FATAMORGANA

Kamis, 15 September 2011

Bacaan : Yesaya 41:17-29 

41:17 Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air, tetapi tidak ada, lidah mereka kering kehausan; tetapi Aku, TUHAN, akan menjawab mereka, dan sebagai Allah orang Israel Aku tidak akan meninggalkan mereka.

41:18 Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering.

41:19 Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya,

41:20 supaya semua orang melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan TUHAN yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya.

41:21. Ajukanlah perkaramu, firman TUHAN, kemukakanlah alasan-alasanmu, firman Raja, Allah Yakub.

41:22 Biarlah mereka maju dan memberitahukan kepada kami apa yang akan terjadi! Nubuat yang dahulu, beritahukanlah apa artinya, supaya kami memperhatikannya, atau hal-hal yang akan datang, kabarkanlah kepada kami, supaya kami mengetahui kesudahannya!

41:23 Beritahukanlah hal-hal yang akan datang kemudian, supaya kami mengetahui, bahwa kamu ini sungguh allah; bertindak sajalah, biar secara baik ataupun secara buruk, supaya kami bersama-sama tercengang melihatnya!

41:24 Sesungguhnya, kamu ini adalah seperti tidak ada dan perbuatan-perbuatanmu adalah hampa; orang yang memilih kamu adalah kejijikan.

41:25 Aku telah menggerakkan seorang dari utara dan ia telah datang, dari sebelah matahari terbit Aku telah memanggil dia dengan namanya. Seperti tukang periuk menginjak-injak tanah liat, demikian dia akan menginjak-injak penguasa-penguasa seperti lumpur.

41:26 Siapakah yang memberitahukannya dari mulanya, sehingga kami mengetahuinya, dan dari dahulu, sehingga kami mengatakan: “Benarlah dia?” Sungguh, tidak ada orang yang memberitahukannya, tidak ada orang yang mengabarkannya, tidak ada orang yang mendengar sepatah katapun dari padamu.

41:27 Sebagai yang pertama Aku memberitahukannya kepada Sion, dan Aku memberikan orang yang membawa kabar baik kepada Yerusalem.

41:28 Apabila Aku melihat berkeliling, maka tidak ada seorangpun, dan di antara semua mereka ini tidak ada yang dapat memberi petunjuk, atau yang dapat memberi jawab kalau Aku menanyakan mereka.

41:29 Sesungguhnya, sekaliannya mereka seperti tidak ada, perbuatan-perbuatan mereka hampa, patung-patung tuangan mereka angin dan kesia-siaan.

FATAMORGANA

Melintasi gurun adalah perjalanan yang sukar. Apalagi jika dijalani berminggu-minggu. Panas membakar dan haus yang tak tertahankan kerap membuat banyak orang disesatkan fatamorgana (bayangan semu, seperti melihat mata air).

Saat Israel hidup dalam pembuangan, hidup mereka sungguh menyesakkan seperti melintasi gurun. Namun, mereka tak “disesatkan oleh fatamorgana” sebab tangan Allah yang kuat memimpin mereka (ayat 17-19), dan bangsa-bangsa lain mengakui hal itu (ayat 20). Kuasa Allah melucuti para penguasa dunia, berhala, dan ilah-ilah dunia yang kerap menjadi “fatamorgana” penyesat manusia (ayat 21). Mereka tak dapat mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan (ayat 22-23). Mereka tak berdaya menolong diri sendiri (ayat 24). Mereka tak berdaya mencegah kuasa Allah untuk meninggikan atau merendahkan seseorang (ayat 25-27). Mereka tak mampu menyelami rencana yang sedang Allah wujudkan melalui sejarah dunia ini.

