KETEKUNAN

PESAN GEMBALA

14 FEBRUARI 2010

EDISI 113 TAHUN 3

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di gereja Bethany yang diberkati Allah.

Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus mengalir atas hidup kita di dalam kasih setia-Nya yang selalu baru setiap hari. Mari perhatikan dengan seksama bagaimana hidup kita..!! sebab hari-hari ini kita harus lebih bersungguh-sungguh beribadah, lebih berkonsentrasi dalam melakukan kehendak Allah, lebih menyukakan hati Tuhan dan lebih bisa membawa diri untuk mempermuliakan nama Tuhan.

Mengapa demikian?

Sebab saat ini kita sedang masuk ke dalam era akhir zaman. Pengaruh dunia sekuler demikian maraknya, belum lagi tantangan dan persoalan yang kita hadapi, sehingga tatkala kita lengah, maka hal itu harus melintasi Samaria, padahal ada jalur lain yang mudah ditempuh dan lebih aman secara manusia sebau bisa mempengaruhi dan menggeser iman kita, apalagi jika kita tidak bersungguh-sungguh.

Tuhan Yesus sendiri memberikan suatu peringatan :”waspadalah! Sebab Aku mengutus kamu seperti domba di tengah-tengah serigala, hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10:16). Sebab bisa saja yang terdahulu menjadi yang terakhir, sedangkan yang terakhir bisa menjadi yang terdahulu.

Jangan menjadi terlena tetapi waspadalah, jangan sampai terbawa oleh arus dunia. Tanda-tanda akhir zaman sudah mulai digenapi. Allah berkehendak supaya hidup kita berkenan kepada-Nya, bukan untuk suatu masa tertentu tetapi untuk seterusnya.

Lalu bagaimana supaya kita berkenan? Salah satu kuncinya adalah bertekun di dalam Dia. Bertekun itu artinya rajin dan setia untuk terus hidup di dalam firman-Nya setiap hari dan setiap waktu, dan hidup dengan mengandalkan Tuhan.

Ada banyak alasan mengapa kita harus bertekun, namun hal yang perlu disadari adalah selama kita menumpang di dunia ini, kita masih bertemu dengan masalah dan tantangan baik besar maupun kecil, dari yang mudah sampai dengan yang sukar. Dan perlu dicatat, kalau hari-hari ini kita diizinkan untuk menghadapi masalah, bahkan masuk ke dalam kesengsaraan, maka hal ini dimaksudkan supaya kita bertekun di dalam Dia, sebab ketekunan itu akan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan kepada Allah (Roma 5:3-4). Dan apabila ketekunan itu menjadi buah yang matang, hal itu akan menghantar kita kepada kesempurnaan, karena-Nya iman yang kita miliki harus kita kerjakan dan bangun dengan penuh ketekunan.

Ada pertanyaan dari seorang penginjil muda kepada pemimpin rohaninya demikian “mengapa injil sekarang susah masuk kepada orang-orang yang mampu atau kaya?” Jawab seniornya demikian “sebab penghasilan mereka tinggi secara otomatis segala kebutuhan terpenuhi jadi everything is fine, bahkan mereka terkadang berkata “buat apa ke gerja?” toh semua serba ada dan tercukupi”.

Jemaat yang dikasihi Tuhan..

Mari kita perhatikan bahwa kita datang kepada Tuhan ukan hanya karena Tuhan mampu menjawab doa-doa kebutuhan sehari-hari kita saja, tetapi ada satu alasan yang jauh lebih penting yaitu supaya kita didamaikan dengan Allah dan diselamatkan. Untuk itu perlu ketekunan, sebab kita harus bersungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada iman kita kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, dan kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada dengan berlimpah-limpah, maka kita dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalan Yesus Kristus (2 Petrus 1:5-8).

Pada akhirnya ketekunan kita sebagai orang-orang kudus-Nya akan menghantar kita masuk ke Kerajaan Allah.

Tuhan Yesus memberkati kita semua..amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Kasih karunia
Iklan

BELAJAR UNTUK PERCAYA

Rabu, 16 September 2009

Bacaan : Yohanes 11:1-16

11:1. Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta.

11:2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.

11:3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.”

11:4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.”

11:5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus.

11:6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;

11:7 tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Mari kita kembali lagi ke Yudea.”

11:8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?”

11:9 Jawab Yesus: “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini.

11:10 Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya.”

11:11 Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.”

11:12 Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.”

