BERKELIT

Kamis, 21 April 2011

Bacaan : Matius 26:36-46

36Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.”

37Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar,

38lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”

39Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

40Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?

41Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

42Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!”

43Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat.

44Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.

45Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.

46Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.”

BERKELIT

Ada sebuah video game klasik berjudul 1942. Dalam permainan ini, kita mengendalikan sebuah pesawat dan bertugas menghancurkan pesawat-pesawat musuh. Untuk itu, kita dibekali dengan senjata dan tiga kali kesempatan berkelit dari segala bahaya, yakni dengan bermanuver. Kesempatan berkelit ini sangat berguna saat kita tengah dalam keadaan terjepit akibat serangan musuh yang bertubi-tubi.

Kita juga mungkin terbiasa menghadapi kesusahan dengan cara “berkelit” seperti dalam game itu. Caranya mungkin dengan menenggelamkan diri dalam pekerjaan, hobi, atau hal yang lain. Namun, mari belajar dari Yesus yang tidak bersikap demikian. Dalam situasi sangat susah dan gentar karena harus menanggung hukuman salib, Yesus datang kepada Bapa. Di situ dengan jujur Dia mengakui kegentaran-Nya, sekaligus keinginan-Nya untuk tetap patuh pada kehendak Bapa (ayat 39, 42). Allah Bapa lantas memberinya penguatan melalui seorang malaikat (Lukas 22:43). Setelah itu, dicatat bahwa Yesus menjadi siap untuk menghadapi hukuman salib tersebut (Matius 26:45-46).

Adalah manusiawi kalau kita gentar dan ingin berkelit dari masalah yang sedang kita hadapi. Namun, berkelit tidaklah menyelesaikan masalah, bahkan kerap memperburuk situasi yang ada. Baiklah kita datang kepada Tuhan, mengakui kegentaran kita dan meminta kekuatan serta hikmat kepada-Nya. Sama seperti yang Yesus alami, Allah juga akan menjawab doa kita dengan memberi kekuatan untuk menghadapi situasi yang ada. Kemudian, dengan berbekal kekuatan tersebut, kita hadapi dan berusaha menyelesaikan masalah yang ada –ALS

JANGAN BERKELIT DARI MASALAH

BERDOA DAN HADAPILAH MASALAH TERSEBUT!

Dikutip dari : www.sabda.org

Iklan

HIDUP BENAR

Sabtu, 18 Desember 2010

Bacaan : Mazmur 20:1-10

(1) Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (20-2) Kiranya TUHAN menjawab engkau pada waktu kesesakan! Kiranya nama Allah Yakub membentengi engkau!

(2) (20-3) Kiranya dikirimkan-Nya bantuan kepadamu dari tempat kudus dan disokong-Nya engkau dari Sion.

(3) (20-4) Kiranya diingat-Nya segala korban persembahanmu, dan disukai-Nya korban bakaranmu. Sela

(4) (20-5) Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kaukehendaki dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kaurancangkan.

(5) (20-6) Kami mau bersorak-sorai tentang kemenanganmu dan mengangkat panji-panji demi nama Allah kita; kiranya TUHAN memenuhi segala permintaanmu.

(6) (20-7) Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.

(7) (20-8) Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita.

(8) (20-9) Mereka rebah dan jatuh, tetapi kita bangun berdiri dan tetap tegak.

(9) (20-10) Ya TUHAN, berikanlah kemenangan kepada raja! Jawablah kiranya kami pada waktu kami berseru!

HIDUP BENAR

Harold Kushner, seorang penulis ternama, pernah mengemukakan sebuah hukum yang berbunyi: “Anything that should be set right sooner or later will”, artinya: Apa pun yang dikerjakan dengan benar, cepat atau lambat akan terbukti benar”. Ketika saya mencoba menghayatinya dalam relasi saya dengan Tuhan, maka hukum ini dapat diungkap kembali sebagai berikut: tak ada yang dapat menghalangi Allah untuk mengerjakan kebaikan bagi mereka yang dikasihi-Nya.