Sebagai pengembara di dunia ini, setiap orang dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, mengikuti “fatamorgana” yang menyesatkan. Yakni, mengejar kenikmatan hidup dengan memuaskan nafsu: belanja, pesta, kemakmuran, harta benda, gengsi, dan sederet ambisi lain yang dipakai orang sebagai ukuran keberhasilan dan kebahagiaan. Kedua, menjaga hidup tetap berpaut kepada Allah, serta memperhatikan dan berusaha menerapkan kebenaran firman-Nya. Pilihan pertama memberi kenikmatan, tetapi hanya sementara dan menghancurkan. Pilihan kedua memang tak mudah, karena harus melewati lorong-lorong terjal. Namun sejarah membuktikan bahwa bersama Dia, selalu ada hidup yang berkemenangan –SST

BIARLAH MATA KITA TERUS TERTUJU KEPADA YESUS TUHAN

HINGGA TAK ADA FATAMORGANA DUNIA BISA MENGALIHKAN TUJUAN

Dikutip : www.sabda.org

 

Iklan

ORANG SEDERHANA

Sabtu, 21 Mei 2011

Bacaan : 1 Korintus 1:18-31

1:18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

1:19 Karena ada tertulis: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.”

1:20 Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?

1:21 Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.

1:22 Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat,

1:23 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,

1:24 tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

1:25 Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.

1:26 Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.

1:27 Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,

1:28 dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,

1:29 supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.

1:30 Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.

1:31 Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”

ORANG SEDERHANA

Seorang doktor dimenangkan bagi Kristus ketika mendengar khotbah Dwight L. Moody. Ketika ia ditanya bagaimana hal itu terjadi, begini jawabnya, “Aku mau mendengar khotbahnya dengan maksud menertawakannya. Sebab, aku mengenalnya sebagai orang sederhana yang tak pernah mengenyam pendidikan. Aku yakin khotbahnya tidak logis dan ngawur. Tetapi ketika aku datang dalam kebaktian yang ia pimpin, aku mendapati hal yang berbeda. Ia berdiri di belakang Alkitab, dibakar oleh kekuatan firman Allah. Dan, hatiku seperti ditembak oleh firman Allah. Aku pun bertobat.”

Kita kerap kali mudah diintimidasi oleh Iblis agar tidak melayani Tuhan karena kita adalah orang yang sederhana, yang tidak punya pengalaman, atau tidak punya embel-embel titel di belakang nama kita. Jangan pernah mau diintimidasi dan ditipu iblis. Pendidikan dan kepandaian memang penting dan perlu, tetapi itu bukan segalanya. Yang terpenting, kuasa Allah menyertai pelayanan kita. Hidup kita terbuka untuk dipakai oleh Allah. Apa gunanya menjadi orang yang berhikmat, tetapi tidak memiliki kuasa Allah? Dwight L. Moody, hamba Tuhan yang sangat sederhana itu, mampu “mengguncang” dunia. Bahkan lewat hidupnya, jutaan jiwa telah dibawa kepada Kristus.

Jika kita mau menyediakan diri untuk dipakai oleh Allah, maka apa pun latar belakang hidup kita, percayalah bahwa kita dapat Dia pakai untuk memengaruhi dunia. Itulah artinya “orang yang bodoh dari Allah akan mempermalukan orang yang berhikmat dari dunia ini”. Masihkah kita ragu melayani Tuhan hanya karena kita merasa sebagai orang sederhana dan tidak berpendidikan? –PK

ALLAH BISA MEMAKAI ORANG YANG BODOH DI MATA DUNIA

UNTUK MEMPERMALUKAN YANG PALING BERHIKMAT

DARI DUNIA

Dikutip : www.sabda.org

PENGORBANAN DIRI & TEGUH HATI

PESAN GEMBALA

25 APRIL 2010

EDISI 123 TAHUN 3

PENGORBANAN DIRI & TEGUH HATI

Shallom…salam miracle, jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati. Hari ini kita akan membahas tentang dua hal yakni PENGORBANAN DIRI dan TEGUH HATI.

PENGORBANAN DIRI

Kematian Kristus adalah contoh yang paling baik dalam pengorbanan diri. Demi manusia yang terhilang, Yesus membayar harga yang tidak terbayangkan, yakni kematian dan keterpisahan dari Allah Bapa. Sebagai umat Tuhan maka kita selayaknya meneladani tindakan Yesus dalam pengorbanan. Mengesampingkan kepentingan diri untuk kebaikan orang lain, maka akan menimbulkan kepercayaan dan respek.

