Doa Puasa Raya Hari Ke-40 Sabtu, 3 September 2011

revelation, dan kepandaian. Jangan ekstrim pada salah satu saja.

Mana yang kita kejar terlebih dahulu? Bersamaan, karena sejak Roh Allah

ada dalam diri kita, jangan dibiarkan saja, Roh Allah sangat gentle, tidak

memaksa. Pada waktu dunia ini kacau, karena kerjaan Lucifer, Roh Allah tinggal

di permukaan air. Waktu Roh Allah ada di bumi, semuanya rusak, gambaran

manusia yang rusak, tapi bersyukur, kemurahan Allah ada di permukaan

air, maka terjadi revelation, hikmat,kalo bumi ini terang bagus, maka Tuhan

berkata jadialah terang,kemudian Tuhan menjadikan segala sesuatunya, Roh

Allah dan hikmat Tuhan ini berjalan bersama sama. Kita semua ini gelap rusak

karena dosa, sejak ada Roh Kudus, mulailah ada hikmat. Sejak Roh Kudus

ada dalam diri saudara, yang dulu gelap menjadi terang. Segala sesuatunya

menjadi teratur. Itu kemurahan kalo ada Roh Kudus dalam diri kita. Semua

dipulihkan Tuhan, karena semua percaya Yesus Kristus.

Kata yang sangat populer adalah “selamat”. Tidak ada yang selamat kalau

tidak terima Tuhan Yesus.

Mazmur 73:22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekatMu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan

nasihat-Mu engkau menuntun aku, dan kemudian engkau mengangkat aku ke

dalam kemuliaan.

Daud ini diantara saudara-saudara nya dia simple, pengetahuan tidak terlalu

baik. Dia dibiarkan mengawasi domba-domab saja, tidak seperti kakak nya.

Kumpulannya dengan domba, seperti hewan, tapi untungnya dia dekat dengan

Tuhan, dan itu permulaan yang baik. Daud diangkat menjadi raja, karena ada

wisdom. Dia tidak tinggal diam,dia menerima wahyu Tuhan.Wisdom dari

Tuhan. Berjalan dengan hikmat Tuhan.

Belajar termasuk character building. Belajar itu penting, dengan belajar

dapat membedakan yang baik dan yang jahat.

1 Korintus 2: 6 – 9 Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di

kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini,

dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa

yang akan ditiadakan. Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang

tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah

bagi kemuliaan kita. Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya,

sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan

yang mulia. Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh

mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul

di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang

mengasihi Dia.”Gereja Bethany Indonesia |94|

Ini Wahyu. Wahyu tidak dapat disebut wisdom tanpa pengetahuan.

Hamba Tuhan yang hanya mengandalan pengetahuan Tuhan, tidak diberkati,

tapi jika mengandalkan revelation kemudian confirm, maka diberkati.

Terkadang kita rohani, kadang kita tersinggung. Waktu saya tersinggung, apa

roh kudus ada dalam diri saya? Tidak.

Orang yang biasanya penuh Roh Kudus, kalau dia tersinggung, jadi jelek.

Maka tidak dapat dipertanggungjawabkan, apakah revelation itu dari dia

sendiri. Karena posisinya tidak benar. Kalau ada nubuat, mesti diconfirm dulu

oleh teologia. Kembali ke posisi rohani kembali, perlu waktu pemulihan.

Selama ini seorang Kristen yang pandai saja, dia punya teologia, punya

program dan research, dia mempunyai program character building bagus. Itu

modal orang kristen pandai. Apa cukup? Tidak. Modal orang yang roh saja,

wahyu, visi, dipimpin Roh Kudus, punya iman dan nubuatan. Dua hal ini

digabung.

1 Korintus 2:10 Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh

Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi

dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang

terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam

dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam

diri Allah selain Roh Allah.

Sebenarnya saudara mengerti seluruh kehendak Allah. Karena Roh Kudus

pada diri saudara. Memiliki pikiran Kristus itu wisdom. Dia yang berhasil

1 Korintus 2:14 – 16 Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang

berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan

ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.

Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai

oleh orang lain. Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga

ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.

Pikiran Kristus itu membawa pada sukses, damai sejahtera, dan

bahagia.

