KETIKA BOSAN BEKERJA

Sabtu, 27 April 2013

Bacaan   : Kejadian 2:8-15

2:8. Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.

2:9 Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

2:10 Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang.

2:11 Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada.

2:12 Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras.

2:13 Nama sungai yang kedua ialah Gihon, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush.

2:14 Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai yang keempat ialah Efrat.

2:15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

 

KETIKA BOSAN BEKERJA

Salah satu kebiasaan yang paling digemari oleh para karyawan muda seperti saya ketika berkumpul dengan teman-teman adalah saling mengeluhkan keburukan kantor dan kejelekan atasan masing-masing. Selalu ada saja di antara kami yang merasa ‘terpaksa’ menjalani pekerjaannya, tidak bahagia di kantor, dll. Sebuah kondisi yang ironis sebenarnya.

Alangkah indahnya jika kita dapat bekerja dengan hati yang senantiasa antusias. Nyatanya tak ayal kita pun tak luput dari rasa bosan dan mungkin kejengkelan. Kenapa bisa begitu? Dalam kitab Kejadian, kita belajar bahwa Tuhan menempatkan manusia di dunia untuk menjadi pekerja, bukan sekadar penikmat (ay. 15). Tuhan memberi Adam sarana untuk mengaktualisasikan dirinya lewat tugasnya mengelola Taman Eden. Sayang, setelah Adam jatuh ke dalam dosa, manusia harus berkeringat dalam bekerja (Kej 3:17-19). Pekerjaan dapat menjadi beban yang berat dan rutinitas yang membosankan.

Bagaimana mengatasinya? Yang terutama, kita perlu menyadari keterlibatan Tuhan di dalam pekerjaan kita. Jika kita bekerja sekadar untuk mencari uang atau menyenangkan orang lain, kejenuhan gampang muncul. Ketika kita merasa hambar dalam bekerja, kemungkinan kita perlu mengubah perspektif kita: bahwa pekerjaan adalah kesempatan dan kehormatan dari Tuhan bagi kita untuk turut berkarya dalam kerajaan-Nya. Mungkin kita juga perlu memikirkan metode dan cara kerja yang baru dan kreatif untuk menghindari kejenuhan. –OLV

PEKERJAAN SEMESTINYA BUKAN MENJADI SUMBER KEBOSANAN,

 MELAINKAN SUATU KEHORMATAN YANG MENDATANGKAN SUKACITA.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

Iklan

SABAT UNTUK MANUSIA

Jumat, 14 September 2012

Bacaan : Markus 2:23-28

2:23 Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.

2:24 Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”

2:25 Jawab-Nya kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan,

2:26 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu–yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam–dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutn

2:27 Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat,

2:28 jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”

 

SABAT UNTUK MANUSIA

Meski memahami bahwa Sabat dirancang Tuhan sebagai hari perhentian, bagi banyak orang kristiani yang aktif di gereja, Sabat justru hari yang melelahkan. Ada banyak pelayanan atau acara gereja yang dilangsungkan pada hari itu. Akibatnya, bukan berkat Tuhan yang dirasakan, tetapi setumpuk kepenatan.

Masalah ini bukan masalah baru. Sibuk di hari Sabat sudah biasa bagi para imam di zaman Perjanjian Lama. Hal ini dikutip Yesus untuk menegur orang Farisi yang menghakimi para murid-Nya (ayat 23-24). Orang Farisi sibuk dengan berbagai larangan, namun mengabaikan maksud Tuhan sendiri atas hari Sabat. Jelas menurut Yesus, Tuhan merancang Sabat bukan sebagai aturan yang memberatkan (ayat 27). Sabat ditetapkan Tuhan untuk kebaikan manusia, sehingga dapat beristirahat dan menikmati berkat Tuhan secara khusus (bdk. Kejadian 2:1-3, Keluaran 20:8-11). Tindakan orang Farisi menyempitkan makna Sabat pada ritual dengan banyak aturan, padahal Sabat menunjukkan hati Tuhan yang begitu mengasihi ciptaan-Nya, termasuk para murid yang sedang butuh makanan.

Apakah Sabat menjadi beban atau sukacita bagi Anda? Apakah yang menjadi fokus Sabat Anda: Kristus atau ritual ibadah dan pelayanan? Jika hari Minggu adalah hari yang “sibuk” bagi Anda, pikirkanlah satu hari perhentian lainnya sebagai hari di mana Anda benar-benar dapat beristirahat dan menikmati Tuhan secara khusus. Alkitab menyebutkan satu dari enam hari haruslah dikuduskan sebagai hari Sabat. Entah itu hari Sabtu, Minggu, Senin, atau hari lainnya, yang terutama adalah Tuhan menjadi pusat dan sumber sukacita kita, bukan yang lain. –MEL

SABAT ADALAH PERINGATAN AKAN KASIH TUHAN

YANG MENYELAMATKAN DAN MEMBAWA SUKACITA.

Dikutip : www.sabda.org

SELAMAT HIDUP BERMAKNA

Jumat, 1 Juni 2012

Bacaan : Kejadian 5:1-24

5:1. Inilah daftar keturunan Adam. Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah;

5:2 laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama “Manusia” kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan.

5:3 Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya.

5:4 Umur Adam, setelah memperanakkan Set, delapan ratus tahun, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

5:5 Jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati.

5:6. Setelah Set hidup seratus lima tahun, ia memperanakkan Enos.

5:7 Dan Set masih hidup delapan ratus tujuh tahun, setelah ia memperanakkan Enos, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

5:8 Jadi Set mencapai umur sembilan ratus dua belas tahun, lalu ia mati.

5:9 Setelah Enos hidup sembilan puluh tahun, ia memperanakkan Kenan.

5:10 Dan Enos masih hidup delapan ratus lima belas tahun, setelah ia memperanakkan Kenan, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

5:11 Jadi Enos mencapai umur sembilan ratus lima tahun, lalu ia mati.

5:12 Setelah Kenan hidup tujuh puluh tahun, ia memperanakkan Mahalaleel.

5:13 Dan Kenan masih hidup delapan ratus empat puluh tahun, setelah ia memperanakkan Mahalaleel, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

5:14 Jadi Kenan mencapai umur sembilan ratus sepuluh tahun, lalu ia mati.

5:15 Setelah Mahalaleel hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Yared.

5:16 Dan Mahalaleel masih hidup delapan ratus tiga puluh tahun, setelah ia memperanakkan Yared, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

5:17 Jadi Mahalaleel mencapai umur delapan ratus sembilan puluh lima tahun, lalu ia mati.

5:18 Setelah Yared hidup seratus enam puluh dua tahun, ia memperanakkan Henokh.

5:19 Dan Yared masih hidup delapan ratus tahun, setelah ia memperanakkan Henokh, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

5:20 Jadi Yared mencapai umur sembilan ratus enam puluh dua tahun, lalu ia mati.

5:21. Setelah Henokh hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Metusalah.

5:22 Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

5:23 Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun.

5:24 Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.

SELAMAT HIDUP BERMAKNA

“Selamat panjang umur”. Salam itu selalu kita katakan kepada rekan yang berulang tahun sebagai ucapan selamat sekaligus doa. Ya, panjang umur kerap kali dikaitkan dengan hidup yang bahagia. Bagaimana dengan orang yang pendek umur? Sungguhkah mereka tak bahagia sebab tak lagi bisa meneruskan hidup? Benarkah panjang umur merupakan jaminan hidup bahagia dan penuh arti?

Tokoh-tokoh yang disebutkan dalam bacaan Alkitab hari ini memiliki umur yang panjang: Adam 930 tahun (ayat 5); Set 912 tahun (ayat 8); Kenan 910 tahun (ayat 14); Yared 962 tahun (ayat 20); Henokh 365 tahun (ayat 23). Jika kita cermati, terdapat rumusan berulang dalam penulisan kalimat-kalimat tersebut. “X berumur Y tahun, lalu ia mati.” Keterangan “lalu ia mati” menunjukkan bahwa betapa pun panjang umur manusia bahkan hingga ratusan tahun manusia pasti mati. Namun, di antara skema yang berulang, terselip catatan menarik yang menyertai kehidupan Henokh. Umurnya lebih pendek dari yang lain, tetapi ia “hidup bergaul dengan Allah” (ayat 24). Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari menerjemahkannya: “Henokh selalu hidup akrab dengan Allah”. Dikatakan, ia tidak mati, tetapi diangkat oleh Allah. “Pendek umur” bukan masalah baginya sebab ia telah hidup bagi Tuhan selama di dunia.

Panjang umur ialah berkat Tuhan; tak salah jika menginginkannya. Kita bisa melihat lebih banyak karya Tuhan dalam perjalanan hidup yang lebih panjang. Namun, bagaimana kita menjalaninya, itu jauh lebih penting. Mari memohon Tuhan menolong kita untuk menjalani hidup yang bermakna bersama-Nya sampai kita berjumpa dengan Dia di surga; tak hanya menjalani hidup di dunia untuk kemudian mati sia-sia. Selamat hidup bermakna. –DEW

BUKAN PANJANG UMUR YANG MEMBUAT HIDUP BERMAKNA,

MELAINKAN UNTUK APA DAN BERSAMA SIAPA KITA MENJALANINYA.

