MENDENGARKAN PERTIMBANGAN

Kamis, 23 Agustus 2012

Bacaan : Amsal 18:1-24

18:1. Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan.

18:2. Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya.

18:3. Bila kefasikan datang, datanglah juga penghinaan dan cela disertai cemooh.

18:4. Perkataan mulut orang adalah seperti air yang dalam, tetapi sumber hikmat adalah seperti batang air yang mengalir.

18:5. Tidak baik berpihak kepada orang fasik dengan menolak orang benar dalam pengadilan.

18:6. Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan, dan mulutnya berseru meminta pukulan.

18:7 Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya.

18:8. Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati.

18:9. Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak.

18:10. Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.

18:11. Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya dan seperti tembok yang tinggi menurut anggapannya.

18:12. Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.

18:13. Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.

18:14. Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?

18:15. Hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan, dan telinga orang bijak menuntut pengetahuan.

18:16. Hadiah memberi keluasan kepada orang, membawa dia menghadap orang-orang besar.

18:17. Pembicara pertama dalam suatu pertikaian nampaknya benar, lalu datanglah orang lain dan menyelidiki perkaranya.

18:18. Undian mengakhiri pertengkaran, dan menyelesaikan persoalan antara orang-orang berkuasa.

18:19. Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri dari pada kota yang kuat, dan pertengkaran adalah seperti palang gapura sebuah puri.

18:20. Perut orang dikenyangkan oleh hasil mulutnya, ia dikenyangkan oleh hasil bibirnya.

18:21. Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

18:22. Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan TUHAN.

18:23. Orang miskin berbicara dengan memohon-mohon, tetapi orang kaya menjawab dengan kasar.

18:24. Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.

 

MENDENGARKAN PERTIMBANGAN

Pernahkah Anda merasa enggan sekali bertemu orang lain? Saya cukup sering merasakannya, terutama ketika harus menghadapi orang-orang yang menurut saya menjengkelkan dan kurang menghargai saya. Apalagi jika orang-orang itu pernah terlibat konflik dengan saya. Pada situasi seperti itu, saya lebih suka menyendiri dan mengerjakan hal-hal yang saya sukai.

Meskipun adakalanya kita butuh waktu untuk sendirian, kita perlu berhati-hati dengan kecenderungan menarik diri dari pergaulan. Dengan terus terang, penulis kitab Amsal mengungkapkan tabiat buruk di balik keinginan mengasingkan diri itu. Orang yang menyendiri cenderung memikirkan dirinya semata. Orang lain menjadi gangguan baginya. Kritik dan nasihat, yang bijak sekalipun, ditanggapi dengan kemarahan. Mereka lebih suka berdebat dan mengungkapkan kejengkelannya daripada mendengarkan orang lain. Perilaku demikian bukanlah tindakan yang bijak (ayat 13). Sebaliknya, orang yang bijak adalah yang bersedia mendengarkan kata-kata hikmat (ayat 15), sekalipun ada kalanya hal itu dinyatakan dalam bentuk teguran yang pedas. Mendengarkan orang lain juga melatih kita untuk bersikap rendah hati (lihat ayat 12).

Ketika kita mendengarkan sikap dan kata-kata orang lain yang tidak kita sukai, usahakan untuk tidak serta-merta membantahnya. Sebaliknya, dengarkan lebih banyak apa yang ingin dikatakan oleh lawan bicara kita. Bukalah hati Anda lebar-lebar, renungkan apa yang Anda dengar. Anda akan kagum mengalami bagaimana melalui beragam orang di sekitar Anda, Tuhan menolong Anda memperoleh pengetahuan untuk hidup lebih baik. –HEM

MARAH SEBELUM MENDENGARKAN MENUTUP PINTU PENGERTIAN.

MENDENGARKAN PERTIMBANGAN MEMBUKA PINTU KEBIJAKSANAAN.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

100.000 KATA!

Sabtu, 4 Juni 2011

Bacaan : Yakobus 3:1-12

3:1. Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.

3:2 Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

3:3 Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

3:4 Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.

3:5 Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.

3:6 Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.

3:7 Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia,

3:8 tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.

