SUDAH TAHU AKHIRNYA

Senin, 30 April 2012

Bacaan : Wahyu 19:1-21

19:1. Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: “Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita,

19:2 sebab benar dan adil segala penghakiman-Nya, karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu.”

19:3 Dan untuk kedua kalinya mereka berkata: “Haleluya! Ya, asapnya naik sampai selama-lamanya.”

19:4 Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata: “Amin, Haleluya.”

 

19:5. Maka kedengaranlah suatu suara dari takhta itu: “Pujilah Allah kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar!”

19:6 Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.

19:7 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

19:8 Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.)

19:9 Lalu ia berkata kepadaku: “Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba.” Katanya lagi kepadaku: “Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.”

19:10 Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: “Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat.”

 

19:11. Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang Setia dan Yang Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil.

19:12 Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali Ia sendiri.

19:13 Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: “Firman Allah.”

19:14 Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti Dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih.

19:15 Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa.

19:16 Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: “Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan.”

19:17 Lalu aku melihat seorang malaikat berdiri di dalam matahari dan ia berseru dengan suara nyaring kepada semua burung yang terbang di tengah langit, katanya: “Marilah ke sini dan berkumpullah untuk turut dalam perjamuan Allah, perjamuan yang besar,

19:18 supaya kamu makan daging semua raja dan daging semua panglima dan daging semua pahlawan dan daging semua kuda dan daging semua penunggangnya dan daging semua orang, baik yang merdeka maupun hamba, baik yang kecil maupun yang besar.”

19:19 Dan aku melihat binatang itu dan raja-raja di bumi serta tentara-tentara mereka telah berkumpul untuk melakukan peperangan melawan Penunggang kuda itu dan tentara-Nya.

19:20 Maka tertangkaplah binatang itu dan bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang telah mengadakan tanda-tanda di depan matanya, dan dengan demikian ia menyesatkan mereka yang telah menerima tanda dari binatang itu dan yang telah menyembah patungnya. Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang.

19:21 Dan semua orang lain dibunuh dengan pedang, yang keluar dari mulut Penunggang kuda itu; dan semua burung kenyang oleh daging mereka.

 

 

SUDAH TAHU AKHIRNYA

Saya tak pernah melewatkan satu pun tayangan X-Men. Namun, saat film terbaru tayang dan mengisahkan asal-usul salah satu tokohnya, Wolverine, saya merasa tidak terlalu antusias. Alasannya, saya sudah tahu seperti apa akhir ceritanya: Wolverine pasti tetap hidup. Kalau ia mati, kisah X-Men akan berantakan. Lalu saya sadar bahwa meski saya sudah tahu akhir ceritanya, saya belum tahu bagaimana cerita itu berkembang hingga selesai. Inilah yang membuat X-Men menarik.

Demikian juga dengan akhir dunia. Kitab Wahyu membeberkan akhir ceritanya: Tuhan pasti mengalahkan Si Jahat, menyempurnakan kembali Kerajaan-Nya, dan memulihkan kembali seluruh ciptaan. “Binatang itu pun tertangkap dan bersama-sama dengan dia nabi palsu …. Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala dengan belerang” (ayat 20). Namun begitu, tahu bagaimana cerita berakhir tak boleh membuat kita berdiam diri. Kebenaran ini memberi kita hak istimewa untuk ambil bagian dalam jalan cerita serta mengalami bagaimana akhir ceritanya; menjadi bagian dari orang-orang yang berseru: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! …” (ayat 6-7).

Mari ambil bagian dalam cerita tersebut; terlibat dalam karya pelayanan-Nya. Tak terbatas pada pelayanan gerejawi, tetapi juga pekerjaan, keluarga, masyarakat, bahkan dunia. Diiringi keyakinan pengharapan bahwa apa yang kita lakukan tidak sia-sia; kita tahu bahwa pada akhirnya Dia yang kita layani akan bertakhta sampai selama-lamanya. –ALS

PENGETAHUAN AKAN AKHIR CERITA DUNIA SEHARUSNYA MENDORONG KITA

ANTUSIAS MELAYANI TUHAN DALAM HIDUP DI DUNIA.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

DITEMPATKAN UNTUK MELAYANI

Rabu, 28 Maret 2012

Bacaan : Nehemia 1:1-11

1:1. Riwayat Nehemia bin Hakhalya. Pada bulan Kislew tahun kedua puluh, ketika aku ada di puri Susan,

1:2 datanglah Hanani, salah seorang dari saudara-saudaraku dengan beberapa orang dari Yehuda. Aku menanyakan mereka tentang orang-orang Yahudi yang terluput, yang terhindar dari penawanan dan tentang Yerusalem.