Hidup dan perjuangan manusia memang bisa jadi penuh lika-liku dan sarat onak duri. Namun suatu saat, semuanya akan jelas dan bermakna. Semuanya akan mengarahkan mata orang beriman untuk melihat kebaikan Tuhan. Di ayat 7, Daud berefleksi demikian: “Sekarang aku tahu …”. Ini mengisyaratkan bahwa sebelumnya Daud pernah merasa tidak tahu, pernah bingung melihat “peta hidup” yang ia jalani. Namun, akhirnya ia tahu sesuatu dan memahami apa yang Tuhan kerjakan di hidupnya. Apakah itu? “Bahwa Tuhan memberikan kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya”. Itulah pengalaman iman Daud dalam lika-liku hidupnya-dari sebagai seorang gembala, menjadi seorang pejuang, dan akhirnya menjadi raja.

Apakah hidup Anda sedang mengalami kesukaran dan perjuangan yang berat? Saking beratnya, Anda tidak mengerti apa maksud Tuhan di balik semua peristiwa yang dialami. Jika demikian, jangan tawar hati dan putus asa. Tetapkan hati dan yakinlah pada janji Tuhan yang akan memberi kemenangan. Asal Anda hidup dengan benar. Melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Maka, hidup benar itu akan Tuhan ganjar –DKL

TUHAN HANYA MEMINTA KITA UNTUK HIDUP BENAR

MAKA DIA AKAN MENGUBAH MASALAH MENJADI JALAN KELUAR

Sumber : www.sabda.org

TUHAN SEGALANYA

Rabu, 15 Desember 2010

Bacaan : Mazmur 124

1Nyanyian ziarah Daud. Jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, –biarlah Israel berkata demikian–

2jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, ketika manusia bangkit melawan kita,

3maka mereka telah menelan kita hidup-hidup, ketika amarah mereka menyala-nyala terhadap kita;

4maka air telah menghanyutkan kita, dan sungai telah mengalir melingkupi diri kita,

5maka telah mengalir melingkupi diri kita air yang meluap-luap itu.

6Terpujilah TUHAN yang tidak menyerahkan kita menjadi mangsa bagi gigi mereka!

7Jiwa kita terluput seperti burung dari jerat penangkap burung; jerat itu telah putus, dan kitapun terluput!

8Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.

TUHAN SEGALANYA

“Semasa penderitaan melanda, kita akan mendapat pengalaman termanis tentang kasih Allah, ” demikian kata John Bunyan. Nasihat yang benar, walau tak mudah dijalani dengan sabar. Kerap terjadi, masalah yang datang di hidup ini membuat kita terpuruk. Masalah itu tampak begitu besar hingga menutupi pandangan kita dari segala sesuatu yang lain. Menjadi “segalanya” bagi kita. Hingga hidup menjadi tampak begitu berat dan nyaris membuat putus asa.

Saya pernah merasa sangat susah karena suatu masalah yang menimpa. Masalah itu menyelubungi mata hati saya, hingga sukacita dan damai sejahtera saya terenggut. Sampai kemudian sebuah teguran membuka mata rohani saya, bahwa Tuhan-lah segalanya dalam hidup ini. Bukan masalah saya yang layak menjadi segalanya di hidup saya. Hanya Tuhan-lah yang layak menjadi segalanya bagi saya. Segala sesuatu di luar itu, masing-masing sesungguhnya adalah “sebagian” saja dari hidup ini. Dan, jika Tuhan yang menjadi segalanya di hidup kita, maka pasti masih ada kekuatan yang cukup untuk mengatasinya.

Hidup selalu menyimpan banyak cerita. Dan, tak pernah berhenti merangkai peristiwa menyenangkan dan peristiwa menyedihkan secara bergantian. Kiranya kita berpihak kepada-Nya saja (ayat 1, 2), serta memohon kekuatan untuk mampu menghadapi segala hal yang akan terjadi. Jadikan Dia segala-galanya di hidup kita, jangan izinkan satu masalah pun menjadi segalanya bagi kita. Sebab, hanya ketika Dia menjadi Tuhan yang mengendalikan segalanya, kita dimampukan untuk menang atas segala masalah yang akan datang! –AW

JANGAN BIARKAN DIRI KITA BERPIHAK PADA MASALAH

SEBAB KEMENANGAN TERSEDIA KETIKA KITA BERPIHAK PADA ALLAH

Sumber : www.sabda.org

DIHIBUR UNTUK MENGHIBUR

Sabtu, 11 Desember 2010

Bacaan : 2 Korintus 1:1-10

1Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Timotius saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya.

2Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

3Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan,

4yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.

5Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah.

6Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga.

7Dan pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami.

8Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami.

9Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.

10Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi,

 

DIHIBUR UNTUK MENGHIBUR

Dua belas tahun yang lalu, saya bergabung dengan sekelompok relawan yang menolong para korban kerusuhan Mei 1998. Sejarah mencatat lembaran gelap ketika kerusuhan itu menyebabkan banyak rumah dibakar, banyak orang kehilangan anggota keluarga, dan banyak kaum wanita yang juga dinista.

Di tengah interaksi dengan para korban, seorang rohaniwan dalam kelompok kami terus mendorong para korban agar tidak terus menutup diri dalam ketakutan, keputusasaan, dan kekhawatiran. Sebaliknya, ia meminta mereka untuk bangkit, ikut menolong korban yang lain, ikut menyaksikan suara kebenaran, dan dengan demikian menunjukkan kekuatan mereka. Sebab jika tidak, mereka hanya akan terus terpuruk dan tenggelam dalam sikap mengasihani diri sendiri.

Surat Paulus kepada jemaat Korintus memberi contoh sikap positif kepada jemaat di tengah situasi yang sangat negatif. Dalam pelayanannya, Paulus telah mengalami banyak penderitaan (2 Korin-tus 11:24-27). Apakah kemudian Paulus mengeluh dan menjadi lemah karenanya? Tidak. Ia terus berharap kepada Tuhan dan meminta penghiburan dari Allah sendiri. Ia pun bangkit untuk tidak menga-sihani diri, bahkan dikuatkan Tuhan untuk dapat menghibur orang lain.

Apabila kita ada dalam masalah, janganlah kita larut dan semakin terpuruk dalam masalah. Baiklah kita tidak mengeluh. Bahkan, alangkah baik jika kita pun membuka diri terhadap masalah yang dialami orang lain. Dan, meminta Tuhan memampukan kita untuk dapat pula menolong orang lain yang tengah berada dalam masalah –HSL

WALAU KITA TERJEPIT DAN TERPURUK

PENGHIBURAN ALLAH MEMAMPUKAN KITA MENGHIBUR ORANG LAIN

Sumber : www.sabda.org

Berpikir Positif

21 November 2010

Edisi 153 Tahun 3

BERPIKIR POSITIF

Shallom…salam miracle…jemaat Tuhan di Gereja Bethany GTM yang diberkati Tuhan, suatu kali kami membahas dalam obrolan santai tentang krisis yang terjadi di Indonesia, Kebetulan ada seorang teman yang pandai berbahasa Cina, dan dia mengatakan bahwa kata Krisis adalah WEI JI. WEI artinya bahaya dan JI artinya kesempatan, dan dia menerangkan lebih jauh tentang kata itu, dan saya tangkap intinya adalah dalam setiap bahaya atau keadaan yang buruk selalu ada kesempatan untuk melakukan dan mendapatkan sesuatu yang baik.

 

Dalam 1 Samuel 17:32 menyatakan, berkatalah Daud kepada Saul: “Jangan seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Daud ketika melihat Goliat sang musuh yang gagah perkasa adalah musuh yang tentunya sangat sulit dirobohkan, hal itu juga dilihat oleh Raja Saul dan pasukan Israel. Daud mendengarkan tantangan dan ejekan yang juga di dengar oleh Raja Saul dan pasukan Israel. Daud berada di medan perang dimana Raja Saul dan pasukan Israel berada. Daud juga hidup pada tanggal, bulan dan tahun yang sama dengan Raja Saul dan pasukannya, tetapi sikap Daud dalam menanggapi situasi yang dilihat, didengar, dan dialami itu berbeda dari sikap Raja Saul dan pasukannya.Yang membedakannya adalah Raja Saul dan pasukannya berpikir negatif dan Daud berpikir positif.

 

Melanjutkan perbincangan dengan seorang yang berbahasa Mandarin di atas mengatakan bahwa ada pepatah Cina yang menyatakan lebih “LEBIH BAIK MENYALAKAN LILIN DARIPADA MENGUTUKI KEGELAPAN.” Orang yang berpikir negatif akan terus meratapi dan mengutuki kegelapan yang terjadi. Sementara orang yang berpikiran positif akan menyalakan lilin. Ketika PLN padam sekitar jam 7 malam, maka respon anak-anak berbeda, ada yang mengatakan “Wah dak bisa apa-apa nih, nonton tv, belajar pun jadi dak bisa.” tapi ada juga yang merespon “Asyik bisa melihat dengan jelas indahnya bulan di malam hari.”

