MARAH PADA TUHAN

Rabu, 11 Januari 2012

Bacaan : Ratapan 5:1-22 

5:1. Ingatlah, ya TUHAN, apa yang terjadi atas kami, pandanglah dan lihatlah akan kehinaan kami.

5:2 Milik pusaka kami beralih kepada orang lain, rumah-rumah kami kepada orang asing.

5:3 Kami menjadi anak yatim, tak punya bapa, dan ibu kami seperti janda.

5:4 Air kami kami minum dengan membayar, kami mendapat kayu dengan bayaran.

5:5 Kami dikejar dekat-dekat, kami lelah, bagi kami tak ada istirahat.

5:6 Kami mengulurkan tangan kepada Mesir, dan kepada Asyur untuk menjadi kenyang dengan roti.

5:7 Bapak-bapak kami berbuat dosa, mereka tak ada lagi, dan kami yang menanggung kedurjanaan mereka.

5:8 Pelayan-pelayan memerintah atas kami; yang melepaskan kami dari tangan mereka tak ada.

5:9 Dengan bahaya maut karena serangan pedang di padang gurun, kami harus mengambil makanan kami.

5:10 Kulit kami membara laksana perapian, karena nyerinya kelaparan.

5:11 Mereka memperkosa wanita-wanita di Sion dan gadis-gadis di kota-kota Yehuda.

5:12 Pemimpin-pemimpin digantung oleh tangan mereka, para tua-tua tidak dihormati.

5:13 Pemuda-pemuda harus memikul batu kilangan, anak-anak terjatuh karena beratnya pikulan kayu.

5:14 Para tua-tua tidak berkumpul lagi di pintu gerbang, para teruna berhenti main kecapi.

5:15 Lenyaplah kegirangan hati kami, tari-tarian kami berubah menjadi perkabungan.

5:16 Mahkota telah jatuh dari kepala kami. Wahai kami, karena kami telah berbuat dosa!

5:17. Karena inilah hati kami sakit, karena inilah mata kami jadi kabur:

5:18 karena bukit Sion yang tandus, di mana anjing-anjing hutan berkeliaran.

5:19 Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya, takhta-Mu tetap dari masa ke masa!

5:20 Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama?

5:21 Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala!

5:22 Atau, apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? Sangat murkakah Engkau terhadap kami?

MARAH PADA TUHAN

Melihat kondisi bangsa dan negara yang kita cintai, pernahkah Anda marah, jengkel, mengeluh pada Tuhan? Menuduh-Nya tidak peduli? Perasaan yang sama pernah dialami oleh nabi Yeremia ketika ia melihat keadaan kota Yerusalem dan bangsanya yang hancur. Alkitab tidak menutupi kebobrokan umat Tuhan. Dalam doa Yeremia, kita diberitahu seperti apa kondisi yang ia tangisi saat itu (bandingkan dengan negara kita). Bangsanya terhina oleh bangsa lain dan asetnya dikuasai orang asing (ayat 1-2). Ada banyak anak yatim dan janda. Terjadi kekurangan air dan bahan bakar (ayat 3-4). Mereka harus bekerja lebih keras dan terpaksa minta bantuan negara asing (ayat 5-6). Rakyat menjadi korban kesalahan para pendahulu dan diperintah pejabat yang tidak bermutu (ayat 7-8). Banyak pembunuhan, kelaparan dan perkosaan (ayat 9-11), dan seterusnya. Mengapa Tuhan membiarkan semua ini? Yeremia mengeluh dengan satu kesadaran yang kuat: inilah murka Tuhan akibat dosa (ayat 16, 22). Tuhan sudah sangat bersabar dengan Israel, tetapi mereka tidak bertobat. Yeremia datang sebagai bagian dari bangsanya itu. Di tengah perasaan yang campur aduk, ia mengakui dosa bangsanya dan memohon belas kasihan Tuhan (ayat 21).

Melihat berita di koran atau televisi hari ini, biarlah tidak hanya rasa marah, jengkel, dan keluhan yang menguasai kita, tetapi juga kengerian akan akibat dosa! Sadarilah betapa murkanya Tuhan terhadap dosa. Umat pilihan pun dihukum-Nya! Ketika berdosa atau melihat dosa di sekitar kita, datanglah pada Tuhan, memohon pengampunan dan belas kasihan-Nya –ACH

APA TANGGAPAN YANG TEPAT SAAT DOSA MEREBAK DALAM MASYARAKAT?

MARAH PADA TUHAN

ATAU MEMOHON BELAS KASIHAN-NYA?

Dikutip : www.sabda.org

Iklan