TUHAN YeSUS MEMBeRKATI

Iklan

LAKUKAN LEBIH DULU

Senin, 22 Agustus 2011

Bacaan : Matius 7:12-14

7:12. “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

7:13 Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;

7:14 karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”

LAKUKAN LEBIH DULU

Sering orang berkata, intisari kekristenan ialah kasih. Indah, ya? Hanya masalahnya, bagaimanapun kasih adalah suatu kata benda abstrak. Kita masih punya “pekerjaan rumah”. Bagaimana mengungkapkan kasih secara membumi dalam kehidupan sehari-hari? Syukurlah, Yesus bukan hanya berwacana tentang kasih. Dia memberikan teladan. Dia juga menyampaikan petunjuk praktis. Salah satunya ialah nas hari ini, yang dikenal sebagai Kaidah Kencana. Perintah ini berlaku dalam hubungan kita dengan sesama, siapa saja, baik saudara seiman maupun bukan.

Orang kerap menyatakannya dalam bentuk negatif: “Jangan berlaku buruk terhadap sesamamu, kalau kamu tidak ingin diperlakukan secara buruk.” Yesus memilih bentuk positif untuk menegaskan signifikansinya. Lebih mudah bagi kita untuk menahan diri tidak melakukan sesuatu yang mencelakakan sesama kita. Yesus mengundang kita untuk melangkah lebih jauh: berinisiatif melakukan kebaikan kepada sesama kita. Berprakarsa memikirkan dan mengutamakan kepentingan orang lain. Istilah gaulnya, menjemput bola. “Kamu ingin dikasihi? Kasihilah orang lain lebih dulu.”

Jadi, bagaimana mengasihi orang yang Anda jumpai hari ini? Ikuti Kaidah Kencana. Bayangkanlah bila Anda berada dalam posisi orang itu, dan pikirkan bagaimana Anda ingin diperlakukan. Anda ingin disambut dengan senyuman? Tersenyumlah lebih dulu kepada orang itu. Anda ingin didengarkan? Dengarkan lebih dulu curahan hati dan keluh kesahnya. Anda ingin dimaafkan? Maafkanlah orang itu lebih dulu-bahkan sebelum ia meminta maaf. Dan seterusnya. Ya. Lakukanlah lebih dulu –ARS

KASIH ITU TIDAK PASIF MENANTI SEBALIKNYA,

IA AKTIF MEMBERI

Dikutip : http://www.sabda.org

JAYAGIRI

Sabtu, 30 Oktober 2010

Bacaan : Roma 8:18-25

8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

8:19 Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.

8:20 Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya,

8:21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.

8:22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.

8:23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

8:24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?

8:25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

JAYAGIRI

Di Lembang, Jawa Barat, ada satu hutan wisata pinus, bernama Jayagiri. Kalau kita menyusuri hutan itu dengan berjalan kaki, maka kita akan sampai ke kawasan gunung Tangkuban Perahu. Dulu semasa tinggal di Bandung, saya pernah beberapa kali pergi ke sana. Di awal perjalanan, rasanya sangat melelahkan. Sebab jalannya menanjak dan belum terlalu banyak pemandangan yang bisa dinikmati. Akan tetapi, jika kita sudah sampai di tengah hutan, perjalanan berubah mengasyikkan. Rasa lelah pun dapat dilupakan karena terobati oleh pemandangan yang indah dan kesegaran udara yang sejuk.

Itu jugalah gambaran perjalanan hidup kristiani. Hidup dalam iman kristiani memang tidak selalu mudah. Terkadang kita harus melewati jalan yang sulit; mungkin berupa kebencian dari orang-orang yang menentang kekristenan, atau aniaya, atau godaan yang bisa menggoyahkan iman. Paulus bahkan menyadari bahwa mempertahankan iman dapat mendatangkan penderitaan. Akan tetapi, penderitaan itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan kemuliaan yang disediakan bagi kita kelak. Itulah penghiburannya.