1:3 Kata mereka kepadaku: “Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar.”

1:4 Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit,

 

1:5. kataku: “Ya, TUHAN, Allah semesta langit, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya,

1:6 berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.

1:7 Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu.

1:8 Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa.

1:9 Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana.

1:10 Bukankah mereka ini hamba-hamba-Mu dan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan tangan-Mu yang kuat?

1:11 Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.” Ketika itu aku ini juru minuman raja.

 

DITEMPATKAN UNTUK MELAYANI

Pernah membayangkan bekerja sebagai juru minum raja? Mencicipi minuman terbaik dari seluruh penjuru negeri sebelum dinikmati raja, ikut ke mana pun raja pergi, tinggal di istananya, menjadi orang kepercayaannya, tampaknya menyenangkan, ya? Itulah profesi Nehemia. Cukup mengherankan mengingat nenek moyang Nehemia berasal dari Yehuda, yang dijajah Babel, dan kemudian dikuasai kerajaan Persia (2 Tawarikh 36:20). Jika raja Persia hendak memilih orang kepercayaan, mengapa memilih dari kaum jajahan, yang bisa saja ingin meraih kemerdekaan sendiri?

Menarik untuk memperhatikan bagaimana kesempatan ini diberikan Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya (ayat 9). Dia tidak menempatkan Nehemia menjadi seorang imam atau pemuka agama. Tetapi justru sebagai juru minum dan nantinya juga sebagai bupati (Nehemia 5:14). Firman Tuhan membuat Nehemia mengerti bahwa rencana Tuhan bagi bangsanya belum selesai. Dengan kerinduan membawa bangsanya kembali beribadah pada Tuhan, ia pun mohon pertolongan Tuhan untuk bertindak (ayat 10-11). Kesempatan dan kemampuan yang ia miliki tidak dipakai untuk mengejar kenyamanan hidup, tapi untuk melayani Tuhan.

Banyak orang merasa baru “melayani” Tuhan jika ikut paduan suara, mengajar sekolah minggu, atau menjadi pendeta. Jika Tuhan berencana agar semua bangsa mengenal dan menyembah-Nya (Matius 28:19-20), tentu Dia tidak menghendaki anak-anak-Nya melayani hanya di dalam gedung-gedung gereja. Namun, Dia juga ingin kita memengaruhi dunia melalui berbagai bidang profesi: pemerintahan, pendidikan, media, dan sebagainya. Di manakah Dia menempatkan Anda? –ELS

TUHAN MEMBERI KITA BERBAGAI KESEMPATAN DAN KEMAMPUAN

AGAR NAMA-NYA DIMULIAKAN DI SEGALA BIDANG KEHIDUPAN.

Dikutip : www.sabda.org

 

TETAP NYATAKAN KEBENARAN

Selasa, 31 Januari 2012

Bacaan : Lukas 22:63-71

22:63. Dan orang-orang yang menahan Yesus, mengolok-olokkan Dia dan memukuli-Nya.

22:64 Mereka menutupi muka-Nya dan bertanya: “Cobalah katakan siapakah yang memukul Engkau?”

22:65 Dan banyak lagi hujat yang diucapkan mereka kepada-Nya.

22:66 Dan setelah hari siang berkumpullah sidang para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu mereka menghadapkan Dia ke Mahkamah Agama mereka,

22:67 katanya: “Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami.” Jawab Yesus: “Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya;

22:68 dan sekalipun Aku bertanya sesuatu kepada kamu, namun kamu tidak akan menjawab.

22:69 Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.”

22:70 Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”

22:71 Lalu kata mereka: “Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita ini telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri.”

TETAP NYATAKAN KEBENARAN

Pernah melihat atau mengikuti proses persidangan? Anda mungkin pernah mengamati bahwa banyak pertanyaan hakim yang sifatnya menggiring atau menjebak terdakwa untuk memberikan jawaban yang diinginkan.

