SUKA DI BALIK DUKA

Rabu, 20 Maret 2013

Bacaan: Yohanes 16:16-24 

16:16. “Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku.”

16:17 Mendengar itu beberapa dari murid-Nya berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya Ia berkata kepada kita: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku? Dan: Aku pergi kepada Bapa?”

16:18 Maka kata mereka: “Apakah artinya Ia berkata: Tinggal sesaat saja? Kita tidak tahu apa maksud-Nya.”

16:19 Yesus tahu, bahwa mereka hendak menanyakan sesuatu kepada-Nya, lalu Ia berkata kepada mereka: “Adakah kamu membicarakan seorang dengan yang lain apa yang Kukatakan tadi, yaitu: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku?

16:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.

16:21 Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.

16:22 Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.

 

16:23. Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.

16:24 Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

 

SUKA DI BALIK DUKA

Sewaktu istri saya melahirkan anak sulung kami, ia menanggung kesakitan yang luar biasa, hampir tak tertahankan. “Mau mati rasanya, ” katanya. Anehnya, begitu ia mendengar suara tangis perdana bayinya, rasa sakit bersalin itu seakan-akan lenyap tertelan oleh sukacita yang tak terkatakan. Ia merasa menjadi seorang perempuan yang sempurna karena telah melahirkan seorang bayi.

Ketika mempersiapkan para murid menjelang penyaliban-Nya, Tuhan Yesus mengingatkan bahwa mereka juga akan mengalami pengalaman dramatis. Mirip dengan pengalaman seorang ibu yang melahirkan: kesakitan disusul dengan sukacita. Murid-murid juga akan menanggung dukacita yang mendalam karena kematian Guru mereka. Namun, dukacita mereka tidak akan berlangsung selamanya. Tuhan mereka tidak akan seterusnya berada di dalam kubur, tetapi akan bangkit dari antara orang mati. Dukacita mereka digantikan oleh sukacita yang mengubahkan hidup secara radikal: dari murid-murid yang ketakutan menjadi pemberita kabar baik yang tak takut pada ancaman hukuman mati. Kematian bukan lagi ancaman bagi mereka karena Tuhan mereka telah mengalahkan dosa dan maut.

Sebagai orang Kristen, kita bukan bersukacita karena segala keinginan kita terpenuhi. Kita bersukacita karena kita telah diselamatkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Itulah sukacita yang kekal, sukacita yang tidak dapat dirampas oleh penderitaan atau penganiayaan, dan tidak binasa oleh sengat maut sekalipun. Bersukacitalah! –ENO

DUKACITA YANG MENDALAM TIDAK JARANG
MERUPAKAN PINTU MENUJU SUKACITA TAK TERKIRA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

BANG SANDY

Jumat, 8 Januari 2011

Bacaan : Yakobus 1:12-15

12Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

13Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.

14Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

15Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.

BANG SANDY

Bang Sandy, demikian kami memanggilnya. Saya mengenalnya saat saya dan teman-teman dari NDC (No Drugs Community) sedang mengadakan kampanye antinarkoba di sekolah-sekolah. Bang Sandy adalah salah seorang narasumber yang bersaksi tentang keterikatan pada narkoba, seperti yang pernah ia alami. Ia bahkan sampai terinfeksi HIV. Hidupnya hancur berantakan, kesehatannya terus memburuk. Namun, ketika ia mengenal Yesus, sedikit demi sedikit hidupnya berubah. Bukan saja secara rohani, melainkan juga secara jasmani. Kesehatannya membaik, walau tidak dapat sembuh seratus persen. Saat ini ia aktif melayani Tuhan.

Sangat sulit untuk melepaskan diri, saat kita sudah “terikat” pada sesuatu. Sayangnya, sesuatu yang negatif kadang justru mengikat lebih kuat dibanding sesuatu yang positif. Keterikatan dosa sesungguhnya berawal dari keinginan untuk mencoba. Dan apabila kita memutuskan untuk mencicipinya, kita akan “diseret dan dipikat olehnya” (ayat 14). Mulanya selalu terasa nikmat, tetapi selanjutnya, hanya merusak dan menghancurkan. Tak hanya fisik, tetapi juga hati dan jiwa. Akhirnya, dosa itu melahirkan maut (ayat 15).

