ANAK DOMBA ALLAH

Sabtu, 17 Desember 2011

Bacaan : Kisah Para Rasul 8:26-39

8:26. Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: “Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.” Jalan itu jalan yang sunyi.

8:27 Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah.

8:28 Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya.

8:29 Lalu kata Roh kepada Filipus: “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!”

8:30 Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: “Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?”

8:31 Jawabnya: “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya.

8:32 Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya.

8:33 Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi.

8:34 Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: “Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?”

8:35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.

8:36 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?”

8:37 (Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”)

8:38 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.

8:39 Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.

ANAK DOMBA ALLAH

Myfyr Evans, peternak Skotlandia, membeli seekor domba jantan di Northern Area Branch seharga 1, 2 miliar rupiah. Padahal, harga normal domba jantan biasanya hanya 2, 4 juta rupiah. Namun, Evans berani membelinya karena ia meyakini, hewan itu akan membawa kebaikan dan rezeki besar buat peternakannya.

Alkitab menulis juga tentang “Anak Domba”, yang tidak hanya membawa kebaikan, tetapi juga menyelamatkan! Ketika itu, sida-sida Etiopia membaca surat Yesaya yang menyebut tentang Anak Domba itu, dan bertanya kepada Filipus, siapa yang dimaksud dalam surat tersebut. Bertolak dari nas itu, Filipus memberitakan Injil keselamatan Yesus Kristus, hingga sida-sida itu percaya dan memberi diri dibaptis dalam nama Yesus (Kisah Para Rasul 8:34-37).

Benar, Yesus Kristuslah Anak Domba Allah yang tak bercacat, yang menebus dosa dunia (1 Petrus 1:18-19). Dan, Dia menjadi seperti domba yang dibawa ke pembantaian, seperti anak domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya. Demikianlah Yesus “Sang Anak Domba Allah” memberikan diri menjadi kurban tebusan bagi dosa dunia. Agar oleh bilur-bilur-Nya, kita menjadi sembuh (Yesaya 53:5). Dan, di bawah kolong langit ini tidak ada Nama lain yang dapat menyelamatkan manusia dari maut, kecuali nama Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 4:12).

Sudahkah Anda membuka hidup Anda untuk diselamatkan-Nya? Dan seperti Filipus, sebagai orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus, relakah Anda dipakai Allah untuk mengabarkan Injil-Nya? Agar melalui hidup Anda, banyak orang boleh menerima Kristus, diselamatkan, dan memuliakan Allah? –SST

SEBAB KRISTUS RELA DIIKAT DAN DISEMBELIH SEPERTI DOMBA

AGAR KITA, ANAK-ANAK-NYA, DIBEBASKAN DARI IKATAN DOSA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

GEDHE-GEDHENING SUMBER

Jumat, 24 Desember 2010

Bacaan : Lukas 2:8-20

8Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.

9Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.

10Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:

11Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.

12Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”

13Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:

14″Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

15Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”

16Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.

17Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.

18Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.

19Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

20Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

GEDHE-GEDHENING SUMBER

Dalam pandangan orang Jawa, kata “Desember” merupakan akronim dari ungkapan gedhe-gedhening sumber. Artinya, “sumber atau berkat yang dicurahkan secara besar-besaran”. Berkat dalam ungkapan tersebut juga lekat hubungannya dengan hujan. Pada bulan Desember, Indonesia umumnya mengalami musim hujan. Dan, bagi kebanyakan orang, hujan lebat di sepanjang Desember mendatang-kan berkat besar.

Pada setiap Desember, kita pun-sebagai umat kristiani-memaknainya sebagai bulan gedhe-gedhening sumber; sebab penuh dengan berita dan kesukaan besar. Bulan peringatan kelahiran Yesus, yang telah dinubuatkan para nabi ratusan tahun sebelumnya. “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yesaya 7:14).

Dan, nubuat itu menjadi nyata bagi dunia ketika untuk pertama kalinya Lukas menuliskan berkumandangnya kabar itu di antara para gembala di padang. Beberapa sumber mengatakan bahwa para gembala masa itu merupakan kaum miskin dan susah. Kepada mereka, bala malaikat berkata: “… aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:10, 11). Mereka pun bergegas ke Betlehem. Dan, semua yang mereka dengar itu benar; sesuai dengan apa yang dikatakan kepada mereka (ayat 20).

Natal merupakan momen berbagi sukacita; kepada siapa saja di sekeliling kita-rekan sekerja, sopir taksi yang kita temui, orang-orang yang terbaring di rumah sakit, anak-anak jalanan, orang-orang tua yang tak punya siapa-siapa. Sudikah Anda berbagi? –SS

NATAL BUKAN MASA PESTA BESAR-BESARAN

NATAL ADALAH MASA BERBAGI SUKACITA BESAR-BESARAN

Sumber : www.sabda.org

SAATNYA UNTUK MEMBERI

Sabtu, 26 Desember 2009

Bacaan : Matius 1:18-25, 2:9-11

1:18. Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.

1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:

1:23 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.

1:24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,

1:25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

2:9. Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.

2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.

2:11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.

SAATNYA UNTUK MEMBERI

Tanggal 26 Desember di Inggris dikenal sebagai Boxing Day. Sejarahnya, dulu di Inggris, para pelayan diharuskan tetap bekerja pada hari Natal. Tenaga mereka dibutuhkan karena majikan mereka biasanya mengadakan pesta Natal. Sehari setelah Natal barulah mereka bisa pulang kepada keluarganya. Biasanya pada saat mereka pulang itu, para majikan membekali mereka dengan berbagai hadiah. Saat ini, Boxing Day berkembang menjadi saat memberi hadiah kepada orang-orang yang sepanjang tahun telah mengabdikan dirinya melayani di berbagai bidang. Misalnya, para pekerja rumah tangga, penjaga mercusuar, tukang sampah, dan polisi lalu lintas.

Semangat utama yang melandasi Natal adalah semangat memberi. Berawal dari Allah yang memberi Putra-Nya Yang Tunggal untuk menyelamatkan manusia. Lalu, Maria dan Yusuf yang memberi dirinya untuk dipakai Allah sebagai sarana karya penyelamatan-Nya (Matius 1:18-25). Juga para majus yang datang jauh-jauh dari Timur untuk memberi benda-benda berharga sebagai persembahan buat Sang Bayi Kudus (Matius 2:9-11).

Maka, sebaiknyalah semangat memberi ini pula yang kita hidupi pada masa Natal ini; memberi kepada para sahabat dan handai taulan; memberi kepada orang-orang yang sehari-hari kita temui di kantor, di jalan, di gereja. Pemberian kita bisa berupa materi, bisa juga berupa tangan yang siap membantu, telinga yang siap mendengar, hati yang terbuka untuk menjadi saluran kasih sayang dan tercermin dalam senyum ramah, ungkapan terima kasih yang tulus, dan sapaan hangat. Mari kita jadikan Natal sebagai saat untuk memberi –AYA

PADA MASA NATAL INI BERAPA BANYAK ORANG

YANG TELAH MERASAKAN SUKACITA KARENA PEMBERIAN KITA?

Sumber : www.sabda.org