Situasi yang sama rupanya terjadi juga dalam persidangan yang dihadapi Yesus. Musuh-musuh-Nya meminta penjelasan apakah Yesus benar Sang Mesias, enyelamat yang dijanjikan Tuhan (ayat 67a). Namun, ini bukan pertanyaan yang muncul dari keingintahuan yang tulus, melainkan upaya mencari-cari kesalahan agar mereka dapat menuduh Yesus melakukan tindak kejahatan (ayat 67b). Ironis sekali! Ucapan benar malah dipahami sebagai pernyataan yang ditunggu-tunggu untuk menyalahkan Yesus (ayat 70). Apakah Yesus menyadari motivasi di balik pertanyaan mereka? Sangat tahu! (ayat 67-68). Dan, Dia tetap menyatakan kebenaran, sekalipun Dia tau risiko yang harus ditanggung-Nya.

Sampai kini, masih ada banyak orang mengeraskan hati melawan dan mendakwa Yesus. Kita mungkin mengalami juga situasi-situasi sulit karena status kita sebagai pengikut Yesus. Orang-orang mencari kesalahan dan memakai kesaksian kita sebagai senjata untuk menyerang. Setiap kita menderita sebagai akibat pelayanan dan kesaksian kita tentang Yesus, ingatlah bahwa Dia telah lebih dulu menanggungnya. Tetaplah menyatakan kebenaran dengan berhikmat. Ketika Yesus datang kembali kelak, kita tidak akan menghadap-Nya dalam penyesalan – ENO

MELAYANI TUHAN ADALAH SUKACITA DAN KEHORMATAN

SIAPAKAH AKU HINGGA BOLEH MENJADI HAMBA-MU?

Dikutip : www.sabda.org

Kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan

Shalom…salam miracle

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati…

Kehidupan kita sekarang, kiranya dapat dipertanggungjawabkan pada waktu “pengadilan” kelak. Kalau kita ingin kehidupan kita sesuai dengan firman Tuhan dan berkenan di hadapan Allah, maka kita harus bersedia diatur oleh Tuhan, tetapi kehidupan yang bagaimanakah yang dikehendaki Tuhan sekarang ini?

 

1. Kehidupan yang selalu ingat akan pencipta kita

Ada sebuah motto yang mengatakan “Kecil dimanja, muda dengan foya-foya, tua kaya raya, mati masuk sorga” kelihatannya sangat baik motto demikian, tetapi mari kita perhatikan banyak yang mengisi kehidupan ini dengan serba bebas dan seenaknya sendiri.

 

Pengkhotbah 11:9 menyatakan “…tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan.” Pengkhotbah mendorong kita semua agar menikmati kehidupan saat ini dan menuruti segala keinginan hati. Namun setiap perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di pengadilan Allah. Dari hal itu maka apabila kehidupan kita dihabiskan dengan kesenangan belaka bahkan hura-hura, pasti akan berakhir dengan penyesalan, jadi bagaimana? Apakah harus menjadi pendiam dan kuper.

 

Allah menghendaki kehidupan kita sedemikian produktif untuk diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Pengkhotbah mengingatkan “Ingatlah penciptamu pada masa mudamu.” Dari sejak masa muda Firman Allah sudah mengingatkan. Tuhan menginginkan kita sebagai anak-anak-Nya yang potensial, produktif akan hal-hal positif.

 

Dalam perjanjian lama diceritakan bahwa Raja Yosia naik tahta pada umur 8 tahun dan pada umur 16 tahun (masih sangat muda) dia mencari Tuhan serta kebenaran-Nya. Karena dia telah mengenal kebenaran Allah, maka dia menghancurkan berhala-hala. Sekarang dalam kehidupan kita berhala-hala bisa dalam bentuk: egois, hawa nafsu duniawi, dan segala sesuatu yang dapat menjadi penghalang pada saat kita mencari dan melakukan kehendak Allah. Maka penghalang- penghalang itu HARUS dihancurkan.

 

2. Menjadi teladan I Timotius 4:12

Jadilah teladan dalam hidup kita sehari-hari. Teladan dalam perkataan yang benar, teladan dalam tingkah laku,       teladan dalam kasih, teladan dalam kesetiaan dan teladan dalam kesucian. Mari kita melihat contoh yang berikut yaitu

tentang Elisa dan Gehazi.

 

Kedua orang ini mempunyai persamaan:

– Persamaan latar belakang karna Elisa dan Gehazi sama-sama orang awam yang terpanggil untuk melayani nabi Allah.

– Persamaan pernah dibimbing oleh seorang yang dipakai Allah secara luar biasa. Elisa dibimbing Elia, Gehazi dibimbing Elisa (I Raja19:16, II Raja 4:12).