Dikutip : www.sabda.org

JIKA TUHAN MENGHENDAKI

Minggu, 01 Januari 2012

Bacaan : Yakobus 4:13-17

4:13 Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”,

4:14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.

4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”

4:16 Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.

4:17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

JIKA TUHAN MENGHENDAKI

Hidup di dunia itu singkat. Kata pepatah Jawa, “urip mung mampir ngombe” [hidup itu hanya mampir minum]. Gambaran hidup manusia dalam Alkitab juga sama singkatnya. Seperti suatu giliran jaga malam, seperti mimpi, seperti bunga dan rumput, seperti angin dan bayangan (Mazmur 90:4-5; 103:15; 144:4). Bacaan hari ini melengkapinya. Seperti uap! Sebentar ada lalu lenyap (ayat 14).

Bagaimana harus menata hidup dalam waktu yang seperti “uap” ini? Rasul Yakobus menasihatkan agar umat percaya tak mengandalkan diri sendiri, tetapi memikirkan apa yang dikehendaki Tuhan (ayat 15-16). Kita melakukan ini dan itu “jika Tuhan menghendakinya ….” Ungkapan ini jelas bukan hanya bagian dari sopan santun agar seseorang terlihat rendah hati dan rohani atau alasan menghibur diri menghadapi berbagai ketidakpastian. Namun, merupakan ekspresi ketundukan pada kedaulatan Tuhan mengakui bahwa Dialah pemegang kendali atas hidup ini. Kehendak-Nya, isi hati-Nya penting bagi kita.

Dr. Michael Griffiths, dalam buku Ambillah Aku Melayani Engkau, berkata: “Kita punya satu hidup untuk ditempuh. Mungkin sudah kita lalui seperempat, sepertiga, setengah, bahkan mungkin lebih

dari itu. Apa yang sudah kita lalui itu sudah lampau, dan takkan kembali lagi. Tetapi bagaimana dengan yang masih sisa? Apakah yang akan kita lakukan dengan itu?” Hidup itu singkat; tak terduga. Mari membuat perencanaan dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan pekerjaan di awal tahun ini, dengan sungguh-sungguh mengakui kedaulatan Tuhan dan menundukkan diri pada kehendak-Nya –ELS

YA TUHAN, MESKI HIDUPKU SEPERTI UAP YANG MUDAH BERLALU.

BIARLAH HADIRKU MEMBAWA AROMA HARUM DI HADAPAN-MU

Dikutip : www.sabda.org

MITOS SEORANG PRIA

Selasa, 7 September 2010

Bacaan : Kejadian 2:18-25

2:18. TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

2:21. Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

2:23 Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”

2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

2:25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

MITOS SEORANG PRIA

Pandangan orang secara umum terhadap pria adalah bahwa pria jauh lebih kuat dibanding wanita. Secara fisik bisa jadi begitu, walaupun tidak seratus persen benar. Saya pernah menjumpai wanita-wanita “perkasa” yang mampu mengangkat beban berat naik turun gunung dan masuk keluar desa tanpa alas kaki demi mencari penghasilan tambahan.

Firman Tuhan hari ini membukakan mata kita bahwa pandangan pria itu makhluk yang lebih kuat tidak selamanya benar-bahkan bisa jadi hanya sebuah mitos. Buktinya, tatkala Tuhan menciptakan seorang pria, Allah mengatakan bahwa tidak baik kalau pria seorang diri saja. Pria butuh seorang penolong, yaitu wanita. Ternyata Alkitab mencatat dengan jelas bahwa Allah menciptakan seorang pria bukan sebagai makhluk super yang bisa segalanya. Pria pun memiliki kelemahan, sehingga ia membutuhkan seorang penolong yang bernama wanita. Itu sudah ditetapkan oleh Allah sejak zaman penciptaan. Ini sebetulnya mempertegas apa yang ditulis dalam Kejadian 1: 27-28, bahwa pria dan wanita sama-sama diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Artinya di mata Allah, pria dan wanita memiliki kedudukan yang sejajar, hanya memang perannya saja yang berbeda.

Pandangan bahwa wanita lebih rendah dan pria lebih tinggi, seharusnya kita tinggalkan. Kita harus memandang baik pria maupun wanita sebagai makhluk ciptaan Allah yang sama-sama bernilai. Itu sebabnya pria dan wanita seharusnya bisa hidup berdampingan dan saling melengkapi. Tak ada pandangan meremehkan atau sikap merendahkan, melainkan keinginan untuk selalu saling menopang –RY

DI MATA ALLAH

PRIA DAN WANITA MEMILIKI NILAI YANG SAMA

Sumber : www.sabda.org

LANGIT

Jumat, 30 Juli 2010

Bacaan : Mazmur 8

8:1. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud. (8-2) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.