3:9 Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,

3:10 dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.

3:11 Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?

3:12 Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

 

100.000 KATA!

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa rata-rata setiap orang punya 700 kesempatan untuk berbicara kepada orang lain setiap hari. Dan, orang yang banyak bicara memakai 12.000 kalimat atau kira-kira 100.000 kata dalam sehari! Bayangkan, berapa masalah yang timbul dalam sehari oleh 100.000 perkataan, dan berapa banyak berkat yang dihasilkannya?

Hati-hati dengan perkataan! Ada banyak orang terluka karena kata-kata yang tidak tepat dan tidak bijaksana. Sebagai orangtua, kadang kita tidak menyadari bahwa perkataan kita menyakiti anak-anak kita. Sebagai orang kristiani, kadangkala perkataan kita justru menjadi batu sandungan bagi orang yang mendengarnya. Tanpa sadar dari mulut kita keluar perkataan sinis, tajam, keras, pedas bahkan perkataan kotor yang tidak seharusnya keluar dari mulut kita. Belum lagi orang kristiani yang hobi menggosip. Bisa dibayangkan akibatnya?

Tuhan menghendaki kita benar-benar bertanggung jawab atas setiap kata yang kita ucapkan, sementara selama ini mungkin kita tak peduli dengan kata-kata yang meluncur dari mulut kita. Kita tak pernah peduli apakah kata-kata kita menjadi berkat, atau sebaliknya, menyakiti hati orang lain.

Tuhan menghendaki agar yang keluar dari mulut kita itu adalah kata-kata yang manis, menguatkan, membangun, dan bisa menjadi berkat bagi orang yang mendengarnya. Untuk menjaga perkataan memang bukan hal mudah, tetapi kalau kita mau melatih lidah dan perkataan kita untuk mengucapkan hal-hal yang baik dan benar, yakinlah bahwa itu akan meminimalkan kesalahan dari perkataan-perkataan yang keluar dari mulut kita –PK

SUDAHKAH KITA BERTANGUNG JAWAB

 ATAS SETIAP KATA YANG KELUAR DARI MULUT KITA?

Dikutip : www.sabda.org

BAHAYA LIDAH

Rabu, 8 Desember 2010

Bacaan : Yakobus 3:1-12

1Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.

2Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

3Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

4Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.

5Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.

6Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.

7Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia,

8tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.

9Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,

10dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.

11Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?

12Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

BAHAYA LIDAH

Dorothy Nevill adalah seorang penulis Inggris yang hidup pada 1826-1913. Ia dikenal karena kepiawaiannya berbicara dan memengaruhi banyak orang pada zamannya. Suatu waktu ia pernah ditanyai tentang bagaimana seseorang dapat disebut memiliki kemampuan berbicara yang baik. Ia menjawab, “Seni percakapan yang benar bukan hanya mengatakan hal yang benar pada waktu yang benar, melainkan juga untuk tidak mengatakan hal yang salah dan tidak boleh dikatakan walau ada kesempatan sekalipun.”

Yakobus mengingatkan tentang pengaruh lidah yang luar biasa, bahwa anggota tubuh yang kecil ini sanggup mencetuskan perkara besar (ayat 5). Ya, tak jarang hal-hal susah dan senang, sedih dan gembira, tragedi dan komedi, justru berawal dari apa yang diucapkan lidah. Lalu, apakah itu berarti lebih baik diam daripada berbicara? Tidak. Yang harus kita lakukan bukan “tidak memakai” lidah-dalam arti tidak usah bicara, melainkan “memakai” lidah dengan baik, yakni berbicara untuk sesuatu yang benar pada saat yang benar. Kalau pun harus berdiam diri, berdiam diri dengan benar pula. Untuk itu, kita perlu memasang kekang pada lidah (Yakobus 1:26).

Orang yang dapat mengendalikan lidahnya adalah orang yang hanya akan berkata-kata kalau ia tahu betul kata-katanya itu benar, berarti, menghibur, menopang, dan menjadi berkat bagi yang men-dengarnya. Dan, memilih diam kalau ia tahu apa yang akan dikatakannya tidak jelas kebenarannya, tidak berarti apa-apa, tidak menjadi berkat; malah menyakiti, menimbulkan gosip, dan permusuhan –AYA

TAKLUKKAN LIDAH, BUKAN DENGAN TIDAK MENGGUNAKANNYA

MELAINKAN DENGAN MENGENDALIKANNYA

Sumber : www.sabda.org

OBAT BIUS

Selasa, 18 Mei 2010

Bacaan : Yakobus 3:1-12

3:1. Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.

3:2 Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

3:3 Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

3:4 Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.

3:5 Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.

3:6 Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.

3:7 Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia,

3:8 tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.

3:9 Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,

3:10 dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.

3:11 Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?

3:12 Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

OBAT BIUS

Konotasi yang melekat pada kata “obat bius” saat ini cenderung negatif. Narkoba, obat terlarang, madat, adalah sebagian istilah yang terpikir ketika mendengar kata tersebut. Ini tidak mengherankan, mengingat begitu meluasnya penyalahgunaan obat bius di masyarakat kita. Namun, obat bius juga merupakan salah satu obat paling penting dalam dunia kedokteran. Bayangkan bagaimana rasanya kalau kita harus dioperasi tanpa terlebih dulu menerima obat bius. Tubuh kita dibedah dan kita harus merasakan semua sakitnya!

Sama seperti obat bius, ada banyak hal di dunia ini yang berpotensi besar untuk menghasilkan hal-hal baik, tetapi juga dapat dengan mudah disalahgunakan untuk hal-hal yang merusak. Lidah kita adalah salah satu contohnya. Lidah kita dapat dipakai untuk hal-hal yang indah seperti memuji Tuhan. Namun, lidah juga dapat dipakai untuk melakukan hal-hal mengerikan seperti mengutuk orang lain. Yakobus memperingatkan kita agar menjaga lidah. Agar hanya dipakai untuk menghasilkan hal-hal baik.

Selain lidah kita, harta, kekuasaan, kepintaran, prestasi, pengalaman, dan begitu banyak hal lain dalam hidup kita juga berpotensi untuk membangun atau merusak. Harta kita bisa dipakai untuk menolong orang lain atau untuk memuaskan keserakahan kita, memiskinkan banyak orang. Kekuasaan kita bisa dipakai untuk membela orang-orang yang lemah atau untuk menindas mereka demi mendapat keuntungan sendiri. Keputusannya ada di tangan kita. Pilihlah dengan bijak. Yaitu, untuk mendatangkan kebaikan, menjadi berkat bagi banyak orang. –ALS

HIDUP KITA DAPAT DIPAKAI UNTUK MEMBANGUN ATAU MERUSAK

PASTIKAN KITA MEMILIH YANG TEPAT

Sumber : www.sabda.org

BAHAYA KATA-KATA MANIS

Rabu, 16 Desember 2009

Bacaan : Mazmur 12:1-9

12:1. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Yang kedelapan. Mazmur Daud. (12-2) Tolonglah kiranya, TUHAN, sebab orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia.

12:2 (12-3) Mereka berkata dusta, yang seorang kepada yang lain, mereka berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang.

12:3 (12-4) Biarlah TUHAN mengerat segala bibir yang manis dan setiap lidah yang bercakap besar,

12:4 (12-5) dari mereka yang berkata: “Dengan lidah kami, kami menang! Bibir kami menyokong kami! Siapakah tuan atas kami?”

12:5 (12-6) Oleh karena penindasan terhadap orang-orang yang lemah, oleh karena keluhan orang-orang miskin, sekarang juga Aku bangkit, firman TUHAN; Aku memberi keselamatan kepada orang yang menghauskannya.

12:6 (12-7) Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.

12:7 (12-8) Engkau, TUHAN, yang akan menepatinya, Engkau akan menjaga kami senantiasa terhadap angkatan ini.

12:8 (12-9) Orang-orang fasik berjalan ke mana-mana, sementara kebusukan muncul di antara anak-anak manusia.

