LANGSUNG MARAH

Kamis, 24 Januari 2013

Bacaan: Yakobus 1:19-27

1:19. Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;

1:20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

1:21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

1:22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.

1:23 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.

1:24 Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.

1:25 Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

1:26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.

1:27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

 

LANGSUNG MARAH

Seorang ibu begitu murka ketika anak gadisnya pulang terlambat. Tanpa banyak bertanya dan tidak memberi putrinya kesempatan untuk menjelaskan, si ibu langsung memuntahkan kalimat-kalimat yang tidak senonoh dan bernada menghakimi. Padahal, keterlambatan putrinya terjadi secara tak sengaja: ban motornya kempis di tengah jalan dan ia harus menuntun motor cukup jauh sebelum menemukan tukang tambal ban. Selain itu, batere telepon genggamnya habis sehingga ia tidak dapat memberi tahu ibunya.

Kita kadang-kadang membiarkan prasangka atau kemarahan menguasai diri kita sehingga kita tidak dapat menanggapi situasi dengan semestinya. Kita tidak meluangkan waktu untuk mendengarkan penjelasan orang lain dan secara gegabah melontarkan tuduhan. Ledakan amarah yang membabi buta menyebabkan kita menyeburkan perkataan yang tidak pantas dan meninggalkan luka yang mendalam di hati orang yang kita hakimi. Singkatnya, amarah yang tak terkendali menghancurkan hubungan yang baik.

Apa yang tampak oleh mata kita belum tentu mengungkapkan seluruh keadaan secara lengkap. Oleh sebab itu, sudah semestinya kita memberikan kesempatan kepada orang lain menjelaskan duduk perkaranya. Kesediaan untuk mendengarkan ini menolong kita untuk mengendalikan amarah. Sebaliknya, kita memiliki waktu untuk mempertimbangkan perkara secara lebih jernih sehingga dapat mengambil keputusan yang lebih adil. Dengan itu, kita juga menghormati orang tersebut dan menghargai hubungan dengannya. –RE

LEBIH BAIK MEMBERIKAN SEPASANG TELINGA YANG MAU MENDENGARKAN

 DARIPADA MENCECARKAN SERIBU NASIHAT YANG MENGHAKIMI

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

PENCEMBURU DAN PEMBALAS

Jumat, 16 November 2012

Bacaan : Nahum 1:1-8

1:1. Ucapan ilahi tentang Niniwe. Kitab penglihatan Nahum, orang Elkosh.

1:2. TUHAN itu Allah yang cemburu dan pembalas, TUHAN itu pembalas dan penuh kehangatan amarah. TUHAN itu pembalas kepada para lawan-Nya dan pendendam kepada para musuh-Nya.

1:3 TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya.

1:4 Ia menghardik laut dan mengeringkannya, dan segala sungai dijadikan-Nya kering. Basan dan Karmel menjadi merana dan kembang Libanon menjadi layu.

1:5 Gunung-gunung gemetar terhadap Dia, dan bukit-bukit mencair. Bumi menjadi sunyi sepi di hadapan-Nya, dunia serta seluruh penduduknya.

1:6 Siapakah yang tahan berdiri menghadapi geram-Nya? Dan siapakah yang tahan tegak terhadap murka-Nya yang bernyala-nyala? Kehangatan amarah-Nya tercurah seperti api, dan gunung-gunung batu menjadi roboh di hadapan-Nya.

1:7 TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya

1:8 dan menyeberangkan mereka pada waktu banjir. Ia menghabisi sama sekali orang-orang yang bangkit melawan Dia, dan musuh-Nya dihalau-Nya ke dalam gelap.

PENCEMBURU DAN PEMBALAS

Mungkinkah orang yang cemburuan dan pemarah, suka mendendam, juga adalah orang yang baik dan berlaku adil? Rasanya mustahil. Orang yang cemburuan dan lekas marah biasanya tidak objektif menilai sesuatu. Hati pendendam baru puas kalau orang lain mengalami apa yang ia alami.

Lalu, mengapa Tuhan memakai kata-kata yang saling bertolak belakang iniuntuk menggambarkan diri-Nya? Apa Dia punya kepribadian ganda? Nabi Nahum menjelaskan bahwa semua tindakan Tuhan itu didasarkan pada kemahatahuan-Nya. Tak seperti manusia yang tidak serbatahu dan bisa salah menyimpulkan. Tuhan mengenal siapa yang patut dikasihani dan siapa yang patut dihukum (ayat 3, 7). Penghukuman yang dinubuatkan Nahum kepada penduduk Niniwe ini bukanlah luapan kemarahan yang membabi buta. Tuhan sudah lama memberi belas kasihan bagi mereka, tetapi mereka tidak bertobat (ayat 9, lihat Yunus 4:11).