8:2 (8-3) Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.

8:3. (8-4) Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:

8:4 (8-5) apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

8:5 (8-6) Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

8:6 (8-7) Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:

8:7 (8-8) kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;

8:8 (8-9) burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.

8:9 (8-10) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!

LANGIT

Langit dan benda-benda langit telah memukau manusia sejak dulu. Entah mungkin karena sinarnya yang tampak misterius; karena jaraknya yang sangat jauh; atau pergerakannya yang begitu konsisten. Tak heran jika banyak peradaban kuno percaya bahwa langit adalah tempat tinggal para dewa, dan benda-benda langit itu adalah para dewa sendiri.

Ilmu pengetahuan modern pun menunjukkan bahwa benda-benda langit memang mengagumkan. Coba bandingkan. Bumi kita ini sudah sangat besar dan bisa menampung enam miliar manusia. Namun, volume planet Yupiter ternyata lebih dari seribu kali bumi. Sementara, volume matahari lebih dari satu juta kali bumi. Belum lagi kalau kita bandingkan dengan seluruh jagad raya. Betapa besar dan mengagumkan!

Kekaguman serupa juga pernah dialami Daud. Ia memandangi langit dan menyadari betapa megahnya jagad raya dan betapa kecilnya manusia di hadapan semua itu (ayat 4, 5). Meski demikian, Sang Pencipta mau memperhatikan manusia bahkan mengangkatnya menjadi ciptaan yang utama, mengatasi segala ciptaan lain (ayat 6-9). Fakta ini membuat Daud takjub dan memuji kebesaran Tuhan.

Pengalaman Daud ini dapat kita ikuti untuk menyegarkan iman kita. Apalagi jika hati gundah, jika diri merasa lelah dan tak berdaya, jika beban hidup berat menggayuti. Tataplah langit ketika malam cerah. Pandanglah bulan dan bintang-bintang yang ada di sana. Biarkan diri Anda terhanyut dalam keindahan dan kemegahannya. Sadarilah kebesaran Sang Pencipta yang telah menciptakan semuanya itu, dan betapa Dia yang besar itu sesungguhnya tiada henti memperhatikan kita yang begitu kecil ini –ALS

SAYA PASTI KUAT MENJALANI HIDUP INI

SEBAB SAYA DITUNTUN OLEH

TANGAN YANG MENCIPTA JAGAD INI

Sumber : www.sabda.org

LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Kamis, 4 Maret 2010

Bacaan : Kejadian 1:26-28

1:26. Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Buku Let Me Be A Woman merupakan hadiah pernikahan dari Elisabeth Elliot untuk putrinya, Valerie. Isinya kumpulan tulisan hasil pengalaman dan nasihat Elisabeth Elliot mengenai kehidupan keluarga dan pernikahan. Satu nasihat Elisabeth berkata demikian, “Kau akan menikah dengan laki-laki, bukan dengan perempuan .. Suatu hari nanti kamu mungkin akan bertanya (atau meneriakkannya), `Saya tidak yakin suami saya mengerti saya.’ Kamu benar. Mungkin saja ia tidak mengerti. Sebab ia laki-laki, sedang kamu perempuan.” Sebuah nasihat sederhana. Dan, semua juga sudah tahu, laki-laki dan perempuan berbeda. Sayangnya, “tahu” saja tidak cukup. Tanpa sadar, laki-laki dan perempuan kerap saling menuntut.

Allah-lah yang berencana dan menciptakan manusia dalam dua jenis kelamin yang berbeda. Laki-laki dan perempuan. Itu ide Allah dan kehendak-Nya. Hanya, sejak dosa ada di dunia, maka rusaklah semua tatanan Allah termasuk laki-laki dan perempuan. Perbedaan yang sebenarnya sangat baik berubah menjadi kejengkelan dan kemarahan tiada akhir. Namun, jika kita hidup di dalam Kristus-mendasarkan pernikahan kita pada hukum-hukum Kristus, dosa tidak lagi berkuasa. Kristus memampukan kita untuk memilih dan hidup sesuai dengan tatanan Allah.

Cara pertama untuk kembali ke tatanan Allah adalah dengan menerima bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda. Dengan menerima pasangan kita. Dengan tidak menuntutnya mengerti atau menanggapi kita seperti sahabat sejenis kelamin kita. Dengan tidak membandingkannya. Dalam Kristus, laki-laki dan perempuan tidak diciptakan untuk saling berperang, tetapi untuk bekerja sama -GS

PRIA DAN WANITA BERBEDA AGAR BISA SALING MELENGKAPI

BUKAN UNTUK SALING MENGHANCURKAN

Sumber : www.sabda.org