BAHAYA KATA-KATA MANIS

Kita merasa senang, hati kita menjadi hangat, apabila mendengar kata-kata yang manis. Dampak kata-kata manis memang baik bagi jiwa. Sayangnya, kata-kata manis tidak selalu keluar dari hati yang manis pula. Bahkan, bisa juga hal itu diucapkan dengan maksud licik, didorong oleh akal bulus, atau sarat dengan keculasan. Inilah ironinya. Kata-kata manis yang enak didengar telinga tidak selalu berasal dari hati yang manis!

Orang-orang yang berada di seputar lingkungan pemazmur adalah mereka yang “berkata dusta … dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang” (ayat 3). Dengan itu mereka menindas orang yang lemah dan miskin (ayat 6). Rupanya, kata-kata manis telah menjadi sarana penindasan pada zaman itu! Pemazmur yang tak dapat menerima hal ini, memohon agar Tuhan campur tangan. Serunya, “Tolonglah kiranya …” (ayat 2). Atas pengaduan ini, Tuhan berkenan mendengar dan bertindak: “Sekarang juga Aku bangkit … Aku memberi keselamatan kepada orang yang menghauskannya” (ayat 6). Inilah janji Tuhan yang teruji (ayat 7). Yakni bahwa Tuhan membela orang yang ditindas oleh mereka yang menggunakan kata-kata manis sebagai alat untuk menguasai orang lain.

Bagaimana kita berkata-kata terhadap orang lain? Terhadap keluarga, rekan sekerja, tetangga kiri-kanan, terhadap orang yang lebih lemah? Semoga setiap kata-kata yang kita ucapkan merupakan kata-kata yang tulus dan jauh dari maksud menindas orang. Sebab apabila tidak demikian, Tuhan akan mengganjar kita. Bersikap dan berkata-katalah manis; bukan hanya di mulut, tetapi juga dari dalam hati! –DKL

KARAT DI HATI TERJADI APABILA KATA-KATA MANIS

DIPAKAI SEBAGAI SENJATA MANIPULASI

Sumber : www.sabda.org

JANGAN ASAL BERKATA

Sabtu, 5 Desember 2009

Bacaan : Mazmur 34:13-15

34:13 (34-14) Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;

34:14 (34-15) jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!

34:15 (34-16) Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;

JANGAN ASAL BERKATA

Berkata-kata sebagai salah satu bentuk komunikasi, tentu saja penting. Banyak masalah muncul atau menjadi semakin besar karena orang berdiam diri, tidak mau berkata-kata. Akan tetapi, Alkitab juga mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan kata-kata yang kita ucapkan. Sebab dalam banyak bicara, tidak jarang juga banyak kesalahan terjadi. Kita bisa “tersandung” karena kata-kata. Tidak mengherankan jika Yakobus mengumpamakan lidah seperti api; sesuatu yang kecil, tetapi dapat membakar hutan yang besar (Yakobus 3:5).

Maka, penting sekali untuk kita senantiasa berhati-hati dengan kata-kata yang akan kita ucapkan. Pikir dulu baik-baik. Jangan tergesa-gesa atau asal berkata. Kata-kata ibarat telur: kalau sudah dipecahkan tidak bisa dimasukkan kembali. Kata-kata fitnah, gosip, atau pun kata-kata yang menyakiti, pada akhirnya hanya akan meninggalkan luka bagi orang lain dan kerugian bagi diri sendiri. Kita perlu selalu ingat, bahwa setiap kata apa pun harus dapat kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan (Matius 12:36).

Marilah kita hanya mengucapkan kata-kata yang baik dan membangun. Dengan begitu, kita bukan saja tidak akan menyakiti orang lain, melainkan juga menjaga diri sendiri dari hal-hal yang bisa merugikan. Seperti dikatakan pemazmur, “Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati kebaikan? Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu” (ayat 13,14). Semoga kita semakin bijaksana dalam memilih dan memilah kata-kata yang akan kita ucapkan –MNT

KATA-KATA YANG TERUCAP BAGAI TELUR YANG DIPECAH

TAK BISA DIMASUKKAN LAGI KE CANGKANGNYA

Sumber : www.sabda.org