Mengenal Tuhan sebagai Pribadi yang Mahatahu membuat kita tak cepat menghakimi Tuhan tatkala Dia mengizinkan sesuatu yang buruk terjadi dalam hidup ini. Kita tahu Dia bertindak dalam kebenaran, bukan seperti kita yang sering dikendalikan luapan emosi. Pengenalan ini seharusnya juga mendorong kita untuk hidup dalam takut akan Dia, tahu bahwa kebenaran-Nya tidak akan berkompromi dengan dosa. Tiap kesempatan yang Dia berikan adalah kasih karunia yang harus kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Pengenalan ini dapat menjadi kengerian bagi orang-orang yang menentang Dia, tetapi juga dapat menjadi pengharapan dan jaminan perlindungan bagi orang-orang yang mencari Dia. Termasuk kelompok yang manakah kita? –ELS

ALLAH YANG MAHATAHU TIDAK PERNAH SALAH BERTINDAK.

KASIH KARUNIA-NYA CUKUP BAGI MEREKA YANG DATANG PADA-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

TUMBUH LEWAT PERSEKUTUAN

Rabu, 25 Januari 2012

Bacaan : Kolose 3:5-17

3:5. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,

3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).

3:7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.

3:8. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.

3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,

3:10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;

3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

3:12. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

TUMBUH LEWAT PERSEKUTUAN

Setelah dibaptis, Pakhomius seriusingin bertumbuh. “Bertapalah. Itu cara terampuh, ” nasihat seorang biarawan. Di tahun 315 M, tradisi bertapa memang marak. Orang memisahkan diri dari masyarakat yang korup. Menyendiri di gurun. Berdoa dan puasa. Setelah mencoba, Pakhomius merasa itu tidak tepat. “Bagaimana bisa belajar rendah hati, jika hidup sendiri? Bagaimana belajar bersabar, tanpa menjumpai sesama?” Ia pun berhenti bertapa dan mengembangkan spiritualitas persekutuan. Menurutnya, orang bertumbuh dalam pergaulan, bukan kesendirian.

Paulus memotret sifat-sifat manusia baru, antara lain: belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran (ayat 12). Ini buah kehidupan bersama. Belas kasihan dan kemurahan muncul saat melihat kebutuhan sesama. Kerendahan hati terbentuk saat menjumpai kelebihan orang lain. Kelemahlembutan dan kesabaran teruji saat berhadapan dengan hal-hal yang menyakitkan. Jemaat Kolose terdiri dari berbagai macam orang yang disatukan dalam kasih Kristus (ayat 11). Orang-orang “sulit” jelas ada (ayat 13). Namun, mereka diminta tetap bersatu (ayat 14). Tidak meninggalkan persekutuan. Di situlah terjadi proses pembentukan. Lewat konflik, orang saling menegur dan bertumbuh (ayat15-16).

Adakah orang yang kerap menjengkelkan Anda? Atau, Anda kecewa dengan perilaku orang-orang sulit di gereja? Ingatlah bahwa melalui mereka, sifat-sifat Anda kian diasah dan dibentuk Tuhan sebagai orang-orang pilihan-Nya. Jadi, bertahanlah! Sambut pembentukan Tuhan melalui persekutuan dengan hati bersyukur! –JTI

TANPA BELAJAR HIDUP SEHATI

TIADA PERTUMBUHAN IMAN SEJATI

Dikutip : www.sabda.org

MARAH PADA TUHAN

Rabu, 11 Januari 2012

Bacaan : Ratapan 5:1-22 

5:1. Ingatlah, ya TUHAN, apa yang terjadi atas kami, pandanglah dan lihatlah akan kehinaan kami.

5:2 Milik pusaka kami beralih kepada orang lain, rumah-rumah kami kepada orang asing.

5:3 Kami menjadi anak yatim, tak punya bapa, dan ibu kami seperti janda.

5:4 Air kami kami minum dengan membayar, kami mendapat kayu dengan bayaran.

5:5 Kami dikejar dekat-dekat, kami lelah, bagi kami tak ada istirahat.

5:6 Kami mengulurkan tangan kepada Mesir, dan kepada Asyur untuk menjadi kenyang dengan roti.

5:7 Bapak-bapak kami berbuat dosa, mereka tak ada lagi, dan kami yang menanggung kedurjanaan mereka.

5:8 Pelayan-pelayan memerintah atas kami; yang melepaskan kami dari tangan mereka tak ada.

