PENGENDALI MASA DEPAN

Rabu, 6 Maret 2013

Bacaan: Daniel 8:1-27

8:1. Pada tahun yang ketiga pemerintahan raja Belsyazar, nampaklah kepadaku, Daniel, suatu penglihatan sesudah yang tampak kepadaku dahulu itu.

8:2 Aku melihat dalam penglihatan itu, dan sementara aku melihat, aku berada di puri Susan, yang ada di wilayah Elam, dan aku melihat dalam penglihatan itu, bahwa aku sedang di tepi sungai Ulai.

8:3 Aku mengangkat mukaku dan melihat, tampak seekor domba jantan berdiri di depan sungai itu; tanduknya dua dan kedua tanduk itu tinggi, tetapi yang satu lebih tinggi dari yang lain, dan yang tinggi itu tumbuh terakhir.

8:4 Aku melihat domba jantan itu menanduk ke barat, ke utara dan ke selatan, dan tidak ada seekor binatangpun yang tahan menghadapi dia, dan tidak ada yang dapat membebaskan dari kuasanya; ia berbuat sekehendak hatinya dan membesarkan diri.

8:5 Tetapi sementara aku memperhatikannya, tampak seekor kambing jantan datang dari sebelah barat, yang melintasi seluruh bumi tanpa menginjak tanah; dan kambing jantan itu mempunyai satu tanduk yang aneh di antara kedua matanya.

8:6 Ia datang pada domba jantan yang dua tanduknya dan yang kulihat berdiri di depan sungai itu, lalu menyerangnya dengan keganasan yang hebat.

8:7 Aku melihatnya mendekati domba jantan itu; ia menggeram, lalu ditanduknya domba jantan itu, dipatahkannya kedua tanduknya, dan domba jantan itu tidak berdaya untuk tahan menghadapi dia; dihempaskannya dia ke bumi, diinjak-injaknya, dan tidak ada yang melepaskan domba jantan itu dari kuasanya.

8:8 Kambing jantan itu sangat membesarkan dirinya, tetapi ketika ia sampai pada puncak kuasanya, patahlah tanduk yang besar itu, lalu pada tempatnya tumbuh empat tanduk yang aneh, sejajar dengan keempat mata angin yang dari langit.

8:9 Maka dari salah satu tanduk itu muncul suatu tanduk kecil, yang menjadi sangat besar ke arah selatan, ke arah timur dan ke arah Tanah Permai.

8:10 Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan dari bala tentara itu, dari bintang-bintang, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan diinjak-injaknya.

8:11 Bahkan terhadap Panglima bala tentara itupun ia membesarkan dirinya, dan dari pada-Nya diambilnya korban persembahan sehari-hari, dan tempat-Nya yang kudus dirobohkannya.

8:12 Suatu kebaktian diadakan secara fasik menggantikan korban sehari-hari, kebenaran dihempaskannya ke bumi, dan apapun yang dibuatnya, semuanya berhasil.

8:13 Kemudian kudengar seorang kudus berbicara, dan seorang kudus lain berkata kepada yang berbicara itu: “Sampai berapa lama berlaku penglihatan ini, yakni korban sehari-hari dan kefasikan yang membinasakan, tempat kudus yang diserahkan dan bala tentara yang diinjak-injak?”

8:14 Maka ia menjawab: “Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang dan pagi, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar.”

 

8:15. Sedang aku, Daniel, melihat penglihatan itu dan berusaha memahaminya, maka tampaklah seorang berdiri di depanku, yang rupanya seperti seorang laki-laki;

8:16 dan aku mendengar dari tengah sungai Ulai itu suara manusia yang berseru: “Gabriel, buatlah orang ini memahami penglihatan itu!”

8:17 Lalu datanglah ia ke tempat aku berdiri, dan ketika ia datang, terkejutlah aku dan jatuh tertelungkup, lalu ia berkata kepadaku: “Pahamilah, anak manusia, bahwa penglihatan itu mengenai akhir masa!”

8:18 Sementara ia berbicara dengan aku, jatuh pingsanlah aku tertelungkup ke tanah; tetapi ia menyentuh aku dan membuat aku berdiri kembali.