– Persamaan menyaksikan mujizat demi mujizat yang Allah nyatakan melalui nabi yang mereka layani.

 

NAMUN… mereka mempunyai perbedaan dalam akhir kisah mereka…perbedaannya adalah:

– Elisa menjadi orang yang dipercaya Allah untuk mengadakan tanda-tanda mujizat, sedangkan Gehazi tidak pernah mengadakan tanda-tanda mujizat.

– Elisa berhati lurus, sedangkan Gehazi berhati bengkok.

– Elisa adalah orang yang berkenan dihati Allah, sedangkan Gehazi tidak….

 

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Karena Gehazi tidak berketetapan untuk setia menjaga hati dan motivasinya.

 

Maka Elisa menjadi teladan bagi umat Tuhan

    Pertama, Setia menjaga panggilan hidupnya.

    Ketika Tuhan memanggil Elisa menjadi pelayan Elia, ia setia menjaga panggilan itu. Elisa setia mengiringi Elia pergi ke Betel, ke Yerikho, bahkan menyeberangi sungai Yordan dan tinggal naik ke sorga. Sehingga dengan kesetiaan itu maka Elisa mendapat dua bagian roh Elia (II Raj 2:9). Sedangkan Gehazi gagal mempertahankan panggilan itu.

    Kedua, memiliki karakter yang baik

    Sejak Elia melemparkan jubahnya kepada Elisa sampai diangkat menjadi abdi Allah, Alkitab tidak pernah menceritakan satupun kecacatan karakter Elisa, sehingga mendukung suksesnya pelayanan Elisa. Sedangkan Gehazi dipenuhi dengan kebohongan dan pengkianatan, sehingga menjadi penghancur kariernya.

    Ketiga, mau mengasah keterampilan dan kemampuan diri (skill)

    Sehingga Elisa menjadi manusia yang unggul, senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus. Sedangkan Gehazi memiliki karakter yang serakah.

 

Ketika Tuhan memanggil Elisa menjadi pelayan Elia, ia setia menjaga panggilan itu. Elisa setia mengiringi Elia pergi ke Betel, ke Yerikho, bahkan menyeberangi sungai Yordan dan tinggal naik ke sorga. Sehingga dengan kesetiaan itu maka Elisa mendapat dua bagian roh Elia (II Raj 2:9). Sedangkan Gehazi gagal mempertahankan panggilan itu.

 

3. Melayani Tuhan

Dengan melayani Tuhan semaksimal mungkin, hari-hari kita terisi dengan aktivitas yang menyenangkan hati Tuhan. Dengan melayani Tuhan maka jebakan untuk terseret arus duniawi dapat kita hindari. Sebab dengan melayani Tuhan maka akan bermental kuat dan hidup sesuai dengan kehendak Allah.

 

TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA…

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

AIR SUSU DIBALAS AIR TUBA

Selasa, 27 Juli 2010

Bacaan : Yehezkiel 16:1-22

16:1. Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku:

16:2 “Hai anak manusia, beritahukanlah kepada Yerusalem perbuatan-perbuatannya yang keji

16:3 dan katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada Yerusalem: Asalmu dan kelahiranmu ialah dari tanah Kanaan; ayahmu ialah orang Amori dan ibumu orang Heti.

16:4 Kelahiranmu begini: Waktu engkau dilahirkan, pusatmu tidak dipotong dan engkau tidak dibasuh dengan air supaya bersih; juga dengan garampun engkau tidak digosok atau dibedungi dengan lampin.

16:5 Tidak seorangpun merasa sayang kepadamu sehingga diperbuatnya hal-hal itu kepadamu dari rasa belas kasihan; malahan engkau dibuang ke ladang, oleh karena orang pandang enteng kepadamu pada hari lahirmu.

16:6. Maka Aku lalu dari situ dan Kulihat engkau menendang-nendang dengan kakimu sambil berlumuran darah dan Aku berkata kepadamu dalam keadaan berlumuran darah itu: Engkau harus hidup

16:7 dan jadilah besar seperti tumbuh-tumbuhan di ladang! Engkau menjadi besar dan sudah cukup umur, bahkan sudah sampai pada masa mudamu. Maka buah dadamu sudah montok, rambutmu sudah tumbuh, tetapi engkau dalam keadaan telanjang bugil.