5:9 Dengan bahaya maut karena serangan pedang di padang gurun, kami harus mengambil makanan kami.

5:10 Kulit kami membara laksana perapian, karena nyerinya kelaparan.

5:11 Mereka memperkosa wanita-wanita di Sion dan gadis-gadis di kota-kota Yehuda.

5:12 Pemimpin-pemimpin digantung oleh tangan mereka, para tua-tua tidak dihormati.

5:13 Pemuda-pemuda harus memikul batu kilangan, anak-anak terjatuh karena beratnya pikulan kayu.

5:14 Para tua-tua tidak berkumpul lagi di pintu gerbang, para teruna berhenti main kecapi.

5:15 Lenyaplah kegirangan hati kami, tari-tarian kami berubah menjadi perkabungan.

5:16 Mahkota telah jatuh dari kepala kami. Wahai kami, karena kami telah berbuat dosa!

5:17. Karena inilah hati kami sakit, karena inilah mata kami jadi kabur:

5:18 karena bukit Sion yang tandus, di mana anjing-anjing hutan berkeliaran.

5:19 Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya, takhta-Mu tetap dari masa ke masa!

5:20 Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama?

5:21 Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala!

5:22 Atau, apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? Sangat murkakah Engkau terhadap kami?

MARAH PADA TUHAN

Melihat kondisi bangsa dan negara yang kita cintai, pernahkah Anda marah, jengkel, mengeluh pada Tuhan? Menuduh-Nya tidak peduli? Perasaan yang sama pernah dialami oleh nabi Yeremia ketika ia melihat keadaan kota Yerusalem dan bangsanya yang hancur. Alkitab tidak menutupi kebobrokan umat Tuhan. Dalam doa Yeremia, kita diberitahu seperti apa kondisi yang ia tangisi saat itu (bandingkan dengan negara kita). Bangsanya terhina oleh bangsa lain dan asetnya dikuasai orang asing (ayat 1-2). Ada banyak anak yatim dan janda. Terjadi kekurangan air dan bahan bakar (ayat 3-4). Mereka harus bekerja lebih keras dan terpaksa minta bantuan negara asing (ayat 5-6). Rakyat menjadi korban kesalahan para pendahulu dan diperintah pejabat yang tidak bermutu (ayat 7-8). Banyak pembunuhan, kelaparan dan perkosaan (ayat 9-11), dan seterusnya. Mengapa Tuhan membiarkan semua ini? Yeremia mengeluh dengan satu kesadaran yang kuat: inilah murka Tuhan akibat dosa (ayat 16, 22). Tuhan sudah sangat bersabar dengan Israel, tetapi mereka tidak bertobat. Yeremia datang sebagai bagian dari bangsanya itu. Di tengah perasaan yang campur aduk, ia mengakui dosa bangsanya dan memohon belas kasihan Tuhan (ayat 21).

Melihat berita di koran atau televisi hari ini, biarlah tidak hanya rasa marah, jengkel, dan keluhan yang menguasai kita, tetapi juga kengerian akan akibat dosa! Sadarilah betapa murkanya Tuhan terhadap dosa. Umat pilihan pun dihukum-Nya! Ketika berdosa atau melihat dosa di sekitar kita, datanglah pada Tuhan, memohon pengampunan dan belas kasihan-Nya –ACH

APA TANGGAPAN YANG TEPAT SAAT DOSA MEREBAK DALAM MASYARAKAT?

MARAH PADA TUHAN

ATAU MEMOHON BELAS KASIHAN-NYA?

Dikutip : www.sabda.org

MARAH

Jumat, 29 Juli 2011

Bacaan : Ulangan 9:7-21

9:7. “Ingatlah, janganlah lupa, bahwa engkau sudah membuat TUHAN, Allahmu, gusar di padang gurun. Sejak engkau keluar dari tanah Mesir sampai kamu tiba di tempat ini, kamu menentang TUHAN.

9:8 Di Horeb kamu sudah membuat TUHAN gusar, bahkan TUHAN begitu murka kepadamu, hingga Ia mau memunahkan kamu.

9:9 Setelah aku mendaki gunung untuk menerima loh-loh batu, loh-loh perjanjian yang diikat TUHAN dengan kamu, maka aku tinggal empat puluh hari empat puluh malam lamanya di gunung itu; roti tidak kumakan dan air tidak kuminum.

9:10 TUHAN memberikan kepadaku kedua loh batu, yang ditulisi jari Allah, di mana ada segala firman yang diucapkan TUHAN kepadamu di gunung itu dari tengah-tengah api, pada hari perkumpulan.