Kehidupan Yesus adalah peringatan sehari-hari bagi pengikut-Nya dalam hal pengorbanan diri. Yesus Kristus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (Filipi 2:5-7). Bahkan sebelum Ia meninggalkan Allah Bapa-Nya, semarak-Nya, kemuliaan-Nya, posisi-Nya, Kristus mengetahui penderitaan yang menanti diri-Nya di dunia. Dia tahu orang atau pihak-pihak yang akan menyebut-Nya sebagai pelahap, pemabuk dan penipu. Dia tahu mereka akan menolak, mengecam, memukul dan kemudian menyalibkan diri-Nya.

Dia mengorbankan segalanya bagi kita, meninggalkan contoh bagi kita mengenai apa artinya mengasihi. Dengan kuasa Roh Kudus, kita dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan orang lain, yakni melayani orang lain dengan pengorbanan diri yang sesungguhnya. Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya untuk peran masa depan mereka sebagai pemimpin Gereja, dengan mengajar mereka untuk berkorban bagi orang lain.

Dia mengajar untuk menerima sikap orang Samaria yang baik yang memperhatikan kebutuhan orang lain (Lukas 10:25-37). Jika mereka mengikut Dia, mereka harus menyangkal diri mereka. “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 16:25). Pengorbanan diri saat ini akan mendatangkan keuntungan di masa mendatang. Pengorbanan diri bukanlah sifat alami manusia, tetapi datang hanya dari kuasa Allah di dalam kita. Bagi orang percaya yang mempunyai kedewasaan rohani untuk pengorbanan diri, akan memperoleh hormat dan kepercayaan dari orang lain.

TEGUH HATI

Sebagai umat pilihan Allah, jangan sampai salah mengartikan kelemahan sebagai lemah lembut. Orang yang teguh hati adalah orang yang bersedia menyerahkan dirinya kepada resiko pribadi yang besar untuk mencapai tujuan Allah. Melalui teladan-Nya Yesus mengajarkan keberanian kepada murid-murid-Nya sebagaimana Ia mengusir para penukar uang dari bait Allah, Markus 11:15-18, “lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya:”Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Juga ketika menentang orang-orang Farisi, Matius 23:27 menyatakan: “Celakalah kamu hai ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang munafik. Sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.” Dan juga ketika mengusir Setan (Matius 4:3-11). Ketika para pendakwa Sanhedrin mencoba memasang perangkap, Yesus mengingatkan mereka akan keteguhan hati-Nya. Jawab Yesus: “Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi.” (Yohanes 18:20).

Dari hal tersebut di atas, maka murid-murid-Nya menangkapnya dengan baik, bahkan Petrus dan Yohanes menolak untuk diam, ketika Sanhedrin mengancam hidup mereka. Stefanus sampai mati karena keteguhan hati dengan pemberitaanNya. Paulus menderita luar biasa karena Injil. Jadi para pengikut Yesus selalu merupakan orang-orang yang teguh hati akan menjadi percaya diri jika ingin mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Percaya diri dalam kemampuan dan dalam kebenaran. Percaya diri yang mantap akan membuat umat Tuhan tidak berjalan dengan gaya yang angkuh dan berbicara tinggi, bahkan dengan menggertak.

Marilah kita bisa menerapkan pengorbanan diri dan teguh hati.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien!!!