8:19 Lalu berkatalah ia: “Kuberitahukan kepadamu apa yang akan terjadi pada akhir murka ini, sebab hal itu mengenai akhir zaman.

8:20 Domba jantan yang kaulihat itu, dengan kedua tanduknya, ialah raja-raja orang Media dan Persia.

8:21 Dan kambing jantan yang berbulu kesat itu ialah raja negeri Yunani, dan tanduk besar yang di antara kedua matanya itu ialah raja yang pertama.

8:22 Dan bahwa tanduk itu patah dan pada tempatnya itu muncul empat buah, berarti: empat kerajaan akan muncul dari bangsa itu, tetapi tidak sekuat yang terdahulu.

8:23 Dan pada akhir kerajaan mereka, apabila orang-orang fasik telah penuh kejahatannya, maka akan muncul seorang raja dengan muka yang garang dan yang pandai menipu.

8:24 Kekuatannya akan menjadi hebat, tetapi tidak sekuat yang terdahulu, dan ia akan mendatangkan kebinasaan yang mengerikan, dan apa yang dilakukannya akan berhasil; orang-orang berkuasa akan dibinasakannya, juga umat orang kudus.

8:25 Dan oleh karena akalnya, penipuan yang dilakukannya akan berhasil; ia akan membesarkan dirinya dalam hatinya, dan dengan tak disangka-sangka banyak orang akan dibinasakannya; juga ia akan bangkit melawan Raja segala raja. Tetapi tanpa perbuatan tangan manusia, ia akan dihancurkan.

8:26 Adapun penglihatan tentang petang dan pagi itu, apa yang dikatakan tentang itu adalah benar. Tetapi engkau, sembunyikanlah penglihatan itu, sebab hal itu mengenai masa depan yang masih jauh.”

8:27 Maka aku, Daniel, lelah dan jatuh sakit beberapa hari lamanya; kemudian bangunlah aku dan melakukan pula urusan raja. Dan aku tercengang-cengang tentang penglihatan itu, tetapi tidak memahaminya.

 

PENGENDALI MASA DEPAN

 

Kadang hati kita galau kala menatap masa depan. Memang manusiawi, karena kita sama sekali tidak tahu apa yang bakal terjadi pada masa depan kita, baik bagi kehidupan pribadi maupun kehidupan bergereja dan bernegara. Ketidaktahuan itu bisa jadi memunculkan rasa gelisah, takut, dan khawatir.

Demikian pula dengan Daniel. Penglihatan dalam pasal 8 ini membuat Daniel gelisah, lelah, dan akhirnya jatuh sakit. Mungkin penglihatan itu begitu membebani hatinya. Meskipun telah mendapatkan penjelasan dari malaikat Gabriel, ia tidak dapat memahami penglihatan itu sepenuhnya. Lalu, mengapa Tuhan menyatakan penglihatan itu kepadanya? Nubuat ini mengingatkan kita orang beriman tentang sepak terjang si jahat, yang terus berupaya menghancurkan hidup kita. Namun, masa depan kita tetap berada di dalam kendali Allah. Kemenangan seolah berpihak pada si jahat, tetapi pada akhirnya Tuhan akan menghancurkan musuh-Nya (ay. 25).

Kisah orang beriman yang mengalami penindasan bukanlah cerita baru lagi buat kita. Mungkin saat ini pun banyak di antara kita yang tengah mengalami penderitaan karena iman: dikucilkan, karier dihambat, dilarang beribadah, bahkan disingkirkan. Namun, kita memperoleh penghiburan ketika menyadari bahwa semua itu terjadi atas sepengetahuan Tuhan. Bila kita mengalami penindasan atau penderitaan karena iman, Allah tetap memegang kendali. Peristiwa yang semula tampak buruk itu pada akhirnya akan mendatangkan kemuliaan bagi-Nya dan kebaikan bagi umat-Nya. –ENO

SIAPAKAH YANG DAPAT MENGHENTIKAN ORANG BENAR?
 SEMAKIN MEREKA DIHAMBAT, SEMAKIN MEREKA MERAMBAT

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

KEPUTUSAN

Sabtu, 26 November 2011

Bacaan : Matius 26:47-56 

26:47. Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.