Banyak dosa saat ini yang mewujud dalam berbagai tawaran yang tampak menarik. Jangan pernah menginginkan atau mencobanya, karena sekali kita merasakan nikmatnya, kita akan terikat, makin lama makin kuat. Memang sulit bagi kita yang sudah terikat dosa, untuk melepaskan diri. Akan tetapi, dengan komitmen kuat, doa dan dukungan saudara-saudara seiman, serta campur tangan Tuhan, pasti kita dapat terlepas dari itu semua –GK

KETERIKATAN DOSA SEPERTI PUSARAN AIR

YANG TERUS MEMBAWA KITA BERPUTAR DI DALAMNYA

Sumber : www.sabda.org

IBADAH YANG SEJATI

4 APRIL 2010

EDISI 120 TAHUN 03

PESAN GEMBALA

IBADAH YANG SEJATI

Shallom…salam miracle

Jemaat Bethany yang diberkati Tuhan, bulan April merupakan bulan yang sangat spesial bagi kita, sebab umat Kristen di seluruh dunia memperingati bagaimana pengorbanan Yesus Kristus yaitu dengan mati di kayu salib menebus dosa umat manusia. Dan akhirnya menunjukkan kepada kita semua yang percaya, bahwa Dia mengalami kemenangan atas maut melalui kuasa kebangkitan-Nya.

Natal memang penting dan baik dirayakan oleh orang percaya, namun Paskah sangat penting, karena memang kedatangan Tuhan membawa misi yang luar biasa ke dunia ini, yaitu pengorbanan diri-Nya untuk menunjukkan kasih-Nya kepada kita, tanpa penyaliban, kematian dan kebangkitan-Nya, sia-sialah kekristenan kita. Tuhan Yesus memulai ibadah yang baru dengan pengorbanan darah-Nya sendiri, sehingga sistem ibadah dalam Perjanjian Lama (PL) yang selalu ditandai dengan pengorbanan hewan, tidak perlu lagi dilakukan. Tetapi bukan berarti orang-orang percaya yang beribadah kepada Tuhan tidak perlu berkorban. Rasul Paulus dalam nasehatnya kepada jemaat yang ada di kota Roma (Roma 12:1) mengatakan:”…aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itulah IBADAH mu yang sejati…”

Selain itu Paulus juga menunjukkan betapa kasih Allah itu melimpah kepada setiap orang percaya yang senantiasa mendukung dalam banyak hal pelayanan. Ada beberapa hal supaya kita memiliki ibadah yang berkenan kepada Tuhan :

1. Pekerjaan jangan mengganggu ibadah

    Keluaran 6:9 “lalu Musa mengatakan demikian kepada orang Israel, tetapi mereka tidak mendengarkan Musa KARENA MEREKA PUTUS ASA DAN KARENA PERBUDAKAN YANG BERAT…”. Kata perbudakan menunjukkan kepada pekerjaan yang sangat berat dan dengan paksa. Dalam kerja paksa yang dilakukan bangsa Israel, mereka ditarget untuk membuat batu bata dalam jumlah tertentu. Inilah yang membuat mereka berat untuk mendengarkan Firman Tuhan melalui hamba Tuhan. Di zaman sekarang banyak juga terjadi kepada orang Kristen dengan target tertentu dalam omset, hasil dan sebagainya, maka menghalangi untuk melakukan ibadah kepada Tuhan, apalagi seseorang yang bekerja pada tempat yang salah atau bukan bidangnya sehingga tidak mendatangkan sukacita dan tidak bisa berprestasi maksimal, akhirnya putus asa dan menjauh dari Tuhan. Untuk itu miliki pekerjaan yang senantiasa bisa mendukung kita dalam ibadah kepada Tuhan.

    2. Menikmati karya Tuhan lebih jauh

    Setelah seseorang menerima keselamatan, bukan berarti duduk menanti semua kegenapan janji Tuhan terjadi dalam hidupnya: ibadah ala kadarnya, membaca Alkitab kalau ada waktu senggang, berdoa hanya ketika menghadapi permasalahan, tetapi sekaranglah saatnya bagi kita semua untuk bertumbuh mengenal Tuhan dan rencana-Nya, mari kita semua berjalan bersama Tuhan sampai berhasil (makmur, kaya, sembuh, ekonomi baik) dan mengikut Tuhan sampai garis akhir.

    3. Beribadah dengan membawa seisi rumah

    Keselamatan adalah masalah pribadi masing-masing kepada Tuhan, bukan masalah komunal dengan Tuhan, sehingga satu keluarga tidak hanya diwakili oleh suami kepada kepala keluarga, atau isteri yang banyak waktu untuk beribadah sehingga mewakili suami atau anak-anak, atau anak-anak yang mewakili orang tuanya yang penting hadir diketahui gembala atau pengurus gereja. Mari kita semua membawa keluarga kita untuk memperoleh berkat, keberhasilan, dan keselamatan dari Tuhan.

    Selamat Paskah, Tuhan Yesus memberkati…

    Gembala Sidang

    Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

    RAJA DI TENGAH KITA

    Kamis, 24 Desember 2009

    Bacaan : Ibrani 2:5-18

    2:5. Sebab bukan kepada malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini.