11:13 Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa.

11:14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati;

11:15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.”

11:16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.”

 

BELAJAR UNTUK PERCAYA

Mungkin kita kerap bertanya, jika Tuhan mengasihi saya, mengapa Dia mengizinkan hal yang buruk terjadi? Hal ini juga pernah saya pertanyakan ketika dokter mengatakan mama sakit kanker stadium tiga. Kaki saya terasa lemas dan pikiran saya begitu kacau. Padahal saya sudah berdoa puasa beberapa bulan untuk kesembuhan mama. Padahal baru saja papa dan mama menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat beberapa hari yang lalu. Namun, mengapa kenyataan ini harus kami hadapi? Sungguhkah Yesus mengasihi kami?

Alkitab mencatat bahwa Yesus mengasihi Lazarus (ayat 3). Namun, mengapa ketika Tuhan Yesus mendengar bahwa Lazarus sedang sakit, Dia tidak segera datang ke Betania untuk menyembuhkannya? Sebaliknya, Tuhan Yesus justru menunda kedatangannya dan membiarkan Lazarus mati. Apakah Yesus sungguh-sungguh mengasihi Lazarus, Maria, dan Marta? Ya, Tuhan sangat mengasihi mereka, tetapi Tuhan juga punya maksud dan rencana yang kerap kali tidak kita mengerti, sehingga membiarkan semua itu terjadi.

Terkadang Tuhan membiarkan kita masuk ke dalam lembah kekelaman. Terkadang juga Tuhan membiarkan “seolah-olah” kita ditinggal sendirian. Namun, pada saat-saat seperti itulah sesungguhnya iman kita sedang diuji. Tuhan membiarkan kita mengalami masa-masa gelap dengan satu tujuan, yaitu agar kita belajar untuk percaya (ayat 15). Saat masa-masa gelap itu datang, maukah kita belajar percaya bahwa Tuhan tetap berdaulat dan mempunyai rencana indah di balik semua masalah yang sedang kita hadapi? -VT

DISAAT KITA TIDAK MENGERTI MENGAPA SEMUA HARUS TERJADI

MARILAH KITA BELAJAR UNTUK TETAP PERCAYA PADA KEBAIKAN HATI TUHAN

Sumber : www.sabda.org

Jembatan Emily

Rabu, 22 Oktober 2008

Bacaan : Ayub 42:1-6

42:1. Maka jawab Ayub kepada TUHAN:

 

42:2 “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.

 

42:3 Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.

 

42:4 Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.

 

42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

 

42:6 Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

 

Jembatan Emily

Emily hanyalah wanita biasa. Ketika mertuanya meninggal, suaminya diminta melanjutkan sebuah proyek raksasa pembangunan jembatan. Namun, di tengah proses pembangunan itu, suaminya sakit-lumpuh, tuli, dan sulit berkomunikasi. Saat itulah, sang suami, dalam keterbatasannya, mengajarkan berbagai hal mengenai pembangunan jembatan. Emily pun menjadi asisten utama suaminya dan berusaha belajar teknik pembangunan sendiri. Pada 1870, sebuah jembatan sepanjang 1.825 meter terbentang kokoh di atas East River. Jembatan tersebut menghubungkan Brooklyn dan Manhattan di Amerika Serikat. Itulah Brooklyn Bridge, yang berhasil dituntaskan pembangunannya oleh Emily Warren Roebling.

Pencobaan kerap membawa kita naik satu tingkat lebih tinggi. Melalui masalah, tidak jarang kita bertemu dengan kemampuan-kemampuan kita yang tidak terduga; belajar tentang arti pentingnya kasih, semangat kekeluargaan, makna persahabatan sejati, dan yang tak kalah penting, merasakan pengalaman penyertaan Tuhan yang luar biasa.

Itulah yang dialami Ayub. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa segala yang ia miliki hilang lenyap. Namun, Allah menuntun Ayub melewati setiap lembah yang penuh duka dan kepedihan. Dan, ketika semuanya berlalu, Ayub mendapatkan pengalaman berharga. Ia mengalami sendiri penyertaan Allah. Katanya, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (ayat 5).

Mungkin Anda tengah dalam pergumulan berat. Jangan putus asa. Tuhan punya rencana yang besar dalam hidup Anda -AYA

SIKAPI PENCOBAAN DENGAN IMANMAKA ITU AKAN MEMBAWA KITA LEBIH DEKAT DENGAN TUHAN