16:8 Maka Aku lalu dari situ dan Aku melihat engkau, sungguh, engkau sudah sampai pada masa cinta berahi. Aku menghamparkan kain-Ku kepadamu dan menutupi auratmu. Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan ALLAH, dan dengan itu engkau Aku punya.

16:9 Aku membasuh engkau dengan air untuk membersihkan darahmu dari padamu dan Aku mengurapi engkau dengan minyak.

16:10 Aku mengenakan pakaian berwarna-warna kepadamu dan memberikan engkau sandal-sandal dari kulit lumba-lumba dan tutup kepala dari lenan halus dan selendang dari sutera.

16:11 Dan Aku menghiasi engkau dengan perhiasan-perhiasan dan mengenakan gelang pada tanganmu dan kalung pada lehermu.

16:12 Dan Aku mengenakan anting-anting pada hidungmu dan anting-anting pada telingamu dan mahkota kemuliaan di atas kepalamu.

16:13 Dengan demikian engkau menghias dirimu dengan emas dan perak, pakaianmu lenan halus dan sutera dan kain berwarna-warna; makananmu ialah tepung yang terbaik, madu dan minyak dan engkau menjadi sangat cantik, sehingga layak menjadi ratu.

16:14 Dan namamu termasyhur di antara bangsa-bangsa karena kecantikanmu, sebab sangat sempurna adanya, oleh karena semarak perhiasan-Ku yang Kuberikan kepadamu, demikianlah firman Tuhan ALLAH.”

16:15. “Tetapi engkau mengandalkan kecantikanmu dan engkau seumpama bersundal dalam menganggarkan ketermasyhuranmu dan engkau menghamburkan persundalanmu kepada setiap orang yang lewat.

16:16 Engkau mengambil dari pakaian-pakaianmu untuk membuat bukit-bukit pengorbananmu berwarna-warni dan engkau bersundal di situ; seperti itu belum pernah terjadi dan tidak akan ada lagi.

16:17 Engkau mengambil juga perhiasan-perhiasanmu yang dibuat dari emas-Ku dan perak-Ku, yang Kuberikan kepadamu, dan engkau membuat bagimu patung-patung lelaki dan engkau bersundal dengan mereka.

16:18 Engkau mengambil dari pakaianmu yang berwarna-warni untuk menutupi mereka dan engkau mempersembahkan kepada mereka minyak-Ku dan ukupan-Ku.

16:19 Juga makanan-Ku yang Kuberikan kepadamu–tepung yang terbaik, minyak dan madu Kuberikan makananmu–engkau persembahkan kepada mereka menjadi persembahan yang harum, demikianlah firman Tuhan ALLAH.

16:20 Bahkan, engkau mengambil anak-anakmu lelaki dan perempuan yang engkau lahirkan bagi-Ku dan mempersembahkannya kepada mereka menjadi makanan mereka. Apakah persundalanmu ini masih perkara enteng

16:21 bahwa engkau menyembelih anak-anak-Ku dan menyerahkannya kepada mereka dengan mempersembahkannya sebagai korban dalam api?

16:22 Dalam segala perbuatan-perbuatanmu yang keji dan persundalanmu itu engkau tidak teringat lagi kepada masa mudamu, waktu engkau telanjang bugil sambil menendang-nendang dengan kakimu dalam lumuran darahmu.

AIR SUSU DIBALAS AIR TUBA

Peribahasa “air susu dibalas air tuba” tentu sudah kerap kita dengar, dan kita merasa tak mungkin membalas kebaikan seseorang dengan kejahatan. Akan tetapi, sadarkah kita bahwa orang percaya yang berbuat dosa, juga dapat disebut tidak tahu diri dan tidak tahu berterima kasih? Seperti perbuatan-perbuatan keji bangsa Israel, yang dipaparkan dalam bacaan kita sebagai sikap tidak tahu membalas budi Tuhan. Yerusalem membalas kebaikan Tuhan dengan perbuatan-perbuatan yang menyakiti hati-Nya.

Yerusalem adalah ibarat bayi yang dibuang orangtuanya. Dengan belas kasih, Tuhan memelihara dan membesarkannya (ayat 6, 7). Bahkan, sebagai wujud kasih yang dalam, Tuhan “memperistri” Yerusalem (ayat 8-13). Inilah gambaran perjanjian anugerah Tuhan kepada Israel. Namun, apa balasan Yerusalem? Segala kebaikan dan tanda kasih Tuhan “dihambur-hamburkan untuk para kekasihnya”, yaitu dengan menyembah segala berhala sesembahan bangsa kafir (ayat 15). Padahal seharusnya Israel menyembah Tuhan saja.