26:48 Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: “Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia.”

26:49 Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: “Salam Rabi,” lalu mencium Dia.

26:50 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya.

26:51 Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya.

26:52 Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.

26:53 Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?

26:54 Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?”

26:55 Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku.

26:56 Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi.” Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.

KEPUTUSAN

Jika kita mengonsumsi makanan berlemak setiap hari dalam porsi besar, apa yang akan terjadi lima tahun mendatang? Timbunan lemak dan kolesterol. Jika kita mengisap dan menghabiskan dua bungkus rokok setiap hari, apa yang akan terjadi dengan tubuh kita di tahun-tahun mendatang? Paru-paru kita akan rusak. Demikianlah, setiap hari kita membuat keputusan penting. Sebagian dari kita mungkin akan memilih kesenangan bagi diri sendiri saat ini, walau di masa depan ada akibat yang tidak menyenangkan. Sebaliknya, ada juga keputusan yang kini terasa tidak nyaman, tetapi hasilnya baik di masa mendatang.

Malam itu, setelah perjamuan terakhir dengan para murid, merupakan waktu yang berat bagi Yesus. Sebenarnya Dia bisa membiarkan murid-murid melakukan perlawanan guna mencegah penangkapan-Nya (ayat 51). Dia juga bisa memerintahkan pasukan malaikat untuk melindungi dan melepaskan-Nya dari perjalanan menuju salib yang mengerikan. Akan tetapi, Dia memilih untuk taat kepada perintah Bapa-Nya melangkah menuju salib. Sebab, Dia sangat tahu keputusan-Nya ini akan berdampak bagi kehidupan manusia di masa mendatang.

Mungkin hari ini Tuhan membawa kita memasuki masa-masa yang paling sulit di hidup kita. Dan, kita mesti mengambil keputusan penting. Pertimbangkanlah dengan saksama. Keputusan yang membuat kita nyaman belum tentu berakhir indah dan memuliakan Allah. Pertimbangkanlah masak-masak, termasuk dampaknya di masa depan bagi kita maupun bagi orang-orang di sekeliling kita. Dan, apakah Allah dimuliakan melalui keputusan tersebut –PK

KEPUTUSAN KITA HARI INI BISA MENENTUKAN HIDUP KITA DI HARI ESOK

Dikutip : www.sabda.org

MENGGANTUNGKAN HARAPAN

Senin, 14 November 2011

Bacaan : Lukas 7:11-17 

7:11. Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong.

7:12 Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu.

7:13 Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!”

7:14 Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”

7:15 Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya.

7:16 Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya.”

7:17 Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

MENGGANTUNGKAN HARAPAN

Ketika suaminya meninggal, wanita ini bertekad menjanda untuk membesarkan anak tunggalnya. Ia berjuang melawan kerasnya hidup, termasuk cercaan serta cibiran tetangga yang mewaspadai para janda. Ia berpikir, “Tak apalah aku susah sekarang. Sebentar lagi anakku dewasa, dan dialah harapan masa tuaku.” Namun mendadak, anak tunggalnya itu meninggal. Harapan hidupnya terampas seketika. Sampai ia harus bertanya, “Untuk apa lagi aku hidup?” Di sepanjang jalan desa Nain menuju pemakaman, air matanya telah mengering. Meski orang-orang turut meratapi kepergian putranya, tak ada yang memahami kesedihannya karena kehilangan tempat menggantungkan hidup.

Ketika ia berpapasan dengan Yesus, kesedihan mencekik kerongkongannya. Ia tak lagi mampu mengucap, memohon pertolongan. Apakah hati sang Juru Selamat hanya tergerak jika diminta, dan jika ada iman kepada-Nya? Ketika hidupnya “lumpuh”, sang Juru Selamat memahaminya. Dia peduli pada hati yang menjerit tanpa kata. Dengan penuh kasih Dia berkata: “Jangan menangis.” Ucapan ini bukan sekadar penghiburan di kala duka. Sebab, Dia adalah Tuhan yang berkuasa atas maut dan kehidupan. Maka, dengan penuh kuasa Yesus berseru: “Hai anak muda … bangkitlah” (ayat 14). Yesus bukan hanya membangkitkan si anak muda, tetapi juga menghidupkan kembali harapan si janda.