 

Menanggapi sesuatu hal yang terjadi setiap orang mempunyai tanggapan atau respon yang berbeda-beda. Ada yang berpikir negatif dan ada yang berpikir positif. Orang yang berpikir negatif melihat masalah sebagai segala-galanya. Dia akan melihat bahwa masalah itu begitu besar dan menakutkan, tidak ada jalan keluar yang tampak. Orang ini akan berputar-putar di sekitar masalah tanpa berusaha memandang jalan keluar. Dia menjadi pesimis. Tuhan akan kelihatan sebagai sosok yang jauh yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalahnya. Masalah yang dihadapinya seolah-olah masalah yang paling besar dibandingkan dari persoalan-persoalan orang lain. Dalam menghadapi setiap hal, yang pertama muncul di depan matanya adalah kesulitan-kesulitan dan tantangan-tantangan. Keluhan dan sungut-sungut mewarnai kehidupannya. Menyalahkan orang lain menjadi akibat yang timbul secara alamiah, karena dalam suatu masalah yang timbul, orang yang berpikir negatif jarang melihat dirinya dengan baik, baik itu potensi, kekuatan, kelemahan dan kekurangannya. Yang dilihat hanya orang lain dan karena sifatnya adalah negatif, orang lain selalu dijadikan sumber kesalahan dan dirinya yang benar. Orang itu sibuk mencari kambing hitam yang sebetulnya adalah dirinya sendiri. Dia sibuk berputar-putar di padang pasir tanpa menemukan genangan/ sumur air. Orang yang berpikir negatif sebetulnya orang yang sombong dengan tanpa disadarinya.

 

Orang yang berpikir positif juga seperti yang lain tetap memiliki masalah dan tantangan, namun orang yang demikian tidak terpaku kepada masalah yang dihadapinya. Dia memiliki pengharapan yang besar dan optimis. Cara pandangnya melihat bahwa Tuhan nampak jauh lebih besar daripada masalahnya. Dia melihat dan berpikir dengan jernih tentang jalan keluar dan peluang yang ada dalam krisis. Hatinya dipenuhi dengan puji-pujian dan sukacita. Berani membayar harga dan berkorban untuk membuat solusi yang mengubah keadaan ke arah yang lebih baik. Dia bisa tersenyum dengan kegagalannya karena bisa introspeksi dengan sehat dan jujur. Orang yang berpikiran positif tidak memiliki pembendaharaan kata “Tidak bisa” dalam menjalani kehidupan dan bersemangat. Orang yang berpikiran positif baru akan mengatakan demikian setelah berdoa dan Tuhan yang akan mengambil alih.

 

Optimis bukanlah kesombongan, tetapi rasa percaya diri yang shat. Dia tahu bahwa dia merupakan Problem Solver dan bukan sebagai Trouble maker. Dia akan selalu melihat berbagai jalan dan ribuan kemungkinan yang bisa didapat sebagai jalan keluar dari suatu masalah. Dia akan maju dan pantang menyerah menghadapi situasi apapun, bahkan ketika menghadapi kegagalan. Orang yang berpikir positif bukan hanya selalu melihat peluang dan kehidupan tetapi dia tidak menghitung berapa kali ia jatuh. Dia menghitung berapa kali dia bangkit dari kejatuhan itu. Itu sebabnya sejarah dunia dibuat oleh orang-orang yang berpikir positif.

 

Ketika Raja Saul dan pasukannya cemas dan ketakutan menghadapi Goliat, Daud berkata: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Daud bukan hanya melihat peluang kemenangan dengan optimis. Tetapi dia memberikan dirinya untuk maju. Dia tidak mengajukan kakaknya atau menasehati Raja Saul yang perkasa untuk berani maju menghadapi Goliat. Daud bukan hanya berbicara, tetapi integritasnya membawanya untuk membuktikan tindakan sesuai dengan ucapannya. Dia menawarkan solusi bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan segenap kehidupannya. Di atas awan masih ada awan, dan bagi Daud di atas Goliat masih ada Tuhan yang maha besar.

