KUALITAS PELAYAN KRISTEN

Sabtu, 24 Maret 2012

Bacaan : 1 Timotius 3:1-13

3:1. Benarlah perkataan ini: “Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.”

3:2 Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang,

3:3 bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang,

3:4 seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.

3:5 Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?

3:6 Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.

3:7 Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis.

 

3:8. Demikian juga diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah,

3:9 melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci.

3:10 Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat.

3:11 Demikian pula isteri-isteri hendaklah orang terhormat, jangan pemfitnah, hendaklah dapat menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal.

3:12 Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik.

3:13 Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa.

 

KUALITAS PELAYAN KRISTEN

Ketika Paulus membuat daftar kualifikasi bagi para pemimpin dan pengajar dalam jemaat, ada yang menarik dari daftar tersebut. Hanya satu keterampilan yang dirujuknya, yaitu “cakap mengajar”. Selebihnya adalah daftar karakter dan kesaksian hidup. Prinsip pelayanan seperti apa yang hendak Paulus tekankan melalui daftar tersebut?

 

Paulus melanjutkan dengan daftar kedua, yaitu bagi para diaken, orang-orang yang dipercaya memperhatikan anggota jemaat yang berkekurangan (ayat 8-13). Ternyata prinsipnya sama. Lagi-lagi karakter dan kesaksian hidup mendominasi daftarnya. Para pelayan haruslah orang yang sudah mengenal Allah (bertobat) dan bukan sekadar seorang yang suka dengan kegiatan kekristenan. Ia diharapkan memiliki waktu cukup untuk membuktikan pertobatannya terlebih dahulu sebelum diharapkan untuk melayani secara khusus di hadapan publik. Ia harus terbukti bertumbuh dan memperlihatkan watak kristiani yang baik. Mutu hidup tersebut akan menjadi kesaksian dan juga akan meminimalkan batu sandungan yang akan menghambat pelayanannya. Kehidupan yang baik akan membuat seseorang melayani dengan leluasa. Pada kenyataannya, bukankah banyak pelayanan gagal dan para pelayan tersandung karena karakter buruk dan bukan karena kurangnya keterampilan?

 

Minat dan kesediaan untuk melayani bukanlah satu-satunya kriteria bagi seorang pelayan. Justru kerinduan yang kuat untuk melayani harus dibuktikan dengan keinginan untuk memberikan yang terbaik dalam pelayanan. Apakah kita serius mengurus karakter atau cara hidup kita yang menghambat dan merusak pelayanan? Karakter dan perilaku yang manakah itu? –PBS

PELAYAN YANG MENJAGA MUTU HIDUPNYA

MENJAGA NAMA BAIK TUANNYA.

Dikutip : www.sabda.org

 

Iklan