Kepada siapa Anda menggantungkan harapan masa depan? Kepada pasangan hidup, anak-anak, harta, asuransi, atau yang lain? Ingatlah bahwa semua itu bisa mati dan habis. Maka, berharaplah kepada sumber kehidupan, yaitu Yesus, yang selalu mampu dan mau memedulikan kita –SST

TARUHLAH SEGALA HARAPAN HIDUP KITA

PADA DASAR YANG TEGUH DAN TAK TERGOYAHKAN

Dikutip : www.sabda.org


RAY CHARLES

Rabu, 23 Maret 2011

Bacaan : 1 Samuel 8:1-9

1Setelah Samuel menjadi tua, diangkatnyalah anak-anaknya laki-laki menjadi hakim atas orang Israel.

2Nama anaknya yang sulung ialah Yoel, dan nama anaknya yang kedua ialah Abia; keduanya menjadi hakim di Bersyeba.

3Tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.

4Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama

5dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.”

6Waktu mereka berkata: “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN.

7TUHAN berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.

8Tepat seperti yang dilakukan mereka kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu.

9Oleh sebab itu dengarkanlah permintaan mereka, hanya peringatkanlah mereka dengan sungguh-sungguh dan beritahukanlah kepada mereka apa yang menjadi hak raja yang akan memerintah mereka.”

 

RAY CHARLES

Seorang anak kecil buta terjatuh. Ia menangis meraung-raung, memanggil sang ibu. Biasanya seorang ibu tentu akan bergegas menghampiri anaknya, tetapi ibu si anak justru berdiam diri. Dari sudut ruangan, ia menyaksikan anaknya menangis dalam frustrasi. Namun anak itu perlahan bangkit, mengibaskan debu dari bajunya, lalu meraba jalannya sendiri menuju sang ibu. Dengan penuh air mata, sang ibu memeluk erat anaknya. Itulah sepenggal cerita masa kecil Ray Charles, legenda musik soul Amerika. Apa komentar Anda mengenai si ibu? Kejam? Tidak punya hati? Di adegan berikutnya, sang ibu menjelaskan tindakannya kepada Ray kecil: “Aku ingin kamu tahu … kamu itu buta, tetapi tidak bodoh.”

Di Alkitab, banyak contoh buruk orangtua yang gagal mendidik anaknya, termasuk para tokoh besar seperti Imam Eli. Tuhan bahkan menegaskan sikap Eli yang tidak memarahi anaknya sebagai dosa menghujat Allah (1 Samuel 3:13). Serupa dengan seniornya, di hari tuannya pun Samuel harus mengelus dada karena anak-anaknya tidak layak menjadi hakim Israel (8:3). Sikap buruk mereka mengakhiri masa hakim-hakim di Israel dan awal berkuasanya para raja.

Bersikap “keras” kepada anak-anak atau generasi muda yang dipercayakan kepada kita, bukanlah hal yang tabu; sebab sikap demikian perlu untuk mendidik, asal melakukannya dengan tujuan dan cara yang benar. Sikap memanjakan generasi muda atau membiarkan mereka berbuat apa saja tanpa nasihat, justru menjadi pertanda tidak adanya tanggung jawab. Sebagai masa depan dunia, generasi muda membutuhkan didikan karakter dari otoritas di sekelilingnya –OLV

DIDIKAN MEMANG KERAP TERASA MENYAKITKAN

NAMUN PASTI MEMBENTUK KARAKTER SECARA MENGAGUMKAN

Sumber : www.sabda.org

TAHU (…) DIRI

Rabu, 2 Februari 2011

Bacaan : Amsal 30:24-28

24Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan:

25semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas, 26pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu,

27belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur,

28cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.