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

JANGAN MEMBATASI TUHAN

PESAN GEMBALA

13 SEPTEMBER 2009

EDISI 91 TAHUN 2

 

JANGAN MEMBATASI TUHAN

Shallom… Salam Mujizat…

Jemaat yang dikasihi Tuhan, beberapa hari yang lalu tepatnya ketika diselenggarakannya SPGI di Surabaya, Bapak Bethany menyampaikan Firman Tuhan yang diambil dalam Zakaria 2:1-3. Saya sangat diberkati dengan Firman Allah tersebut. Dinyatakan di ayat tersebut bahwa ada seorang muda yang mencoba mengukur Yerusalem, bicara tentang Yerusalem berkaitan dengan Bait Allah, di sana terdapat kuasa Allah. Adalah suatu pekerjaan yang sia-sia apabila mencoba mengukur kuasa Allah atau hadirat Allah, sebab kuasa Allah tidak bisa diukur panjang dan lebarnya ataupun tinggi dan dalamnya, dengan kata lain tak terukur Kuasa Allah. Pernahkah saudara mencoba untuk mengukur ke-MAHABESARAN Allah?

Kita semua pasti bisa merasakan dan menikmati kuasa Allah yang luar biasa namun apakah bisa diukur? Tetapi jika ditanya pernahkah saudara membatasi kemahabesaran Tuhan? Maka sebagian besar orang beriman berkata tidak. Namun, jika ditanya lebih dalam, maka sebagian orang beriman akan mengakui bahwa pertanyaan terakhir ini seringkali menyelimuti hati dan pikiran seseorang. Sebab dalam kenyataan sehari-hari pengakuan kita akan kebesaran Allah seringkali tidak sama dengan sikap kita terhadap eksistensi kebesaran Allah. Kita memang menyanyikan dengan semangat bahwa Allah itu maha besar, Allahku dashyat dan Yesusku luar biasa, namun saat seseorang menghadapi masalah dan persoalan, ia tidak sadar seringkali tidak bisa melihat kuasa dan kebesaran Allah yang ada di dekatnya. Saat itu kadang hati seseorang terperangkap dalam ketakutan dan kekuatiran, hati dan pikirannya diliputi keragu-raguan dan mulailah muncul berbagai pertanyaan yang mematahkan iman seperti: bisakah aku sembuh? Bisakah TUhan menolongku? Bisakah tokoku laris? Bisakah anakku dapat nilai baik? Kapankah penderitaanku dapat berakhir? Dalam Hakim-hakim 3 di sana diceritakan bahwa Samgar dengan tongkat penghalau lembu dapat mengalahkan 600 prajurit Filistin yang gagah perkasa dengan persenjataan yang lengkap. Bukan Samgarnya ataupun tongkat penghalau lembunya, tetapi karena KUASA ALLAH yang ada padanya.

Kapan seseorang mulai membatasi kuasa Tuhan?

Ketika seseorang kuatir dan meragukan pertolongan Tuhan.

Ketika seseorang ragu-ragu dan mulai tidak mempercayai Allah yang bisa menyembuhkan penyakitnya.

Ketika seseorang mulai mengandalkan dan mengharapkan orang kaya lebih daripada Tuhan,

Ketika ia mulai berhenti berdoa dan tidak mencari Tuhan.

Mengapa seseorang tidak bisa melihat kemahabesaran Tuhan?

Sebenarnya ini merupakan masalah yang sederhana yaitu karena yang bersangkutan lebih melihat masalah yang rumit yang dihadapinya daripada melihat peran Allah dalam hidupnya. Allah itu Maha Besar, yang artinya kebesaran Allah tidak dibatasi ruang dan waktu, kebesaran Allah dalam karya-Nya tidak bisa dibatasi dengan ringan dan beratnya masalah yang kita hadapi, kebesaran Allah itu sanggup menembus tembok ketidakmungkinan dan keterbatasan manusia.

Matius 15:31, “maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah”.

Apabila kita merenungakan dan mempercayai kemahabesaran Tuhan, maka kita bisa menikmati dan hidup dalam damai sejahtera Allah.

Maleakhi 1:5, “Matamu akan melihat dan kamu sendiri akan berkata TUHAN MAHA BESAR…”

 

Tuhan Yesus memberkati…

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Penggorengan

Selasa, 2 Desember 2008

Bacaan : Yohanes 14:11-14

14:11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.

 

14:12. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;

 

14:13 dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.