    2:6 Ada orang yang pernah memberi kesaksian di dalam suatu nas, katanya: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

    2:7 Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat,

    2:8 segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya.” Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepada-Nya.

    2:9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.

    2:10. Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah–yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan–,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.

    2:11 Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara,

    2:12 kata-Nya: “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat,”

    2:13 dan lagi: “Aku akan menaruh kepercayaan kepada-Nya,” dan lagi: “Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepada-Ku.”

    2:14. Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;

    2:15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.

    2:16 Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.

    2:17 Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.

    2:18 Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

    RAJA DI TENGAH KITA

    Spanyol adalah sebuah kerajaan monarki yang secara teritorial terus terjaga berabad-abad. Terdiri dari 50 provinsi, dan didiami oleh sekitar 43 juta rakyat. Sejak 1975, Raja Juan Carlos didampingi Ratu Sofia, telah menjadi pemimpin yang dekat di hati rakyat. Betapa tidak? Ia selalu berusaha menaruh perhatian pada seluruh warga Spanyol. Ia memberi penghargaan buat seorang pelukis Spanyol yang telah menetap di Bali dan menjadi WNI. Ia menghadiri misa pemakaman 41 orang yang tewas karena kecelakaan di Valencia. Ia bahkan menonton Grand Prix F1 di Catalunya, dan di situ sang pembalap Spanyol, Fernando Alonso, menjadi juaranya. Sang raja lebih memilih bertakhta di hati rakyat, ketimbang di singgasananya.

    Ketika Raja Spanyol meletakkan segala keengganan dan arogansinya untuk menghampiri rakyat, rakyat pun mengenal rajanya. Demikian pula ketika Sang Raja di atas segala raja menghampiri manusia ciptaan-Nya. Terlalu besar kedahsyatan-Nya untuk dikenal oleh umat-Nya yang berpengertian kecil. Maka, Dia memilih untuk “menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka” (ayat 14). Dia rela “untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat” (ayat 7,9) agar manusia mengenal-Nya. Dan supaya dari pengenalan itu, manusia berketetapan mengikuti-Nya dan selamat, seperti yang dikehendaki-Nya (ayat 15-17).

    Raja kita sudah meninggalkan takhta. Dia ada di antara kita. Dia mau tinggal bersama, agar hidup kita menjadi berarti. Mari terus sadari keberadaan-Nya di antara kita senantiasa. Jika Dia di tengah kita, bagaimanakah kita hendak memperlakukan hidup ini? –AW

    MELAMPAUI SEGALA BATASAN TEMPAT DAN SAAT

    DIA SELALU ADA DEKAT

    Sumber : www.sabda.org

    MELAWAN KETAKUTAN

    Selasa, 13 Oktober 2009

    MELAWAN KETAKUTAN

    Bacaan : Ibrani 2:9-18

    2:9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.

    2:10. Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah–yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan–,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.

    2:11 Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara,

    2:12 kata-Nya: “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat,”

    2:13 dan lagi: “Aku akan menaruh kepercayaan kepada-Nya,” dan lagi: “Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepada-Ku.”

    2:14. Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;

    2:15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.

    2:16 Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.

    2:17 Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.

    2:18 Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

    MELAWAN KETAKUTAN

    Dalam buku terkenalnya yang berjudul The Denial of Death [Penyangkalan Terhadap Kematian], penulis dan ahli antropologi, Ernest Becker berpendapat bahwa semua kekhawatiran dan ketakutan kita berakar dalam ketakutan kita akan kematian. Walaupun Becker bukan pengikut Kristus, studi ilmiahnya dapat menjadi catatan tambahan bagi Ibrani 2, yang berkata bahwa natur kita dipengaruhi oleh ketakutan akan kematian sepanjang hidup (ayat 15).

    Kita semua mengenal perasaan takut itu. Dan, tentunya orang-orang yang kita jumpai dalam Alkitab pun mengalami ketakutan, mulai dari kekhawatiran yang menggentarkan sampai kepanikan yang mengerikan. Namun, kita tidak perlu takut, bahkan saat kita menghadapi kematian. Tuhan kita telah mengalami kematian dan menaklukkannya!

    Penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa Yesus “dibuat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, … supaya oleh anugerah Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia” (2:9). Melalui kematian-Nya, Kristus telah mengalahkan “dia, yaitu Iblis yang berkuasa atas maut,” membebaskan kita dari “takutnya kepada maut” (ayat 14,15).

    Apakah Anda menjadi korban dari ketakutan-ketakutan Anda sendiri? Ingatlah kembali janji Kitab Suci yang indah dan dapat mengusir ketakutan: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yesaya 41: 10) –VCG

    JIKA ANDA PERCAYA BAHWA YESUS HIDUP
    ANDA TIDAK PERLU TAKUT TERHADAP KEMATIAN

    Sumber : www.sabda.org