TAHU (…) DIRI

Dunia perfilman cukup semarak dengan film-film animasi yang mengangkat tokoh binatang. Ada si singa Madagaskar dan si beruang Brother Bear. Begitu pun para semut Ants serta ikan mungil Nemo. Tak ketinggalan gajah purba dalam Ice Age serta kawan-kawannya. Juga si tikus jago memasak dalam film Ratatouille. Semua menyampaikan inspirasi sekaligus pesan berharga bagi hidup manusia. Serupa dengan sabda Tuhan melalui pesan-pesan hikmat dalam kitab Amsal.

Semut kecil menunjukkan kecakapan mengantisipasi dan kegigihan membekali diri guna menghadapi musim dingin (ayat 25). Ia tahu mempersiapkan, memperlengkapi diri. Pelanduk kecil me-meragakan kesanggupan mencari tempat berlindung sementara ia sadar tak punya pertahanan diri yang dapat diandalkan (ayat 26). Ia tahu menjaga diri. Belalang kecil menunjukkan kedisiplinan untuk “berbaris rapi” memimpin diri sendiri tanpa dikomando (ayat 27). Ia tahu mengendalikan diri. Cecak ke-cil memperlihatkan kelincahan “membawa diri”, bahkan untuk masuk ke tempat yang paling dijaga ketat (ayat 28). Ia lincah, tahu membawa diri.

Bukankah kita memerlukan semua kecakapan hidup seperti yang mereka tunjukkan? Guna menghadapi tantangan masa depan, kita harus tahu membekali diri. Untuk mengantisipasi bahaya, kita harus menempa kesanggupan berjaga-jaga, tahu menjaga diri. Agar mampu menghindari atau mengurangi dampak negatif ketidaktertiban dan keteledoran, kita harus berdisiplin memimpin diri sendiri, tahu mengendalikan diri. Demi menghadapi segala kondisi dan perubahan situasi, kita harus melatih kelincahan beradaptasi, tahu membawa diri –PAD

BANYAK HAL DALAM KEHIDUPAN DITENTUKAN

OLEH KEMAMPUAN KITA MENGELOLA POTENSI DIRI SENDIRI

Sumber : www.sabda.org

DOKTER SERIBU RUPIAH

Rabu, 1 Desember 2010

Bacaan : Mazmur 37:12-26

12Orang fasik merencanakan kejahatan terhadap orang benar dan menggertakkan giginya terhadap dia;

13Tuhan menertawakan orang fasik itu, sebab Ia melihat bahwa harinya sudah dekat.

14Orang-orang fasik menghunus pedang dan melentur busur mereka untuk merobohkan orang-orang sengsara dan orang-orang miskin, untuk membunuh orang-orang yang hidup jujur;

15tetapi pedang mereka akan menikam dada mereka sendiri, dan busur mereka akan dipatahkan.

16Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik;

17sebab lengan orang-orang fasik dipatahkan, tetapi TUHAN menopang orang-orang benar.

18TUHAN mengetahui hari-hari orang yang saleh, dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya;

19mereka tidak akan mendapat malu pada waktu kecelakaan, dan mereka akan menjadi kenyang pada hari-hari kelaparan.

20Sesungguhnya, orang-orang fasik akan binasa; musuh TUHAN seperti keindahan padang rumput: mereka habis lenyap, habis lenyap bagaikan asap.

21Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali, tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah.

22Sesungguhnya, orang-orang yang diberkati-Nya akan mewarisi negeri, tetapi orang-orang yang dikutuki-Nya akan dilenyapkan.

23TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;

24apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

25Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;

26tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat.

DOKTER SERIBU RUPIAH

Klinik dokter F.X. Soedanto terletak di Jayapura. Sudah 33 tahun ia mengabdi di sana. Masyarakat mengenalnya sebagai “Dokter Seribu Rupiah” sebab ia hanya mengenakan biaya Rp1.000, 00 bagi tiap pasien yang berobat. Soedanto bahkan rela tidak dibayar jika pasien benar-benar tak mampu. Semua ini ia lakukan untuk menolong orang miskin. Apakah dokter lima anak ini bisa hidup nyaman dengan penghasilan sekecil itu? Untuk hidup mewah memang tidak bisa. Ia hidup bersahaja. Kendaraannya hanya sebuah mobil tua. Namun, kepada seorang wartawan ia berkata, “Semuanya cukup bagi kami.”

Kepuasan hidup tidak ditentukan dari banyak sedikitnya harta. Dalam Mazmur 37, pemazmur membandingkan antara hidup orang fasik dan orang benar. Orang fasik bisa saja punya harta berlimpah (ayat 16) yang diperoleh dengan cara menipu (ayat 21), menindas orang miskin, dan mengalahkan orang jujur (ayat 14). Namun, semua harta itu tak akan mampu membahagiakan hidupnya. Tanpa penyertaan Tuhan, semua yang ia kumpulkan bisa habis dalam sekejap (ayat 20). Sebaliknya, orang benar disertai Tuhan. Harta bendanya mungkin sedikit, tetapi berkat dan pertolongan Tuhan menjaga tiap langkahnya. Dengan demikian, ia bisa mengalami kecukupan. Kenyang pada hari-hari kelaparan, bahkan masih bisa memberi pinjaman!

Jika Anda percaya bahwa masa depan Anda bergantung pada jumlah harta simpanan, Anda bisa menjadi seorang penimbun yang serakah. Ingatlah bahwa faktor penyertaan Tuhan adalah penentu masa depan. Yakinilah itu, Anda akan menjadi seorang benar yang pemurah –JTI

KEPUASAN HIDUP TERCAPAI BUKAN KARENA KITA MEMILIKI BANYAK

MELAINKAN KARENA KITA BISA MEMBERI BANYAK

Sumber : www.sabda.org

BERJALAN BERSAMA ALLAH

Kamis, 2 September 2010

Bacaan : Mazmur 56:2-5

56:2 (56-3) Seteru-seteruku menginjak-injak aku sepanjang hari, bahkan banyak orang yang memerangi aku dengan sombong.

56:3 (56-4) Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu;

56:4 (56-5) kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?

56:5 (56-6) Sepanjang hari mereka mengacaukan perkaraku; mereka senantiasa bermaksud jahat terhadap aku.

BERJALAN BERSAMA ALLAH

Etty Hillesum adalah seorang wanita muda Yahudi yang hidup di Amsterdam pada tahun 1942. Waktu itu, para tentara Nazi melakukan penangkapan terhadap orang-orang Yahudi dan memasukkan mereka ke kamp konsentrasi. Selama menanti saat penangkapan yang tak terelakkan itu terhadap dirinya, dengan rasa takut terhadap ketidakpastian akan masa depan, ia pun mulai membaca Alkitab–dan ia bertemu dengan Yesus. Selanjutnya ia mendapatkan keberanian dan keyakinan yang luar biasa saat ia meletakkan tangannya ke dalam tangan Allah.

Etty menulis dalam buku hariannya: “Kebinasaan menghampiri kami dari segala penjuru: Kami terkepun dan tak seorang pun dapat menyelamatkan kami. Namun saya tak merasa berada dalam cengkeraman siapa pun. Saya merasa aman dalam tangan Allah. Saat duduk di meja tua kesayangan di rumah, maupun saat berada di tempat kerja paksa di bawah pengawasan penjaga, saya tetap merasa aman dalam tangan Allah. Bila Anda sudah memulai perjalanan dengan Allah, yang harus Anda lakukan hanyalah terus berjalan bersama-Nya sehingga kehidupan ini menjadi suatu perjalanan panjang bersama-Nya.”

Etty adalah gambaran hidup yang menguatkan pernyataan pemazmur: “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu…. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (56:4-5). Suatu tantangan besar bagi setiap orang yang sedang dilanda ketakutan!

Pada saat kita merasakan kekuatan lengan-lengan Allah yang kekal menopang kita (Ulangan 33:27); kita akan dapat menjalani hidup ini dengan penuh keyakinan sambil memegang tangan Sahabat kita yang tak tampak itu –VCG


I never walk alone, Christ walk beside me,
He is the dearest Friend I\’ve ever known;
With such a Friend to comfort and to guide me,
I never, no, I never walk alone. –Ackley

ANDA DAPAT MEMILIKI KEPASTIAN AKAN HARI ESOK
JIKA ANDA BERJALAN BERSAMA ALLAH HARI INI

Sumber : www.sabda.org