Sebenarnya godaan yang paling besar tatkala kita lelah adalah sikap bersungut-sungut. Dari situ kita akan sangat tergoda untuk berhenti saja mempertahankan iman. Bisa jadi karena kita harus meng-hadapi tekanan dan ungkapan kebencian atas iman kita. Atau, karena penghayatan iman kita disalahmengerti oleh orang lain. Apabila kita sedang mengalami hal-hal demikian, kita harus meneguh-kan hati untuk setia, sebab tidak selamanya kita akan mengalami hal-hal itu. Suatu hari kelak, dunia dan segala perilakunya akan berlalu. Dan bagi yang setia, kemuliaan besar sudah tersedia –RY

JANGAN BERHENTI MEMPERTAHANKAN IMAN ANDA

KARENA MAHKOTA KEMULIAAN MENANTI

DI AKHIR PERJALANAN

Sumber : www.sabda.org

OSCAR DAN RAZZIE

Rabu, 30 Juni 2010

Bacaan : 2 Korintus 12:1-10

12:1. Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan.

12:2 Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau–entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya–orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga.

12:3 Aku juga tahu tentang orang itu, –entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya–

12:4 ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.

12:5 Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku.

12:6 Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku.

12:7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.

12:8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.

12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

12:10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

OSCAR DAN RAZZIE

Di Hollywood, ada penghargaan bidang perfilman, yaitu Piala Oscar untuk menghargai kinerja terbaik, ada pula piala Razzie untuk mengganjar kinerja terburuk. Pada Maret 2010, Sandra Bullock menjadi aktris pertama yang mendapatkan kedua piala itu pada tahun yang sama. Ia memperoleh Razzie sebagai aktris terburuk karena penampilannya di film All About Steve, lalu meraih Oscar sebagai aktris terbaik untuk perannya di The Blind Side. Sandra memajang kedua piala itu di rak yang sama di rumahnya. Ia menganggap piala Razzie sebagai penetral yang hebat. “Piala itu mengingatkan saya agar tidak membusungkan dada menyombongkan diri.”

Kehidupan iman Paulus melewati masa-masa cerah dan juga masa-masa suram. Menurut sejumlah penafsir, “seseorang” yang disebut Paulus pada ayat 2-5 itu tidak lain adalah dirinya sendiri. Ia menjalani suatu pengalaman rohani yang dahsyat, diangkat ke Firdaus, dan mendapatkan penyataan dan penglihatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Namun, selain pengalaman hebat itu, Tuhan juga memberinya pengalaman buruk. Tidak jelas benar apa yang dimaksudkan Paulus dengan duri dalam dagingnya itu. Yang jelas, duri itu suatu kelemahan yang mencegahnya agar tidak menyombongkan diri, tetapi malah mendorongnya bersandar pada anugerah Allah.

Adakah “duri” yang terus mengganggu kita? Kita berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkannya, tetapi tidak berhasil juga. Mungkin Tuhan mengizinkannya untuk mengingatkan kita akan kemanusiaan dan kebutuhan kita akan anugerah-Nya. Seperti Paulus, kita dapat belajar menerimanya secara rela dan lapang dada –ARS

DALAM KEMURAHAN ANUGERAH TUHAN

KELEMAHAN DAPAT BERUBAH MENJADI KEKUATAN

Sumber : www.sabda.org

DOA SEPAKAT

Pesan Gembala

28 Maret 2010

Edisi 119 Tahun 03

DOA SEPAKAT

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati. Dalam Matius 18, Yesus memberikan sebuah janji yang luar biasa kepada orang-orang percaya. Dia berkata: ”Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang daripadamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di Sorga.” (Matius 18:19).

Doa yang sepakat itulah yang membuka sumber-sumber di Sorga. Yesus berkata bahwa kita dapat memiliki “apapun juga” bila kita sepakat/sehati dalam doa. Nampaknya tidak ada kualifikasi atau batasan bila kita sehati. Dan kita perlu mempelajari sifat doa yang sehati dan bagaimana menerapkannya. Seperti setiap prinsip yang Alkitabiah, adalah sangat penting bagi kita untuk memahami dan berpegang pada konteks yang ada.