Jangan berpikir bahwa ini hanya realitas yang terjadi pada zaman dulu. Gereja—persekutuan orang percaya—saat ini juga kerap bertingkah seperti istri yang tidak setia. Yakni ketika ia membiarkan pola hidup duniawi merasuk dan merusak jemaatnya. Ketika jemaat Tuhan hidup demi kesenangannya sendiri, bukan menyenangkan Tuhan. Sebagai manusia baru yang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus, selayaknya kita menjauhi dosa, serta melayani Tuhan dan sesama dengan penuh kasih. Dengan demikian kita tak membalas kasih-Nya dengan “air tuba”, tetapi juga dengan sesuatu yang menyukakan-Nya –ENO

BETAPA SENANGNYA TUHAN APABILA ANAK-ANAK-NYA

HIDUP SEPERTI DIA,

MENGASIHI-NYA, DAN SELALU BERSAMA-NYA

Sumber : www.sabda.org

MIL YANG KEDUA

Rabu, 9 Juni 2010

Bacaan : Matius 5:38-42

5:38. Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.

5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

5:40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.

5:41 Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.

5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

MIL YANG KEDUA

Hukum Romawi pada abad pertama mengizinkan seorang anggota legiun (pasukan tentara beranggotakan lima ribu orang) memerintahkan orang sipil yang ditemuinya untuk membantu membawa beban dari satu penanda mil ke penanda mil berikutnya. Nah, beban para prajurit yang sedang berbaris ini bukan barang-barang yang ringan. Mereka biasanya membawa tombak, perisai, gergaji dan keranjang, ember dan kapak, tali pengikat dari kulit, sabit, rantai, dan ransum untuk tiga hari. Tidak mengherankan, jarang orang mau menuruti permintaan itu tanpa mengomel-ngomel.

Dalam latar itulah, Yesus mengajarkan, “Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (Matius 5:41). Orang-orang Israel itu diminta menuruti perlakuan penindasnya_bahkan melakukan lebih dari yang diminta! Bisa dibayangkan betapa heboh reaksi pendengar-Nya atas ajaran yang tak terduga itu. Mereka mungkin mengorek kuping mengira salah dengar, menggelengkan kepala tak percaya, dan tidak sedikit yang menganggapnya mustahil. Untuk menempuh mil pertama saja orang sudah mengomel, Dia malah meminta mereka memanggul beban sejauh dua mil!

Yesus menggarisbawahi pentingnya kesungguhan dalam pelayanan. Bukan sekadar memenuhi kewajiban, tetapi melampaui yang diharapkan orang. Menjalani mil pertama itu memenuhi kewajiban. Adapun menjalani mil kedua itu melibatkan pilihan, kerelaan, dan kesediaan berkorban demi memberi yang terbaik. Kalau terhadap musuh dan penindas saja kita diperintahkan untuk menempuh mil yang kedua, bagaimana dalam melayani Tuhan dan sesama? –ARS

PELAYANAN YANG SEJATI DITENTUKAN OLEH

KESEDIAAN KITA

UNTUK MENEMPUH MIL YANG KEDUA

Sumber : www.sabda.org

MELAYANI TUHAN

PESAN GEMBALA

02 MEI 2010

EDISI 124 TAHUN 3

MELAYANI TUHAN

Shallom…Salam miracle…

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati…Kali ini kita membahasa tentang melayani Tuhan, semua pelayanan yang kita kerjakan seharusnya tertuju kepada Allah. Dalam melayani Allah, kita mengenal siapa Allah dan apa hubungan kita dengan Dia. Sejarah mencatat bahwa ketaatan seorang bawahan atau hamba yang dengan senang dan sukarela memberikan kesetiaan, dedikasi, dan bahkan nyawanya bagi atasannya atau tuannya.

Dalam zaman Raja Alexander Agung terjadi peperangan yang sangat hebat di Sungai Granicus. Dalam peperangan tersebut Alexander Agung memimpin pasukannya, dan terjadilah peristiwa yang luar biasa ketika Raja Alexander Agung terdesak dan dalam bahaya, maka sahabatnya yang bernama Clitus, menyelamatkan nyawanya. Sahabatnya itu dengan kerelaan menyelamatkan teman sekaligus Rajanya.