 

SELAMAT NATAL…KASIH ALLAH MEMENUHI KITA SEMUA…

TUHAN YESUS MEMBERKATI…

AMIEN

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

MENANG DALAM PENJARA

Rabu, 27 Oktober 2010

Bacaan : 2 Korintus 4:16-18

4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

4:17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

4:18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

MENANG DALAM PENJARA

Dalam buku A Day in the Life of Ivan Denisovich, Alexander Solzhenitsyn mengisahkan Ivan yang mengalami berbagai kengerian dalam kamp tahanan di Soviet. Suatu hari, ketika ia berdoa dengan mata terpejam, seorang tahanan lain memperhatikan dan mengejek, “Doa tidak akan membantumu keluar lebih cepat dari tempat ini.” Setelah membuka matanya, Ivan menjawab, “Aku berdoa bukan untuk keluar dari penjara, tetapi aku berdoa agar dapat melakukan kehendak Allah di dalam penjara.”

Sikap umum orang dalam menghadapi masalah kemungkinan besar mirip dengan sikap tahanan lain itu terhadap penjara: menganggapnya sebagai sesuatu yang sebaiknya ditinggalkan secepat mungkin. Orang melamunkan kehidupan yang bebas dari masalah.

Rasul Paulus juga pernah mengalami pemenjaraan itu hanya sebagian dari penderitaan yang bertubi-tubi menimpanya. Akan tetapi, ia tidak melihat aneka penderitaan itu sebagai rintangan semata. Ia tidak menjadi kecewa karenanya. Ia menganggap penderitaan itu dipakai Tuhan sebagai alat untuk menguatkan kehidupan rohaninya hari demi hari, meneguhkan iman dan pengharapannya akan kekekalan. Apabila dibandingkan dengan upah kekal tersebut, penderitaan itu dapat dipandang sebagai masalah yang dapat dihadapi dan dilampaui.

Kita masing-masing mungkin sedang merasa terpenjara oleh suatu masalah. Dalam keadaan demikian, apakah yang akan kita minta dari Tuhan? Meminta Tuhan membebaskan kita dari masalah itu-habis perkara? Atau, meminta Tuhan agar memakainya untuk menguatkan iman dan pengharapan kita akan kekekalan? –ARS

PENGHARAPAN AKAN KEKEKALAN MERINGANKAN KITA

DALAM MENANGGUNG PENDERITAAN DI DUNIA YANG FANA

Sumber : www.sabda.org

TIDUR TENTERAM

Selasa, 6 Juli 2010

Bacaan : Mazmur 3:1-9

3:1. Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku,

3:2 karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.

3:3 Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu,

3:4 maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.

3:5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.

3:6 Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

3:7. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;

3:8 itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.

3:9 Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,

TIDUR TENTERAM

Tidur, yang bagi sebagian orang adalah hal mudah dan murah, bisa menjadi hal yang sulit dan mahal untuk dinikmati bagi sebagian orang yang lain. Banyak keadaan dapat membuat kita menjadi sulit tidur. Bisa karena adanya penyakit sulit tidur atau insomnia, atau karena kita sedang banyak pikiran sebab dirundung oleh situasi yang kita anggap genting!

Daud tidak sedang menghadapi masalah kecil. Ia sedang dalam situasi genting: diserang oleh anak kesayangannya sendiri, Absalom. Demi menghindari hal buruk, Daud memutuskan untuk melarikan diri dari Yerusalem (2 Samuel 15). Daud dimusuhi banyak orang (ayat 2) dan dianggap tidak mendapat pertolongan Allah (ayat 3). Begitulah keadaan Daud ketika menuliskan mazmur ini. Namun dalam kondisi begitu, Daud tetap mengandalkan Tuhan yang ia imani sebagai perisainya (ayat 4) dan yang menjawab seruannya (ayat 5). Itulah yang membuat Daud tetap tenang dalam situasinya yang genting, sehingga ia bisa bermazmur: “Aku mau membaringkan diri, lalu tidur”. Imannya akan Allah Sang Pelindung, membuatnya tetap dapat tidur, meski situasi genting!

Bagi Anda, mana yang lebih besar: Tuhan atau masalah yang sedang Anda hadapi? Kedamaian hati bukan terletak pada ketiadaan masalah, melainkan pada bagaimana kita memandang masalah. Kalau kita memandang masalah lebih besar dari Allah, tak heran jika hati gundah, hingga tidur pun resah. Sebaliknya, jika iman membuat Anda sadar bahwa Tuhan selalu lebih besar dari masalah, Anda akan dimampukan untuk bersikap tenang dan merasa tenteram meski sedang di tengah badai kehidupan –DKL

INGATLAH BAHWA ALLAH SELALU LEBIH BESAR

DARI PADA MASALAH

PASTI HATI JADI TENANG, TIDUR PUN TAK GELISAH

Sumber : www.sabda.org