Dalam bagian pertama dari ayat 18, Yesus berbicara mengenai kedudukan dalam Kerajaan Allah, batu-batu sandungan dan domba yang hilang. Dalam ayat 15-35, Yesus mengajar mengenai mendisiplin seorang saudara seiman dan pengampunan. Yesus berkata bahwa apabila seorang saudara seiman menolak koreksi, maka kesalahannya harus diteguhkan oleh dua atau tiga orang saksi (ayat 16). Bila tidak ada pertobatan, maka seluruh jemaat harus memberikan disiplin. Dalam konteks inilah Yesus berkata bahwa apapun yang kita ikat atau lepaskan di dunia juga akan terikat atau terlepas di Surga.

“Mengikat dan melepaskan” mencakup tiga bidang yang utama.

PERTAMA, penerapan otoritas rohani atas Setan dan kerajaannya.

KEDUA, mengikat dan melepaskan orang-orang dari dosa dan kesalahan. Kita bukanlah orang-orang yang mengampuni dosa; hanya Allah yang sanggup melakukan hal iu. Meskipun demikian, bila kita menolak memberikan/membebaskan orang-orang yang telah mengakui dosa-dosanya di hadapan Allah, maka masih ada belenggu yang berakibat pada kehidupan mereka. Kita harus memberikan pengampunan atau kelepasan, sehingga Petrus memberikan pertanyaan “sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku?”

KETIGA, mengikat dan melepaskan akan mencakup jawaban atas doa. Selanjutnya Tuhan Yesus berbicara demikian: “Jika dua orang daripadamu sepakat”. Kesehatian atau kesepakatan menghasilkan jawaban atas doa yang kita naikkan, kita harus belajar sehati. Perjanjian baru memakai beberapa istilah/kata dalam bahasa Yunani bagi kata SEPAKAT.

Dalam Matius 5:25, kita disuruh untuk bedamai dengan musuh kita segera. Dalam bahasa Yunani-nya adalah EUNOEO yang artinya rekonsiliasi. Dalam I Yohanes 5:8 kita diberitahu baha Roh dan Air dan Darah. Kata Yunani-nya disini adalah EKSIS dan itu digunakan untuk menegaskan. Dalam Kisah para Rasul 15:5 kita diberitahu bahwa “perkataan para nabi sesuai satu sama lain”. Konkordasi Strong mendefinisikan kata SUMPHONEO sebagai “menjadi harmonis”. Kata yang sama digunakan dalam Matius 18:19 . Kata SUMPHONEO berasal dari kata SUM yang merupakan kata depan yang berarti bersatu dengan, dan kata PHONE yang artinya mengartikulasikan sebuah nada atau suara. Bila digabungkan kedua kata tersebut maka berkembang menjadi kata simponi yang artinya sebuah kesatuan suara yang muncul dalam dalam simponi yang sempurna.

Doa sepakat adalah kesehatian yang sempurna antara hati, kerinduan, harapan dan suara dua orang atau lebih yang sedang berdoa (dikutip dari Clarke Commentary). Selanjutnya Clarke mengatakan seperti beberapa alat musik yang dimainkan dengan penuh keahlian sangat menyukakan hati manusia. Demikian pula doa umat Allah yang harmonis menyukakan hati Tuhan. Sebuah simponi terdiri dari berbagai macam alat musik, masing-masing alat musik memiliki ciri khas dan unik, memiliki karakteristik dan suara. Meskipun demikian bila dimainkan dengan selaras maka menghasilkan musik yang indah.

Doa sepakat adalah perpaduan individu-individu yang unik dengan sebuah tujuan yang sama dalam kesatuan Roh. Jadi dibutuhkan dua orang percaya atau lebih untuk menaikkan doa sepakat. Seorang percaya tidak dapat sepakat dengan orang yang belum percaya kecuali itu adalah doa untuk keselamatan orang yang belum percaya itu. Namun bila dua atau tiga orang yang adalah umat Allah, masing-masing mengijinkan pikiran Kristus dan sifat-Nya menguasai mereka, menaikkan doa sepakat , terjadi sesuatu..!!!

Siapakah yang lebih bisa sehati, dibandingkan sepasang suami istri? Di dalam Kristus mereka menjadi satu, bukan hanya secara fisik namun juga di dalam Roh. Jemaat dan kelompok-kelompok kecil dapat menaikkan doa sepakat, namun mereka jarang bisa menandingi kesehatian sepasang suami istri Kristen yang komit. Itulah sebabnya mengapa begitu penting bagi suami istri Kristen untuk berdoa bersama. Doa mereka yang sehati dapat memindahkan gunung. Meskipun demikian mereka tetap harus memerlukan latihan bersama, sebab dengan latihan bisa membawa mereka menjadi lebih baik.

Allah sedang memulihkan doa di dalam gereja. Doa adalah alat yang penuh kuasa yang tersedia bagi kita orang percaya.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien

Gembala Sidang

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Setiap Hari Menjadi Berkat

PESAN GEMBALA

24 JANUARI 2010

EDISI 110 TAHUN 3

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati, suatu kebahagiaan yang sangat besar ketika kita bisa membawa seseorang datang kepada Tuhan, dan mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dan tidak hanya sekedar menjadi orang Kristen. Namun bagi orang yang telah kita bawa untuk mengenal kebenaran yang sejati, kebahagiaannya adalah ketika bisa bertemu muka dengan muka secara pribadi dengan Tuhan, bukan melalui orang yang menuntunnya atau yang mengajarnya, tetapi ketemu secara pribadi dan memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan.

Suatu peristiwa yang sangat jelas dan menarik terjadi pada kisah seorang wanita Samaria di sumur Yakub. Kisah ini menceritakan bahwa Yesus harus melintasi Samaria, padahal ada jalur lain yang mudah ditempuh dan lebih aman secara manusia sebab terjadi pertentangan eksistensi antara orang Yahudi dengan orang Samaria, namun Yesus melalui jalur Samaria ini walau beresiko.

Ia telah mengetahui bahwa ada seorang wanita yang sangat membutuhkan pertolongan kasih-Nya, sebab ia memiliki sejarah yang gelap dengan segala kekurangan-kekurangan di masa lalu dalam hidup wanita itu.

Wanita itu memberikan air minum kepada  Yesus, sehingga Yesus meresponi demikian “jikalau engkau tahu tentang karunia Allah, dan siapa Dia yang berkata kepadamu, “berilah Aku minum!” niscaya engkau telah meminta kepadaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (Yohanes 4:10).

Yesus tahu masalahnya bukan terletak pada banyaknya ia mempunyai suami atau hubungan-hubungannya, yang sesungguhnya itu hanya gejala-gejala dari kerinduannya yang tidak ia sadari akan suatu hubungan kekal dengan satu-satunya Allah yang mampu memberikan. Suatu keputusan yang luar biasa sebab wanita Samaria itu mengambil air hidup yang ditawarkan oleh Yesus, dan akhirnya menjadi seorang pembawa berita kebenaran/keselamatan kepada kerabatnya dan tetangga-tetangganya.

Dia memberitakan “datang dan lihatlah orang ini dan terus mengatakan kepada setiap orang yang ditemuinya dalam setiap kesempatan, dia menjadi BERKAT. Semua orang di kota Samaria mengetahui siapa wanita ini yang sudah banyak berhubungan dengan banyak pria (hubungan yang negatif). Namun ketika wanita itu mengatakan tentang Yesus, maka ada keseriusan dalam perkataan wanita itu.

Saudara, setiap orang yang bertemu secara pribadi dengan Tuhan, maka akan ada sesuatu yang berbeda sebab telah diubahkan oleh Tuhan, dari kehidupan gelap menjadi terang, dari orang yang tidak dipercaya menjadi orang yang dipercaya, dari tidak dihiraukan menjadi perhatian yang baik dari banyak orang. Sehingga kerabat dan tetangga-tetangganya berdatangan untuk mengetahui apa yang telah terjadi dengan wanita tersebut dan akhirnya menjadi percaya kepada Yesus. Melalui perkataan wanita itu menjadikan banyak orang menjadi bertobat.

Yohanes menuliskannya sebagai berikut “banyak orang menjadi percaya karena perkataannya”. Mereka percaya apa yang telah didengar dari perkataan wanita itu. Namun dikonfirmasikan lewat pengalaman pribadi bersama Yesus “dan mereka berkata kepada perempuan itu, kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia” (Yohanes 4:42).

Bagi saudara yang membaca warta ini, apakah saudara mengalami perubahan ketika pertama kali bertemu Tuhan Yesus atau tidak merasakan sama sekali sesuatu yang harusnya berbeda, kalau tidak mengalami perubahan ketika pertama kali bertemu Tuhan Yesus atau tidak merasakan sama sekali sesuatu yang harusnya berbeda, kalau tidak mengalami sesuatu yang berbeda maka tidak mungkin membawa orang lain kepada Yesus Kristus .

Bagi kita yang mengalami pengalaman pribadi dengan Tuhan dan pengalaman itu adalah yang menyenangkan maka kita bisa membawa orang lain datang kepada Kristus, ketika kita menuntun orang-orang kepada Kristus, adalah penting bahwa mereka bisa melihat Dia muka dengan muka. Dan kita mengambil waktu bersama-sama dengan Dia sehingga orang-orang tahu bahwa kita telah bersama dengan Tuhan. Bersama dengan Tuhan segala sesuatu menjadi mungkin.

Dari kisah tersebut dapat kita pelajari bahwa wanita Samaria menjadi berkat bagi orang lain dan setiap orang yang telah mengenal Yesus melalui perkataan wanita itu juga menjadi berkat bagi orang lain sebab telah mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan. Mereka menjadikan setiap hari bergairah dan penuh dengan karya agung Tuhan.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, jadikanlah setiap hari dalam bulan ini dalam tahun ini menjadi berkat bagi orang lain. Seperti perempuan Samaria bertemu dengan Tuhan dan menjadikan orang lain untuk bertemu dengan Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati kita semua..amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

DIBUANG SAYANG

Sabtu, 2 Januari 2010
Bacaan : 1 Korintus 9:19-27

9:19. Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.

9:20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.

9:21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.

9:22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.

9:23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.

9:24. Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

9:25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.

9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

DIBUANG SAYANG


Di meja kerja saya ada sebuah “kotak dibuang sayang”. Di dalamnya
saya taruh banyak pena yang sudah tidak berfungsi lagi. Mau dibuang
sayang, sebab banyak di antaranya merupakan hadiah dari para
sahabat. Pena-pena itu masih indah dipajang. Lagipula punya nilai
sejarah. Jadi, saya biarkan saja mereka di sana bertahun-tahun.
Tidak bisa lagi dipakai. Sudah didiskualifikasi.

Rasul Paulus tidak mau dirinya kelak menjadi seperti pena pajangan.
Ia tidak mau dirinya nanti “ditolak” Tuhan. Maksudnya bukanlah
ditolak masuk surga, melainkan didiskualifikasi. Dipandang tidak
layak lagi dipakai sebagai alat-Nya. Dimasukkan dalam “kotak dibuang
sayang”. Itu bisa terjadi jika ia terjebak dalam kenikmatan hidup.
Sebagai pemimpin jemaat, ia memiliki banyak hak, kuasa, dan
fasilitas (1 Korintus 9:1-6,15,19). Jika semua itu yang
dipentingkan, ia akan kehilangan orientasi kepada Tuhan. Oleh sebab
itu, Paulus berupaya keras untuk “melatih dan menguasai dirinya”.
Artinya, terus menjaga kemurnian hati dalam pelayanan. Bukannya
menjadi “bos” di gereja, Paulus lebih suka belajar menjadi “hamba
bagi semua orang”, supaya Injil Kristus dapat diterima oleh sebanyak
mungkin orang.

Jika seorang kristiani tak lagi dapat berfungsi sebagai garam dan
terang, ia laksana pena pajangan yang telah kehilangan fungsinya.
Maka, jangan biarkan diri terjebak dalam kenikmatan hak, kuasa, dan
fasilitas, sampai-sampai kita hanya sibuk untuk diri sendiri. Mari
belajar mengosongkan diri, supaya Tuhan dapat efektif memakai kita
sebagai hamba-Nya. Jangan sampai kita didiskualifikasi _JTI

JANGAN PUAS MENJADI ORANG YANG DISELAMATKAN TUHAN
JADILAH ORANG YANG DIPAKAI TUHAN