Alfonso de Albuquerque sangat berdedikasi dan tetap setia kepada raja Emanuel dari Portugal, walaupun raja itu seringkali mengabaikan dia.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama dikisahkan tentang kesetiaan Daud yang melayani raja Saul, walaupun Saul dikuasai dengan iri hati dan berusaha untuk membunuh Daud berulang kali, namun Daud tetap setia dan menghormati Saul. Apabila contoh-contoh tersebut di atas dengan jelas dan berani dapat dengan setia menyerahkan diri mereka untuk melayani raja, bukankah kita harus lebih lagi melayani Allah kita yang penuh dengan kemuliaan?

Raja yang kita layani tidak lain adalah pencipta alam semesta. Dia berdaulat terhadap semua peristiwa, segala makhluk, dan manusia. Dia yang membentuk kita, mengasihi kita, dan menyelamatkan kita. Raja kita adalah Raja yang mulia, penuh hikmat, penuh kasih karunia dan kemurahan, baik, tidak berubah dan penuh kuasa.

Dalam Wahyu dikatakan demikian: “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Jika manusia mau melayani raja-raa seperti Alexander Agung, yang membiarkan egonya mendorong membunuh temannya yang telah menyelamatkan nyawanya; raja Emanuel yang mengkhianati hambanya yang setia ke dalam tangan musuhnya, apa seharusnya tanggapan kita terhadap Tuhan dan Raja?

Kita harus melayani Tuhan dengan setia..!! Dalam pencobaan di Padang Gurun, Yesus menanggapi setan dengan kata-kata: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Lukas 4:8). Dalam ketidakmengertian kita, kita memberikan hidup kita kepada pekerjaan, sambutan meriah, pengaruh, atau kepada keberuntungan. Ambisi pribadi telah merampas waktu kita dan menyakiti hati kita. Kita pikir kita dapat bermain-main dengan materialisme dan menaruh Allah di temapt yang telah kita bangun untuk Dia, tetapi itu tidak benar.

Yesus menjelaskan dengan berkata: “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13). Bodoh kalau kita mencoba membagi perhatian kita antara materialisme dan Bapa.

Allah kita adalah Allah yang cemburu, bukan cemburu yang emosional melainkan cemburu yang ditandai dengan semangat untuk melindungi suatu hubungan kasih. Betapa beruntungnya kita bahwa Allah yang cemburu meneguhkan hubungan kasih kita dengan Dia. Jika kita tidak memilikinya, maka hubungan akan berada dalam bahaya. Untuk kemuliaan-Nyalah dan untuk kebaikan kita sehingga dalam kekuatan-Nya kita mempunyai jaminan kasih-Nya.

Kita harus menanggapi apa yang Allah lakukan dan kasih-Nya kepada kita dengan tekun melayani Dia. Dalam perintahnya kepada jemaat di Roma, Paulus mendorong mereka untuk melayani dengan tekun: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Dia.” (Roma 12:11). Dengan kasih Allah dan dengan dikasihi Allah, kita melayani Dia dengan sepenuh hati, dengan ketaatan tanpa kompromi. Dalam semua yang kita lakukan, perhatian kita bukan pada penghormatan, kemakmuran atau kemasyuran, tetapi untuk menyenangkan Allah saja.

Yesus adalah teladan kita dalam ketekunan dan semangat. Setelah Dia menyucikan bait Allah dari mereka yang mengejar uang, “Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Yohanes 2:17). Seperti Yesus, kita harus dikuasai oleh keinginan untuk melayani Tuhan kita.

Bagi kita semua, baik dalam mimbar, sekolah minggu, Y4C, dan kelompok FA, harus berusaha mengenal Allah lebih sungguh dan untuk membantu orang lain memperluas pengetahuan orang lain untuk mengenal Allah. Para pelayan yang melayani membagi kehidupannya dengan Allah dalam Doa. Sehingga mampu mendorong orang lain untuk melayani Dia dengan Kasih. Sehingga perlu menjaga kehidupan dari dosa dan segala hal yang dapat menghilangkan hubungan dengan Allah, ketika orang lain jatuh dalam dosa, maka melalui pelayanan kita dapat membawa orang itu untuk bertobat dan mengakuinya di hadapan Allah. Pelayanan kepada Allah meluapkan pelayanan kepada manusia. Jemaat yang dikasihi Tuhan…Kiranya kita semua semakin dapat melayani Allah kita.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA