24)

Dikutip : www.sabda.org

DITAJAMKAN SESAMA

Sabtu, 12 Desember 2009

Bacaan : Amsal 27:17-19

27:17. Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.

27:18. Siapa memelihara pohon ara akan memakan buahnya, dan siapa menjaga tuannya akan dihormati.

27:19. Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.

DITAJAMKAN SESAMA

Pernahkah Anda melihat seseorang menajamkan sebilah pisau dengan cara menggosoknya dengan lempengan besi? Besi menajamkan besi. Proses penajaman itu mungkin terasa tidak enak. Timbul panas dari gesekan yang terus-menerus serta memerlukan energi. Namun, lihatlah hasilnya: pisau yang diasah menjadi semakin tajam dan dapat digunakan secara maksimal.

Gambaran ini dipakai dalam firman Tuhan untuk mengingatkan bahwa bukan hanya besi yang dapat menajamkan besi, melainkan manusia juga “menajamkan” sesamanya! Tuhan membentuk karakter seseorang tidak secara otomatis, tetapi melalui proses “penajaman” dengan melibatkan orang-orang di sekitarnya. Dalam sebuah komunitas, mungkin kita menghadapi berbagai perbedaan, kritik, atau perlakuan yang kurang menyenangkan. Namun, sadarkah kita bahwa melalui semua itu kita sedang dibentuk menjadi seorang yang tabah, tangguh, dan berprinsip?

Ada kalanya kita berdoa agar Tuhan memberi kesabaran, tetapi Dia mengizinkan seseorang menguji kesabaran kita. Ada kalanya kita berdoa agar Tuhan memberi kekuatan, tetapi Dia mengizinkan kita berhadapan dengan mereka yang mengucapkan kata-kata yang menjatuhkan semangat. Pernahkah Anda mengalami hal seperti ini? Jika ya, janganlah mengeluh dan menjadi seorang yang tidak tahan uji. Jalanilah dengan kesadaran bahwa Tuhan dapat memakai setiap orang yang kita jumpai untuk ikut “menajamkan” sisi-sisi kehidupan kita agar lebih berkualitas dan berguna. Laluilah proses penajaman dengan tegar, walau mungkin tidak mudah. Karena kita tahu bahwa dengan cara itu, kualitas hidup kita sedang dimurnikan –HA

APA YANG TIDAK KITA SUKAI DARI SESAMA

DAPAT DIPAKAI TUHAN UNTUK MENAJAMKAN KARAKTER KITA

Sumber : www.sabda.org