9:11 Sesudah lewat empat puluh hari empat puluh malam itu, maka TUHAN memberikan kepadaku kedua loh batu, loh-loh perjanjian itu.

9:12 Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: Bangunlah, turunlah dengan segera dari sini, sebab bangsamu, yang kaubawa keluar dari Mesir, telah berlaku busuk; mereka segera menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat patung tuangan.

9:13 Lagi TUHAN berfirman kepadaku: Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk.

9:14 Biarkanlah Aku, maka Aku akan memunahkan mereka dan menghapuskan nama mereka dari kolong langit; tetapi dari padamu akan Kubuat suatu bangsa yang lebih berkuasa dan lebih banyak dari pada bangsa ini.

9:15 Setelah itu berpalinglah aku, lalu turun dari gunung yang sedang menyala itu dengan kedua loh perjanjian di kedua tanganku.

9:16 Lalu aku menyaksikan, bahwa sesungguhnya kamu telah berbuat dosa terhadap TUHAN, Allahmu: kamu telah membuat suatu anak lembu tuangan, kamu telah segera menyimpang dari jalan yang diperintahkan TUHAN kepadamu.

9:17 Maka kupeganglah kuat-kuat kedua loh itu, kulemparkan dari kedua tanganku, kupecahkan di depan matamu.

9:18 Sesudah itu aku sujud di hadapan TUHAN, empat puluh hari empat puluh malam lamanya, seperti yang pertama kali–roti tidak kumakan dan air tidak kuminum–karena segala dosa yang telah kamu perbuat, yakni kamu melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sehingga kamu menimbulkan sakit hati-Nya.

9:19 Sebab aku gentar karena murka dan kepanasan amarah yang ditimpakan TUHAN kepadamu, sampai Ia mau memunahkan kamu. Tetapi sekali inipun TUHAN mendengarkan aku.

9:20 Juga kepada Harun TUHAN begitu murka, hingga Ia mau membinasakannya; maka pada waktu itu aku berdoa untuk Harun juga.

9:21 Tetapi hasil perbuatanmu yang berdosa, yakni anak lembu itu, kuambil, kubakar, kuhancurkan dan kugiling baik-baik sampai halus, menjadi abu, lalu abunya kulemparkan ke dalam sungai yang mengalir turun dari gunung.

MARAH

James Harrison adalah ayah dari lima anak yang tinggal di kota Graham, Amerika Serikat. Pada 4 April 2009 lalu, ia membunuh kelima anaknya di rumahnya sebelum kemudian bunuh diri. Dari penyelidikan polisi, diduga ia melakukan perbuatan tersebut karena marah besar setelah mendapati istrinya berselingkuh sehari sebelumnya.

Kemarahan yang tak terkendali memang berbahaya. Karena itu, Alkitab menasihati kita untuk tidak mudah marah. Bukan berarti kita tak boleh marah sama sekali. Pada saat tertentu, karena alasan yang tepat, kita boleh bahkan harus marah, walau mesti dengan cara yang tepat sebagaimana Musa lakukan.

Saat itu ia sedang tidak bersama-sama bangsa Israel. Ia tengah berada di Gunung Horeb untuk menerima loh batu perjanjian Tuhan. Tiba-tiba didengarnya kabar bahwa Tuhan murka karena bangsa Israel menyembah berhala. Musa pun pergi memeriksanya dan menjadi ikut murka saat melihat apa yang terjadi. Ia pun melemparkan dua loh batu itu hingga pecah. Kemudian, ia mengambil waktu diam sembari berdoa; memohonkan pengampunan Tuhan selama empat puluh hari.

Dari apa yang Musa lakukan, kita bisa belajar tentang alasan dan langkah tepat saat seseorang marah. Sehubungan dengan dosa, kita patut marah atas apa yang dilakukan, meski tetap harus mengasihi pribadi yang melakukannya. Maka, kemarahan tidak semata-mata didasarkan pada emosi atau keegoisan kita. Selanjutnya, pikirkanlah dengan tenang respons tepat yang dapat kita berikan; respons yang memuliakan Tuhan dan membawa damai sejahtera bagi sesama –ALS

MARAH ITU TIDAK SALAH

ASAL ALASAN DAN CARANYA TETAP BERKENAN KEPADA ALLAH

Dikutip : www.sabda.org

MARAH

Selasa, 15 Maret 2011

Bacaan : Kejadian 4:1-16

1Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.”

2Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani.

3Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan;

4Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu,

5tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.

6Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?

7Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”

8Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.

9Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?”

10Firman-Nya: “Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah.

11Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu.

12Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi.”

13Kata Kain kepada TUHAN: “Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung.

14Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku.”

15Firman TUHAN kepadanya: “Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.” Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu dengan dia.

16Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden.

MARAH

Seorang ibu bercerita bahwa suaminya tanpa sepengetahuannya telah meminjamkan sejumlah besar uang kepada temannya. Teman suaminya itu rupanya tidak bertanggung jawab. Ia kabur begitu saja. Ibu ini jengkel sekali. Mengapa suaminya tidak memberi tahunya lebih dulu? Namun, nasi sudah menjadi bubur. Uangnya tidak bisa kembali. Lalu ibu itu bertanya, apakah sebagai orang kristiani ia boleh marah kepada suaminya?

Bagi sebagian orang, pertanyaan ibu itu mungkin terlalu sederhana. Namun itu kenyataan yang kerap terjadi, dan tidak boleh disepelekan. Sebab hal itu bisa terus mengganggu pikiran. Bolehkah seorang kristiani marah? Marah itu wajar. Hidup memang tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan. Orang-orang di sekitar kita juga tidak selalu berlaku seperti yang kita mau.

Sebagai orang kristiani, tidak salah apabila kita marah. Asal, marah untuk sesuatu yang tepat, dengan cara yang tepat, kepada orang yang tepat, dan di waktu yang tepat. Kerap yang menjadi masalah bukan marahnya, tetapi bagaimana dan untuk apa kita marah. Juga, jangan menyimpan kemarahan hingga menjadi dendam kesumat. Kemarahan yang disimpan justru akan merampas kebahagiaan kita tidak ada orang yang bisa bahagia dengan terus menyimpan kemarahan dan dendam. Lebih dari itu, kemarahan yang terus disimpan hanya akan mendorong kita ke dalam jurang dosa. Peristiwa pembunuhan Habel oleh Kain, kakaknya, terjadi karena dipicu dan dipacu oleh kemarahan Kain yang terus dipendamnya, lalu dilam-piaskan dengan membabi buta. Mari kita belajar mengelola amarah –AYA

MARAH ITU TIDAK SALAH

KITA HANYA PERLU MENGELOLANYA

Sumber : www.sabda.org

 

JIKA KITA MENJADI MARAH

Kamis, 10 Desember 2009

Bacaan : Efesus 4:17-32

4:17. Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia

4:18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.

4:19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.

4:20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.

4:21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,

4:22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,

4:23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,

4:24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

4:25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.

4:28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.

4:31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allaha

sadi dalam Kristus telah mengampuni kamu.

JIKA KITA MENJADI MARAH

Dengan wajah ketakutan dan suara pelan terbata-bata, anak saya berkata, “Mama kalau marah, mengerikan. Aku takut!” Saya tertegun mendengarnya. Kemarahan ternyata membuat saya tampak mengerikan!

Marah yang tidak terkendali, bisa merugikan. Apabila seseorang begitu dikuasai kemarahan, ia bisa dibuat buta; seperti kehilangan akal sehat, bersikap ngawur, tak peduli dan tak kenal siapa yang menjadi sasaran kemarahannya. Marah semacam itu bisa menghancurkan semangat, hubungan, juga kedamaian. Maka, firman Tuhan hari ini mengingatkan agar jika kita sedang marah, kita jangan bersikap seperti manusia lama yang belum mengenal Kristus. Manusia lama yang ketika marah cenderung bersikap bodoh, berhati degil, dan berperasaan tumpul (ayat 17-19).

Kemarahan yang tidak terkendali bisa membuat kita mudah berbuat dosa karena itu bisa menyakiti dan melukai diri kita sendiri dan orang lain. Namun, pengenalan akan Kristus dan pembaruan roh serta pikiran akan memampukan kita menahan diri untuk tidak berbuat dosa (ayat 21-23). Menyimpan kemarahan menumbuhkan akar pahit di hati dan pikiran. Lama-lama ia bisa merusak jiwa dan raga. Kita diingatkan supaya membuang kemarahan sebelum matahari terbenam (ayat 26). Kemarahan bisa sangat mungkin menjadi tempat iblis memorak-porandakan kehidupan. Maka, Tuhan meminta kita untuk tidak memberi kesempatan kepada iblis (ayat 27).

Di dalam Kristus, kita mengenakan manusia baru dalam kebenaran dan kekudusan (ayat 24). Jadi, mari terus berubah oleh pembaruan budi di dalam Dia –CDW

SEMOGA RUMAH ANDA SEPERTI NAZARET

DI MANA YESUS MENETAP DAN MEMBAWA DAMAI DI RUMAH ANDA –IBU TERESA

Sumber : www.sabda.org