 

14:14 Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”

 

Penggorengan

Seseorang memerhatikan nelayan yang menangkap ikan besar, tetapi membuangnya lagi ke air. Ia mendekati si nelayan dan bertanya, “Mengapa ikan-ikan itu engkau buang lagi?” Orang itu mengeluarkan sebuah penggorengan di perahunya dan berkata, “Lihat, penggorengan saya terlalu kecil, jadi yang saya perlukan ikan kecil saja.” Tak terbayangkan oleh si nelayan bahwa ia akan mendapat “ikan-ikan” besar, sehingga tidak disiapkannya sesuatu yang istimewa. Mungkin ia berpikir, mendapat ikan kecil saja sudah cukup, mengapa harus mengharap ikan besar?”

Serupa dengan itu, kita juga kerap membatasi karya Tuhan dengan pola pikir kita yang sempit. Kadang Tuhan ingin melakukan perkara besar dan dahsyat dalam hidup kita. Namun, kita berkata, “Ah, tidak mungkin saya bisa melakukannya. Mana mungkin Allah mau memakai orang sederhana seperti saya?” Dan masih banyak kalimat pesimis lain yang kita ucapkan.

Sebagian besar murid Tuhan Yesus adalah orang sederhana. Namun, Allah bisa bekerja lewat mereka dengan dahsyat. Mungkin tak pernah terlintas di benak Petrus, Yohanes, dan Yakobus, bahwa mereka dapat mengadakan banyak mukjizat, seperti Tuhan Yesus. Tuhan pernah berkata, barangsiapa percaya kepada-Nya, ia juga akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan, bahkan lebih besar dari itu! Namun, mengapa sampai kini kita belum pernah melakukan perkara yang besar? Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri, seberapa besar “penggorengan” yang kita siapkan. Kalau kita benar-benar percaya dan tidak membatasi karya Tuhan, kita akan segera melihat perkara-perkara besar dalam hidup kita. Gantilah “penggorengan” kita yang kecil. Jangan batasi kuasa Allah -PK

Diam dan Tenanglah

Rabu, 26 November 2008

Bacaan : Markus 4:35-41

4:35. Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.”

 

4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.

 

4:37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.

 

4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”

 

4:39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.

 

4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

 

4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”

 

Diam dan Tenanglah

diam-dan-tenanglah

Angin topan merupakan salah satu peristiwa dahsyat di bumi kita. Siapa yang tidak takut jika angin topan terjadi? Perbedaan tekanan udara yang ekstrem menjadi penyebab munculnya angin topan. Bahkan para pengamat topan mengatakan bahwa energi dalam sebuah angin topan cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan tenaga listrik di Amerika Serikat selama tiga sampai empat tahun. Begitu kuat dan dahsyat. Namun, kekuatan yang kita pandang begitu dahsyat itu nyatanya tak ada apa-apanya di hadapan Allah kita. Lihatlah, bagaimana Yesus cukup berkata, “Diam! Tenanglah!” (ayat 39), maka badai itu segera reda, air pun segera menjadi tenang.

Terkadang ada “angin topan” masalah yang seolah-olah juga begitu besar menyerang kita, dan rasanya tak ada cukup daya yang kita miliki untuk menahannya. Barangkali berupa masalah kesehatan, pengkhianatan, impian yang hancur, dan sebagainya. Dalam kondisi demikian, kita mesti berhati-hati supaya jangan dibutakan oleh kekecewaan hingga memercayai naluri atau ramalan. Kita juga harus menguatkan diri agar tidak terpaku dalam ketakutan, dan mengingat bahwa Yesus ada dalam perahu hidup kita.

Sebagaimana topan tunduk kepada Allah kita, demikian pula setiap topan masalah kita pun pasti mampu Dia taklukkan. Berlindunglah di dalam Yesus. Dia akan memberi Anda kekuatan, sehingga Anda dapat bertahan di tengah badai sampai Dia meredakannya. Ketika Anda memercayai kuasa Allah, damai sejahtera-Nya akan menjauhkan Anda dari rasa panik; dan kuasa-Nya akan menyelamatkan Anda -MNT