MENANG

Rabu, 28 April 2010

Bacaan : Lukas 21:1-4

21:1. Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan.

21:2 Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.

21:3 Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu.

21:4 Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

MENANG

Di dunia ini, kita terbiasa menganggap orang yang menang adalah orang yang sukses mengalahkan orang lain. Menjadi nomor satu, itulah definisi pemenang. Bagi seorang pengusaha, menjadi yang terkaya di dunia. Bagi seorang politikus, menjadi orang nomor satu di negaranya. Bagi seorang pelajar, menjadi juara di sekolahnya. Dan seterusnya.

Namun, apakah itu juga definisi kemenangan di mata Allah? Kalau kita melihat kisah tentang janda miskin dan persembahannya, kita menemukan suatu definisi yang berbeda.

Janda miskin ini hanya memberikan dua peser uang. Jumlah yang menurut kamus Alkitab, sangatlah kecil nilainya. Kalah telak dibandingkan persembahan orang-orang kaya. Namun, bagi Yesus, persembahan ini justru lebih berharga daripada persembahan orang-orang kaya! Menurut standar Allah, si janda miskin ini tampil sebagai pemenang. Bagi Dia, kemenangan seseorang diukur dari seberapa maksimal ia berusaha memberikan apa yang ia mampu. Bukan seberapa hebat ia dibandingkan orang lain.

Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi yang nomor satu, tetapi menjadi yang terbaik yang kita bisa. Pola pikir ini memberi ketenangan sekaligus memacu kita. Ketenangan, karena kita tidak perlu menjalani hidup dengan membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Tidak perlu takut dicap kalah bersaing. Terpacu, karena Tuhan meminta kita memberikan yang terbaik yang kita bisa. Untuk berusaha semaksimal mungkin memenuhi segala potensi kita. Untuk tidak mudah berpuas hati. Melainkan terus mendorong diri untuk maju, memakai semua bakat dan karunia yang Allah percayakan –ALS

SEORANG PEMENANG YANG SEJATI ADALAH SESEORANG YANG BERHASIL

MEMENUHI SEGALA POTENSI YANG ALLAH PERCAYAKAN KEPADANYA

Sumber : www.sabda.org

Iklan

NANTIKANLAH PENGERTIAN TUHAN

PESAN GEMBALA

21 MARET 2010

EDISI 118 TAHUN 3

NANTIKANLAH PENGERTIAN TUHAN

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati Tuhan.

Nantikanlah pengertian dari Allah, “Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang kutnjukkan! Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan dan terhadap para lawan Aku balikkan tanganKu” Janganlah bersandar kepada alasan-alasan yang terbatas atau pada kecakapan/kecerdasan manusia belaka. Dalam keseharian kita sering dihadapkan pada peperangan rohani. Peperangan rohani hanya akan dimenangkan melalui ketaatan dalam mengikuti kemauan Allah yang sudah diberikanNya melalui Roh Kudus.

Bila kita mendengar kepada Allah dengan ketergantugan seperti seorang anak kecil, maka Ia akan menuntun kita masuk ke dalam kemenangan. Ayat-ayat yang ada di dalam Alkitab penuh dengan nasehat untuk menanti-nantikan Tuhan. Mazmur 40:2 berkata: “Aku sangat menantik-nantikan Tuhan; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong.Kita sudah dijanjikan bahwa Allah akan berbicara bila kita mau mencari Dia. Yohanes 10:27 mengatakan: ”Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku.”

Ketika kita menanti-nantikan Tuhan dan memberi ruang gerak kepadaNya untuk bergerak, maka Ia selalu bergerak. Teladan dari Yesus adalah bahwa Dia senantiasa meminta petunjuk kepada Bapa perihal firman yang seharusnya Ia katakan. Yohanes 12:49-50 “sebab Aku berkata-kata bukan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan Dan Aku tahu, bahwa perintahNya itu adalah hidup, yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan , Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepadaKu.”

Alkitab memperingatkan kita tentang dosa kesombongan kita yang mencoba untuk memperluas kerajaan Allah tanpa meminta arah yang jelas dari Dia. Mari kita melihat bangsa Israel, setelah kemenangan besar di Yerikho, umat Israel mengalami suatu kekalahan yang menyakitkan di Ai. Kekalahan itu karena mereka tidak meminta petunjuk dari Tuhan, atau tidak menanti dan berharap kepada Tuhan, maka dikemudian hari mereka masih melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang, inilah yang dinamakan kebebalan umat Israel. Ini menjadi peringatan bagi umat Tuhan sekarang ini, seringkali hati kita bisa dengan cepat diperdaya masuk ke dalam rasa kepercayaan yang berlebihan, bahwa kita sudah merasa memiliki pengertian akan kebenaran yang tinggi dan akhirnya merasa bisa. Harus kita ingat bahwa musuh kita adalah bapanya penipu. Kita tidak akan bisa menandingina, kecuali kalau Roha Allah menyertai dan memimpin kita. Galatia 5:16, “maksudku ialah: hiduplah oleh Roh”. Tidak lama setelah kekalahan di Ai, bangsa Israel ditipu habis-habisan oleh suku bangsa Gideon. Mereka membuat perjanjian yang lancang dengan musuh mereka karena mereka mempercayai alasa dan keputusan sendiri dan TIDAK meminta keputusan Tuhan.

Jemaat yang dikasihi Tuhan…

Kita bisa saja membuat rencana yang besar, dan kemudian dengan mantap membuat keputusan, tetapi Allah sendirilah yang sanggup meraih kemenangan. Dia hanya memberkati apa yang sudah Dia mulai dengan rencanaNya. Untuk itu kiranya kita tetap bertindak sesuai dengan rencanaNya, sehingga Allah memberkati kita. Tetaplah berharap kepada Allah.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA